Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. OTW ke Pantai


__ADS_3

Sesuai dengan obrolan tadi pagi akhirnya Mira ikut menemani Dipa ke galery. Rekan kerja Dipa di galery memberikan ucapan selamat atas pernikahan mereka, ternyata mereka semua sudah tahu jika Dipa sudah menikah dengan Mira. Sebab beberapa dari mereka, turut menghadiri acara resepsi di Jakarta waktu itu. Mira merasa tersanjung akan hal itu. Itu artinya Dipa mengakuinya sebagai istrinya di depan semua rekan kerjanya.


Seusai menyapa rekan kerja suaminya Mira dibawa masuk ke ruangan Dipa. Mira duduk di sofa ruang tamu yang berada di dalam ruangan kantor Dipa. Mira membuka notebooknya kemudian mengecek laporan-laporan yang masuk dari Gina maupun Sesa. Untuk sementara ruko di-handle oleh Gina dan Sesa.


Dipa nampak fokus pada laptop di depannya. Sedangkan Mira, lama-lama merasa jenuh. Mira menguap beberapa kali karena mengantuk, melihat hal itu Dipa mendekati istrinya.


"Mi, kamu ngantuk? tidur aja dulu nanti kalau sudah jam makan siang aku bangunin!" tutur Dipa seraya duduk di samping istrinya.


"Hoam ...! iya nih aku ngantuk banget, Di. Semalam kita tidur larut malam, kemudian bangun di pagi buta tentu saja aku sangat mengantuk," tutur Mira sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Ya sudah berbaringlah!" ujar Dipa sembari mengusap lembut pipi istrinya.


"Nanti kalau ada yang masuk gimana?" tanya Mira yang sedikit ragu.


"Siapa yang mau ganggu? nanti aku aku pasang tulisan don't disturb di depan pintu. Anak-anak pasti sudah mengerti, terlebih ada kamu di sini, mereka nggak akan berani sembarangan masuk. Kalau ada yang butuh aku, nanti biar aku yang keluar buat menemui mereka!" tutur Dipa memastikan keamanan istrinya.


"Okey, jangan ke mana-mana, ya!" tutur Mira memperingatkan.


"Iya, gih tidur!" ujar Dipa seraya mengusap kepala istrinya beberapa kali.


Tak berapa lama setelah memejamkan mata, Mira sudah terlelap dalam tidurnya. Sedangakan Dipa menuju pintu dan memasang tulisan don't disturb di pintu bagian luar agar tidak ada yang tiba-tiba menyelinap masuk.


Setelah itu Dipa kembali menekuni laptopnya. Tiba-tiba telepon di mejanya berdering.


Tring ... tring ... tring ... tring.


Dipa mengulurkan tangannya untuk meraih gagang telepon yang berada di atas meja kerjanya, kemudian segera menjawab telepon tersebut.


"Hallo!"


"Mas, mau makan di kantor apa makan di luar? kalau di kantor aku pesankan satu lagi buat mbak Mira!" tutur Fina rekan kerjanya.


Dipa sejenak terdiam untuk berpikir.


Mira kan sedang tidur, mendingan aku suruh pesankan makan siang sekalian aja deh! gumannya.


"Ya udah, Fin. Kamu pesankan sekalian aja ya buat istriku!" ujar Dipa.


"Okey, Mas. Siap!" tutur Fina.


Kemudian sambungan diputus.


Dipa kembali menekuni pekerjaannya. Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu dan adzan dhuhur berkumandang. Dipa memutuskan untuk ke luar dari ruangan kantornya untuk pergi ke masjid yang tak jauh dari tempatnya saat ini dan meninggalkan Mira sendirian di ruangannya.


Seusai dari masjid Dipa bertanya pada Fina yang berada di front office.


"Fin, cateringnya belum datang?" tanya Dipa saat tidak melihat ada lunch box di meja FO.

__ADS_1


"Belum, Mas. Nanti aku suruh antar ke ruangan sekalian deh kalau udah datang!" tutur Fina.


"Okey!" ucap Dipa kemudian beranjak pergi menuju ruangannya.


Sesampainya di ruangannya, ternyata Mira belum juga bangun. Dipa duduk di tepian sofa dan mengamati raut muka istrinya yang sedang tidur.


Mira manis sekali saat tidur ... bikin gemes aja sih! bikin pengen cepet-cepet bawa dia pulang! gumam Dipa di dalam hati.


Kemudian Dipa mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengecup pipi Mira yang masih tidur.


Cup!


Tepat di saat itu tiba-tiba pintu terbuka disusul suara seruan dari seseorang.


"Catering!" seru Dina sembari mendorong pintu dengan punggungnya. Sedangkan tangannya penuh dengan lunch box di tangan.


