Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Pergi!


__ADS_3

Tak berapa lama Reyna dan Dina sampai di Stasiun Tugu. Mereka mengecek jadwal keberangkatan kereta dari Yogyakarta ke Solo.


"Mbak, duduk aja di situ, mana KTPnya biar aku yang beli tiketnya," ujar Dina.


Reyna merogoh dompet di sling bagnya, kemudian di ambilnya lembar uang ratusan ribu beserta KTP.


"Nih, Mbak tunggu di sana ya?" ucap Reyna, dibalas anggukan oleh Dina. Kemudian ia berjalan menuju ruang tunggu.


Tak berapa lama Dina kembali membawa tiketnya, "Ini, Mbak boarding passnya. Keberangkatannya jam 10.04 tinggal 15 menit lagi. Nanti berhentinya di Stasiun Solo Balapan ya mbak."


"Iya, Din. Makasih ya?"


"Kamu pulangnya hati-hati, jaga Bibi baik-baik ya?" Reyna menggenggam tangan Dina.


"Pasti, Mbak. Mbak juga hati-hati!" balas Dina.


Reyna sebenarnya masih sangat merindukan kebersamaan dengan keluarga Bibi. Dulu waktu masih kecil setiap lebaran selalu berkumpul, entah paman sekeluarga yang datang ke Jakarta atau keluarga Reyna yang berkunjung ke Jogja. Reyna merasa memiliki saudara saat bercengkerama bersama Dina dan Dino.


"Din, Mbak sudah transfer uang ke rekening Bibi untuk biaya sekolah Dino. Kamu sebaiknya juga ambil kuliah Din, nanti Mbak bantu buat biayanya," ujar Reyna.


"Dina harus kerja, Mbak," ucapnya lirih.


"Kamu bisa nyari kerja part time, jadi bisa tetep kuliah. Mbak pengen masa depan kamu cerah, modalnya kamu harus rajin berusaha dan berdo'a. Kamu jangan sungkan sama Mbak, jika butuh sesuatu bilang ke Mbak, ya? Nanti Mbak, usahakan," ujar Reyna panjang lebar.


"Makasih ya, Mbak. Dina banyak berhutang budi sama keluarga Mbak," Dina memeluk Reyna erat.


Setelah beberapa saat kemudian Reyna melerai pelukannya dan menuju peron. Begitu kereta datang, dengan perlahan Reyna menaiki gerbong kereta. Beruntung di dalam kereta tidak terlalu penuh, Reyna sangat menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan di luar jendela. Mungkin karena sudah sarapan dan meminum vitamin untuk ibu hamil, Reyna tidak lagi merasa mual meski sedang naik kereta. Perjalanan kurang lebih 50 menit, akhirnya Reyna sampai di Stasiun Balapan Solo. Reyna menyempatkan untuk ke toilet terlebih dahulu, untuk buang air kecil. Saat di kereta ia sudah menahannya, wajar ibu hamil pasti lebih sering ke toilet. Setelah selesai ia mencari taxi untuk menuju rumah Rangga.


****


Tok...tok..tok..


Mendengar pintu di ketok Siti buru-buru menyudahi acaranya mencuci piring, menutup kran wastafel dan bergegas menuju pintu ruang tamu. Saat pintu di buka nampaklah Putri yang berdiri di balik pintu.


"Eh, Mbak Putri. Nyari Ibuk apa Mas Rangga?" tanya Mbak Siti.


"Panggilin Mami aja, Mbak," jawab Putri. Dulu biasanya ia bebas keluar masuk rumah ini. Sekarang terasa canggung karena Rangga sudah menikah dengan wanita lain.


"Iya, Mbak tunggu sebentar ya?" ucap Mbak Siti meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar Lena. Tak berapa lama nampak Lena masuk ke ruang tamu.


"Yaampun, kamu kaya siapa aja sih, Put. Biasanya juga langsung masuk. Kenapa berdiri di sini. Siti nggak nyuruh kamu masuk ya? Keterlaluan!" ucap Lena dengan lantang.


"Nggak kok, Mi. Jangan salahin Mbak Siti. Putri cuma canggung aja mau masuk. Secara kan Putri bukan siapa-siapa!" ujar Putri sedih.


"Eh... kata siapa? Sampai kapanpun kamu itu putri Mami, jadi nggak ada yang boleh nglarang kamu buat datang ke sini," Mami mengajak Putri untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Uhh... iya deh, Putri kangen banget sama Mami, sama semuanya juga!" Putri memeluk Lena dan di sambut hangat oleh Lena.


