
"Mas, masukkan aku ke pondok pesantren saja!" ujar Lala sembari mengembalikan amplop bagiannya.
Abiyu terkejut kemudian langsung berpaling memandang ke arah Lala dan amplop yang terulur kepadanya secara bergantian.
"Kamu serius mau masuk ke pondok pesantren?" tanya Abiyu sembari melihat ke arah Lala lagi.
"InsyaAllah Lala serius, Mas. Di sana kan Lala bisa kumpul dengan banyak teman, dan Lala bisa lebih fokus belajar," ujar Lala mantap dengan keputusannya meskipun cukup terburu-buru. "Di sana dan di sini bukankah sama saja, Lala juga tidak bisa berkumpul dengan ibunya Lala. Apalagi..., " Lala tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apalagi kenapa, La?" tanya Abiyu, saat Lala tidak melanjutkan kata-katanya.
"Gak ada mbak Reyna dan Reynand, Mas. Lala rindu sekali dengan mereka," ungkap Lala dengan sendu.
Abiyu terdiam sembari menunduk. Mendengar hal itu dia kembali bersedih. Padahal sebelum hilangnya Reyna waktu itu dia merasakan sangat bahagia, sebab hubungannya dengan Reyna semakin membaik. Dalam bayangannya kedepannya mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Namun, takdir Allah ternyata berkata lain. Keluarga kecilnya yang baru saja dibina tercerai berai. Entah di mana sekarang istrinya berada. Dan, bagaimana tumbuh kembang Reynand saat ini.
"Maaf, Mas. Gara-gara Lala, Mas Abi jadi bersedih..., " tutur Lala menyesal telah membahas hal itu dengan Abiyu, sehingga menyebabkan Abiyu menjadi murung.
"Gak apa-apa, La. Doakan saja semoga di mana pun Reyna berada Allah senantiasa menjaganya. Aku yakin Reyna baik-baik saja. Dia wanita yang kuat, dia pasti bisa bertahan," ujar Abiyu menyemangati dirinya sendiri.
Meskipun dirinya pun juga sangat rapuh ketika melihat rekaman CCTV di pabrik yang menampilkan keadaan istrinya terakhir kali. Di mana saat itu, istrinya terjatuh dan digiring dengan paksa, untuk masuk ke dalam mobil. Hal itu saja sudah memilukan dan membuat hatinya resah.
"Oh, ya... mengenai keinginanmu untuk pindah ke pondok pesantren itu, apakah kamu sudah ada bayangan ingin masuk ke pondok pesantren yang mana?" tanya Abiyu memastikan bahwa Lala memilih yang tepat bagi masa depannya.
"Iya, Mas. Sebentar ya, Lala ambilkan brosur yang tadi," ujar Lala, kemudian beranjak ke dalam kamarnya untuk mengambil brosur yang tadi di ditemukannya.
Lala mengambil brosur tersebut dan juga handphonenya. Saat Lala hendak kembali menuju teras depan. Dia melewati Dino yang masih sibuk main game di ruang tengah. Dino sempat menoleh ke arah Lala, namun secepat kilat Dino kembali berpaling kepada gawai di tangannya.
Lala tidak ambil pusing akan hal itu. Sebab, diabaikan oleh Dino sudah menjadi hal yang biasa bagi Lala, dari semenjak laki-laki itu menginjakkan kaki di rumah ini. Lala bergegas menemui Abiyu yang sudah menunggunya di teras depan.
"Ini, Mas. Tadi sore tanpa sengaja Lala mendapatkannya di halte, dan aku sangat tertarik sejak pertama kali aku mendapatkannya," tutur Lala, merasa sangat antusias ingin segera tinggal di pondok.
Abiyu menerimanya kemudian membacanya sepintas. "Sepertinya bagus, ini brosurnya aku bawa, coba aku pelajari terlebih dahulu tentang pondok pesantren ini. Jika kualitasnya cukup bagus, nanti aku daftarkan kamu ke sini," ujar Abiyu kemudian melipat brosur itu menjadi lipatan kecil, kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya. "Apa Bibi sudah tahu?" tanyanya.
"Belum, Mas. Budhe sedari tadi masih bantu-bantu di tempat tetangga yang punya hajat. Mungkin nanti malam Lala akan memberitahukan hal ini kepada budhe Lastri." tutur Lala.
