
Seusai memperbaiki mobilnya Fely, Raka kembali masuk ke dalam rumah. Raka mencoba mengintip ke dalam kamar mamanya hendak melihat apa yang sedang dilakukan oleh Fely. Namun Raka terkejut saat kamar mamanya kosong.
"Hahh, ke mana dia?" ujar Raka saat tidak melihat Fely di sana.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Raka dari belakang.
"Heyy ...!" seru Rahma membuat Raka terlihat kaget.
"Ehh! Mama nih ngagetin aja!" pekik Raka sembari mengusap tengkuk lehernya.
"Nyariin Fely? tuh dia lagi mandi di toilet samping dapur. Ternyata anak mama mulai jatuh cinta ya?" goda Rahma kepada putranya.
"Mama, apa-apaan sih, orang aku cuma mau balikin kunci nih!" elak Raka sembari memperlihatkan kunci mobil Fely di hadapan muka mamanya.
"Iya, balikin kunci sambil curi-curi pandang kan?" tuduh Rahma sembari tersenyum genit kepada Raka.
Raka nampak tersenyum malu sembari mengacak-acak rambutnya bagian belakang.
"Mama iih, udah yuk sarapan! perut Raka mulai lapar nih!" ujar Raka mengalihkan pembicaraan sambil mengusap perutnya yang kosong belum diisi.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju ruang makan. Raka mencuci tangannya di wastafel, sedangkan Rahma menuangkan nasi untuk Raka, kemudian menghidangkan lauk-pauk di atasnya. Dan, itu adalah menu makanan kesukaan Raka yaitu mangut ikan lele.
"Wah menu makanan kesukaan aku nih, Ma. Terima kasih, Ma!" ucap Raka kepada mamanya.
"Iya ... cepat makan!" titah Rahma lembut.
Bagi Rahma bisa menghidangkan sarapan untuk anaknya adalah hal menyenangkan, sebab sangat jarang sekali ada kesempatan untuk sarapan bersama. Setiap hariannya Raka harus sarapan bersama kakek dan neneknya, sehingga hal itu sangat jarang sekali ia rasakan semenjak Raka tinggal di kediaman Wirya Subrata.
"Ka, tumben kamu nggak ngabarin Mama dulu kemarin kalau mau pulang?" tanya Rahma di sela-sela makan.
"Tadinya mau bikin kejutan untuk Mama, eh gak taunya malah mengejutkan bagi semua orang kaya semalem!" ujar Raka mengatakan yang sesungguhnya.
"Ya, sudah cepat habiskan! kamu mau berangkat ke kantor, kan?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Iya, Ma. Raka kan sopir mana mungkin Raka mau libur kerja!" tutur Raka seraya melirik ke arah kamar mandi, di saat mendengar kunci kamar mandi terbuka, namun belum nampak orang yang berada di dalam kamar mandi itu akan ke luar.
Klekk!
Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan Fely yang tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Raka terpana saat melihat Fely mengenakan setelan gamis syar'i yang pernah dibelikan untuk mamanya. Gamis itu belum pernah dipakai oleh mamanya karena ukurannya yang kekecilan. Dan saat ini nampak pas di tubuh ramping Fely dan terlihat sangat anggun dengan gamis pilihannya itu.
Fely nampak canggung saat mengetahui jika Raka sedang memperhatikannya. Dia buru-buru menundukkan wajahnya dan beranjak ke luar.
"Fe, mau makan lagi tidak? kalau Tante makan bubur saja biasanya perih di perut, musti makan nasi juga," tutur Rahma sembari menghampiri Fely.
"Emm, tidak terima kasih, Tante. Fely sudah cukup kenyang," ujar Fely menolak tawaran itu. "Tante bajunya sepertinya masih baru, sebaiknya pinjamkan baju bekas Tante saja," tutur Fely merasa sungkan menerima baju yang masih baru.
"Halah, sudah dipakai saja! Tante tidak muat memakainya, makanya sedari dikasih belum tante pakai, kini bajunya menemukan tubuh yang pas, jadi bajunya buat Fely saja!" tutur Rahma dengan senang hati memberikan bajunya kepada Fely.
"Tapi, Tante--," ucapan Fely terpotong oleh Rahma yang bersikeras.
"Emm, iya cantik! eh maksud aku bajunya cocok untuk kamu," jawab Raka meralat ucapannya kemudian kembali fokus pada makanannya.
