Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Gak jadi hilang


__ADS_3

POV Reyna.


"Kok kamu bisa baca buku itu sih, By!" tanyaku sambil menutup mulutku dengan jari tanganku. Aku sungguh terkejut, pasalnya buku itu pun terkunci.


Sungguh aku malu banget sama kamu, By!


"Maaf deh nggak ijin dulu, gemboknya juga aku rusak, tapi aku nggak nyesel waktu tau isi tulisan yang berada di dalamnya" ujar Hubby sambil tersenyum jail.


"Ieyhh, apaan sih, By. Malah di rusakin, pada hal selama ini aku hati-hati banget lhoh ngejaganya, biar nggak rusak sampe aku panik banget pas mau ilang!" aku mengerucutkan bibirku sambil mencubit-cubit perutnya membabi buta.


"Uuhh...iya...iya...maaf, Sayaang!" ujar Hubby yang kegelian, kemudian dengan cepat merengkuhku ke dalam pelukannya, "Memangnya gimana ceritanya sampai hilang?" tanya Hubby.


"Jadi pernah suatu kali, aku hampir kehilangan buku itu. Dulu sewaktu pindah kontrakan, Ibu sempat akan menjual buku itu. Kala itu..."


Flashback On...


"Reyn, buku-buku pelajaran waktu sekolah dan kumpulan buku cerita novel dan komik kamu itu di jual saja ya, Nak? Tidak mungkin kita membawa buku sebanyak itu ke rumah yang baru. Lusa kan sudah pindah mendingan bukunya di jual ke Mang Ipul," ujar Ibu.


"Yah...sayang banget bu, itu kan bukunya Reyna beli dengan menabung sisa uang saku. Emangnya laku, Bu?" tanyaku sembari memakai sepatu hendak pergi ke kampus.


"Tentu saja laku, Mang Ipul kan jualan buku bekas di pasar. Nanti bukunya di jual lagi sama yang membutuhkan, yah meski di beli dengan harga sangat murah, tapi kan bisa mengurangi barang bawaan. Lagian kan sudah tidak terpakai lagi kan sama kamu?" ujar Ibu.


"Ya sudah, Bu. Jual aja! Yang buku SMP sudah aku masukin di kardus tinggal bawa, yang buku SMA sama buku bacaan masih di almari buku bagian bawah. Ibu yang beresin ya? Reyna sudah nggak keburu mau ke kampus. Ohya, yang atas itu buku kuliah jangan ikut di jual ya, Bu!" ucapku sembari mengenakan tas ransel dan mengambil kunci motor.


"Ya udah berangkat sana!" ujar Ibu.


"Reyna, berangkat dulu ya, Bu? Assalamu'alaikum!" aku mencium punggung tangan Ibu untuk berpamitan.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya Reyn, nggak usah ngebut!" teriakan ibu dari ambang pintu kamar, yang masih sempat ku dengar.


Aku berjalan keluar menuju teras rumah. Motor matic kesayangan sudah terparkir di depan rumah. Aku memakai helm kemudian menaikinya. Tak lupa berdo'a, lalu aku pacu motorku meninggalkan rumah menuju kampus.


Waktu bergulir lambat, dua jam pelajaran berlalu, namun sejak tadi hatiku resah seperti ada yang harus aku pastikan dan ingin segera pulang. Aku teringat buku diary ku waktu SMP. Aku masih menyimpannya di antara buku-buku sekolah agar tidak terlihat oleh ibu.


Aku sesekali membacanya setelah tiba-tiba bermimpi kembali ke masa SMP. Entahlah, mengapa aku masih terbayang-bayang oleh mimipi yang memutar kembali kejadian di masa itu yang menampakkan diriku yang masih mengenakan seragam putih biru.


Begitu dosen mengakhiri pelajaran. Aku bergegas menuju parkiran untuk pulang. Ku pacu motorku dengan cepat, 45 menit berlalu aku pun sampai di rumah. Aku parkir motor di teras kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum!" ucapku yang langsung berlari menuju kamar. Tak ada jawaban dari Ibu mungkin sedang di belakang.


