
Hari mulai larut, mendekati tengah malam. Harusnya ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat, melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun tidak begitu bagi sebagian orang.
Ini adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang, melepaskan penat, melupakan masalah yang mungkin saja sedang di alami. Atau sekedar memuaskan hasrat untuk mencecap nikmatnya duniawi.
Beberapa orang mulai lupa diri setelah meminum-minuman yang memabukkan sehingga membuat diri mereka melayang. Dan saatnya berpesta, dengan mengikuti irama lantunan lagu seorang DJ yang menghantarkan tubuh molek beberapa gadis dengan busana minim bahan, meliuk-liuk di atas dance floor. Orang-orang mulai berkerumun di sekitarnya berjingkrak-jingkrak mengikuti rayuan music yang membahana. Ditambah dengan gemerlapnya lampu disco, membuat suasana semakin menggelora. Dan orang-orang tengah memutuskan urat malunya dan bersuka ria mengumbar auratnya di sana-sini. Tak ada yang di takuti, yang ada hanya, happy.
"Put, lo cuma mau duduk-duduk aja di situ? Gak asik lo!" ujar Mega.
"Gue nggak nyaman aja Meg, banyak cowok hidung belang. Gue nggak mau asset gue di pegang-pegang sembarangan, sama cowok-cowok nggak jelas kaya mereka!" ujar Putri.
"Lo tu terlalu kalem ya, gara-gara pacaran sama si Rangga. Aneh gue pacaran cuma pegangan tangan sama cium pipi doang lo lengket bener kaya prangko. Lo belum ngrasain sih enaknya ***-*** sama cowok!" ujar Anji.
"Eh itu namanya dia cowok yang baik, jadi ngejagain mahkota gue!" ujar Putri.
"Lo salah deh, Put! Jangan-jangan dia nggak nyentuh lo karena lo kurang bohay. Padahal lo cantik bingit, secara lo model. Tapi kalau gue perhatiin dada dan bemper istri Rangga memang lebih bohay di bandingkan elo, Put!" ujar Anji yang berucap tanpa filter.
"Dasar mulut lo bau comberan, Nji! Bisa-bisanya lo banding-bandingin gue sama perempuan itu. Gue jauh segala-galanya di banding dia, ngerti lo!" Putri yang nampak kesal dengan ucapan Anji.
"Iya-iya gue percaya, lo paling cantik di muka bumi ini. Tapi gue heran aja Rangga segitu cintanya sama tuh perempuan. Liat kan tadi pandangan matanya buat tuh perempuan, memuja banget tau nggak sih!" ujar Anji.
"Sial an lo malah ngingetin gue terus sama hal tadi Nji, gue bener-bener emosi tau gak sih Nji!" ujar Putri sambil bersungut-sungut.
"Habisnya lo diajakin ke sini buat seneng-seneng malah duduk-duduk di sini kaya nenek-nenek kesepian aja. Ayo dong ikut turun ke dance floor!" bujuk Anji.
"Udah-udah kalian malah bahas itu terus sih! Diem lo Nji!" omel Mega.
"Nih, minum dulu, Put. Biar kesel lo ilang dan lo bakalan lupa sama masalah lo!" ujar Gery sambil menyodorkan segelas kecil minuman beralkohol ke hadapan Putri.
"Eh... percuma Putri masih bayi kemaren sore lo tawarin minuman kaya gitu, lo pesenin jus sana!" ujar Anji mengejek.
"Ehh...buset lo ngatain gue bayi, siniin Ger, gelasnya!" Putri mulai terpancing emosi.
"Lo yakin Put?" Mega nampak terkejut, pasalnya ia tau kalau sahabatnya itu belum pernah minum-minuman beralkohol sama sekali.
"Gue mau coba! Siniin Ger, buruan!" titah Putri. Gery menaruhnya di meja di hadapan Putri.
