Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Bertemu Orang Asing.


__ADS_3

Fely memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Selepas salat subuh dia tidak beranjak dari kamarnya. Fely lebih memilih untuk kembali bergelung di bawah selimut tebalnya.


"Diajeng, tumben habis subuh kamu tidur lagi?" tanya Raka yang sedikit heran saat melihat istrinya kembali berbaring di tempat tidur.


Lantas Raka mendudukkan dirinya di tepian kasur di samping Fely.


"Aku nggak enak badan, Mas!" jawab Fely tanpa melihat ke arah suaminya. Matanya terpejam dan selimut tebal melingkupinya.


Raka mengulurkan tangan kanannya ke depan hingga punggung tangannya menyentuh kening istrinya. "Enggak panas, tuh!" ujar Raka saat merasai suhu tubuh istrinya yang biasa saja.


"Kamu nggak percaya sama aku, Mas? aku tuh bener-bener nggak enak badan," ujar Fely yang mulai kesal.


Raka segera memeluk tubuh istrinya itu dengan gemas. "Uluhh, ngambek gini sih, Sayang. Kan aku cuma bilang nggak panas, bukan berarti aku tidak percaya jika kamu sedang sakit. Atau mungkin saja kamu kecapaian, Diajeng!"


Raka, dengan gemas menciumi pucuk kepala istrinya yang tengah merajuk.


Tiba-tiba Fely merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman. Perutnya seperti diaduk-aduk dan ingin segera dimuntahkan.


"Emh ...," pekik Fely seraya membekap mulutnya dengan telapak tangannya.


Dia dengan cepat mendorong tubuh Raka agar menyingkir dari tubuhnya. Kemudian, menyibak selimut dan berjingkat turun dari tempat tidur. Lalu berlari dengan terburu-buru menuju kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.


"Uweek ... uweekk ...!"


Raka segera mengikuti istrinya ke dalam kamar mandi, mengurut bagian tengkuk istrinya untuk membantu.


"Diajeng, are you okay?" tanyanya.


Selintas Fely melihat hanya lendir kekuning-kuningan yang dimuntahkannya. Namun, terasa pahit di tenggorokan. Fely segera menyalakan kerannya untuk membersihkan mulutnya.


Raka melihat pada wajah istrinya yang terlihat pucat dengan napas yang terengah-engah. Raka kemudian merengkuhnya ke dalam pelukan. Memberikan usapan lembut di belakang kepalanya.


"Apa mungkin kamu masuk angin, Diajeng?" tebak Raka.


Fely tidak menjawabnya hanya perlahan beranjak menuju tempat tidurnya kembali.


"Istirahatlah, Sayang! aku ke bawah sebentar untuk membuatkan teh hangat untukmu," ucapnya seraya menyelimuti istrinya.


Raka kemudian beranjak ke luar dari dalam kamarnya menuju dapur.


Sesampainya di dapur dia memasak air untuk digunakannya menyeduh teh.


"Lagi ngapain, Ka?" Tiba-tiba Rahma muncul dari pintu dapur. Saat ini Raka dan Fely tengah menginap di rumah mama Rahma.


"Masak air, Ma. Raka mau buatin teh buat Fely," jawab Raka.


"Apa Fely sakit?" tanya Rahma.


"Mungkin dia kurang enak badan, Ma. Soalnya barusan dia habis muntah-muntah," tutur Raka.


Rahma mengangguk, mengerti. Rahma kemudian mulai mengeluarkan sayur-mayur dari dalam kulkas sebagai bahan memasak.


"Mau Mama buatkan bubur?" tanya Rahma.


"Emm, boleh jika Mama tidak keberatan."


"Tentu, tidak dong!"


"Makasih, Ma! Raka ke atas dulu, ya?" ujar Raka sembari membawa dua cangkir teh di atas nampan.


"Iya, nanti jika buburnya sudah jadi akan Mama antar ke atas," ujar Rahma.


Raka mengangguk kemudian beranjak menaiki tangga.


Sesampainya di kamar Fely masih terlihat meringkuk di atas tempat tidur. Raka menaruh tehnya di atas nakas.


Tap.


Bunyi yang ditimbulkan dari suara nampan yang terbentur meja rupanya membuat Fely terbangun.

__ADS_1


"Sayang, minum dulu gih tehnya!" ujar Raka saat melihat Fely beranjak duduk.


