
Di fase awal kehamilannya, Cindy selalu mengalami morning sicknes, bahkan terkadang berkepanjangan hingga tidak doyan makan hingga siang. Beruntung Dimas selalu perhatian, dan telaten untuk mengingatkan istrinya makan.
"Sayang jika tidak mau makan, kamu harus rajin minum susu atau jus buah? pokoknya harus ada asupan yang masuk ke dalam tubuh. Sebab itu adalah sumber energi untuk kamu dan janinnya" ujar Dimas memperingatkan agar janin diperut Cindy bisa berkembang dengan baik dan jangan sampai kekurangan gizi.
"Iya Mas, nanti aku bikin jus dan perbanyak makan buah dan sayur. Tapi gak sekarang ya Mas, aku kalau pagi nggak bisa masukin makanan ke mulut. Pasti, ujung-ujungnya muntah lagi. Habis itu badanku jadi lemes. Cape juga bolak-balik ke kamar mandi," ujar Cindy yang berkeluh kesah dengan suaminya.
"Iya, gak usah terlalu memaksa. Bikin diri kamu senyaman mungkin, supaya janin di perut juga enjoy, soal kebutuhan di klinik nanti biar aku suruh yg lain buat handle. Kamu banyak istirahat ya, aku berangkat dulu," ujar Dimas kemudian bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya, Mas!" ujar Cindy sambil meraih tangan suaminya untuk salim. Seperti biasa hal itu dibalas oleh Dimas dengan kecupan di kening istrinya.
"Nanti pas pulang mau aku belikan sesuatu gak, Sayang?" tanya Dimas perhatian.
"Nggak mas, aku gak pengen apa-apa. Aku cuma pengen mas Dimas cepet pulang dengan selamat," ujar Cindy mulai manja.
"Iya, Sayang. Aku langsung pulang nanti seusai kerja. Aku berangkat ya? Assalamu'alaikum!" ujar Dimas kemuadian berlalu menuju mobilnya.
"Iya Mas, wa'alaikumussalam!"
Sedangkan Qila, dalam dua minggu ini selalu diantar jemput oleh neneknya bersama dengan supir.
"Bu, terima kasih ya sudah menggantikan Cindy untuk mengantarkan Qila sekolah," ujar Cindy saat bu Lilis sudah bersiap untuk mengantar Qila.
"Iya, Ibu tidak masalah kok, justru Ibu merasa senang bisa sekalian berjalan-jalan keluar. Wanita yang hamil memang berbeda-beda kondisinya. Jangan sungkan untuk meminta bantuan Ibu ya, Ibu pasti bantu jika Ibu sanggup," ujar Bu Lilis perhatian.
Cindy merasa sangat beruntung mempunyai ibu mertua yang sangat baik, dan sangat mengerti. Tak pernah sekalipun bu Lilis ikut campur dalam rumah tangga Cindy dengan Dimas. Justru bu Lilis telah banyak membantu.
"Qila, belajar yang rajin, ya. Hari ini Qila sekolahnya dianter lagi sama nenek ya?" ujar Cindy dengan lembut.
"Iya, Umma. Kenapa perut Umma kecil? Emang adek bayinya muat di sini?" tanya Qila ingin tahu.
"Kan usianya baru tujuh minggu, Sayang. Dedek bayinya masih sangat kecil jadi muat saja di perut Umma," tutur Cindy memberi penjelasan.
__ADS_1
"Umma harus banyak makan, biar dedek bayinya cepet gede kaya perut tante Reyna gede banget, pasti dedek bayinya udah besar," ujarnya sembari mengusap-usap perut Cindy.
"Hhhahaha....! Iya, Sayang. Tapi dedek bayinya gak akan bisa cepat besar hanya dengan banyak makan, Umma perlu waktu sembilan bulan untuk membesarkannya di perut Umma hingga bayinya siap untuk di lahirkan, dan bisa di gendong sama kakak Qila. Oh ya, mungkin sebentar lagi dedek bayinya tante Reyna sudah saatnya lahir, Sayang. Coba nanti Umma telepon tante Reyna ya, Qila mau tidak lihat dedek bayinya tante Reyna?" tanya Cindy.
"Mauuu...! Ayo main ke rumah tante Reyna, Umma!" Qila semakin antusias.
"Sekarang kakak Qila musti sekolah dulu, kan Umma belum tahu tante Reyna sudah lahiran belum. Nanti jika tante Reyna sudah lahiran, Umma ajak Qila buat jenguk dedek bayinya ya?" bujuk Cindy.
"Baik,, Umma. Kalau gitu Qila berangkat dulu ya, Umma. Assalamu'alaikum!" Qila mencium tangan Cindy untuk salim.
