
Seusai salat Fely segera melipat mukenanya dan menyimpannya pada rak penyimpanan. Tepat di saat itu Raka membuka pintu kamar sepulangnya dari masjid bersama dengan Abiyu. Fely segera menghampiri suaminya. Fely dengan sabar menunggu Raka hingga usai menyimpan sarungnya.
"Eh, kenapa?" tanya Raka bingung dengan sikap Fely yang terus membuntutinya ke mana pun dia berada.
"Tadi udah janjikan!" ujar Fely dengan cemberut, sebab Raka telah melupakannya.
"Janji?" tanya Raka.
"Ishh ... ya udah deh!" ucap Fely kesal sembari berbalik hendak pergi.
Dengan cepat Raka meraih tangan istrinya untuk menghentikan langkahnya.
"Oh, yang tadi? baiklah akan aku jelaskan," ujar Raka saat mengingat janjinya. "Kita jalan-jalan ke luar yuk, nanti aku ceritakan sembari berjalan-jalan!" tambahnya.
"Baiklah, Kangmas!" jawab Fely dengan lirih di kata terakhir.
"Hah ... barusan bilang apa?" tanya Raka saat tidak terlalu jelas mendengar.
"Aku bilang baiklah, aku ganti baju dulu!" kilah Fely kemudian mengambil baju ganti di almari.
Perasaan tadi Fely bilang sesuatu, batin Raka.
****
Setelah selesai berganti baju Fely dan Raka berpamitan kepada bunda dan yang lain untuk pergi jogging. Raka berniat untuk mengajak Fely mengunjungi alun-alun kidul yang tidak terlalu jauh dengan rumah. Raka segera mengambil sepeda motornya dari parkiran.
"Sayang, kita naik motor ya?" tanya Raka.
Fely yang tadinya mau meminta untuk menaiki mobilnya pun akhirnya tidak jadi. Demi menjaga perasaan suaminya dia memilih menurut saja.
"Emm ... oke!" jawabnya.
"Terus ngapain masih bengong aja? sini dong!" pinta Raka.
Ini adalah pertama kalinya bagi Fely naik sepeda motor dengan dibonceng laki-laki selain Abiyu, kakaknya. Perlahan-lahan dia segera naik ke jok belakang.
"Pegangan dong, Sayang," perintah Raka kepada Fely.
Perlahan Fely memegangi ke dua sisi pinggang suaminya, namun dengan cepat Raka menariknya hingga melingkar sempurna di pinggangnya. Fely pun tak henti-hentinya mengulas senyum, tatkala sesekali Raka mengelus punggung tangannya dengan lembut.
Motor pun segera melaju menuju ke alun-alun kidul Yogjakarta. Sepanjang jalan masih agak sepi, belum banyak kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan. Udaranya pun masih bersih sehingga perjalanan mereka cukup menyenangkan.
__ADS_1
Lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di alun-alun kidul Yogyakarta. Ternyata cukup banyak juga pengunjung yang datang. Namun, biasanya akan lebih ramai ketika malam hari, terutama saat weekend.
Seusai memarkirkan motornya Raka menggandeng tangan Fely menyusuri kawasan sekitaran alun-alun sembari berlari-lari kecil. Dan, saat mulai lelah mereka berjalan perlahan sembari berpegangan tangan.
"Capek nih, duduk dulu yuk!" pinta Fely untuk mengistirahatkan kakinya yang sudah lelah.
"Iya, Sayang. Di sana ada tempat duduk. Kita duduk di sana!” Tunjuk Raka pada tempat duduk yang rindang di bawah pohon.
Fely mengangguk dan perlahan mereka berjalan menuju tempat yang tadi ditunjuk oleh Raka. Rasanya tak sabar untuk segera mendudukkan diri di bangku taman tersebut. Tubuhnya sudah terasa lengket dan berkeringat. Fely segera menjatuhkan diri di bangku taman tersebut setelah sampai. Kemudian mengatur napasnya agar perlahan-lahan kembali normal.
"Sayang, kamu tunggu di sini dulu aku belikan minuman!" pinta Raka.
"Iya, jangan lama-lama!" ujar Fely mengingatkan.
Raka mengangguk kemudian segera pergi menuju kedai yang menjual minuman. Setelah mendapatkan yang dia inginkan, Raka segera kembali menuju Fely berada.
"Nih, minumnya!" ujar Raka sembari mengulurkan satu botol air mineral kepada istrinya.
"Terima kasih, Kangmas!" ucap Fely seraya tersenyum ke arah Raka.
"Apa? barusan bilang apa?" tanya Raka yang seketika mengurungkan untuk meneguk minumannya dan berpaling ke arah Fely dengan segera. Dia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Terima kasih, Kangmas!" ucap Fely mengulang kata-katanya dan memberi penekanan pada kata terakhir.
"Kenapa senyum-senyum begitu? aneh ya? iya kan? pasti aneh kan?" tanya Fely. bertubi-tubi.
"Eh, enggak kok, Fe! justru aku suka dipanggil begitu sama kamu. Cuma aku penasaran aja kamu dapat ide dari mana tau-tau memanggilku dengan sebutan begitu?" tutur Raka.
"Dari nenek Arum tuh yang suruh, maksa lagi. Katanya aku musti panggil 'kangmas' dan kamu harus panggil aku 'diajeng'," tutur Fely dengan malu-malu.
"Aku setuju kok, mulai sekarang panggil aku 'kangmas'! ayo coba panggil lagi!" pinta Raka menggoda istrinya.