Fely mengangguk kemudian perlahan menyeruput tehnya. "Makasih, Mas!"


"Iya, Sayang. Tadinya mumpung weekend aku pengen ngajakin kamu liburan, Sayang. Tapi karena kamu nggak enak badan kita tunda aja minggu depan," ujar Raka.


"Maaf ya, Mas? gara-gara aku nggak jadi deh." Fely merasa bersalah karenanya.


"Gak apa-apa, Diajeng," ujar Raka seraya mengusap pipi istrinya.


Tok tok tok.


"Raka, ini buburnya!" ujar Rahma dari luar.


Raka beranjak menuju pintu dan membukanya. Terlihat Rahma yang membawa mangkuk berisi bubur.


"Makasih, Ma!" ujar Raka seraya mengambil alih nampan dari tangan mamanya.


"Iya, cepat dimakan ya, Fe selagi masih hangat! kalau demam jangan lupa minum paracetamol!" ujar Rahma mengingatkan.


"Iya, Ma. Terima kasih," ujar Fely seraya tersenyum.


"Mama, lanjut masak dulu ya!" ujar Rahma kemudian beranjak menuruni tangga.


Raka duduk ditepian tempat tidur sembari membawa semangkuk bubur ditangannya. Disuapnya satu sendok bubur.


"Aa ... Sayang!" ujarnya seraya menyodorkan satu sendok bubur ke hadapan Fely.


"Biar aku sendiri aja, Mas!" ucap Fely.


"Nggak apa-apa, sekali-sekali manja sama suami!" tutur Raka.


Dimanjain sama suami, Mas. Kalau manja sama suami itu kesannya aku yang minta, itu jelas berbeda," protes Fely.


"Hehehe ... iya-iya, bawel deh. Ayo buka mulutnya, Sayang. Udah pegel nih tangan aku!"


Akhirnya Fely menurut saja dengan perintah suaminya. Hingga beberapa suap dia merasa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan makannya.


"Beneran udah? kok dikit banget makannya?" tanya Raka.


"Aku nggak berselera makan, Mas. Takut muntah lagi," jawabnya.


Akhirnya jadilah Raka yang mengahabiskan buburnya.


"Mas, aku kok jadi inget waktu itu deh. Pagi-paginya setelah kita menikah siri, aku sakit dan kamu menyuapi aku bubur juga. Nggak nyangka jika pada akhirnya kita benar-benar menikah resmi ya, Mas!" ujar Fely merasa haru saat mengingat pertama kalinya berada di rumah ini dan terjadi insiden yang membuatnya terus menerus berhubungan dengan Raka.


"Iya Sayang, aku sangat bersyukur karena Allah kembali mempertemukan kita, Sayang. Aku sangat mencintaimu, Diajeng!" ujar Raka seraya membelai lembut rambut istrinya dan mengecup keningnya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas," ujar Fely seraya melingkarkan tangannya di pinggang suami.


"Coba kalau gak lagi sakit!" ujar Raka.


"Emang kenapa kalau nggak lagi sakit, Mas?"


"Nggak apa-apa, dah luapain aja!"


"Aku kok ngerasa udah enakan ya Mas, habis minum teh hangat barusan," ujar Fely.


"Ish yang bener dipeluk aja udah sembuh? tau gitu dipeluk dari tadi," ujar Raka.


"Bukan karena itulah, Mas. Ihh ngeledek deh! udah ah mau balikin mangkuk dulu, sekalian bantuin, Mama," ujar Fely lalu membawa nampan yang berisi mangkuk dan cangkir yang sudah kosong.


Raka heran melihat istrinya yang cepat sekali berubah-ubah moodnya.


"Masak apa, Ma?" tanya Fely seraya menaruh mangkuk dan cangkir ke dalam wastafel dan mencucinya.


"Mama, masak Rendang kesukaan Raka, Fe. Kamu sudah baikan?" tanya Rahma.


"Alhamdulillah, sudah baikan, Ma. Tadinya kepala Fely pusing dan mual pas bangun tidur, tapi sehabis muntah udah agak enakan setelah minum teh hangat dan makan buburnya," tutur Fely.

__ADS_1


"Kamu muntah?" tanya Rahma seraya menoleh kepada Fely


"Iya, Ma. Tapi, karena perut Fely kosong cuma muntah kaya lendir kekuning-kuningan gitu sih, Ma."