Perlahan Putri meminum minuman itu sdikit-demi sedikit. Hingga akhirnya habis satu gelas kecil. Ia merasakan perutnya serasa mual namun ia tahan untuk menjaga gengsi.
"Gimana, lo nggak apa-apa kan, Put?" tanya Mega.
__ADS_1
"Emm... gue nggak apa-apa kok!" ujar Putri berbohong.
"Hebat lo Put, sekarang ayo kita menari di sana, Put. Gue yakin lo bakalan lupa sama masalah lo!" ujar Gery.
"Okey, ayo Meg, kita ke sana!" ujar Putri akhirnya.
Ferdy yang baru datang dan melihat Putri menari dengan sempoyongan sangat terkejut. Setahu dia Putri tidak pernah ikut minum, Namun kini yang dilihatnya, Putri tengah mabuk. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya duduk memperhatikannya jika terjadi .
Tak berapa lama Putri terlihat akan tumbang. Secepat kilat Ferdy menangkap tubuh Putri dan membawanya ke kursi.
"Lo kapan datang Fer?" tanya Mega.
"Barusan. Putri mabuk?" tanya Ferdy.
"Iyah, gara-gara bujukan si Gery sama Anji yang kompor tuh, Putri jadi tersulut hingga meminum minuman itu," Mega menunjuk ke botol minuman beralkohol di meja.
"Kenapa si Putri?" tanya Gery.
"Dia pasti nggak kuat tuh, baru minum satu gelas sudah pingsan!" ujar Anji.
"Bareng sek lo Nji. Ini tuh gara-gara mulut lo yang kaya kompor tau nggak!" ujar Mega yang mulai kesal.
"Nggak ahh, gue nggak yakin kalau sama lo, lo kan maniak!" ujar Mega, "Lo anterin kita Fer!"
"Ya udah, ayo gue anterin!" ujar Ferdy.
Akhirnya mereka bertiga pulang. Putri dan Mega duduk di jok belakang, sedangkan Ferdy yang mengemudi. Jalanan nampak sepi karena ini sudah lewat tengah malam.
"Gue nganter kemana nih, Meg?" tanya Ferdy. Meskipun mabuk juga, Mega masih sadar.
"Ke rumah Putri aja. Kan di rumahnya gak ada ortunya juga. Biar gue nginep aja di rumahnya, " ujar Mega dengan mata terpejam.
"Okey!" Ferdy dengan kecepatan penuh melesat di aspal jalanan. Tak berapa lama ia pun sampai di kediaman Putri.
Di rumah mewah ini Putri hanya ditemani dengan pembantu dan seorang satpam. Kedua orang tuanya tinggal di Singapura. Dulu Putri ditemani neneknya. Setelah neneknya tiada ia hanya sendiri di rumah.
Mega turun dari mobil dengan berjalan sempoyongan dibantu oleh satpam. Sedangkan Ferdy membopong Putri ke kamarnya. Karena Mega sudah sangat mengantuk dan pusing akhirnya tak berapa lama ia tertidur di sofa.
Ferdy meletakkan Putri di ranjangnya. Saat hendak beranjak, anting-anting Putri yang menjuntai tersangkut di kemeja Ferdy. Ferdy berusaha untuk melepaskannya namun susah. Tiba-tiba saja Putri mengaduh akibat tarikan di telinganya.
__ADS_1
"Aww... Sakiiiit!" ujar Putri mengaduh merasakan telinganya yang sakit.
Ferdy beruntung antingnya dapat terlepas dari kemeja yang ia kenakan.
Samar-samar Putri merasakan ada sesosok laki-laki di depannya. Tiba-tiba saja Putri memeluk Ferdy dengan erat, "Yang, aku kangen banget sama kamu. Kamu jangan pernah tinggalin aku."
Sejenak Ferdy terdiam dengan tindakan yang di lakukan Putri. Ia tahu bukan dirinya lah orang yang di maksud Putri. Namun, ia cukup senang dapat berada sedekat ini dengan seseorang yang telah memikat hatinya.
