Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Lamaran yang kedua kalinya


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" ujarku sembari melongok ke depan pintu.


Deng...deng...!


Dan semua mata memandang ke arahku. Rasanya aku ingin menghilang saja bagai hantu. Sayangnya itu tidak lah mungkin. Itu hanyalah cerita halu yang di ceritakan di novel online yang bergenre horor, yang sering ku baca.


"Wa'alaikumussalam!" seru semua orang yang ada di ruang tamu.


"Tante...," ehh si anak cantik langsung berlari ke arahku, dan memeluk kakiku.


"Qila, kenapa tadi gak bilang kalau mau main ke rumah Tante, Sayang?" aku membungkukkan badanku, kemudian menjembel pipi gemesnya.


"Kata Papa rahasia, gak boleh bilang sama, Tante," ujarnya sembari berbisik di telingaku. Namun masih dapat terdengar oleh semua orang yang berada di ruang tamu.


"Hahhahahahaa...!" semuanya pun tertawa dengan kelucuannya.


Aku bersyukur ada anak ini, sehingga berkomunikasi dengannya dapat mengurangi rasa canggungku menghadapi kedatangan mereka yang tak terduga olehku.


Aku berjalan menuju ibu dr.Dimas kemudian salim.


"Sudah dari tadi, Bu?" sapaku pada Bu Lilis.


"Baru saja, Cindy" jawabnya sembari tersenyum.


"Ayo, kita duduk di sana sama Tante, Sayang!" ucapku sembari menunjuk sofa yang berada di ujung, dekat pintu menuju ruang tengah.


Dia mengangguk, kemudian ku gandeng tangannya menuju sofa yang aku tunjuk tadi. Ia menurut bagaikan anak ayam pada induknya. Aku membawanya untuk duduk di sampingku.


Nampak ummi keluar dari dalam, sembari membawa nampan di tangannya berisi minuman teh hangat.


"Mari, Nak Dimas, Bu, diminum tehnya," ujar abi ramah.


"Baik, Pak. Terima kasih, tidak perlu repot-repot," ujar Bu Lilis.


Ummi mengedipkan mata ke arahku. Aku rasa ini kode dari ummi, supaya aku mengikutinya ke belakang.


"Qila mau ikut kebelakang nggak, Tante mau kebelakang dulu sebentar," anak itu terlihat mengaangguk tanda setuju.


Aku pun beranjak mengikuti ummi masuk ke dapur, ummi terlihat menyusun kue-kue sisa pesanan tadi ke atas piring, untuk di sajikan pada tamu yang datang.


"Cindy, kamu kenapa tidak bilang, jika akan ada tamu yang datang!" ujar ummi.


"Cindy, juga tidak tau, Ummi. Malahan Cindy kaget banget saat baru datang dari rumah dek Imah," ujarku pada ummi.


"Woalahh, tak pikir kamu sudah tau. Apa dr.Dimas adalah orang yang memberikan kamu bunga yang tadi?" tanya ummi penasaran.


"Hehehe...iya, Ummi. Tapi, dr. Dimas tidak bilang klo mau datang, Ummi," ummi geleng-geleng kepala melihat ke arahku.


"Jangan-jangan mau melamar kamu, Cin?" ummi menduga-duga.


"Emm..., bisa juga sih ummi. Sebenarnya pada buket bunganya tadi ada tulisan yang mengisyaratkan jika beliau bertanya apakah aku mau menikah dengannya, tapi sama sekali tidak ada pemberitahuan kalau mau datang ke rumah, Ummi," aku menjelaskan pada ummi.


"Untung masih ada sisa kue pesanan yang tadi, untuk di hidangkan. Jika tidak, Ummi akan menjamu dengan apa coba?"


"Ya sudah lah, sekarang kamu bawa kue ini ke depan," ujar ummi sembari menyerahkan nampannya ke tanganku.


Qila nampak masih melihat-lihat buffet di ruang tengah, yang berisi piala-piala yang aku dapatkan sejak dari SD hingga aku SMA.


"Qila, ayoo!" ajakku pada anak itu. Ia pun mengekori langkahku.


Kuletakkan sepiring kue di atas meja. Kemudian duduk kembali ke kursiku.


"Nak Dimas, Bu, mari di coba kuenya. Maaf seadanya ya, Bu," ummi mempersilakan Bu Lilis dan dr.Dimas untuk mencoba kuenya.


