
Flashback On....
Reyna mengeryitkan dahi tatkala merasa ada yang aneh. Sakit di bagian bawah perutnya yang terkadang terasa sangat sakit namun tiba-tiba hilang. Saat sedang duduk dan hendak beranjak lagi-lagi terasa sakit dan tak lama hilang kembali, hingga ia mengurungkan niatnya untuk berdiri.
"Haduhh ini kenapa sih di bawah perut kenapa terasa sakit begini!" gumam Reyna.
Saat ini ia hanya sendiri di rumah. Rangga dan Papi sedang bekerja di kantor. Mami sedang pergi arisan dengan teman-temannya. Sedangkan mbak Siti sedari pagi meminta ijin untuk menjenguk kerabatnya yang sedang di rawat di rumah sakit.
Reyna membuka handphonenya untuk mengecek tanggal di kalender. Ini masih tanggal 16. Rasanya terlalu jauh dengan HPL yang di perkirakan dokter, yaitu tanggal 28 akhir tahun ini. Jika rasa sakit yang ia rasakan saat ini adalah tanda-tanda akan melahirkan, itu artinya meleset jauh dengan HPLnya.
Ia belum cukup paham untuk membedakan rasa sakit menjelang lahiran dan rasa sakit karena hal lain. Sebab ini adalah pengalaman pertamanya hamil. Membaca di google pun tidak fokus karena rasa sakitnya yang terkadang muncul. Mungkin kurang lebih durasinya 10 menit sekali. Ia juga tidak merasakan adanya cairan ketuban yang rembes. Lagi pula ia juga belum pernah melihat cairan ketuban itu seperti apa.
Hingga pukul 16.00 Mami Lena baru pulang dari arisan.
"Kenapa Reyn?" Mami langsung mendekat saat melihat Reyna seperti sedang menahan sakit di sofa tengah.
"Aduuhhh..., gak tau Mi, dari tadi siang Reyna ngerasa sakit dibagian bawah perut. Terkadang hilang sakitnya gak berapa lama sakitnya datang lagi!" tutur Reyna di sela-sela menahan sakitnya.
"Ini sih mau lahiran, Reyn. Jarak durasi sakitnya udah deket apa masih jarang tuh?" tanya Mami.
"Agak lama sih, Mi. Tapi Reyna gak tenang dari tadi takut karena cuma sendirian di rumah. Terus keluar flek darah di celana, Mi," ujar Reyna.
"Ohh...wajar sih itu, kemungkinan masih lama itu lahirannya. Lagi pula ini anak pertama. Sekarang kamu tenang pokoknya sabar dulu sampai terasa udah mulai cepet durasinya baru nanti kita ke rumah sakit. Sekarang coba dipakai jalan-jalan dulu ya," ujar Mami, "Oh ya, baju ganti dan segala kebutuhan yang harus dibawa ke rumah sakit jika sewaktu-waktu lahiran udah kamu persiapkan belum?" tanya mami.
"Sudah, Mi. Sudah Reyna Persiapkan di tas khusus. Aww...!" Reyna meremas handle sofa yang ia duduki.
"Kamu sabar dulu ya, Reyn. Tenang jangan panik!" ujar Mami.
Reyna pun akhirnya menuruti saran dari Mami Lena. Selepas maghrib Reyna sempat di bawa ke bidan yang tak jauh dari rumah. Namun, bidan mengatakan belum ada bukaan. Bisa jadi hanya kontraksi palsu dan kelahirannya masih mundur beberapa hari lagi mengingat HPLnya pun masih lama. Akhirnya Reyna di bawa pulang.
Sesampainya di rumah Reyna berbaring di kamarnya. Semakin lama semakin sering rasa sakitnya. Ia berpikir apa mungkin selama beberapa hari ke depan ia akan terus-menerus merasakan sakit begini. Padahal saat ini saja ia sudah tidak fokus untuk melakukan hal yang lain.
Hingga pukul 20.00 tiba akhirnya Reyna di bawa ke rumah sakit oleh Rangga dan Maminya. Sesampainya di rumah sakit ternyata baru bukaan 4. Bidan yang mengecek mengatakan kemungkinan masih lama hingga tahap sempurna yaitu bukaan 10 dan pecah ketuban
"Bu Reyna, dipakai tiduran dulu miring kiri ya, jangan berganti miring kanan, karena saat miring kiri itu si bayi akan mudah menuju jalan lahir. Sesakit apapun jangan berganti posisi, sebab jika miring ke kanan nanti bayinya bisa kembali masuk. Dan satu lagi dilarang mengejan, karena baru bukaan 4 dan ketubannya belum pecah tidak boleh mengejan. Permisi saya tinggal dulu ya, Bu," ujar bidan rumah sakit itu kemudian pergi.
Reyna merasa semakin lama semakin terasa sangat sakit. Ia meremas pucuk bantal yang ia tiduri.
"Mi, rasanya sakit banget. Bukaan sepuluh itu seperti apa rasanya?" tanya Reyna kepada mami Rangga.
__ADS_1
"Aduh, Mami sudah agak lupa Reyn, dulu saat lahiran Windy dan Rangga Mami caecar," ujar mami.
Reyna akhirnya berusaha tenang sambil melafalkan do'a-do'a untuk melancarkan proses persalinan di sela-sela menahan sakit saat kontraksi tiba.
Flashback Off.