Ku lempar asal tas ransel ke meja belajar, kemudian berjongkok membuka almari buku. Dan betapa terkejutnya aku saat kulihat rak di bagian bawah sudah kosong. Seingat ku, aku menyelipkannya diantara buku-buku pelajaran SMA ku. Pikirku mungkin aku sudah memindahkannya di rak atas. Kemudian aku mencoba mencarinya di rak atas di mana terdapat tumpukan buku-buku kuliah yang aku simpan. Beberapa buku aku keluarkan dan mengobrak-abrik isinya, namun tidak ketemu juga.


Ya Allah, di mana bukunya! gumamku saat terduduk lemas dengan bersandar ke tembok.


Kemudian aku memeluk kedua kakiku yang terlipat di depan, dan melipat tangan di atas lutut menenggelamkan wajahku di sana. Buku itu sangat berarti untukku dan sekarang aku kehilangan buku itu. Aku memejamkan mata, dan setetes air mata menetes dari sudut mataku. Pikiranku entah ke mana saja. Aku mencoba menegakkan kepalaku saat terlintas sebuah nama, "Mang Ipul!"


Benar, Ibu bilang bukunya di jual ke Mang Ipul bukan? Mungkin saja bukunya masih di rumah Mang Ipul. Batinku.


Tidak pikir panjang aku langsung menyambar tas dan kunci motorku. Aku kemudian bergegas pergi ke rumah Mang Ipul yang rumahnya di samping perempatan jalan tak jauh dari rumahku. Tidak sampai lima menit, aku sampai di rumah Mang Ipul. Rumahnya terlihat sepi, Mang Ipul memang tinggal sendiri karena ia merantau di kota ini. Aku mencoba mengetuk pintu. Namun tak ada yang menjawab. Tiba-tiba ada suara dari samping rumah.

__ADS_1


"Cari Mang Ipul, Neng?" terlihat seorang ibu paruh baya sambil menggendong anak kecil yang terlelap dalam gendongannya.


"Iya Budhe. Tapi sepertinya tidak ada orangnya di rumah," ucapku.


"Ya jelas atuh, Neng. Kalau jam segini mah Mang Ipul masih di Pasar Buku Kwitang menjual dagangannya. Memangnya ada perlu apa? Coba nanti saya sampaikan kalau sudah pulang," ucap ibu itu.


Waduh kalau sampai bukunya di buang bagaimana, nggak mungkin kan buku diary mau di jual! Mendingan aku cari kesana, takut terlambat di buang gimana?


"Sebaiknya saya temui Mang Ipul di pasar saja Budhe, soalnya saya sedang mencari buku yang tadi di beli Mang Ipul. Saya permisi ya Budhe. Assalamu'alaikum!" ucapku lalu menuju motor.


"Wa'alaikumussalam!" jawabnya sayup-sayup ku dengar.


Aku bergegas menuju Pasar Buku Kwitang di dekat Terminal Senen, Jakarta Pusat. Sesampainya di sana aku bingung di mana letak toko buku Mang Ipul berada. Karena banyak sekali toko yang menjual buku bekas di sana. Aku sibuk celingukan membaca papan nama toko.


Aku mendatangi toko buku yang berada di depanku. Ternyata penjaga tokonya adalah seorang perempuan. Aku mencoba kembali mencari di deretan toko yang lain namun tidak nampak Mang Ipul. Aku memutuskan untuk bertanya ke salah satu pedagang di sana.


"Permisi, Bu. Saya mau tanya barangkali Ibu mengenal penjual toko yang bernama Mang Ipul?" tanyaku.


"Ohh, Bang Syaiful ya maksudnya? Kalau Bang Syaiful tokonya ada di paling ujung Mbak," jawab Ibu itu sambil menunjuk toko paling ujung. Mataku mengikuti kemana arah ibu itu menunjuk.


"Ohh...yang paling ujung itu ya Bu? Terima kasih ya, Bu!" ucapku sambil mengangguk sopan.


Aku berlalu melangkah menuju toko yang di sebutkan oleh ibu tadi. Sesampainya di toko paling ujung aku membaca nama yang tertera pada bagian papan nama toko tertulis Toko Buku Syaiful. Pikirku benar ini lah tokonya. Aku mengedarkan pandangan ke dalam toko, aku melihat ada seorang laki-laki yang sedang berdiri sambil membaca buku, namun laki-laki itu bukan Mang Ipul.