"Iya, Bu. Terima kasih! Ini sudah lebih dari cukup kok, Bu," ujar bu Lilis.


"Tante, pialanya banyak banget. Belinya di mana?" tanya Qila dengan kepolosannya.

__ADS_1


"Piala itu, Tante peroleh bukan dari beli, Sayang. Tapi, karena Tante sering mengikuti lomba, dan Tante menang, sehingga dapat hadiahnya piala-piala itu," ujarku pada Qila.


"Wah, Tante hebat!" Qila mengacungkan dua jempolnya ke atas.


"Makanya, Qila harus rajin belajar ya?" ujar Bu Lilis memperingati, "Qila, sini coba makan kuenya enak sekali lho!"


Qila langsung berlari menuju neneknya dan menikmati makanannya.


Seusai berramah tamah, akhirnya dr.Dimas pun membuka suara.


"Ekhmm...Pak, kedatangan saya malam ini berkunjung ke rumah Bapak, yang pertama adalah untuk bersilaturahmi kepada keluarga Bapak, selain itu ada yang ingin saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu, yakni untuk yang kedua kalinya, saya bermaksud untuk melamar anak bapak yaitu Cindy, untuk menjadi istri saya dan ibu sambung bagi anak saya. Mohon kiranya Bapak dapat menjawab lamaran dari saya."


Sudah aku duga dr. Dimas pasti akan mengatakan ini pada abi. Sungguh aku merasa sangat cemas. Abi sudah pernah menolaknya, bagaimana jika abi menolaknya kembali.


Aku melihat abi melirik ke arahku sesaat. Pasti abi ingin mengatakan, 'mengapa tidak bilang kalau mau di lamar?' padahal aku sendiri pun tidak tahu menahu jika dr.Dimas akan datang.


"Hhhahaaha, terima kasih ya, nak Dimas. Saya merasa tersanjung karena niat anda untuk melamar Cindy rupanya begitu kuat. Namun, mohon maaf, untuk hal ini perlu saya bicarakan terlebih dahulu kepada Cindy dan Umminya. Karena yang sudah terjadi kemarin Cindy yang awalnya menerima, tiba-tiba membatalkan khitbahnya, sehingga untuk kali ini saya perlu berdiskusi terlebih dahulu kepada keluarga saya agar tidak terulang kembali hal serupa. Saya minta waktunya barang beberapa menit untuk berdiskusi di dalam dengan keluarga saya ya, nak Dimas, Bu. Silakan sembari menunggu bisa menikmati kue buatan umminya Cindy terlebih dahulu," ujar abi panjang lebar.


"Njih, Pak, silakan di diskusikan terlebih dahulu. Sebelumnya mohon maaf karena saya tidak memberi kabar terlebih dahulu jika akan datang kemari," ujar dr.Dimas.


"Iya, nak Dimas, tidak apa-apa. Pintu rumah saya terbuka lebar untuk siapa saja. Saya mohon pamit ke dalam sebentar ya, nak Dimas, Bu," ujar abi memohon dengan sopan, kemudian beranjak masuk ke dalam, di susul oleh ummi dan aku pun mengikutinya.


Flashback On...


Beberapa hari sebelum kedatangan Dimas...


"Nek, Qila kapan punya Mama? Kemarin bu Guru bilang, minggu depan ada piknik, dan boleh mengajak mamanya. Semua teman Qila pergi bersama mamanya, Qila pergi sama siapa?" Qila nampak cemberut jika membahas hal itu, ia selalu sedih karena diantara teman sekelasnya, hanya ia yang mamanya sudah tiada.


"Sayang, kan ada Nenek, nanti Qila diantar sama Nenek ya?" Bu Lilis mencoba untuk membujuk Qila.


"Ya sudah, Nek," dengan langkah gontai anak itu berjalan menuju kamarnya.


Dimas yang saat itu hendak masuk ke kamar mengurangkan niatnya tatkala mendengar percakapan antara anak dan ibunya. Melihat anaknya masuk ke dalam kamar usai berbicara dengan neneknya, ia pun, kemudian mengintip ke kamar anaknya lewat celah pintu yang belum tertutup sepenuhnya.


Dia melihat Qila tidur tengkurap di atas ranjangnya. Namun, saat di perhatikan lebih seksama, ia melihat bahu anaknya itu bergetar, yang menandakan anak itu sedang menangis dengan menahan suaranya. Sehingga isak tangisnya tak terdengar.


