Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Perjalanan Hijrahnya Mira


__ADS_3

Pagi itu Mira bangun dengan perasaan yang bahagia. Ini adalah hari pertama dia akan masuk kerja dengan mengenakan hijab sebagai langkah awal hijrahnya. Mira ke luar dari kamarnya seusai membersihkan diri dan bersiap-siap. Mira menuju meja makan saat mamanya sudah menunggunya.


"Selamat pagi, Mama!" ujar Mira sembari mendekat dan mencium pipi kanan mamanya.


Mama Mira terdiam saking speechless melihat penampilan baru Mira. Mira memang sengaja tidak memberitahukan terlebih dulu tentang keinginannya untuk hijrah kepada mamanya. Dengan alasan, dia ingin melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan, ketika orang-orang melihat pertama kali penampilan barunya.


"K-kamu mau kemana pakai kerudung?" tanya mama terbata-bata sembari terus memperhatikan penampilan baru Mira.


"Kerja dong, Ma. Memangnya Mira mau ke mana lagi?" ujar Mira dengan tersenyum kemudian menaruh satu entong nasi ke dalam piringnya. Tak lupa dia menambahkan sayur dan lauk sebagai menu sarapan paginya yang telah di masak oleh mama.


"Beneran kamu mau ke ruko dengan pakai kerudung? oh ... Mama tahu, lagi ada event, ya?" tanya mama penasaran.


"Ih, Mama kepo, deh! do'akan semoga ini adalah jalan yang terbaik bagi Mira ya, Ma! semoga kedepannya Mira bisa istiqomah dengan hijrahnya Mira!" ujar Mira sembari mengatupkan kedua tangannya didepan hidungnya.


"Aamiin ...! jadi sungguhan kamu mau terus memakai hijab?" tanya mama sekali lagi untuk memastikan ulang.


"Insyaallah, semoga diridhoi oleh Allah niat baik Mira, ya Ma?"


"Alhamdulillah, Mama ikut senang, Sayang!" ujar mama terharu dengan langkah bijak yang diambil oleh anaknya, sembari mengulurkan tangan menggenggam tangan Mira, seolah menyalurkan dukungannya. " Wah, Mama jadi malu ini belum dapat hidayah, padahal sudah setua ini!" ujar mama sembari tersenyum, kemudian mengelap matanya yang sedikit berair.


"Uluh, Mama ..., jangan gitu Mira jadi ikut sedih!" ujar Mira sembari mengeratkan genggamannya.


"Iya, Sayang. Mama sangat bangga kepada kamu, Mira. Apa yang mendasari kamu melakukan hijrah, Mir?" tanya Mama penasaran.


"Semua itu terjadi begitu saja, Ma. Mira seolah mendapatkan petunjuk disatu hari kemarin secara berulang-ulang, sampai Mira merasa semakin yakin dan yakin untuk mengenakan hijab. Hidayah itu datang secara tidak terduga-duga sebelumnya, tapi sangat kuat sekali energinya, hingga Mira merasa mantap dan tekad Mira membulat. Tentu saja semua itu karena Allah semata, Ma. Tidak ada niatan yang lain!" tutur Mira panjang lebar.


"Alhamdulillah. Ayo sekarang makan dulu, Sayang! semoga harimu nanti menyenangkan!" ujar mama sembari mengulas senyum kemudian menyendok pada makanannya.


Seusai sarapan, Mira segera berpamitan pada mamanya. Kemudian, masuk ke dalam mobilnya. Mira segera menghidupkan mesin, kemudian melaju dengan kecepatan sedang menuju ruko.

__ADS_1


Dan benar saja, banyak tatapan yang tidak biasa yang ditujukan kepadanya. Ada tatapan kagum, senang, dan ada juga yang meremehkan, mencibir tapi di belakang Mira tentunya. Mana mungkin seorang karyawan akan berani pada ownernya di tempat kerja.


Mira tidak mengambil pusing tentang hal itu. Niat dan tekadnya sudah bulat, dia harus sabar untuk menghadapi situasi itu, anggap saja ini ujian sebelum naik pangkat. Begitulah dia menyemangati diri sendiri.


"Mbak Mira, kan?" ucap Gina saat melihat Mira masuk ke dalam ruko.


"Assalamu'alaikum, pagi Gina, Sesha!" ujar Mira sembari tersenyum ke arah dua temannya yang melongo saat melihat penampilan baru Mira.


"Pagii, Mbak. Ya Allah aku benar-benar pangling lhoh liat mbak Mira memakai hijab. Cantik sekali, terlihat lebih anggun dari sebelumnya!" ujar Gina jujur.


"Iya, Mbak. Sesha juga tadi ragu mau nyapa beneran mbak Mira bukan, tapi ternyata benar. Aduh adem sekali lihatnya!" puji Sesha pada Mira dengan mata berbinar.


"Terima kasih ya, buat support dari kalian. Do'akan semoga aku istiqomah dalam mengahadapi godaan dalam berhijrah!" tutur Mira mencari dukungan.


"Aamiin!" ucap Seha dan Gina hampir bersamaan.


"Udah yuk, kerja-kerja!" ujar Mira kemudian beranjak menaiki tangga.


Mbak Mira benar-benar mengejutkan! batin Ghina.