"Oh iya, Lupa. Tadi padahal Dino sudah bilang! Ya sudah ... kalau begitu aku pulang dulu, ya, La!" ujar Abiyu sembari beranjak berdiri.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" ujar Lala ikut berdiri.
__ADS_1
"Oh iya, ini uangnya kamu bawa saja. Nanti kamu akan membutuhkan banyak baju muslim dan kerudung, kan? Kamu pakai saja uangnya untuk membeli kebutuhanmu!" ujar Abiyu sembari menyerahkan kembali amplop berisi sejumlah uang yang tadi dikembalikan oleh Lala.
"Wah beneran, Mas? Makasih banyak ya, Mas. Lala, banyak berhutang budi sama Mas Abi dan mbak Reyna," ujar Lala sembari menerima amplop itu kembali.
"Kamu berhak menerima uang itu, sebab di situ juga termasuk gaji kamu membersihkan rumah setiap hari," tutur Abiyu sembari melangkah menuju mobilnya.
"Tapi ini lebih dari cukup, Mas. Ya, sudah Lala Terima, ya? Terima kasih banyak buat Mas Abi semoga di mudahkan jalannya memperoleh rizky, dan segala keinginan bisa tercapai. Aamiin! " tutur Lala menimpalinya dengan do'a untuk Abiyu yang sangat baik kepadanya.
"Aamiin. Aku pamit ya, La. Assalamu'alaikum!" ucap Abiyu sembari menghidupkan mesin mobilnya.
"Wa'alaikumussalam, Mas," jawab Lala.
Mobil Abiyu perlahan-lahan menjauh menuju jalanan dan tak terlihat lagi.
Lala, kemudian masuk ke dalam rumah. Saat melewati ruang tengah, tiba-tiba saja Dino bersuara, hingga membuat Lala menghentikan langkahnya.
"Apa kamu mau meninggalkan rumah karena ada gue di rumah ini?" tanya Dino masih tanpa memandang ke arah Lala.
"Kamu menguping ya?!" tuduh Lala kepada Dino.
"Gue nggak menguping. Tadi gue nggak sengaja denger waktu masih di ruang tamu! Lagian tinggal jawab, apa susahnya, sih?!" tutur Dino sembari berpaling dan melirik tajam ke arah Lala.
"Enggak, kok. Bukan gara-gara kamu. Aku emang pengen aja masuk ke ponpes," kilah Lala, berbohong. Karena tidak mungkin baginya untuk mengatakan alasan yang sesungguhnya.
"Kalau karena ada gue di rumah ini buat kamu gak nyaman, gue bisa kok tinggal sama mas Abi. Lagi pula gue kan hanya sebentar saja di kota ini, seminggu lagi juga gue balik ke Bandung, dan kamu gak perlu pergi dari rumah ini," tutur Dino memberi saran.
Lala diam sejenak, dia merasa bingung. Akhirnya Lala memilih tidak menjawab kata-kata Dino. Lala kemudian masuk ke dalam kamarnya.
...****...
Beberapa hari telah berlalu. Cindy sudah mengabari jika dia kehilangan jejak keluarga Reyna. Mereka sudah pindah ke Jakarta dan Cindy tidak tahu harus menghubungi siapa, karena dia tidak mempunyai nomor telepon keluarga Reyna. Namun, Cindy dan ustadz Maulana sepakat untuk tidak menceritakan tentang kematian Rangga kepada Reyna. Mereka takut jika hal itu akan mempengaruhi kesehatan Reyna.
Sehari-harinya Reyna menghabiskan waktu di pesantren. Selain membantu bu Salamah memasak dan berbelanja bahan memasak pada pagi hari, Reyna juga membantu Tia mengajari anak-anak serba-serbi menjahit baju. Reyna juga mengajari kiat-kiat, bagaimana memasarkan produk baju-baju yang mereka buat secara online.
Tia pun ikut merasakan dampaknya dari hubungan baik mereka. Reyna ternyata cukup mahir dalam hal memasarkan produk sehingga hasil karya anak-anak di pesantren dapat di jual dan responnya bagus. Baju-baju yang mereka buat rupanya cukup diminati beberapa orang customer yang menginginkan gamis syar'i dengan berbagai model dari rancangan mereka sendiri.