"Dim, menikahlah!" ujar bu Lilis dari belakangnya.


Dimas berjalan menjauh dari kamar Qila menuju ruang tengah.


"Bu, Dimas harus menikah dengan siapa? Jika menikah yang Dimas pikirkan bukan hanya sekedar mencari istri, melainkan seorang ibu untuk Qila. Dan itu tidak mudah, Bu," Dimas menjambak rambutnya merasa frustasi.


"Bagaimana jika kamu mencobanya lagi dengan Cindy?" jawab bu Lilis yang seketika membuat Dimas tertawa.


"Bu, jangan bercanda. Cindy sudah akan menikah, bahkan Dimas sempat berkenalan dengan calon suaminya," ujar Dimas.


"Kamu belum tahu? Cindy tidak jadi menikah dengan laki-laki yang melamarnya dulu," tutur bu Lilis.


"Hahh...yang benar, Bu. Kenapa?" Dimas terkejut karena baru mendengar kabar itu.


"Entahlah, Ibu tidak berani bertanya alasannya. Mungkin ada kaitannya dengan operasi kista Cindy waktu itu," ungkap bu Lilis, "Mungkin saja belum jodohnya dengan yang kemarin, dan ini kesempatan yang tepat buat kamu, Dim."


Dimas sejenak diam meresapi kata-kata ibunya. 'Apa benar ini kesempatan untukku?'


"Tapi, Bu. Aku ragu akan diterima, bukankah kemarin aku sudah di tolak. Bagaimana jika mereka berpikir aku tak punya malu, sudah di tolak, tapi masih beraninya datang lagi untuk melamar," Dimas mulai pesimis mengingat lamarannya pernah di tolak oleh abinya Cindy.


"Ya Allah, Dim. Kamu tidak ingat, kamu melamar seorang gadis muslimah yang sedang menjalani ta'aruf dengan seorang laki-laki. Mereka jelas paham aturan perjodohan dalam islam. Setahu Ibu yang sedang menjalani ta'aruf kemudian menerima khitbah dari laki-laki yang di jodohkan dengannya, ia tidak boleh sembarangan menerima khitbah dari laki-laki lainnya."


"Wajar saja jika kamu di tolak, salah sendiri waktu itu tidak cari tahu lebih dulu, main langsung datang saja, melamar perempuan yang sedang dalam masa ta'aruf," debat bu Lilis, "Dan saat ini kasusnya beda. Setahu Ibu saat ini Cindy sedang free artinya ia bebas untuk di lamar, tapi ada baiknya kamu mencari tahu terlebih dulu tentang hal itu, agar kejadian kemarin tidak terulang kembali."


"Dimas harus cari tahu gimana, Bu. Cindy itu selalu menjaga jarak dengan laki-laki. Dimas sungkan jika harus bertanya tentang pribadinya," ujar Dimas lesu.


"Ya sudah, nanti ibu coba bantu mencari tahu dari perawat klinik yang lainnya," bu Lilis memberi solusi.


Dimas beralih menuju kamar Qila. Dilihatnya anaknya itu sudah tertidur, masih dalam keadaan berbaring dengan tengkurap dan terdapat sisa-sisa air mata di pelupuk matanya. Ia membenahi tubuh anaknya, agar tidur dengan posisi yang semestinya.


"Qila, papa janji akan kasih mama baru untuk Qila secepatnya ya, Nak. Tolong maafkan papa yang selama ini tidak bisa menggantikan sosok seorang ibu untukmu. Papa tidak mengerti apa yang Qila butuhkan. Tapi, Papa janji, kedepannya, Qila akan punya mama dan keluarga yang lengkap seperti teman-teman, Qila yang lainnya, Sayang. Papa sangat menyayangimu, Nak!" gumam Dimas lirih dengan mata berkaca-kaca. Ia usap-usap kepala anaknya, kemudian menyelimutinya.

__ADS_1


****


Keesokannya saat berada di rumah sakit.


"Dim...Dimas...!" Anung berlari-lari di koridor rumah sakit untuk mengejar Dimas yang hendak pulang seusai jam kerjanya selesai.


Dimas pun akhirnya berhenti berjalan tatkala mendengar ada yang memanggil-manggil namanya.


"Wah, Bro, lu cepet banget sih jalannya. Buru-buru banget mau pulang kaya yang punya istri aja," Dimas langsung menoyor sahabatnya itu.


