Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Mimpi bertemu simbah


__ADS_3

Semilirnya angin yang berhembus di gelapnya malam yang bertaburan bintang di langit. Ada dua sejoli yang tengah terpaut dalam sebuah rasa. Yaitu rasa rindu, memiliki, menyayangi, dan mencintai. Entah sampai kapan, kita tak akan pernah tau takdir yang telah di gariskan oleh Sang Ilahi Robbi.


Reyna menidurkan bayinya ke dalam box bayi di samping tempat tidurnya. Bayi Reynand sudah terlelap setelah selesai menyusu. Reyna sedikit bernafas lega setelah sedari sore, Reynand sangat rewel. Tak seperti biasanya baby Reynand tak mau diturunkan dari gendongannya. Setiap ia terlelap, tak berapa lama ia akan kembali bangun begitu di rebahkan di atas ranjang kecilnya.


Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Rangga yang baru menyelesaikan ritual mandinya. Usai berpakaian perlahan Rangga mendekati istrinya yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Kakinya berselonjor dan tangannya memberi pijatan kecil di bahunya. Nampak sekali guratan lelah di wajah cantik istrinya.


"Sayang, Reynand sudah mau di tidurkan?" tanya Rangga yang ikut merebahkan diri di samping istrinya.


"Iya, By. Untung lah Reynand tidak bangun lagi setelah aku tempatkan di box bayinya," ujar Reyna dengan memelankan suaranya agar tak didengar oleh anaknya yang sedang tidur.


"Iya, Sayang. Kamu pasti capek banget seharian menjaga Reynand seorang diri!" tutur Rangga.


Reynand terus-menerus menangis jika tidak di beri ASI oleh Reyna. Sehingga tak ada yang bisa di lakukan Reyna selain menjaganya sendiri. Sebab setiap di gendong oleh yang lain bayi itu akan kembali menangis dan tak mau tenang. Dan hari itu kebetulan sekali Rangga ada pertemuan dengan klien hingga pukul 20.00 baru selesai dan setengah jam kemudian baru sampai di rumah.


Reyna beranjak menyamping dan menghambur ke pelukan suaminya untuk mencari kehangatan. Bersandar di dada suaminya menjadikan Reyna merasa tenang dan nyaman.


"Iya, By. Aneh sekali seharian ini Reynand rewel terus. Reynand tidak mau berhenti menangis selain saat menyusu. Padahal badannya tidak demam. Biasanya dia akan rewel setelah menjalani imunisasi. Dan besok baru jadwalnya untuk imunisasinya," tutur Reyna.


Rangga mengeratkan pelukannya dengan istrinya.


"Maaf ya, aku tadi pulang telat hingga tak bisa membantu menjaga Reynand?" Rangga mengecup pucuk kepala Reyna sembari membelai lembut rambut istrtrinya yang terurai panjang hingga ke punggungnya.


"Tak apa, By. Bisa terus bersandar di bahumu saja sudah membuatku senang. Seolah lelahku berkurang saat bersamamu seperti sekarang."


"Terima kasih karena kamu sudah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak kita. Meski aku tak bisa selalu berada di sampingmu tapi rasa cintaku padamu tak akan pernah pudar."


"Sayang, kamu adalah cinta pertama dan cinta terakhirku. Teruslah tersenyum dan jadilah ibu yang tangguh untuk Reynand. Berjanjilah kamu akan selalu bahagia," Rangga mengendurkan pelukannya dan mencakup kedua pipi istrinya dengan kedua telapak tangannya di hadapannya.


"Reyna Hanania, aku sangat mencintaimu selalu!" ucap Rangga yang membuat mata Reyna berkaca-kaca.


"Aku juga sangat mencintaimu, Rangga Putra Sanjaya."


Rangga mengecup singkat bibir istrtrinya kemudian merengkuhnya kedalam pelukannya.


"By, aku merasa ungkapan cintamu kali ini terasa sendu," ungkap Reyna.

__ADS_1


"Benarkah, mungkin karena kamu sedang capek, Sayang," Rangga mengurai pelukannya, "Coba berbaringlah biar aku memijat badanmu!" titah Rangga pada istrinya.


"Tidak perlu, By. Aku tau kamu juga pasti capek seusai meeting dengan klien hingga malam. Sebaiknya kita tidur saja," usul Reyna.


"Enggak, aku gak capek kok. Ayo berbaringlah cepat. Aku akan memberi pijatan yang nikmat yang tak akan pernah kamu lupakan!" canda Rangga kepada istrinya.


"Ishh, baiklah aku akan berbaring. Coba aku nilai senikmat apa pijatan suamiku," Reyna beranjak merebahkan kepalanya di bantal dan merilekskan badannya.


Rangga mulai memijat tangan istrinya yang terulur dengan perlahan. Kemudian beralih ke bahu Reyna, dan terakhir kakinya. Belum sempat ia menyelesaikan pijatannya di tubuh istrinya itu, namun Reyna sudah terlelap dalam tidurnya. Rangga akhirnya menyudahi kegiatannya.


Di tengoknya Putranya masih tidur dengan lelap di tempat tidurnya. Rangga pun ikut membaringkan diri di samping istrinya.


