Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kabar Bahagia


__ADS_3

Kali ini Abiyu harus kembali bersabar, menantikan kabar dari Lala. Pasalnya di kantor ustadz Maulana hanya ada seorang penjaga yang hendak mengunci ruang kantor. Ustadz Maulana belum kembali dari pertemuan di luar pondok, sedangkan ustadz Fadhil sedang bepergian bersama istrinya.


Hari sudah menjelang maghrib ustadz dan ustadzah yang lain sudah kembali ke mess masing-masing untuk bersiap melaksanakan sholat maghrib. Akhirnya Abiyu memutuskan untuk ke luar dari pondok pesantren dan mencari hotel terdekat.


****


Flashback On.


*Dikediaman Fadhil.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Fadhil saat melihat istrinya sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan muka pucatnya.


"Entahlah, Mas. Sepertinya aku masuk angin. Sedari sore perutku rasanya tidak enak," jawab Tia sembari memegangi perutnya.


Fadhil mendekati istrinya, kemudian salah satu tangannya terulur ke depan. Punggung tangannya dia tempelkan pada dahi dan ceruk leher istrinya, namun tidak panas.


Tiba-tiba Tia bangkit dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Emph ...emph!"


Fadhil segera beranjak berdiri saat salah satu tangan istrinya mendorong bahunya, seolah mengisyaratkan untuk membuka jalan dan menyingkir.


Tia segera melompat turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi Tia segara memuntahkan sesuatu yang sudah mendesak ingin di keluarkan dari dalam mulutnya.


"Hoekk ... hoekk ...!" pekik Tia saat sebuah cairan bening seperti lendir berwarna putih ke kuning-kuningan ke luar dari dalam mulutnya.


"Dek, kamu muntah?" tanya Fadhil sembari mengusap pelan tengkuk leher istrinya.


Usai menuntaskan muntahnya, Tia segera membersihkan mulut dan wajahnya dengan air. Tubuh Tia terasa lemas dan tak bertenaga. Fadhil segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Dek, apa kamu sudah mendapatkan tamu bulananmu dibulan ini?" tanya Fadhil kepada sang istri sembari menggiringnya ke luar dari kamar mandi menuju tempat tidur.


Tia menghentikan langkahnya dan menatap ke arah suaminya sembari mengingat-ingat kapan terakhir kalinya dia mendapatkan mestruasi.


"Mas, aku rasa sudah agak lama aku tidak datang bulan. Tapi, aku memang sering telat datang bulan sejak satu tahun yang lalu," ujar Tia pada suaminya.

__ADS_1


"Mungkinkah kamu hamil, Dek. Bukankah dulu kamu juga mengalami yang seperti ini di awal-awal kehamilanmu, Dek?" tanya Fadhil sembari mengingat-ingat dulu kala saat istrinya sedang mengidam.


"Benar juga, Mas. Tapi, bagaimana jika--," perkataan Tia terpotong saat Fadhil menempelkan jari telunjuknya ke depan mulut isrinya.


"Jangan suudzon dulu, Dek. Prasangka Allah adalah prasangka hamba-Nya. Berpikirlah positif dan jangan khawatirkan apa pun. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak," tutur Fadhil menasehati istrinya. "Untuk lebih jelasnya, bagaimana jika kita periksakan saja dahulu ke dokter, Dek?" tanyanya.


"Maaf, Mas. Aku setuju untuk periksa ke dokter, Mas. Tapi, sebelum itu apa tidak sebaiknya dicek dengan testpack terlebih dahulu, Mas?" tanya Tia sembari menggiring Fadhil untuk duduk tepi ranjang mereka.


Muntah-muntah berulang kali dalam sehari ini, membuat tubuh Tia lemas hingga tak sanggup untuk berlama-lama berdiri. Terlebih nafsu makannya yang menurun dalam beberapa hari ini membuatnya sering merasa pusing.


"Benar juga, Dek. Baiklah aku akan ke luar untuk membelikan test pack untukmu, Dek!" tutur Fadhil kemudian beranjak berdiri.


Tapi, belum sempat melangkahkan kakinya, Tia dengan cepat menahan tangan suaminya untuk mengurungkan langkahnya. "Tunggu, Mas!"


Seketika Fadhil berbalik dan melihat ke arah istrinya. "Ada apa,Dek?"


"Aku masih menyimpan beberapa cadangan test pack di laci nakas, Mas," ujar Tia sembari menunjuk nakas yang berada di sudut ruang kamarnya.


"Tidak perlu, Mas. Aku masih sanggup membawa diri untuk ke kamar mandi," ujar Tia.


Perlahan Tia masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan pengecekan.


Fadhil menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Sudah hampir Dua tahun pernikahannya dengan Tia dan mereka belum dikarunia anak, pasca mengalami keguguran. Fadhil dan Tia tak henti-hentinya berdoa agar diberikan keturunan. Bahkan hal serupa juga terjadi kepada kakaknya yang sudah lama menikah, namun istrinya juga tidak kunjung hamil, sehingga umminya merasa tertekan dan berubah menjadi ambisius seperti perlakuannya terhadap Cindy kala itu.