"Wahh mulut lho pedes banget sih, Nung. Kaya yang habis makan ceker ndower level 10 aja!" ejek Dimas.


"Ehh, Dim. Perawat di klinikmu, Cindy. Dia belum punya pacar kan?" tanya Anung.


"Dia gak bakalan pacaran, Gue tahu banget keluarganya muslim yang taat, jadi musti langsung dilamar," ujar Dimas.


"Ouhh jadi gitu! Kemarin kan pas Cindy control, pas banget tuh Co-*** gue pas ada, dan ternyata dia tertarik tuh sama Cindy, terus nanyain. Rencana mau gue jodohin sama dia," ujar Anung.


"Hahh, gak bisa! Suruh Co-*** lo cari perawat yang lain, di rumah sakit ini kan banyak tuh, perawat yang baru-baru tuh, tuh, masih muda-muda dan cantik. Jangan Cindy deh pokoknya!" ujar Dimas sembari menunjuk pada perawat yang berpapasan dengannya.


"Lhahh, aneh banget sih, orang naksirnya sama Cindy juga. Emang kenapa kalau Cindy?" tanya Anung penasaran.


"Cindy sudah ada yang lamar!" ujar Dimas beralasan.


"Enggak ahh, kemarin waktu control kan aku suruh cepet nikah tuh, mumpung kondisinya sedang sehat, dia bilangnya gak punya calonnya buat di ajakin nikah, lo jangan bohong, Dim," tutur Anung.


"Dia cuma bercanda, Nung. Makanya dia bilang gitu. Tapi sebenarnya dia sudah ada calonnya. Tunggu aja ntar juga sampai undangannya. Uda ahh, gue pulang duluan ya, ada janji sama Qila," kilah Dimas dengan sedikit berbohong, kemudian bergegas untuk pulang.


Dimas memikirkan perkataan sahabatnya tersebut. Rupanya muncul saingan baru, itu tandanya ia harus segera bergegas melamar Cindy, jika tidak ingin keduluan lagi dengan laki-laki lain.


Cuma Cindy harapan Dimas satu-satunya. Dia gadis yang dekat dengan Qila dan sudah pasti, Qila setujui jika menjadi mamanya. Sehingga ia hanya cukup mulai mengenal Cindy dan belajar untuk mencintainya. Cindy gadis muda yang cantik, pintar dan sholihah. Siapa sangka jika ia bisa mendapatkan ibu sambung yang cukup sempurna untuk Qila maupun sebagai seorang laki-laki duda sepertinya. Semoga saja lamarannya kali ini di terima oleh Cindy, maupun orangtuanya.


Flashback Off


Saat sedang berdiskusi tiba-tiba, Qila memanggil, "Tante..., tante Cindy...!"


"Sebentar ya, Ummi," aku beranjak dari dudukku dan menghampiri Qila.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanyaku.


"Qila, mau pipis," ujar anak itu.


"Maaf ya, Cindy. Qila tidak bisa menahannya," ujar bu Lilis.


"Tidak apa-apa, Bu. Ayo, Sayang, ikut Tante ke dalam," aku beranjak masuk ke dalam sambil menggandeng Qila menuju kamar mandi.


Seusai dari kamar mandi, ummi mendekat dan berjongkok di depan Qila, "Sayang, nenek boleh bertanya sebentar?"


"Iya, Nek. Tanya apa?" ujar Qila menanggapi.


"Apa Qila mau, jika tante Cindy menjadi mamanya, Qila?" tanya ummiku.


Aku rasa ummi dan abi khawatir jika Qila tidak setuju aku menjadi mamanya. Qila nampak memandang ke arahku. Kemudian beralaih melihat pada ummi.


"Qila senang sekali jika tante Cindy mau jadi mamanya, Qila," ujar anak itu matanya terlihat berkaca-kaca.


"Ohh..., Sayaaang. Qila anak yang pintar," ummi terlihat mengusap-usap pucuk kepala Qila.


Ummi kemudian beranjak berdiri, "Ya sudah ayo kita kedepan!"


Entah apa yang telah didiskusikan oleh abi dan ummi sepeninggal aku tadi.


____________________Ney-nna________________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader's 😉💕💕💕


Terimakasih bagi yang selalu mendukung author, semoga kebaikannya dibalas dengan rezeki yang berlipat-lipat oleh Allah. Aamiin 🤲

__ADS_1


__ADS_2