Sebelum tahu jika Putri adalah pacar Rangga. Ferdy sudah terlebih dahulu jatuh hati kepada Putri.
Flashback On...
Ferdy lahir di Jakarta dan tinggal di sana sampai ia lulus SMA. Kemudian saat akan kuliah ayah Ferdy meninggal dunia karena sakit. Ferdy merupakan anak satu-satunya yang dimiliki, karena itu Ibu Ferdy mengajaknya untuk ikut serta kembali ke kampung halaman orang tuanya di kota Solo.
Saat itu Ferdy sedang mendaftar di universitas yang sama dengan sahabatnya semasa SMP yaitu Rangga. Waktu itu Rangga sedang ada keperluan sehingga dia tidak bisa mengantarkan Ferdy mendaftar. Ferdy yang masih bingung dengan lokasi yang ada di kampus sempat kebingungan. Saat itu lah ia bertemu dengan Putri.
"Cari apa, Mas?" ujar Putri saat melihat Ferdy celingukan seperti mencari sesuatu.
Emm... maaf Mbak, cafetaria sebelah mana ya?" tanya Ferdy yang sedari pagi belum sempat sarapan dan merasa sangat kehausan, sementara proses pembayaran biaya pendaftaran untuk mahasiswa baru masih sangat panjang antriannya di depan ATM.
"Mari ikut dengan saya, Mas. Kebetulan saya juga sedang menuju ke sana!" ujar Putri.
"Baik, Mbak, " Ferdy pun akhirnya mengikuti Putri.
Sambil berjalan menuju cafetaria mereka berbincang-bincang. Hingga Ferdy merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Siapa yang bisa menolak pesona wanita cantik seperti Putri dan kebaikannya yang telah menolongnya meski belum mengenal.
Namun apa daya ketika lambat laun ia mengetahui Putri ternyata adalah pacar dari sahabatnya. Akhirnya Ferdy hanya mampu merelakan dan mencintai Putri dalam diam.
Flashback Off.
"Aww... kepalaku rasanya pusing sekali!" Putri melepas pelukannya dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu seharusnya nggak ikut sama mereka, Put! Sekarang kamu istirahat ya, aku pulang dulu!" ujar Ferdy sembari memakaikan selimut untuk Putri.
"Kamu jangan tinggalin aku, Ga. Tinggalkan wanita itu, kamu milikku, dan hanya aku yang berhak untuk kamu cintai, bukan dia! Aku sangat mencintaimu melebihi siapa pun!" racau Putri yang lagi-lagi memeluk Ferdy seolah tak ingin kehilangan seseorang yang sangat di cintai.
Ia terus meracau mengira laki-laki yang saat ini berada di hadapannya adalah Rangga. Tiba-tiba saja Putri mengecup pipi Ferdy. Hal itu sontak membuat Ferdy terkejut dan sedikit memberi jarak agar bisa melihat wajah Putri. Namun, Ferdy semakin tertantang untuk merasakan bibir Putri yang sangat ia dambakan.
Ia mulai mengecup bibir ranum milik Putri. Tak di sangka bagai gayung bersambut, Putri justru membalas ciumannya itu. Lama kalamaan Ferdy semakin hanyut akan kelembutan bibir Putri dan tak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan dari wanita yang di cintainya, meski yang di cintai Putri bukan lah dia, melainkan sahabatnya. Saat ini akal sehatnya tengah kalah, dan pikirannya sudah di penuhi dengan hasratnya yang menggebu ingin dipuaskan.
__ADS_1
Hingga tak bisa di elakkan. Malam itu menjadi malam panjang untuk Ferdy. Malam di mana ia telah merenggut kesucian seorang gadis yang dicintainya dalam diam. Entah apa yang akan terjadi keesokannya, saat Putri terbangun dari tidurnya dan mengetahui apa yang telah di lakukan oleh Ferdy kepadanya.