Dina terkesiap saat menyaksikan pemandangan di depannya yang seketika membawa awan mendung yang muncul di benaknya.


Dina melihat Dipa yang tubuhnya condong ke bawah dan hanya berjarak beberapa centi dari wajah perempuan yang sedang tidur di atas sofa.


Saat itu juga Mira mulai mengerjap membuka matanya saat merasa tidurnya terganggu. Dipa dan Mira menoleh ke arah sumber suara yang menampakkan Dina yang bengong di depan pintu.


"Ma-maaf, saya tidak tahu jika sedang ada tamu!" tutur Dina terbata-bata dan bibirnya yang mendadak kelu.


Dipa membenarkan posisi duduknya begitupun Mira yang segera bangkit untuk duduk.


Dipa berdiri mendekat ke arah Dina.


Mira yang masih linglung karena baru bangun hanya mengangguk kecil sembari tersenyum ke arah Dina.


Dina memandang lekat ke arah Mira. "Mas Dipa, kapan menikah?" ujarnya.


"Seminggu yang lalu, di Jakarta. Makanya ini baru ngantor lagi," tutur Dipa sembari tersenyum.


"Oh, selamat atas pernikahannya. Aku lanjut nganter ke ruangan yang lain dulu, Mas. Permisi!" ujar Dina kepada Dipa, kemudian memandang ke arah Mira penuh arti.


"Terima kasih, Din!" ujar Dipa.


Setelah itu Dina berpaling dan beranjak ke luar dari ruangan kantor Dipa.


"Mi, kamu salat dulu di musala, habis itu kita makan siang!" tutur Dipa membimbing istrinya.


"Di mana musalanya?" tanya Mira.


"Ruangan di sebelah kamar mandi, Sayang!" tutur Dipa lembut.


Mira mengangguk patuh, kemudian ke luar dari ruangan.

__ADS_1


Saat dia membuka pintu dan ke luar dari ruangan kantor Dipa, dari jarak yang tidak terlalu dekat Mira melihat Dina meletakkan tumpukan lunch box di atas meja yang terdapat dispenser air minum, kemudian tangannya mengusap beberapa kali, sesuatu dari wajahnya.


Apa dia habis menangis, ya? batin Mira.


Dina terlihat membawa kembali lunch box yang ditaruhnya di atas meja tadi, kemudian membawanya masuk ke ruang kerja karyawan lain.


"Apa dia menyukai, Didiku? pantas saja tadi ngeliatin aku kaya yang benci gitu! awas aja kalau sampai ganggu suamiku! aku gak bakalan diem aja meskipun dia keponakan Reyna!" gumam Mira sendiri.


Setelah itu Mira beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


****


Di resto Abiyu.


"Fe, kamu mau ikut ke pantai nggak? nanti sore aku mau bawa Reyna ke pantai. Selama di sini aku belom sempet ngajak dia jalan-jalan. Makanya sebelum dia melahirkan aku pengen membawa dia refreshing!" ujar Abiyu kepada adiknya yang sedang fokus pada handphone di genggamannya.


"Mau dong, Kak! selama di sini kita belum jalan-jalan sama sekali. Bosen ah, cuma di resto dan rumah belakang melulu! kak Reyna pasti suka tuh, secara ibu rumah tangga itu kan selalu di rumah untuk mengurus anak dan suami, mengajaknya liburan itu ide yang cukup bagus, Kak," tutur Fely yang menyukai ide kakaknya itu.


"Oke, nanti kita ke pantai habis jam kerja. Aku pengen bawa Reyna lihat sunset," tutur Abiyu.


"Siap, Kak!" jawab Fely penuh semangat.


drrtt ... drrtt ... drrtt.


✉️ Raka


Fe, nanti sore bisa ketemu nggak?


^^^✉️ me^^^


^^^Yah, nggak bisa! kakakku ngajakin ke pantai nanti sore.^^^


✉️ Raka


Boleh aku ikut nggak? aku cuma pengen lihat kamu dari jauh.


^^^✉️ me^^^


^^^Nanti aku wa lokasi pantainya.^^^


✉️ Raka


Oke, sampai ketemu nanti sore.


"Kamu lagi berkirim pesan sama siapa, Fe?" tanya Abiyu yang melihat adiknya tak henti-hentinya mengulas senyum sembari menekuni handphone di tangannya.


"Hah, emm ... sama temen Fely kok, Kak! Fely balik ke ruangan Fely dulu ya, Kak!" jawab Fely gelagapan dan memilih untuk pergi demi menghindari pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

__ADS_1


Abiyu memandang heran kepada adiknya, namun hanya diam saja seraya menatap kepergian Fely.


...___________Ney_nna___________...


__ADS_2