Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Disebut istri dan suami


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap menjelang maghrib. Setelah berpamitan dengan Bunda, Reyna masuk ke dalam mobil Rangga. Rangga melirik sekilas kemudian menyalakan mobilnya meninggalkan pelataran Butik.


Suasana hening, Rangga bisa merasakan jika yang berada disampingnya sedang tidak enak hati. Mungkin Reyna sudah membatalkan perjodohannya. Rangga sampai heran, sesedih itukah ia tidak jadi menikah dengan laki-laki yang menemaninya dirumah sakit kemarin. Atau jangan-jangan Reyna sudah mulai menyukai laki-laki itu.


Sesampainya di rumah, tanpa mengatakan sepatah kata pun Reyna keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Rangga sampai melongo menyaksikannya pergi begitu saja.


"Memangnya aku ini sopirnya apa? Keterlaluan kamu Reyna. Pergi begitu saja!"


"Lihat aja setelah menikah nanti, akan kubuat kamu terus menempel sama aku."


Rangga bergumam sendiri, kemuadian bergegas turun dari mobil dan menyusul masuk kedalam rumah.


Sehabis mandi dan sholat maghrib, Reyna menelepon Mira.


"Hallo Assalamu'alaikum Reyn. Ada apa?" rupanya teleponnya langsung dijawab oleh Mira.


"Haloo, Mir. Besok pagi bisa datang kerumah sakit tempat Kakek dirawat gak?"


"Memangnya ada apa beb? Ada yang serius yah...Kakek kumat gitu sakitnya?" tuhkan langsung diberondong pertanyaan aja sama Mira.


"Enggak, Mir. Alhamdulillah Kakek sudah mulai stabil."


"Besok temenin aku ijab qobul ya Mir?" langsung to the point aja mendingan.


"Ijab qobul? Maksudnya kamu mau menikah, Beb? Di rumah sakit gitu nikahannya? Sama siapa Beb?" dari suara terdengar Mira mulai gak sabaran.


"Iyah, Beb. Kakek pengen aku menikah dengan Rangga. Pokoknya kamu besok temenin aku ya? Kalau perlu ruko diliburin dulu aja, Mir." ucap Reyna.


"Sumpah lo Beb. Terus gimana dengan Kak Abi. Fely bilang kemaren kamu dilamar sama Bunda buat Kak Abi."


"Uda aku batalin tadi sempet ketemu Bunda waktu di butik. Aku juga ngerasa bersalah banget Mir sama Bunda. Aku gak ada pilihan lain selain mengabulkan keinginan Kakek. Untungnya Bunda ngertiin aku banget."

__ADS_1


Reyna kembali sedih tatkala mengingat pertemuannya dengan Bunda tadi. Bersyukur Bunda sangat mengerti keadaan Reyna saat ini.


"OMG, yang sabar ya Beb. Besok aku pasti datang. Kamu jangan syedih ya Beb, aku akan selalu ada buat kamu. Pagi-pagi banget ntar aku langsung ke rumah kamu. Jadi kita berangkatnya barengan. Okey...!"


"Iya Mir, makasih ya. Lo emang sahabat terbaik gue. Ya udah aku tutup ya, ni mau tidur dulu capek seharian muter-muter buat persiapan acara besok."


"Iya Beb. Banyak istirahat gih besok musti tetep syantik meski nikahannya dadakan. Ntar aku bantuin ngeriasnya. Sampai ketemu besok, Beb." telepon dimatikan.


Selesai teleponan dengan Mira, Reyna langsung terkapar di kasurnya dengan masih memegang handphone ditangannya. Baru lima menit terlelap Reyna masuk ke dalam dunia mimpi.


Dalam mimpinya Reyna sedang berlarian sambil menangis tersedu-sedu, kemudian ada Rangga yang mengejarnya dibelakang. Ia juga melihat Dina dan teman-teman dekatnya yang lain semasa SMP ikut mengejarnya. Namun tak lama Rangga mampu menangkap tangan Reyna kemudian dibawanya Reyna kedalam pelukannya erat penuh dengan penyesalan seolah-oleh habis melakukan kesalahan terhadap Reyna, kemudian tak ingin ditinggalkan.


Reyna kembali terbangun tatkala mendengar ketukan di pintu kamarnya. Matanya perlahan mengerjap-ngerjap seperti sembab dengan air mata, rupanya ia tadi tidur sambil menangis.


