Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kemampuan yang tak hilang


__ADS_3

Flashback On three month ago...


Raihan berlari terbirit-birit menuju ke perkemahan. Dia sangat ketakutan dan kebingungan melihat apa yang dilihatnya barusan. Dengan tergopoh-gopoh dia segera berlari mencari sang ustadz.


"Tolon...g! Tolon....g! ada pembunuhan, ustadz! Tolon...g!" seru Raihan berulang-ulang, dengan suara yang lantang dan bergetar.


"Raihan, kamu kenapa?" tanya Fadhil keheranan melihat Raihan yang baru datang sembari berteriak-teriak.


"D-di sana ada orang dibuang, Ustadz. A-ada perempuan yang dilempar ke jurang!" ujar Raihan dengan terbata-bata.


"Tenang, Han. Bicaranya pelan-pelan saja!" ujar Fadhil sembari memegangi bahu Raihan yang naik turun dengan napasnya yang kembang kempis.


"Tolong ambilkan segelas air minum untuk Raihan!" titah Fadhil pada salah satu santri yang berada di dekatnya.


Seorang santri segera beranjak mengambilkan minum. Dan, dia kembali membawa sebuah gelas berisi air putih yang kemudian diberikan kepada Raihan. "Minum dulu, Han!" ujarnya.


Raihan menerima gelas tersebut dan segera meminumnya. Tak berapa lama, air putih dalam gelas itu habis dalam sekali teguk.


"Raihan, sekarang coba kamu ulangi perkataan kamu tadi ... pelan-pelan saja!" titah Fadhil sembari menepuk pelan pundak Raihan.


Seusai mengatur napasnya agar stabil, Raihan mulai membuka suara, "Begini Ustadz, tadi saya pergi untuk buang air kecil, saat saya selesai dan hendak kembali, saya melihat ada dua orang laki-laki membopong seorang perempuan di bahunya. Saya melihat perempuan itu dalam keadaan tidak sadar. Lalu, kedua laki-laki itu, melempar perempuan itu ke bawah jurang. Saya rasa perempuan itu meninggal, Ust. Sebab, ada banyak darah yang keluar dari kepalanya!" tuturnya sembari mengingat-ingat apa yang tadi dilihatnya.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun!" ucap Fadhil terkesiap mendengar cerita dari Raihan. "Ayo sekarang kamu tunjukkan lokasi perempuan itu!" ujar Fadhil kemudian segera berdiri dan beranjak pergi menuju lokasi yang ditunjukkan oleh Raihan.


Fadhil akhirnya mendatangi lokasi bersama beberapa orang santrinya. Dan, benar saja, mereka melihat ada tubuh seorang perempuan yang terbujur di antara semak belukar. Fadhil kemudian menolong perempuan itu dan membawanya ke rumah sakit.


Beruntung perempuan itu masih bisa di selamatkan. Kemudian polisi membawa Raihan ke kantor polisi untuk dimintai kesaksian. Sayangnya tidak ada barang bukti yang bisa dijadikan petunjuk untuk mencari para penculik itu. Begitu pula dengan perempuan malang itu, tidak adanya kartu identitas yang ditemukan.


Saat berada di rumah sakit perempuan itu mengalami banyak luka di tubuhnya dan kepalanya mengalami cedera yang cukup parah. Selama tiga hari perempuan itu mengalami koma. Setelah sadar dokter segera memeriksa keadaannya.


Reyna masih bisa menjawab ketika dokter menanyai namanya. Dia berkata orang-orang memanggilnya, Reyna. Dan Reyna masih bisa mengingat saat dokter menyuruhnya untuk menceritakan masa kecilnya. Namun, dia sama sekali tidak mengingat bagaimana dia tumbuh menjadi dewasa hingga peristiwa naas itu terjadi. Dokter menyimpulkan Reyna mengalami amnesia retrograde. Yaitu kehilangan sebagian ingatannya di masa lalu dan hanya meninggalkan beberapa penggalan kisah di masa kecilnya.


Reyna merasa, seolah masih berumur tiga belas tahun. Dan, seingatnya kemarin dia baru saja mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah menengah pertama. Waktu itu dia sempat terjatuh saat bertabrakan dengan seorang temannya, Reyna tiba-tiba saja pingsan. Namun, tak berapa lama dia kembali siuman. Hanya itulah ingatan terakhirnya.


Saat melihat dirinya di cermin, Reyna baru menyadari jika dia sudah bukan remaja lagi. Fisiknya terlihat bahwa dia adalah perempuan dewasa, bahkan dia merasakan tanda-tanda kehamilan di dalam rahimnya.