Cindy beruntung Qila cukup mengerti akan keadaannya dan tidak rewel. Justru anak itu sangat perhatian pada Cindy..
"Wa'alaikumussalam! Sekarang buruan masuk ke dalam mobil ya, tuh nenek sudah menunggu! Hati-hati yah, dadah...," Qila membalas dengan berdada-dadah, kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan halaman rumah.
Seusai keberangkatan suaminya dan Qila, Cindy menuju dapur untuk membuat jus dan mengupas berbagai macam buah untuk di buatnya menjadi salad buah. Hanya ini yang biasanya Cindy konsumsi setiap pagi karena lebih ,mudah untuk masuk ke dalam mulut ketimbang nasi.
"Mbak, mau nggak salad buah?" ujar Cindy pada mbak Minah.
"Wah iya tuh, Mbak. Kok aku jadi pengen rujak bikinan Ummi ya, Mbak. Jadi kepengen pulang ke rumah Abi!" ujar Cindy yang tiba-tiba sangat merindukan pulang ke rumah abi dan ummi.
Setelah dinyatakan hamil Cindy belum pernah pulang ke rumah umminya. Hanya sempat mengabari lewat telepon jika ia sedang hamil.
Semenjak hamil Cindy lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Itu pun atas perintah Dimas. Sebab ia sering merasa letih dan lesu. Terkadang terasa nyeri di bagian bawah punggung. Dan, saat malamnya ia akan meminta Dimas untuk mengusap-usap bagian punggungnya agar bisa tidur.
Bahkan semenjak hamil, Cindy tidak lagi membantu di klinik. Hanya sesekali ia datang untuk mengecek laporan keuangan dan memberikan gaji perawat maupun dokter yang bekerja di klinik Dimas. Meskipun sudah menjadi istri pemilik klinik, Cindy tidak pernah sombong pada teman-temannya yang bekerja di klinik. Ia tetap rendah hati dan berbaur dengan mereka. Sesekali candaan pun terlontar dari mereka. Namun, tidak membuat Cindy menjadi tersinggung.
Ddrett...drett..drett...!
Tiba-tiba terdengar suara handphone nya bergetar di atas nakas. Ada panggilan dari umminya. Segera diangkatnya telepon tersebut.
"Hallo, Assalamu'alaikum, Ummi!" ujar Cindy.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Cin, ini Ummi sekarang berada di rumah sakit. Abi-mu masuk rumah sakit. Asam lambung Abi naik. Dari kemaren Abi muntah-muntah terus gak mau makan, akhirnya tadi pagi ummi bawa ke rumah sakit karena kondisinya tidak memungkinkan untuk rawat jalan," tutur Ummi panjang lebar.
"Ummi, kenapa dari kemaren gak bilang ke Cindy. Abi di rawat di rumah sakit mana?" Cindy nampak khawatir.
"Di rumah sakit Dr.Oen, Cin. Kamu jenguknya nanti sore saja sama suamimu. Abi kan sudah di tangani pihak rumah sakit. Ummi juga sudah di temani sama Bude Asri. Kamu jangan khawatir ya jaga kondisi kehamilan kamu. Abi hanya butuh istirahat saja tidak perlu cemas. Do'akan saja Abi lekas pulih," tutur ummi dengan lembut.
"Baik, Ummi. Kalau ada apa-apa tolong segera kabari Cindy ya Ummi."
"Iya, Cin. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam, Ummi!" telepon dimatikan.
"Pantas saja dari tadi rasanya pengen pulang ke rumah Abi. Rupanya Abi sakit! Allahumasyfi Abi, Allahumasyfi Abi, Allahumasyfi Abi!" gumam Cindy dalam do'anya.
Cindy lantas segera memberi kabar kepada suaminya.
💌
Mas, nanti sore cepat pulang ya. Abi di rawat di RS. Aku pengen jenguk Abi.
Pesan dikirim oleh Cindy kepada Dimas.
Dimas tidak lekas membalas pesannya. Mungkin suaminya saat ini sedang menangani pasien. Ia mencoba untuk mengendalikan perasaan cemasnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah ingin segera bertemu dengan abinya.
___________________Ney-nna___________________
Buat pembaca setia DDCP mohon bantuannya, untuk komentar pada kolom diskusi tag Author ya, semuanya.
Buat dukungan kalian, author sangat berterimakasih. Semoga sehat selalu dan rezekinya lancar. Aamiin 🙏💕💕💕
Minggu ini insyaallah author akan memberi gift, bagi pembaca yang paling rajin memberi dukungan pada karya ini. Sebagai rasa terimakasih author untuk pembaca setia DDCP.
__ADS_1
Salam hangat dari author 💖💖💖