"Minggu lalu Raka yang belikan baju ini buat Tante, sekarang baju ini buat Fely saja, daripada tidak terpakai, kan!" bujuk Rahma agar Fely mau menerimanya.
Baju ini bermerk dan limited, sungguh aneh Raka yang hanya bekerja sebagai sopir baru di tempat kerjanya, tapi sudah merelakan setengah gajinya untuk membelikan baju semahal ini untuk mamanya! gumam Fely di dalam hati.
Saat akan memakainya di dalam kamar mandi, Fely terkejut melihat merk bajunya, makanya dia sungkan karena dia yang hanya numpang malah diberi baju baru dan cukup mahal. Fely tentu tahu, karena kebanyakan isi lemarinya adalah dari merk yang sama.
"Oh ya, mobilmu sudah aku perbaiki. Ini kuncinya!" ujar Raka sembari menaruh kuncinya di atas meja.
"Benarkah? em, terima kasih!" ujar Fely sembari beranjak maju mengambil kunci mobilnya.
Raka mengangguk mengiyakan sembari tersenyum kepada Fely.
"Tante, kalau begitu Fely pamit pulang sekarang saja, ya? terima kasih banyak atas semua kebaikan, Tante!" ucap Fely dengan senang hati karena dia bisa segera pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Rahma memandang ke arah Raka, seoalah meminta pendapat Raka. Sedangkan Raka nampak kaget karena Fely hendak pulang secepat itu, rasanya tidak rela.
"Fely, apa kamu yakin mau pulang sekarang? bukankah kamu masih demam? tinggallah di sini hingga kamu merasa lebih baik! lagi pula keluargamu tidak ada di rumah, bukan? di sini ada Tante yang akan menemanimu!" tutur Rahma mencoba menahan Fely agar tidak pulang terlebih dahulu.
"Tapi, Tante--," ucap Fely yang hendak menolak namun terputus oleh ucapan Rahma.
"Sekarang kembalilah beristirahat di kamar Tante, agar kamu cepat pulih, nanti sore biar Raka yang mengantarmu pulang," tutur Rahma.
"Baiklah, Tante!" ujar Fely kembali beranjak masuk ke dalam kamar Rahma.
Sepeninggal Fely, Rahma duduk kembali ke kursinya.
"Raka, Mama sebenarnya merasa perlu untuk berbicara kepada orang lain yang lebih mengerti tentang kejadian tadi malam, sebenarnya Mama ragu apakah pernikahan kalian sah atau tidak, sebab seharusnya ada wali nikah dari keluarga Fely," tutur Rahma yang kepikiran akan pernikahan siri anaknya sejak tadi malam.
Raka terdiam mencerna kata-kata Rahma. Hampir saja dia melupakan hal itu, dan menganggap jika pernikahan yang berlangsung tadi malam sudah sah.
"Mama, apakah jika tidak sah artinya pernikahan siri antara aku dan Fely dianggap batal?" tanya Raka yang menjadi ragu dengan hal itu.
"Meskipun nikah siri, jika pernikahannya dilakukan sesuai dengan rukun nikah maka sah di mata agama dan tidak bisa dibatalkan begitu saja. Tapi karena tidak ada wali nikah dari keluarga Fely, Mama meragukan hal itu," tutur Rahma memberi pendapat.
"Jadi begitu? artinya Raka dan Fely ...," Raka menggantungkan kata-katanya.
"Begini saja, coba kamu mencari tahu tentang hal ini kepada orang yang benar-benar mengerti perihal pernikahan. Mama tidak ingin yang ragu-ragu akhirnya berdampak mendatangkan dosa bagi kalian, untuk itu jangan kamu sentuh Fely terlebih dahulu sebelum dia benar-benar halal bagimu. Jika tidak sah maka berusahalah lebih baik untuk mendapatkan hati Fely," tutur Rahma memberi nasehat.
Meskipun Rahma dulu menikah secara siri, namun dia dinikahkan sendiri oleh ayahnya dan atas seizin istri pertama yang turut hadir menyaksikan pernikahan itu. Tapi, Rahma berharap jika Raka dan Fely tidak hanya sekedar nikah siri saja.
"Baik, Ma," tutur Raka patuh.
"Sekarang kamu segera mandi dan berangkat kerja, sekaligus mencari tahu tentang hal itu!" perintah Rahma.
Raka pun akhirnya menurut kepada perintah mamanya. Dan, segera pergi menuju kantornya dengan dijemput oleh asistennya.
..._____________Ney-nna____________...
__ADS_1