"Kapan terakhir kamu haid?" tanya Rahma.


"Emm, Fely agak lupa sih, Mah. Sepertinya sebelum menikah," ujar Fely sembari mengingat-ingat.


"Ini kan, sudah hampir dua bulan setelah menikah. Coba cek dengan testpack, Fe. Ada kemungkinan kamu hamil," ujar Rahma.


"Hamil?" Fely seketika tercenung akan hal itu.


Sebelumnya dia sama sekali belum membahas tentang hal itu bersama Raka. Permasalahan kemarin dengan Yasmine yang ditimbulkan oleh kakek, menyita pikiran dan waktu, sehingga membuat dirinya melupakan soal momongan.


"Coba aja dicek dulu, Fe. Jika memang belum saatnya ya tidak apa-apa. Buat berjaga-jaga. Lebih baik tahu sejak dini dari pada terlambat. Sehingga bisa menjaga asupan yang tepat untuk tumbuh kembang si janin di dalam kandungan," tutur Rahma.


"Em, baik, Ma. Nanti Fely coba cek dulu."


Setelahnya Fely menjadi kepikiran. Benarkah dia hamil? Memikirkan hal itu membuatnya sedikit gugup.


......................


Setelah sarapan pagi Fely dan Raka berpamitan untuk pulang. Sebab keesokannya Raka harus kembali bekerja.


Saat di perjalanan melihat papan nama Apotek di pinggir jalan Fely teringat untuk membeli testpack.


"Mas ... Mas, mampir dulu di apotek depan!" seru Fely memberi arahan.


"Oke, Sayang!" Raka segera menepikan kendaraannya dan berhenti di pelataran jalan.


Fely turun dari mobil menuju ke dalam apotek. Sedangkan Raka menunggu di mobil.


Tiba-tiba ada seorang wanita tua yang berdiri di samping kaca mobil.


"Pak, minta sedekahnya untuk membeli makan, Pak!" ujarnya.


Raka yang semula memperhatikan istrinya dari jauh seketika beralih ke sumber suara.


Raka kemudian merogoh uang yang sengaja di simpan di atas dashboard untuk berjaga-jaga saat ada pengamen.


"Ini, Bu!" ujarnya seraya menyerahkan selembar uang lima ribuan.


"Terima kasih!" ucapnya kemudian berjalan ke sudut halaman.


Wanita tua itu mendatangi laki-laki tua yang berjalan pincang tengah memungut sampah di sudut halaman depan apotek.


Saat melihat ada pengunjung apotek yang ke luar wanita itu kembali mendekat untuk meminta-minta. Begitu pun saat Fely ke luar dari apotek lagi-lagi wanita tua itu mendekatinya dan meminta uang.


Saat Fely tengah merogoh uang di dompetnya , tiba-tiba saja wanita tua itu memegang tangan Fely dan menatap lekat pada wajah Fely.


"Maaf, Bu. Anda mau apa?" tanya Fely yang terkejut dengan tindakan wanita tua yang cukup mengejutkannya.


"Se-kar, kamu Sekar kan? Mas, ada Sekar! iya dia pasti Sekar!" serunya pada laki-laki tua yang memungut sampah.


Laki-laki tua itu mendekat dan segera menarik wanita tua itu untuk pergi. "Sembarangan! kamu memang sudah pikun, mana mungkin Sekar masih muda!" omel si laki-laki tua.


Wanita tua itu berjalan mengikuti suaminya sembari terus menengok ke belakang melihat ke arah Fely. "Dia Sekar, Mas. Aku yakin dia Sekar!" racaunya.


Raka yang melihat hal itu segera mendekat ke arah istrinya yang terbengong dan masih berdiri di tempatnya sembari melihat kepergian wanita tua yang tadi mencekal tangannya.


"Sayang, ada apa?" tanya Raka dengan cemas takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Nenek itu memanggilku Sekar, Mas. Apa mungkin dia mengenal nenek Sekar!" ujar Fely tanpa mengalihkan pandangan pada nenek tua tadi.


"Tapi kamu nggak diapa-apain kan, barusan?" tanya Raka.


"Enggak, Mas. Aku nggak kenapa-kenapa!" ujar Fely


"Ya sudah ayo kita pulang!" Raka menggandeng tangan istrinya menuju mobil mereka.

__ADS_1


..._______Ney_nna_______...


__ADS_2