Beberapa menit ia mulai terlelap ia merasa ada yang menyebutkan namanya.


"Rangga...! Le, ayo nderek Simbah lungo ning kono. Simbah bakal nduduhno panggon sing apik anggonmu dolanan," ujar seorang kakek-kakek tua dengan blangkon di kepalanya, yang berbicara dengan bahasa jawa.


(Rangga...! Le, ayo ikut Simbah pergi ke sana. Simbah akan menunjukkan tempat yang bagus tempatmu bermain.)


Kakek itu memakai baju atasan kemeja khas orang jawa dengan motif bunga, dan terdapat kancing di bagian leher dada dan bagian perut dengan jumlah yang berbeda. Dan bahawan kain jarik yang melingkar menutupi tubuhnya bagian bawah dari pinggang hingga di atas mata kaki. Pakaian jenis itu biasa di kenakan oleh para pria bangsawan atau abdi keraton. Orang Jawa jaman dulu menyebutnya Surjan Ontrokusumo.


"Oeek..., oeeekkk...!" tangisan baby Reynand itu memenuhi ruangan kamar mereka seoalah meminta untuk segera di gendong.


Rangga seketika terduduk bangun dari tidurnya. Diliriknya ke samping, istrinya masih tidur dengan lelapnya. Rangga kemudian beranjak bangun memutari tempat tidurnya dan menjangkau baby Reynand untuk di bawanya ke dalam gendongannya.


Perlahan-lahan tangis si kecil berhenti, tatkala menyadari bahwa ia sudah berada dalam gendongan sang papa.


"Ada apa putra Papa? Apa kamu haus?" tanya Rangga pada bayi gembul di depannya.


Rangga membawa Reynand ke tempatnya tidur dan duduk sembari memangku anaknya.


Baby Reynand mengoceh, tangannya dan kakinya bergerak-gerak di atas seolah ingin meraih wajah papanya.


Melihat Reynand sudah tenang Rangga pun merebahkan anaknya di depannya. Melihat popok yang di kenakan Reynand sudah penuh. Rangga pun mengganti popoknya. Bayi itu sama sekali tidak rewel saat Rangga menanganinya. Justru kini bayinya berceloteh ria saat Rangga mengajaknya berbicara seolah sedang di ajak bercanda.


"Nak, pelankan ocehanmu. Kalau tidak kamu akan membangunkan Mamamu, Sayang!" ujar Rangga pada putranya.

__ADS_1


Namun bayi gembul itu malah semakin keras ocehannya. Seolah sedang menanggapi ucapan papanya.


Mendengar ocehan sang anak dan suara dari Rangga, Reyna pun perlahan-lahan membuka matanya. Ia pun seketika bangkit saat menyadari suami dan anaknya sedang terjaga.


"By, Reynand bangun ya? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Reyna sembari mengucek kedua matanya.


"Iya. Dia tidak rewel kok hanya mau di ganti popoknya. Aku tadi sudah menggantinya. Lihatlah bahkan Reynand sangat senang mengoceh di tengah malam!" ujar Rangga.


"Maaf, tidurku sangat pulas ya. Hingga tak mendengar tangisan Reynand."


"Terima kasih, ya By. Sudah mengurus Reynand selagi aku tidur," ujar Reyna pada suaminya.


"Tak masalah, Sayang. Kamu kan butuh istirahat juga. Sekarang susui dia agar kembali tidur!" titah Rangga.


"Sebentar, aku akan ke toilet dulu, setelah itu akan ku susui dia, By!" Reyna beranjak menuju toilet di dalam kamarnya.


Tak berapa lama Reyna kembali kemudian menyusui anaknya. Setelah kenyang menyusu Baby Reynand yang sudah kembali terlelap di baringkan ke tempat tidurnya.


Reyna dan Rangga pun kembali untuk tidur. Namun, dalam hati Rangga bertanya-tanya akan mimpinya tadi.


Siapa kakek tua itu. Dan apa maksudnya?


"Ada apa, By. Ada yang kamu pikirkan?" tanya Reyna saat menyadari Rangga tidak juga menutup matanya dan malah melamun.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya memikirkan mimpiku tadi. Tadi aku bermimpi bertemu seorang kakek tua dengan pakaian Jawa. Dan aku dalam mimpi itu adalah seorang anak kecil yang kurang lebih baru berubur 6 tahun. Ia mengajakku pergi ke suatu tempat untuk bermain. Belum sempat aku melihat tempat yang kami tuju aku sudah terbangun oleh tangisan Reynand."


Reyna mengeryitkan dahi saat mendengar cerita dari Rangga. Entah apa maksud dari mimpi itu, tapi perasaan Reyna menjadi resah.


"Apa itu kakek buyutmu, By?" tanya Reyna.


"Entahlah, mungkin juga. Nenek pernah bercerita jika kakek buyutku dulu, masih keturunan darah biru dari keraton kasunanan Surakarta," tutur Rangga, "Sudahlah ayo kembali tidur!"


Rangga merengkuh Reyna ke dalam pelukannya. Dan tak berapa lama mereka berdua kembali terlelap.


____________________Ney-nna_________________

__ADS_1


__ADS_2