Reyna awalnya merasa patah semangat untuk melanjutkan hidup, karena tidak bisa mengingat masa lalunya. Terlebih dia tidak tau siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Namun, perlahan-lahan dorongan dan motivasi dari orang-orang yang berada di pondok pesantren membuatnya bertahan dan semangat untuk menjalani hari-hari nya dengan ingatan barunya.


Materi kajian yang didengarnya membuat memory otaknya terisi dengan hal-hal yang positif. Sehingga dia merasa diberi kesempatan untuk terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih baik dengan ingatannya yang baru.


Flashback Off.


Seusai berbelanja sayuran dan bahan masakan di pasar, Reyna dan Bu Salamah berjalan ke pangkalan angkot yang sedang menunggu penumpang. Mata Reyna menangkap ada sebuah ruko besar di depannya yang terdapat tulisan besar di bagian atas bertuliskan 'jual kain kiloan murah'. Reyna merasa tertarik ingin melihat-lihat ke dalam.


"Bu, bolehkah kita mampir ke sana sebentar?" tanya Reyna sembari menunjuk kepada ruko yang menjual kain tersebut.


Bu Salamah menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Reyna. Bu Salamah mengernyit heran.


Untuk apa Reyna ingin melihat-lihat kain?


"Itu ruko yang menjual kain lhoh ... memangnya mau buat apa kainnya?" tanya Bu Salamah.


"Ayolah, Bu. Reyna ingin sekali melihat bagian dalamnya!" ujar Reyna merajuk sembari memegangi salah satu lengan Bu Salamah dengan kedua tangannya.


Melihat Reyna sangat manja seperti anak gadis yang sedang merajuk, akhirnya Bu Salamah luluh dan menuruti kemauan Reyna.


"Ya sudah sebentar saja, ya? Kita harus segera kembali untuk menyiapkan menu makan siang," tutur Bu Salamah yang akhirnya mengalah dan menuruti keinginan Reyna.


"Baik, Bu. Jazakillah Ibuku sayang!" ujar Reyna sembari tersenyum riang.

__ADS_1


Mereka berdua menyeberang jalan, kemudian masuk ke dalam toko kain tersebut.


Mata Reyna seolah berbinar melihat banyaknya gulungan kain. Tangannya mulai meraba kain-kain yang berada di sana.


"Reyn, memangnya kamu tahu jenis kain?" tanya Bu Salamah saat memperhatikan Reyna begitu detail merasai tekstur kain yang satu dengan yang lain.


"Tau dong, Bu. Yang ini kain katun toyobo foudou kainnya adem nyaman di pakai, yang ini kain wolfis grade A sangat cocok untuk dibuat menjadi gamis syar'i, yang ini jenis kain monalisa, ringan, namun agak sedikit gerah. Kalau yang ini kain ceruty babydoll sangat cocok untuk di buat khimar yang jatuh, atau bisa juga digunakan untuk membuat gamis syar'i yang mewah. Dan, yang seperti ini jenis kain rayon sangat nyaman untuk di buat menjadi daster atau one set yang saat ini sedang ngetrend dipakai untuk sehari-hari, Bu," ujar Reyna sembari menjelaskan satu persatu kain yang dirabanya.


"Wah Mbak ini pinter sekali pengetahuannya tentang kain," puji seorang penjaga toko saat ikut mendengar penjelasan dari Reyna.


"Iya, Reyn. Dari mana kamu tahu? Ibu saja tidak tahu menahu tentang hal itu," tanya Bu Salamah.


Reyna menggeleng. Dia sendiri merasa bingung, sebab dia juga tidak mengerti mengapa bisa langsung mengenali jenis kain-kain tersebut.


"Kamu ingin membelinya?" tanya Bu Salamah.


Reyna mengangguk, "Tapi Reyna tidak punya uang, Bu!" ujar Reyna lirih dengan muka yang terlihat masam.


"Kamu bisa menjahit?" tanya Bu Salamah ingin memastikan terlebih dahulu.


"Emm ... Reyna tidak tahu, Bu. Tapi Reyna sangat ingin membelinya," tutur Reyna mengatakan yang sejujurnya.


Bu Salamah tersenyum dengan tingkah Reyna, sebab Reyna seperti anak-anak yang merajuk ingin dibelikan mainan. "Baiklah, ambillah beberapa lembar kain. Di ruangan kejuruan ada beberapa mesin jahit, kamu bisa belajar membuatnya dengan santriwati di sana nanti," tutur Bu Salamah memberi ide.