Fadhil sungguh merasa kecewa dan marah akan tindakan umminya waktu itu, namun bagaimana pun umminya adalah ibu yang telah melahirkannya. Fadhil hanya bersabar dan berusaha menerima keadaan jika dia harus mengikhlaskan perempuan yang dicintainya dalam diam, dan mencoba untuk membuka hatinya kepada istrinya, wanita pilihan umminya yaitu Tia. Wanita yang saat ini menjadi istrinya yang lambat laun mengisi hatinya.


Beberapa saat kemudian Tia ke luar dari dalam kamar mandi. Tia nampak mengulas senyuman di bibirnya. Dia menyerahkan benda pipih itu kehadapan suaminya tanpa berkata apa pun.


Fadhil melihat ke arah istrinya sekilas, kemudian menerima benda pipih itu dari tangan istrinya. Dan saat mendapati tanda dua buah garis di bagian tengah benda pipih itu wajah Fadhil berubah menjadi sumringah.


"Alhamdulillah ... kamu hamil, Dek!" ujar Fadhil sembari memandang ke arah istrinya yang nampak ceria.


"Iya, Mas. Alhamdulillah positif!" tutur Tia kepada suaminya.

__ADS_1


Fadhil segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mereka merasa sangat bersyukur dengan hasilnya. Akhirnya doa-doa mereka telah di kabulkan oleh Allah di saat yang tepat. Di waktu keduanya tengah saling mencintai sebagai suami istri. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dan, Allah telah memberikan apa yang terbaik bagi hamba-Nya yang bersabar.


Fadhil kemudian mengajak Tia untuk memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan. Kedua tangan mereka saling bertautan sembari mengulas senyum bahagia seusai menjalani pemeriksaan. Usia kandungan Tia memasuki minggu ke delapan. Dokter mengatakan janinnya sehat dan normal. Hal itu membuat Tia dan Fadhil merasa sangat bahagia.


Flashback Off.


****


Seusai menjalankan sholat maghrib dan Qiro'ah. Semua santriwati berkumpul di ruang makan. Lala merasa sangat lapar, terlebih dia memiliki penyakit maag. Biasanya seusai sholat iya akan segera menuju meja makan dan melahap makanannya, namun mulai hari ini dia harus membiasakan diri dengan sejumlah jadwal dan kegiatan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan di pondok pesantren ini.


Dengan langkah gontai dia mengajari posisi kedua temannya yang sudah berjalan lebih dahulu di depannya. Seharian ini sungguh melelahkan dengan rutinitas yang ada. Namun, kedua teman barunya itu selalu menyemangatinya.


"Sabar ya, La. Kamu kan baru masuk, nanti lama-lama juga terbiasa. Aku dulu juga begitu. Kita nikmati saja suka dukanya, suatu saat kita akan menuai jerih payah kita selama di sini!" tutur Meilani sembari menarik tangan kedua temannya menuju antrean nasi. "Kamu duduk dulu aja, La. Biar aku saja yang mengambilkan makananmu," Meilani menambahkan.


"Beneran kamu gak keberatan, Lan?" tanya Lala dengan kaget. Dia tidak menyangka jika akan diperlakukan sangat baik oleh teman barunya.


"Iya, beres deh sama aku!" ujar Meilani.


"Makasih ya, Lan?" ujar Lala yang dijawab dengan anggukan.


"Kok sama aku nggak sih, Lan? Padahal aku sering bantuin kamu juga," tutur Niken yang ikut mendengar obrolan mereka.


"Mungkin tidak semua kebaikan kita mendapatkan balasan yang setimpal selama hidup di dunia. Sebab, bisa jadi Allah akan memberikan balasan kebaikan itu ketika berada di akherat nanti. Jadi selamat mengantre tuan putri!" tutur Meilani dengan candaannya kepada Niken.


"Bilang aja gak mau, Lan. Pakai ceramah dulu!" ujar Niken sembari menyikut lengn Meilani.


"Ini nih yang bikin aku gak redho sama kamu, Ken. Suka iri padahal kamu mampu. Kalau Lala aku ambilkan itu karena aku kasihan sama dia yang terlihat sangat kecapekan dan dia bilang ada riwayat maag. Nah kalau kamu kan mampu mengantre, kecuali kamu sedang sakit!" tutur Meilani panjang lebar.


"Sudah ... sudah, jangan ribut ya anak-anak. Ayo tertibkan antreannya," tutur Reyna yang baru datang tanpa mengenakan cadarnya.


Seketika Lala membulatkan mata melihat hal yang sedari tadi ingin dia ketahui. Lala segera bangkit berlari kecil menuju keberadaan Reyna. "Mbak Reyna!" pekik Lala sembari memeluk Reyna dan menumpahkan kerinduan yang teramat sangat.


___________________Ney-nna________________

__ADS_1


__ADS_2