"Mami, juga kangen banget sama kamu. Lain kali kalau kamu senggang musti sering-sering kemari ya, Mami itu suka kesepian, nggak ada temennya, kalau Papi kerja cuma sama Siti aja, di rumah bosen," ungkap Lena.

__ADS_1


"Iya deh, iya. Oiya, Mi. Rangga sakit apa?" tanya Putri.


"Kecapekan dia, sama itu asam lambungnya naik gara-gara makannya gak teratur. Mami sih curiga sepertinya dia lagi ada masalah sama istrinya," ucap Mami lirih sedikit berbisik.


Putri merasa sedih, segitu cintanya kah Rangga terhadap Reyna sampai di bawa sakit segala. Hanya karena ada masalah diantara mereka. Padahal dulu Rangga terkesan cuek dan masa bodoh, biasanya Putri lah yang lebih dulu mengajak berbaikan.


"Mih, sebenarnya Putri kesini karena ada sesuatu," ucap Putri ragu.


"Sesuatu apa, Sayang. Ayo nggak usah sungkan, bilang aja sama Mami!" titah Lena.


"Gini, Mi. Temen Putri kan ada yang kerja di restoran daerah Jogja, kemarin tanpa sengaja dia lihat istri Rangga yang lagi berdua dengan laki-laki lain," ucap Putri dengan lirih.


"Reyna dengan laki-laki lain?" Lena terkejut, tidak menduga jika wanita sepolos Reyna tega mengkhianati putranya, "Memangnya temen kamu sudah pernah ketemu sama Reyna?"


"Iya, dulu kita sempat ketemu Rangga bersama istrinya saat di hotel, Mih," ujar Putri.


"Ini Mi buktinya, dia sempat mengambil foto mereka berdua saat makan di resto."


Putri menyerahkan handponenya kepada Lena, yang memperlihatkan foto Reyna yang sedang duduk di meja makan, berhadap-hadapan dengan seorang laki-laki. Kemudian foto ke dua saat Reyna jalan berdampingan bersama Abiyu yang sedang membawa koper di tangannya.


"Dasar wanita munafik!!"


"Beraninya dia ke Jogja dengan laki-laki lain. Bisa-bisanya dia berselingkuh saat di tinggal ke Surabaya oleh Rangga!" Lena menjadi semakin emosi.


"Tenang, Mih. Mami harus tenang!"


"Cukup kita tahu bahwa Reyna bukanlah istri yang baik untuk Rangga," ucap Putri.


"Putri, ambilkan minum dulu, Mih," Putri beranjak menuju dapur mengambil minum.


"Assalamu'alaikum!" ucap Reyna saat sampai di teras rumah orangtua Rangga sambil menenteng koper di tangannya.


Mami yang berada di ruang tamu langsung bisa melihat keberadaan Reyna di ambang pintu.


"Kamu...! Mau apa datang kemari!?" Lena bergegas berdiri menuju pintu depan mencegah Reyna untuk masuk.


"Reyna, mau bertemu Rangga, Mi," Reyna terkejut melihat mertuanya yang seperti sedang marah terhadapnya.


"Untuk apa kamu menemui Rangga? Nggak usah berpura-pura sok baik kamu Reyna, aku sudah tau kebusukanmu!" ujar Lena dengan sinis.


"Maksud Mami apa? Reyna sama sekali nggak berpura-pura, Mi," Reyna mulai bingung dengan sikap dingin mertuanya.


"Dasar perempuan munafik kamu Reyna! Aku sudah menduga selama ini kamu hanya memanfaatkan kebaikan Kakek dan Nenek agar kamu bisa meningkatkan status sosial kamu yang hanya orang miskin!"


"Kamu menuruti untuk di jodohkan dengan Rangga juga hanya untuk berpura-pura patuh kepada Kakek kan!?"


"Dan sekarang beraninya kamu berselingkuh dari Rangga!" ujar Lena dengan emosi meluap-luap.


Astaghfirullah, cobaan apa ini ya Allah? Kenapa Mami berkata seperti itu terhadapku. Aku tulus menyayangi keluarga ini mengapa Mami menuduhku berpura-pura! Ya Allah, mengapa Mami bisa memfitnah aku berselingkuh, padahal aku sangat mencintai suamiku. Aku bahkan tengah mengandung buah hati dari suamiku. Berilah aku kesabaran ya Allah!