Reyna sangat senang mendengar hal itu. Dia kemudian berterima kasih kepada Bu Salamah yang selalu berbaik hati padanya. Reyna segera memilih beberapa lembar kain untuk dibawa pulang.


"Berapa, Mbak?" tanya Bu Salamah kepada penjaga toko.


"Semuanya tiga ratus ribu, Bu!" ujar penjaga toko sembari menyerahkan nota.


"Murah sekali, Mbak. Dengan uang 300 ribu, sudah dapat kain sebanyak ini?' ujar Bu Salamah sembari mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, kemudian menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan kepada penjaga toko.


Setelah itu mereka kembali pulang ke rumah. Reyna tak henti-hentinya mengulas senyum dibalik cadarnya, setelah mendapatkan apa yang dia mau. Reyna kemudian melepas cadarnya dan membantu Bu Salamah memasak bersama beberapa orang santri.


Ya, Reyna memang belum istiqomah untuk mengenakan cadar, dia mengenakan cadar hanya jika sedang bepergian keluar saja. Setelah sampai di pondok putri, Reyna akan kembali melepasnya.


Seusai membantu memasak, Reyna meminta ijin kepada Bu Salamah untuk menuju ke ruang kejuruan. Reyna membawa kantung kresek yang berisi kain yang dibelinya tadi. Saat itu ruangan sedang tidak dipakai, sehingga Reyna langsung masuk ke dalam.


Reyna mengedarkan pandangan, untuk menyoroti ada apa saja yang ada di ruangan itu. Ternyata semua kebutuhan untuk menjahit sudah sangat lengkap. Kemudian, dia tergerak untuk menuju pada meja besar di tengah, yang diyakininya sebagai tempat membuat pola.


Reyna mengeluarkan kain yang tadi dibelinya dan mengulurkan kain itu di atas meja tempat membuat pola. Dengan cekatan Reyna menorehkan garis-garis di atas lembaran kertas pola dan menggambar berbagai bentuk pola sesuai ukuran yang diingatnya sebagai standar ukuran XL. Sebab Reyna ingin mencoba membuat gamis untuk Bu Salamah.


Kemampuan tersebut muncul begitu saja, seolah diingatnya di luar kepala. Setelah pola jadi Reyna menempelkan pola tersebut di atas lembaran kain, kemudian dia memulai memotong kain sesuai dengan pola yang dibuatnya tadi.


Usai memotong kain, Reyna menghidupkan mesin jahit. Reyna, kemudian mulai menjahit potongan-potongan polanya tadi. Dan, dalam waktu dua jam saja, sebuah gamis yang sangat cantik telah berhasil dibuatnya.


Tanpa Reyna ketahui ada seorang perempuan yang melihatnya mengerjakan kegiatannya tadi secara diam-diam, di balik pintu yang terbuka sedikit. Perempuan itu terkesima melihat kemampuan yang dimiliki Reyna dan terpana melihat hasil yang di buat oleh Reyna. Gamis itu sungguh cantik.


"Assalamu'alaikum," ujar perempuan itu sembari melangkah masuk ke dalam ruangan menjahit.


Dengan sedikit terkejut Reyna berpaling ke arah pintu. "Wa'alaikumussalam," jawab Reyna seraya tersenyum saat mengetahui siapa orang tersebut. "Ustadzah Tia, mengagetkan saja!"


Keduanya bersalaman kemudian melakukan cipika-cipiki. Ustadzah Tia adalah istri dari Ustadz Fadhil, sekaligus yang mengajarkan ketrampilan kepada santriwati. Reyna beberapa kali dijenguk oleh Ustadzah Tia bersama dengan Ustadz Fadhil saat masih berada di rumah sakit. Dan beberapa kali bertemu saat Ustadzah Tia datang ke pesantren untuk mengajar.


"Ukhti, pintar sekali membuat bajunya!" puji Tia kepada Reyna.


"Akh, Ust Tia bisa saja, saya baru mencobanya kok!" kilah Reyna.


"Maaf, dari tadi saya mengintip dari balik pintu, takut mengganggu anda. Ukhti Reyna cekatan sekali membuat pola dan menjahitnya. Saya sampai terkesima melihatnya," tutur Tia.

__ADS_1


"Ya ampun saya jadi malu, nih, Ust," tutur Reyna sembari tersenyum malu, sebab dari tadi dia sangat fokus hingga tidak memperhatikan sekitarnya.


