Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Terurainya Benang Kusut Ummi Aini


__ADS_3

Sejak semalam Fadhil terus murung. Ia masih memikirkan kata-kata abinya Cindy. Dalam benaknya terus bertanya-tanya siapa yang telah mempengaruhi Cindy untuk membatalkan khitbahnya. Namun, Fadhil tidak bisa membahasnya untuk saat ini dengan kedua orangtuanya. Sebab ada istrinya yang harus ia jaga perasaannya. Ia tidak ingin istrinya salah paham jika ikut mendengar perdebatan mereka nanti. Sejatinya Fadhil hanya ingin semuanya jelas. Supaya ia bisa ikhlas untuk menerima kenyataan.


"Mas, ini kopinya," ujar istri Fadhil sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja depan Fadhil.


"Terima kasih ya, Dek."


Fadhil meneguk segelas kopi yang di buat oleh istrinya, dengan perlahan. Tia adalah wanita yang dinikahi Fadhil selama lima bulan ini. Tia adalah istri yang baik dan sangat penurut. Tia juga cukup cantik, namun ia agak pendiam. Sejak menikah dengan Tia, Fadhil berusaha untuk bisa mencintai Tia. Namun, itu tidak mudah, sebab Fadhil masih merasa ada ganjalan di hati.


Terkadang tiba-tiba saja ia bermimpi seolah kembali ke masa pertama kali ia mengagumi Cindy dalam diam, yaitu saat seringkali melihat Cindy menjemput adiknya di pesantren, juga kembali mendapat kan mimpi pada masa ta'arufnya dengan Cindy, dari situ lah bermula Cindy menempati ruang di hati Fadhil. Dan terkadang dalam mimpinya ia berada di sebuah butik bersama Cindy dan Ummi yang tengah mempersiapkan baju pernikahannya dengan Cindy. Kenangan demi kenangan manisnya bersama Cindy seolah terputar dalam mimpinya, padahal ia tidak pernah lagi berjumpa dengan Cindy setelahnya.


Hanya satu keinginannya yaitu mengetahui alasan atas pembatalan khitbahnya yang secara tiba-tiba. Supaya benang kusut yang mengganjal di hatinya dapat terurai dan ia dapat dengan ikhlas menerima kenyataan, bahwa takdir memang tidak mempertemukan mereka dalam ikatan suci pernikahan.


"Mas..., mas Fadhil!" suara panggilan dari istrinya menyadarkannya akan lamunannya.


"Maaf, Dek. Mas tadi tidak fokus. Adek tadi bilang apa?" tanya Fadhil lembut.


"Kalau boleh aku ingin pergi ke rumah Ibu, Mas. Aku rindu sudah sebulan belum menjenguk Ibu," ujar Tia istri Fadhil.


"Tentu saja boleh, Dek. Bersiaplah, aku akan mengantarkanmu," ujar Fadhil.


"Mas, Fadhil tidak akan ikut menginap?" tanya Tia.


"Mas sedang ada urusan, Dek. Jika nanti urusanku sudah selesai, Mas akan kembali menyusulmu. Tapi jika belum terselesaikan, kamu tidak keberatan kan jika Mas menyusulmu besok pagi?" tanya Fadhil kepada istrinya.


"Iya, Mas. Aku akan selalu menunggumu, Mas," Tia tersenyum manis kepada suaminya. Kemudian ia berlalu menuju ke dalam rumah untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Sepeninggal istrinya, Fadhil merasa sedih dengan kepatuhan istrinya terhadapnya. Ia memiliki istri yang begitu tulus dan setia padanya. Namun, Fadhil merasa ia belum bisa sepenuhnya mencintainya.


Setelah beberapa saat istrinya kembali. Fadhil kemudian mengantar istrinya ke rumah mertuanya. Dari sana Fadhil memohon diri pamit untuk mengajar di pesantren. Seusai makan malam bersama kedua orang tuanya Fadhil meminta abah dan umminya untuk bertemu di ruang tengah. Fadhil merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk berbicara dengan kedua orangtuanya tentang masalah pembatalan khitbahnya dengan Cindy.


"Mau bicara apa, Dhil?" tanya ummi Aini.


"Abah, Ummi, Fadhil langsung saja pada intinya, tolong katakan dengan jujur kepada Fadhil siapa dari kalian yang menginginkan khitbah Fadhil dengan Cindy saat itu batal," ujar Fadhil dengan tegas.


"Apa maksudmu, Dhil. Bukankah waktu itu Cindy yang membatalkannya? ujar abah.


"Untuk apa kamu membahas soal itu lagi, Nak. Sekarang kamu sudah mempunyai istri. Apa pantas jika istrimu mendengar kamu masih membicarakan wanita lain?" ujar ummi Aini.


"Ummi, Fadhil tidak bermaksud untuk menghianati Tia. Di sini Fadhil hanya ingin meluruskan kesalahpahaman antara Fadhil terhadap Cindy. Selama ini Fadhil merasa ada yang mengganjal. Fadhil sempat berprasangka buruk terhadap Cindy. Namun, ternyata prasangka Fadhil keliru. Cindy tidak pernah menghianati Fadhil. Namun, Cindy mempunyai alasan lain yang tidak bisa ia ungkapkan. Jadi Fadhil mohon jujurlah kepada Fadhil siapa yang telah meminta Cindy untuk membatalkan khitbahku!" tutur Fadhil panjang lebar.