__ADS_1


Reyna sangat terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut ibu mertuanya. Hatinya benar-benar terluka mendengarnya. Derai air mata mengalir begitu saja saat mendengar tuduhan-tuduhan yang menyudutkannya.


Putri dan Siti menyaksikannya dari dalam rumah. Sedangkan Rangga masih terlelap dalam tidurnya karena pengaruh obat yang di minumnya.


"Mi, Reyna mohon dengarkan penjelasan dari Reyna dulu, Mi. Itu tidak benar, Reyna tidak pernah selingkuh, Mi!" Reyna berusaha membujuk dengan sabar menghadapi kemarahan ibu mertuanya.


"Ini buktinya!"


"Kamu nggak bisa berkilah lagi Reyna!" Lena menunjukkan foto Reyna bersama Abiyu dari handphone Putri.


"Mi, itu nggak seperti yang Mami lihat, Mi!"


"Tolong dengarkan penjelasan Reyna, Mi!" dengan isak tangis yang berjatuhan dari sudut matanya, Reyna memohon dengan berlutut di hadapan mertuanya.


"Aku nggak butuh penjelasan dari kamu!" "Sekarang kamu pergi dari rumah ini, dan jangan kamu kembali ke rumah Kakek juga!"


"Mereka akan sangat kecewa mengetahui kelakuan anak pungutnya yang tidak tahu diri!"


"PERGI KAMU REYNA!" Lena mendorong bahu Reyna hingga tersungkur ke lantai.


Reyna sangat terkejut dengan tindakan mertuanya yang tega mendorongnya dengan kasar. Reyna memegangi perutnya yang masih rata, berharap tidak terjadi sesuatu dengan kandungannya. Air matanya semakin deras mengalir, tubuhnya bergetar di sela-sela isak tangisnya. Ia tak percaya akan di perlakukan seperti ini setibanya di Solo.


Ya Allah, lindungilah janin yang ada dalam kandunganku!


Reyna tahu mertuanya saat ini sedang terbalut emosi sehingga sangat marah terhadapnya. Lebih baik ia pergi dari pada mendebatnya hanya akan memperburuk keadaan. Dengan perlahan Reyna mengusap air matanya dan berusaha untuk kembali bangkit.


Siti dari dalam rumah hendak beranjak untuk menolong Reyna, namun hal itu terurung tatkala Putri mencegahnya.


"Jangan ikut campur, Mbak!" ucap Putri sambil mencekal tangan Siti.


Siti bimbang, dalam hati ia sangat kasihan melihat Reyna yang tersungkur di lantai. Namun apa daya ia hanya seorang pembantu di rumah ini. Ia hanya bisa meteskan air mata karena tidak tega melihat kejadian barusan di depan mata.


"Baik...Mi, Reyna akan pergi. Tapi suatu saat kebenaran pasti akan terungkap!" Reyna mengambil kopernya, sekilas memandang ke arah Putri dan Siti yang berada di dalam rumah. Kemudian dengan perlahan ia berjalan meninggalkan rumah mertuanya. Derai air mata terus mengalir mengiringi langkahnya. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan tak tentu arah. Sesekali ia menengok ke arah balkon berharap dapat melihat Rangga di atas sana, namun tak ada siapapun. Reyna kemudian menghentikan taxi yang kebetulan lewat dan pergi dari sana.


Sayup-sayup Rangga mendengar ada keributan. Ia merasa terusik dalam tidurnya. Namun saat ia membuka mata, tidak ada lagi suara keributan yang terdengar.


"Apa tadi hanya suara-suara dari dalam mimpiku saja!" gumam Rangga.


Perlahan ia beranjak bangun dari tidurnya. Disibaknya selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju balkon kamarnya. Tak ada siapapun dan suasana sangatlah tenang.


Di lantai bawah Lena meminta Siti mendekat kepadanya, "Jangan katakan apapun yang barusan kamu lihat kepada Suamiku dan juga Rangga, mengerti!"


"Iya, buk. Saya tidak akan mengatakannya!" ujar Siti dengan pasrah.


🍁🍁🍁


Mohon maaf baru bisa upload, kemaren habis nulis Bab Sakit, malah author ikutan sakit. Jadilah tidak konsen untuk menulis karena kepala nyut-nyutan, bahkan sekarang juga masih. Mohon do'anya yah teman-teman...


Selalu setia dukung author dengan like dan komentar nya 🙏

__ADS_1


Salam hangat,


Neyna


__ADS_2