Yahh...ini sih bukan Mang Ipul yang aku cari! gumamku dalam hati sambil menunduk lemas.


"Mau beli buku, Mbak?" aku terlonjak karena kaget. Pria itu mendatangiku yang sedang berdiri melamun di depan toko.


"Memangnya siapa nama tetangganya yang jual buku?" tanyanya.


"Orang-orang di kampung memanggilnya Mang Ipul. Maaf karena hampir sama nama tokonya, tadi saya pikir ini toko milik Mang Ipul tetangga saya. Ternyata bukan! Maaf ya Mas, saya permisi kalau begitu!" aku berbalik hendak pergi. Namun, laki-laki itu dengan cepat menghentikan langkahku.


"Eh...Mbak, tunggu!" teriaknya. Aku kembali berbalik melihat laki-laki itu.


"Ini benar toko Mang Ipul, yang Mbak maksud. Tapi kalau di sini terkenalnya Bang Syaiful, orangnya sedang keluar sebentar membeli makan. Saya hanya diminta untuk menunggu sebentar, sampai Bang Ipul kembali. Nah itu orangnya!" ujar laki-laki tersebut sambil menunjuk ke belakang di mana menampakkan Mang Ipul yang sedang berjalan mendekat sambil membawa bungkusan di tangannya.


"Ehh, lu bukannya, anaknya Mpok Yanti kan? Ada ape, Neng di mari?" tanya Mang Ipul begitu sampai di depan toko.


"Iya, Mang. Maaf kalau boleh, saya ingin memeriksa kembali buku yang dijual Ibu tadi pagi, Mang?" kataku.


"Ohh... boleh-boleh silakan, Neng. Itu masih di kardus, belum sempet aye pilah-pilah," ujar Mang Ipul.


"Terima kasih, ya Mang. Ada buku yang harusnya tidak di jual mungkin ikut ke ambil tadi sama Ibu," ucapku sopan.


Mang Ipul mengangguk-angguk, kemudian berjalan masuk ke dalam toko, aku mengikutinya dari belakang.


"Nih, dua kardus ni, Neng. Bukunya yang di cari kayak ape? Perlu aye bantu nggak?" tanya Mang Ipul.


"Tidak usah, Mang. Coba saya cari sendiri dulu aja," ucapku.

__ADS_1


"Oke, aye tinggal makan siang dulu ye. Dari tadi perut aye udah keroncongan!" ijin Mang Ipul sambil tersenyum ramah.


"Iya, Mang silakan!"


Aku berjongkok di depan kardus. Satu persatu buku pelajaran SMA aku keluarkan. Namun hingga buku terakhir tidak di temukan buku diary itu. Aku lantas mengembalikannya kembali ke dalam kardus. Meski sepertinya tidak mungkin, tapi aku tetap membuka kardus yang satunya yang berisi buku-buku saat SMP, dan hasilnya sama. Tidak ada buku yang aku cari.


"Gimana, nggak ketemu ya?" tanya laki-laki muda tadi. Aku tidak menyangka jika sedari tadi ia memperhatikanku.


"Emm, iya Mas. Nanti saya cari lagi di rumah saja. Mungkin ke selip di suatu tempat," ucapku.


Tiba-tiba Mang Ipul ikut mendekat, "Ade ape kagak, Neng bukunya?" tanya Mang Ipul.


"Nggak ada, Mang!" ucapku sedih.


"Emangnya, buku apa yang di cari?" tanya laki-laki tadi.


"Buku pribadi kok, Mas. Nggak apa-apa saya...!" ucapanku terpotong oleh suara Mang Ipul.


"Ohh...aye inget, Neng. Buku diary warna ijo bukan yang di cari? Tadi aye kembalikan ame Mpok Yanti. Kan kagak bisa di jual juga ntu bukunye!" ujar Mang Ipul yang seketika membuatku malu pada Mang Ipul dan laki-laki muda di samping Mang Ipul yang terlihat menahan tawanya.


"Ehh...iya, Mang. Maaf sudah merepotkan. Kalau begitu saya pulang dulu, Mang. Assalamu'alaikum!" meski sangat malu, aku mengangguk sopan kepada laki-laki itu juga untuk berpamitan.