"Masuk aja mbak. Pintunya gak dikunci!" ucap Reyna masih tak beranjak dari tidurnya.


Pintu kamarnya dibuka lebar, kemudian disusul suara orang yang dikenalnya.


"Ngapain sih, Ga. Gangguin orang tidur aja." Reyna menyusut air matanya dengan tisyu yg ada diatas meja riasnya.


"Makan dulu gih, tadi siang kamu baru makan sedikit. Sekarang musti makan yang banyak supaya besok pengantinnya kelihatan cantik dan segar, gak manyun begitu." Goda Rangga.


"Apaan sih, gak lucu kamu tuh!" Reyna melirik tajam kemudian langsung keluar kamar melewati Rangga yang berdiri di sisi pintu kamar.


Rangga tergelak merasa ada kepuasan tersendiri bisa menggoda Reyna hingga juteknya keluar. Disusulnya Reyna yang berjalan menuju ke dapur. Kemudian mereka mulai mennyantap makannya yang sudah disiapkan oleh si embak.


"Reyn, mulai besok kamu musti belajar menghidangkan makan buat suami. Sebentar lagi sebutan kamu berubah menjadi istri dan aku suami." goda Rangga yang merasa geli sendiri mendengar kata-katanya barusan.


"Kayanya kamu seneng banget ya Ga, bisa nikah sama aku. Aku jadi curiga nih, jangan-jangan kamu yang merengek sama Kakek minta dinikahin sama aku." Reyna berhenti makan dan menatap tajam ke arah Rangga.


"Ehh, kamu jangan ke..ge..er..an dulu Reyn. Aku tuh gak tega lihat Kakek yang terus-menerus kepikiran tentang kamu yang gak nikah-nikah karena gak laku-laku. Makanya demi rasa kemanusiaan aku setuju dijodohkan sma kamu." Reyna yang dikatakan begitu langsung gak terima.

__ADS_1


Diambilnya sambel satu sendok penuh, kemudian ia berdiri ke arah kursi Rangga. Ia hendak menyuapi sambel itu ke dalam mulut Rangga. Untungnya Rangga langsung sigap menyadari gerak gerik Reyna yang hendak mendekat. Seketika ia berdiri kemudian berlari mengitari meja makan.


"Ranggaa...nih makan sambelnya biar kamu ngerasain pedasnya mulut kamuu...!" Reyna terus berlari mengikuti Rangga.


Tiba-tiba dari pintu dapur nampak Nenek yang baru tiba dari rumah sakit. Rangga langsung bergegas bersembunyi di belakang Nenek.


Reyna yang baru melihat kedatangan Nenek langsung berhenti. "Ehh Nenek, sudah pulang!."


"Aduuh, kalian itu yaa..selalu saja ribut-ribut. Gimana nanti kalau sudah menikah, bisa jadi cekcok melulu." ungkap Nenek.


"Ehh jangan dong, Nek."


"Mustinya kalau sudah nikah itu sayang-sayangan. Bener kan, Nek!" mendengar ucapan Rangga Reyna langsung melotot. Heran dia bisa-bisanya bicara kayak gitu di depan Nenek.


"Sudah-sudah kamu ini, Ga. Pasti menjahili Reyna terus." Nenek kemudian duduk di salah satu kursi, kemudian diikuti Rangga dan Reyna kembali ke kursinya masing-masing.


"Tadi pulang sama siapa, Nek." tanya Rangga.


"Dijemput sama si Bejo barusan. Kamu disuruh nyusulin Papi kamu ntar buat ikut nginep, jagain Kakek." ujar Nenek sambil mengambil makanannya. "Oya, tadi sudah mendapat baju pengantinnya?" Reyna mengangguk.


"Sudah Nek." terlihat Nenek begitu bahagia.


"Kamu bawa sekalian bajunya Ga. Jadi besok bisa langsung kamu pakai di sana.


"Iya Nek." Jawab Rangga.


"Oya Reyna, tadi Nenek sudah memberi kabar Bibimu. Besok pagi ia akan datang."


ungkap Nenek.


"Terimakasih ya Nek. Reyna sampai kelupaan." Nenek kemudian mengangguk.

__ADS_1


Mereka bertiga menyelesaikan makanannya dengan tenang. Selesai makan Rangga kemudian berangkat menyusul Papinya di rumah sakit.


__ADS_2