"Ehh ... enggak ah malu! kaya gimana gitu kalau disuruh, nanti saja kalau pas waktunya manggil juga aku panggilnya gitu," tutur Fely dengan pipinya yang merona serasa lidahnya kelu untuk kembali memanggil dengan sebutan itu.
"Baiklah, Diajeng ...," pungkas Raka sembari menjawil dagu Fely dengan mesra.
"Ops ...!" pekik Fely seraya menangkup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya menahan tawa sekaligus rasa malu.
Raka tersenyum memandangi istrinya yang tersipu. Sedangkan Fely berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona dengan berpaling ke arah lain.
"Udah ah, sekarang saatnya bercerita, kamu udah janji lhoh tadi!" Fely menagih janjinya.
__ADS_1
"Oh iya, tadi kan mau ngejelasin soal yang kemarin. Tapi, aku minta sama kamu dengerin sampai akhir, oke?"
"Oke, deal!"
Raka terlihat menarik napasnya dalam-dalam sebelum memulai bercerita, hal ini cukup berat baginya untuk berkata jujur tentang yang sesungguhnya terjadi kepada Fely.
"Jadi sebenarnya kemarin aku dapat telepon dari asisten kakekku. Waktu itu aku pernah cerita kan sama kamu, jika aku punya kakek dan nenek?" tanya Raka mencoba mengingatkan kembali pada saat dulu di awal-awal mengenal.
"Oh iya, yang waktu kamu telepon aku tepat di saat kamu lagi mengobrol sama nenek kamu waktu itu, kan? kok kamu nggak kenalin aku sama mereka? mereka juga nggak datang di pernikahan kita, kan?" Fely melayangkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Satu-satu pertanyaannya, Diajeng!" Protes Raka.
"Injih, Kangmas!" (Iya, Kakak)
"Ngegemesin banget sih, denger kamu panggil 'kangmas' ke aku," celoteh Raka sembari mencubit pucuk hidung istrinya.
"Ishh, apa sih! ayo dong lanjut, udah penasaran nih! cerocos Fely yang sudah tidak sabaran.
"Ekhm, oke!" Raka menjeda kata-katanya, dan raut mukanya pun berubah serius. "Nenekku sudah nggak ada, Fe. Nenek sudah sakit sejak lama dan dua bulan setelah Maura meninggal, nenek juga meninggal. Kemarin itu asisten kakek mengabari jika kakek kembali di rawat di rumah sakit karena drop. Sebelumnya kakek memang menderita gejala stroke. Semalam itu aku pulang larut karena menunggu keadaan kakek hingga mulai stabil terlebih dahulu."
"Kemudian, tentang kenapa aku nggak kenalin mereka ke kamu, itu karena saat itu belum tepat waktunya, Fe. Aku yang dulu kamu kenal bukan sekedar seorang sopir, atau asisten direktur. Melainkan cucu dari seorang pengusaha sukses dan terpandang. Di waktu yang bersamaan aku hanyalah anak wanita miskin yang lahir dari pernikahan siri."
"Waktu itu kakek memintaku untuk segera menikah demi mendapatkan keturunan dariku, aku menyutujuinya asal aku diijinkan untuk memilih sendiri calon istriku. Dan, kakek setuju, namun ada syaratnya. Syaratnya adalah dia harus dari kalangan orang berada dan pendidikannya tinggi, sehingga status sosialnya nanti tidak jauh berbeda."
"Kemudian aku mencari cara untuk menemukan wanita yang sesuai dengan keinginan kakek, tapi juga wanita yang tulus mencintai aku apa adanya. Saat itulah aku bertemu denganmu, Fe. Karena itulah aku harus menyembunyikan identitas ku yang sebenarnya dari kamu," tutur Raka bercerita panjang lebar.
Fely terkesiap mendengar hal itu, seketika dia merasa marah karena Raka telah membohonginya. "Jadi selama ini kamu membohongi aku?! kenapa kamu nggak jujur tentang hal itu sebelum kita menikah?"
"Karena aku yang sekarang hanyalah anak wanita miskin yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan seperti yang kamu ketahui saat ini, Fe. Kakek telah mencoretku sebagai ahli warisnya dan kakek menyita semua fasilitas yang bersumber dari harta kekayaannya."
"Aku hanyalah Raka, laki-laki biasa yang sedang berharap bisa berdiri sendiri dengan kakiku tanpa bantuan dari kakek, dan aku sedang berjuang agar bisa memberikan nafkah yang pantas untuk istriku yang baru aku nikahi. Maaf kan aku telah menyembunyikan hal ini darimu, Fe?! sungguh aku tidak berniat menipumu, aku hanya ingin mencari cinta yang tulus," tutur Raka dengan penuh harap.
"Raka aku tidak suka dibohongi kamu tahu kan?! meskipun alasan kamu itu baik, tapi seharusnya kamu katakan hal ini sebelum pernikahan kita!"
"Aku tahu aku salah, Fe. Please, tolong maafkan aku, Fe!" bujuk Raka sembari memegang tangan istrinya. "Aku sangat mencintaimu, Fe!"
Meskipun Fely kesal karena sudah dibohongi oleh suaminya, namun dia mencoba memahami alasan Raka menyembunyikan identitasnya yang tak lain demi mencari cinta yang tulus baginya.
"Lalu apa alasan kakek mu mencoret mu sebagai ahli waris dan mengambil semua miliknya darimu?" tanya Fely yang masih penasaran akan nasib suaminya yang baru diketahuinya.
Raka terdiam, Raka merasa ragu untuk menceritakan tentang kakek yang menentang pernikahan mereka. Dia tidak ingin Fely bersedih karenanya.
__ADS_1
..._________Ney-nna_________...