"Oh ya, bagaimana, keadaan janinnya, Ukh? sudah mulai kelihatan ini, ya!" tanya Tia sembari meraba pada perut Reyna yang mulai membuncit.


"Alhamdulillah sehat, usia kandungan saya sudah tujuh belas minggu, Ust," tutur Reyna menjelaskan.


"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya!" ujar Tia dengan tersenyum, namun tak lama wajahnya menjadi murung.


Sungguh Engkau Maha Berkehendak, Ya Allah. Engkau telah menyelamatkan janin ukhti Reyna meskipun sang ibu terlempar ke jurang. Namun, Engkau telah mengambil janin dari Rahimku, meski aku telah berhati-hati menjaganya. Namun aku ikhlas, aku akan menunggunya sampai kapan pun engkau mempercayakan kembali, seorang janin tumbuh di rahimku, ya Allah...! batin Tia.


"Tia ..., Tia ...!" seseorang memanggil dari luar.


"Iya, Ummi!" seru Tia menoleh ke arah pintu yang menampakkan ummi Aini dari balik pintu.


"Ayo cepat ... Fadhil sudah menunggu di luar!" ujar ummi Aini sembari melambaikan satu tangannya.


"Baik Ummi, sebentar lagi saya menyusul," ujar Tia kepada ibu mertuanya.


"Ukhty, saya pergi dulu ya? kapan-kapan di lanjut lagi ngobrolnya!" pamit Tia kepada Reyna.


"Iya, Ust. Hati-hati di jalan!" ujar Reyna sembari bersalaman.


Setelah kepergian Tia, Reyna membereskan ruangan itu kemudian melipat bajunya dan kembali memasukkan gamis yang sudah jadi ke dalam kantong kresek. Reyna kemudian menuju kamar Bu Salamah.


"Assalamu'alaikum, Bu. Boleh Reyna masuk!" ujar Reyna sambil mengetuk pintu Bu Salamah.


"Masuk saja Reyn!" seru Bu Salamah dari dalam kamar.


Karena sudah mendapatkan ijin, Reyna akhirnya segera masuk ke dalam kamar Bu Salamah. Rupanya Bu Salamah sedang istirahat.


"Ibu, sedang istirahat, ya?" Maaf Reyna mengganggu!" tutur Reyna merasa bersalah dan hendak kembali ke luar.


"Ehh, mau ke mana? Masuklah, tidak apa-apa!" ujar Bu Salamah kemudian bangun dan mendudukkan diri di tepi ranjangnya.


"Ini untuk Ibu, ayo coba, Bu!" ujar Reyna sembari menyerahkan sebuah bungkusan kantong kresek kehadapan Bu Salamah.


"Apa ini, Reyn?" tanya Bu Salamah dengan heran.


"Buka saja, Bu!" ucap Reyna.


Dengan perlahan Bu Salamah membuka bungkusan itu. Bu Salamah terkesima saat mengetahui isi di dalamnya. Di julurkannya gamis tersebut di hadapannya.


"Masya Allah cantik sekali gamisnya, Reyn! ini kain yang kamu beli tadi pagi kan? kamu sendiri yang membuatnya?" tanya Bu Salamah, speechless dengan apa yang diberikan Reyna


Potongan kain-kain murah yang tadi di beli bisa menjadi gamis yang sangat bagus.


"Iya ... gamis itu untuk Ibu!" jawab Reyna sembari mengulum senyum di wajahnya.


"Kamu seharusnya membuat baju untuk dirimu sendiri, kenapa malah membuatkan baju untuk aku? lihat yang kau pakai hanya baju bekas dariku yang sudah mulai kekecilan!" ujar Bu Salamah terharu.


"Tidak apa,Bu. Bahannya masih ada. Nanti Reyna bikin satu lagi biar kembaran sama Ibu. Ayo di coba, Bu, bajunya! Nanti misal kebesaran ato ada yang kurang pas, bisa Reyna betulkan!"


Salamah kemudian mencoba baju itu tanpa melepas baju yang tadi dikenakan.


"Sudah pas kok, Reyn. Ini bagus sekali. Jazakillah khoiron katsiro, Reyna!" ucap Bu Salamah yang kemudian memeluk Reyna.


"Waiyyaki, Bu," jawab Reyna merasa senang, sebab Bu Salamah adalah orang yang sangat berjasa selama dia di ponpes.


___________________Ney-nna_________________

__ADS_1


__ADS_2