Sehingga membuat baju tidak hanya untuk dikenakan bagi mereka sendiri, tapi juga dapat dimanfaatkan ilmu yang mereka dapat di pondok pesantren untuk mendapatkan sumber penghasilan bagi mereka kelak ketika sudah ke luar dari pondok pesantren.
__ADS_1
...****...
Pagi itu ustadz Maulana kedatangan tamu yang datang dari Yogyakarta, yang ingin mendaftarkan diri untuk tinggal di pesantren. Kemudian Fadhil menelepon bagian dapur untuk membawakan empat cangkir teh untuk tamu mereka.
Bu Salamah yang menerima telepon itu, kemudian dengan segera menyeduh teh sesuai dengan permintaan Fadhil. Setelah tehnya jadi, bu Salamah, kemudian meminta Reyna untuk mengantarkan teh itu, ke kantor ustadz Maulana.
"Reyna, tolong kamu hantarkan teh ini ke ruangan pak Ustadz!" perintah bu Salamah kepada Reyna, sembari menunjuk ke arah nampan berisi empat cangkir teh di atas meja dapur.
"Baik, Bu," jawab Reyna kemudian segera beranjak ke luar dari dapur sembari membawa nampan tersebut menuju ruangan kantor ustadz Maulana.
Saat Reyna hendak berbelok, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang berjalan cepat ke arahnya, sembari berbicara dengan seseorang melalui telepon yang berada dalam genggamannya. Laki-laki itu menempelkan handphone di telinga kirinya, dan berjalan ke depan tanpa memperhatikan arah di depannya. Reyna cukup panik karena jarak di antara mereka sudah cukup dekat dan tidak memungkinkan lagi untuk menghindar.
Duk.
Abiyu dan Reyna seketika bertabrakan.
Pyaar.
Sebuah cangkir terjatuh dan pecah. Lantai pun menjadi basah akibat tumpahan teh itu.
Keduanya nampak terkejut mendapati hal itu. Padahal, Reyna sudah berusaha berkelit dengan cepat, namun tetap saja lengan tangan laki-laki itu menyentuh ujung nampan, yang mengakibatkan nampan terkoyak dan satu gelas terjatuh hingga pecah.
"Astaghfirullah!" pekik Abiyu saat menyadari tindakannya yang buru-buru saat mengangkat telepon, sehingga menjatuhkan secangkir minuman yang dibawa oleh seorang perempuan yang tiba-tiba muncul di persimpangan jalan.
"Maaf, Mbak! Sungguh saya tidak sengaja. Apa anda terluka?" tanya Abiyu pada seorang perempuan yang berada di depannya.
Wanita itu menggeleng kemudian meletakkan nampan yang berisi sisa gelas yang masih utuh di bangku teras sampingnya. Kemudian, dengan cepat Reyna beranjak mengambil sapu dan pengki yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Reyna hendak membersihkan pecahan gelas tersebut dengan sapu dan pengki yang ada di genggamannya. Namun, dengan cepat Abiyu merebutnya dari tangan Reyna tanpa bersentuhan.
"Biar saya saja, Mbak. Saya yang salah! " tutur Abiyu setelah berhasil mengambil alih alat kebersihan dari genggaman tangan Reyna, kemudian mulai menyerok pecahan gelas tersebut.
Akhirnya Reyna membiarkan tindakan yang di lakukan oleh laki-laki di hadapannya itu.
Memang seharusnya dia yang membersihkannya, jika dia adalah laki-laki yang memiliki rasa tanggung jawab. Sebab karena ulahnya gelas itu terjatuh! gumam Reyna di dalam hati.
Reyna reflek melihat ke arah laki-laki di depannya itu yang sedang menekuni sapu dan pengki di tangannya. Reyna tertegun saat memandang laki-laki di depannya itu. Dia merasa tidak asing dengan wajah laki-laki itu. Namun, semakin berusaha mengingat, kepalanya semakin pusing, dia tidak bisa mengingat hal itu.
__ADS_1
Siapa dia, sepertinya pernah bertemu dengan orang ini?!
__________________Ney-nna__________________