Sesampainya di ruangan kantornya, Mira melakukan pencarian di internet tempat yang pas untuk dirinya memperdalam ilmu agama. Dia harus mengikuti kajian supaya menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk orang-orang yang ingin melakukan taubatan nasuha. Taubat dengan sebenar-benarnya taubat.


Dan saat itu dia mendapatkan banyak referensi dari berbagai ulasan di internet. Mira mencoba untuk mempelajari misi dan visi dari masing-masing lembaga organisasi keagamaan yang dia yakini bagus dan cocok dengan prinsip-prinsip yang dipahaminya.


Setelah dua hari dia memutuskan untuk memilih salah satu tempat kajian yang menurutnya bagus untuknya. Rupanya kajiannya tersebar di seluruh wilayah. Sehingga tidak perlu pergi jauh-jauh karena di setiap daerah ada cabangnya masing-masing.


Mira kemudian mendaftar sebagai anggota. Dan hal itu diterima dengan baik oleh majelis tersebut. Mira melakukan kajian seminggu sekali di sore hari sepulang kerja. Saat berada di rumah Mira mencoba untuk mendengarkan kajian secara online untuk menambah wawasan. Tak hanya itu Mira juga mengikuti pelatihan untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'annya pada seorang ustadzah yang sudah katam Qur'an dan lulus tahsin.


Dari sana Mira diajarkan membaca Al-Qur'an dengan cara yang benar, dengan memperhatikan tajwid, sehingga tidak hanya asal baca, sebab cara membaca yang kurang tepat pengucapannya dapat merubah artinya. Sehingga dia berusaha untuk paling tidak memperbaiki sedikit demi sedikit agar tidak asal-asalan dalam membaca. Terlebih di tempat kajiannya juga di jelaskan penafsiran dari artinya, sehingga apa yang dia baca dimengerti pula arti dan maksud dari ayat demi ayat yang di lantunkan.

__ADS_1


Hal itu rutin dilakukannya hingga berminggu-minggu, dan bulan berganti bulan. Bahkan mama Mira pun akhirnya ikut tertarik untuk mengikuti kajian bersama dengannya. Mira bersyukur jika hijrahnya berdampak positif juga bagi mamanya.


Pada suatu sore, seorang pengurus di tempat kajian tersebut mendatangi Mira untuk menyampaikan pesan.


"Mbak Mira, nanti seusai kajian, tolong temui pengurus di bagian kantor ya? ada yang ingin di sampaikan dari pengurus cabang," tutur seorang ibu pembawa pesan.


"Baik, Bu. Nanti saya akan ke kantor sebelum pulang," ujar Mira mengiyakan.


Saat kajian usai, Mira mengajak mamanya untuk ikut mengantar ke kantor depan.


"Assalamu'alaikum," ucap Mira sembari mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalam," pintu terbuka menampakkan ketua cabang yang bernama Pak Ahmad. " Mari, Mbak, Bu ... silakan duduk," ujar Pak Ahmad menyambut Mira dengan ramah.


Di dalam juga ada slaah seorang pengurus yang lain. Menyapa Mira dan ibunya dengan ramah.


"Sebelumnya saya ingin memastikan terlebih dahulu ya, Mbak Mira? apa benar mbak Mira belum menikah?" tanya Pak Ahmad menelisik.


"Benar, Pak!" jawab Mira singkat.


"Begini Mbak Mira, di majelis kita ini ada program ta'aruf bagi antar anggota yang sudah cukup umur dan memenuhi syarat untuk membina rumah tangga. Sifatnya tidak memaksa, namun sekedar membantu, karena semua keputusan ada pada masing-masing, dari majelis hanya memfasilitasi saja. Jodoh tetap ditangan Allah."


"Jika berminat untuk melakukan ta'aruf, Mbak Mira bisa mengajukan CV (Daftar Riwayat Hidup) dan pas foto untuk kami kirimkan ke kantor pusat, yang nantinya akan di seleksi dan di tawarkan jika ada yang berminat melakukan ta'aruf dengan mbak Mira. Jika nantinya tidak cocok tetap bisa di batalkan. Karena keputusan tetap ada pada anda dan pihak laki-laki. Bukan dari pengurus," tutur Pak Ahmad panjang lebar.


Mira dan mamanya saling berpandangan dan hanya diam dengan pikirannya masing-masing.


"Silahkan bertanya kepada yang lain jika sungkan bertanya kepada saya. Oh ya, mbak Mira bisa bertanya kepada ustadzah Hani. Mbak Mira belajar membaca Al Qur'an sama Ust Hani bukan, beliau pasti bisa lebih luas lagi dalam menjelaskan. Karena beliau dulu juga bertemu jodoh dengan jalan ta'aruf dari sini," ujar Pak Ahmad yang seolah mengerti jika Mira dan mamanya masih bingung dengan hal itu.


"Baik, Pak. Terima kasih informasinya, saya kan memikirkan hal itu dulu dan mencoba bertanya pada Ust Hani. Semoga saya mendapat pencerahan tentang hal itu. Kalau begitu saya pamit dulu, Pak Ahmad. Assalamu'alaikum!" ujar Mira sembari menelungkupkan kedua telapak tangan didepan dada dan sedikit membungkuk.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam," ucap Pak Ahmad dengan melakukan hal yang sama.


__ADS_2