"Ranggaaa...!" Rangga menoleh tatkala merasa ada yang memanggilnya.
Terlihat Cindy dan Dimas mendekat ke arah di mana Rangga berada.
"Ga, siapa yang sakit?" tanya Cindy.
"Reyna sepertinya mau melahirkan, Cin. Tapi tadi katanya baru bukaan 4. Ini aku belikan makanan supaya dia makan dulu. Dari tadi sore dia tidak ***** makan," ujar Rangga.
"Mas, kita lihat Reyna dulu yuk sebelum pulang!" ajak Cindy kepada suaminya.
"Iya, boleh," ujar Dimas.
Akhirnya mereka mengikuti Rangga hingga ke kamar Reyna. Dimas menunggu di luar, sedangkan Cindy ikut masuk ke dalam.
"Sayang, ada Cindy nih!" ujar Rangga sembari menaruh kotak yang berisi makanan di atas nakas.
"Wa'alaikumussalam. Kamu kenapa bisa ada di sini Cin?" tanya Reyna.
"Abi di rawat di rumah sakit, Reyn. Asam lambungnya kambuh. Gak nyangka ya Reyn, aku tadi pagi sempat ngomongin kamu sama Qila kalau mau lihat bayi kamu pas udah lahir. Eh, gak taunya kamu beneran udah mau melahirkan," ujar Cindy.
"Syafakallah buat Abinya ya, Cin. Aww... ssakiiitt!" pekik Reyna saat kontraksi mulai datang.
Cindy ikut mengeryit sembari menggigit bibirnya tatkala melihat Reyna kesakitan.
"Sayang, kamu makan dulu ya, aku suapin!" titah Rangga.
"Enggak, By. Aku gak mau!" tolak Reyna di sela-sela menahan sakit.
"Reyn, kamu makanlah sedikit untuk mengisi tenaga buat lahiran nanti," bujuk mami. Reyna kemudian mengangguk.
Namun baru satu suapan Reyna sudah mulai merasa sakit kembali.
Cindy yang menyaksikan merasa ngeri melihat Reyna kesakitan. Ia kemudian memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
"Emm, maaf karena sudah larut saya permisi pulang dulu ya. Semoga proses lahirannya berjalan lancar, Reyna dan bayinya sehat. Assalamu'alaikum!" pamit Cindy.
"Wa'alaikumussalam. Aamiin, terima kasih ya, Cin!" jawab Rangga. Cindy mengangguk kemudian berlalu.
Setelah sekian lama menunggu, hingga semalam tidak bisa tidur akhirnya pada pukul 08.00 pagi bukannya sempurna, tak lama ketubannya pun pecah. Reyna di pindahkan ke ruangan bersalin yang berada di sebelah kamar transitnya tadi.
Persiapan untuk melahirkan telah selesai. Bidan dan perawat berkumpul untuk membantu proses lahirannya. Rangga ikut serta menemani istrinya. Beberapa kali Reyna mengejan namun gagal, ia sudah kehabisan tenaga. Pukul 09.00 dokter Obgyn tiba. Dokter melihat Reyna mengalami dehidrasi dan terlalu letih.
"Pak, coba belikan teh manis hangat, untuk istrinya ya. Ibu Reyna ini dehidrasi sehingga tidak kuat mengejan," ujar dokter.
"Baik, Dok!" Rangga kemudian bergegas menuju kantin untuk membeli teh manis hangat untuk istrinya.
"Suster kemarin tidak di infus ya?" tanya dr.Nita.
"Tidak, Dok," jawab seorang perawat.
"Harusnya semalam di infus, kan sudah cukup lama mengalami kontraksi pasti susah makan. Ini gak ada asupan yang masuk jadinya," dokter menegur perawatnya.
Tak berapa lama Rangga sudah kembali dan Reyna di beri minum. Dokter kemudian memulai kembali proses persalinannya.
"Ayo, bu Reyna mengejannya lebih kuat ya, ini rambutnya sudah terlihat. Pak Rangga tolong istrinya di bantu!" dokter memberi arahan.
"Ayo sayang, kamu bisa!" Rangga mencoba menguatkan istrinya.
"Aaaarrghhh.....!" dua kali mengejan akhirnya bayinya lahir dengan selamat.
"Oeekk...oeeekk...!" seketika bayi itu langsung menangis.
"Alhamdulillah...!" ucap Rangga kemudian mengecup pucuk kepala istrinya yang sedang menangis bahagia.
"Selamat, ya Pak, Bu. Bayi kalian laki-laki," ujar dr.Nita.
"Terima kasih ya, Sayang!" Rangga menghujani istrinya dengan kecupan di keningnya.
"Pak Rangga bis keluar dulu, kita akan melakukan tindakan lanjutan untuk bayi dan ibunya."
Sepeninggal Rangga, suster menaruh bayinya di atas dada Reyna untuk dilakukan IMD. Bayi mungil itu menggenggam jari jemari Reyna seolah mencari kehangatan. Reyna merasa sangat terharu karena telah berhasil melewati proses persalinan dengan lancar. Rasa sakit yang sempat ia rasakan seolah hilang saat melihat bayi yang berada dalam dekapannya itu bergerak-gerak di atas tubuhnya. Rasa bahagia yang ia rasakan seolah tak tergantikan dengan apapun yang ada di dunia ini.
____________________Ney-nna________________
__ADS_1