"Pak Abu, Bah. Kemarin Fadhil meminta penjelasan dari Cindy, namun Cindy tetap tak mau mengatakannya. Dan pak Abu lah yang mengatakan jika pembatalan itu datang dari keluarga kita dan meminta Fadhil untuk mencari tau sendiri," tutur Fadhil.


"Astaghfirullahal'adzim, Abah tidak mungkin melakukan itu pada kalian, Dhil. Abu dan Abah sudah sepakat untuk menjodohkan kalian mana mungkin Abah tega melakukan itu," ustadz Maulana menyangkal jika bukan dirinya, "Ummi, apakah Ummi yang melakukannya?"


Ummi Aini yang sedari tadi diam dengan keringat bercucuran pun akhirnya tersentak kaget saat suaminya menanyakan hal itu kepadanya. Ia tahu bahwa suaminya cukup tegas.


"Maafkan, Ummi Fadhil. Tolong maafkan Ummi!" ujar ummi Aini.


"Astaghfirullahal'adzim, Ummi. Apa yang ada di pikiran Ummi hingga melakukan itu?" ujar ustadz Maulana dengan suara bergetar menahan amarah.


"Ummi, bukankah Fadhil ini anak kandung, Ummi? Lantas, mengapa Ummi tega merampas kebahagiaan Fadhil? Apa Ummi tahu beratnya Fadhil menjalani hari-hari setelahnya untuk bisa bangkit kembali. Hati Fadhil hancur, Ummi!" ujar Fadhil dengan emosi yang tertahan.

__ADS_1


"Maafkan Ummi, Fadhil. Ummi memang salah telah memisahkanmu dengan Cindy. Namun, ketahuilah Ummi melakukan itu demi kebaikanmu, Nak," ummi Aini mencoba untuk meyakinkan anaknya bahwa ia tidak sepenuhnya berbuat salah.


"Kebaikan yang mana, Ummi? Asal Ummi tahu selama ini Fadhil menderita. Harapan Fadhil hancur tiba-tiba. Fadhil bahkan tidak bisa menempatkan Tia di hati Fadhil karena masih ada ganjalan di masa lalu yang belum terselesaikan. Terlebih dengan Cindy, apa Ummi tidak merasa telah mendzoliminya dengan memintanya melakukan itu. Aku masih ingat betul saat Cindy membatalkan khitbahnya waktu itu, Cindy terlihat sangat sedih, Ummi. Aku yakin saat itu ia sangat terluka karena, Ummi!" Fadhil meluapkan segala keresahan di hatinya.


"Ummi menyesal Fadhil, tolong maafkanlah Ummi. Ummi memang salah. Ummi hanya....," ummi Aini tidak melanjutkan kata-katanya. Ia tidak ingin anak dan suaminya semakin marah.


"Hanya apa, Ummi? Apa alasan Ummi memisahkan mereka berdua? Tolong katakan semuanya dengan jelas jangan ada yang ditutup-tutupi!" ujar ustadz Maulana dengan tegas.


"Ummi hanya khawatir jika Cindy tidak bisa memiliki keturunan karena penyakitnya, Bah. Ummi sangat merindukan seorang anak kecil hadir di tengah-tengah keluarga kita. Semua itu ummi lakukan demi masa depan kalian.!" tutur ummi.


"Ummi bahkan mendahului takdir Allah. Jodoh, umur, dan nasib seseorang sudah di atur oleh Allah. Mengapa Ummi sebagai manusia biasa lancang untuk menentang takdir Allah. Memangnya Ummi merasa mampu untuk menyamai Allah hingga mengatur sendiri tadir anakmu. Ummi benar-benar keterlaluan. Datangi keluarga Cindy dan minta maaflah dengan mereka!" ujar ustadz Maulana dengan lantang.


Ummi Aini langsung bersimpuh di kaki suaminya.


"Tolong Bah, maafkan Ummi, Bah. Ummi tidak bermaksud seperti itu, Ummi menyesal telah melakukan itu, Bah!" ummi terus memohon, "Fadhil maafkan Ummi, Ummi memang salah tapi Ummi melakukan itu karena Ummi terlalu menyayangi keluarga ini!"


"Ummi telah membuatku malu dan mencoreng mukaku di hadapan keluarga mereka. Sungguh aku telah gagal untuk mendidik istriku sendiri. Jangan datang padaku sebelum mereka memaafkan Ummi!" ustadz Maulana meninggalkan tempat mereka saat itu juga dengan memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Bertaubat lah, Ummi. Fadhil sungguh kecewa dengan tindakan Ummi. Fadhil tidak akan menjadi anak durhaka meski Ummi telah menghancurkan kebahagian Fadhil. Fadhil mohon kedepannya Ummi jangan berbuat gegabah hingga melukai hati orang-orang yang menyayangi Ummi. Fadhil harap Ummi bisa merenungkan kesalahan Ummi!"


Fadhil pun ikut meninggalkan Umminya, dan memilih masuk ke kamarnya.


Ummi Aini tersedu-sedu seorang diri meratapi kesalahannya.


___________________Ney-nna________________

__ADS_1


__ADS_2