Aku bergegas pulang kerumah sambil tersenyum sendiri di jalan merutuki kebodohanku yang tidak bertanya dulu pada Ibu.


Flashback Off.


"Duh aku benar-benar malu, By. Sama orang-orang itu waktu ketahuan buku yang di cari adalah diary, untung ibu waktu itu nggak kepo sama isinya!" aku memeluk erat Hubby mencari kenyamanan.


Saat ini aku kembali merutuki keteledoranku yang menaruh buku itu dengan sembrono hingga dengan mudah di temukan. Saat pindah ke rumah kakek, aku memang membawanya dan hanya menaruh di laci nakas karena tidak kepikiran akan ada yang membuka-buka laciku. Beruntung yang menjadi suamiku adalah orang yang sama yang ada di dalam tulisanku. Jika suamiku adalah orang yang berbeda pastinya akan menimbulkan ke salah pahaman karena sampai menikah masih menyimpan buku diary semasa SMP.


"Tuh kan mending aku yang nemu dan baca isinya, coba kalau orang lain! Sebenarnya, buku itu sangat berguna buat aku, buku itu adalah bukti autentik yang mengungkapkan perasaan kamu saat itu sama aku. Buku itu menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku saat itu tentang sikap kamu ke aku! Habisnya kamu selama ini nggak mau jujur sama akau tentang hal itu!" ungkap Hubby dengan cemberut.


"Tetap saja aku malu, By!" ucapku smbil menunduk.


"Malu kenapa kan sekarang sudah nikah sama aku! Aku justru bahagia, saat tau perasaan ku waktu itu ternyata tidak bertepuk sebelah tangan! Cuma aku kecewa, karena kamu mengorbankan perasaan kita demi menjaga perasaan orang lain. Kali ini, jangan pernah kamu lakukan itu lagi ya, Sayang!" ucapnya sambil mengusap-usap pucuk kepalalu yang tertutup hijab.


"Dulu dan saat ini keadaannya beda. Dulu kita masih terlalu muda untuk menjalin hubungan, justru jika saat itu kita pacaran bisa jadi aku semakin menderita saat di sekolah, karena harus menghadapi kemarahan para penggemarmu waktu itu. Kita jadi nggak konsen belajar dan lagi pula orangtuaku nggak akan mengijinkan aku pacaran," ujarku sambil mengingat kata-kata Ibu saat ada tetanggaku yang pulang sekolah diantar teman laki-lakinya.


"Reyna kamu jangan sampai pacaran ya, kamu masih kecil belum saatnya kamu memikirkan hal itu, fokus sama sekolah. Nanti kalau sudah dewasa, baru boleh menikah dengan laki-laki yang kamu cintai," ujar Ibu kala itu.


"Benar juga sih, Sayang. Dengan begini kisah cinta kita lebih berkesan, Allah telah menjodohkan kita untuk bersama, dalam cinta yang halal!" ujar Hubby sambil merengkuhku dalam pelukannya, sembari mencium keningku lama.


"Satu pertanyaan lagi, Sayang. Kamu terus menyimpan buku diary itu karena kamu masih mencintaiku kan? Tapi mengapa, kamu terlihat membenciku saat awal kita bertemu di rumah Kakek? Padahal kan udah nggak ada teman-teman kita. Kenapa kamu masih jutek sama aku?" tanya Hubby.


"Sejak saat itu aku jadi seperti trauma dekat dengan laki-laki, By. Aku selalu merasa nggak percaya ada laki-laki yang tulus. Aku takut bertemu cowok playboy kaya kamu dulu!" Hubby mengendurkan pelukannya dan menatap ku lekat.


Hubby mencakup kedua pipiku dengan kedua tangannya, "Sayang, aku pastikan aku akan selalu setia sama kamu, karena kamu tak akan tergantikan oleh siapa pun!" mataku berkaca-kaca dengan ucapannya. Hubby mengecup keningku dan memelukku erat.


__________________________________________

__ADS_1


like, comment, follow...🙏🙏


Tak bisa berkata yang lain lagi, author cape bgt tapi di paksain up ini buat kalian


__ADS_2