Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Sahabat


__ADS_3

Seusai makan Rangga menarik genggaman tangan Reyna menuju taman yang menjadi tempat paling favorit bagi Rangga. Rangga memberi makan ikan di kolam, sedangkan Reyna duduk bersandar di gasebo sambil selonjoran. Reyna menghadap ke atas melihat langit.


Langit malam ini nampak begitu indah bertabur cahaya bintang dan sinar bulan. Diiringi dengan suara gemericik air kolam. Tiupan angin sepoi-sepoi membuat malam ini semakin syahdu.


Rangga menghampiri Reyna dan ikut duduk disampingnya.


"Lagi mikirin apa Yank?" Rangga mendekati Reyna duduk dipinggir gasebo, sambil memandang wajah Reyna.


Bayangan indah malam itu jadi buyar, ketika telinga Reyna menangkap kata-kata Rangga. Ada yang membuat Reyna merasa tak nyaman.


"Ga, bisa tidak jangan panggil aku Yank?" pinta Reyna.


"Emangnya kenapa Reyn? Aku beneran sayang, Reyn sama kamu! Kamu nggak percaya sama aku?" dahi Rangga berkerut bingung.


"Aku percaya, Ga. Tapi aku kaya nggak nyaman dipanggil itu." ucap Reyna lirih menghadap ke arah Rangga.


Hal itu mengingatkan Reyna pada waktu makan malam bersama dengan Putri, setelah ia menikah dengan Rangga. Putri beberapa kali memanggil Yank kepada Rangga, padahal mereka sudah putus. Reyna jadi teringat kembali betapa mengesalkannya malam itu. No, i don't want to hear it!


"Ya udah, kamu pengen panggilan sayang apa dari aku?" tanya Rangga.


"Apa aja yang enak didengar, asalkan jangan yang itu?" ucap Reyna.


"Emm..bentar aku cari referensi dulu!" Rangga mengeluarkan handphonenya.


Ia searching di google tentang arti nama. Beberapa saat ia menekuni layar handphonenya. Di ketiknya beberapa kata. Terlihat raut mukanya mulai berubah-ubah dari berkerut kemudian tersenyum.


Reyna memandang wajah suaminya itu. Baru kali ini ia bisa leluasa memperhatikan muka Rangga yang sedang tersenyum dari dekat, tanpa diketahui oleh orang yang dipandang.


Rangga terlihat semakin manis saat dilihat dari dekat. Seperti menyadari ada yang memperhatikan, tba-tiba Rangga menoleh ke arah Reyna membuat Reyna gelagapan salah tingkah.


"Eh..udah ketemu belum?" tanya Reyna.


"Udah Reyn, ternyata nama panjang kamu artinya bagus. Hanania artinya dikasihi Allah. Kalau Hana aja artinya yang paling disukai, keistimewaan atau kebahagiaan."


"Kamu adalah wanita yang paling aku sukai dan istimewa. Dan kamu adalah bahagian ku, Reyn." ungkap Rangga meraih jari-jemari tangan Reyna.


"Ishh.. gombal!"


"Terus intinya mau manggil apa?" tanya Reyna.


"Aku panggilnya Hana atau Hanania aja, biar beda sama yang lain. Gimana?" tangan kiri Rangga mengusap-usap punggung tangan Reyna kemudian di genggamnya.


"Emm...boleh juga sih! Aku setuju! Coba panggil!" titah Reyna.


"Hanania istriku!" ucapnya didekat telinga Reyna.


"Iieyhh..gak di deket telinga juga kali, Ga. Jadi merinding nih, geli begini." bulu kuduk Reyna berdiri.


"Tapi suka kan?"

__ADS_1


"Orang tua kamu pintar ya, kasih nama buat kamu. Menyematkan do'a terbaik dalam sebuah nama. Nanti kalau kita punya anak aku pengen begitu juga, menamai anak kita." Reyna tersenyum kecil mendengarnya. Ada rasa bahagia saat Rangga menyebut anak kita.


"Terus kamu manggil aku apa, Hanania? Masa Rangga doang sih!" tanya Rangga.


"Emm..apa ya, nama kamu belakangnya Putra Sanjaya. Gak bagus ah klo cuma Putra doang?"


"Putra kan pasangannya putri, jadi keinget Putri lagi kan!" batin Reyna.


"Ya udah apa?" tanya Rangga.


"Emm..Bee atau Hubby...iya Hubby aja dalam bahasa arab artinya suamiku. Gimana?" usul Reyna.


"Boleh juga. Coba panggil!" perintah Rangga.


Reyna memandang ke arah Rangga. Ternyata kalau sambil dilihatin gitu, mau mengucapkan jadi canggung. "Em..Hhhubbyy!"


"Embhh..!" pekik Reyna ketika tiba-tiba Rangga langsung menyambar bibir Reyna gemas.


"Ehmm...ehmm...! Kamu nih Ga, mesra-mesraan terus, gak lihat tempat!" Reza berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.


Reflek Reyna langsung mendorong Rangga kebelakang, dengan segenap tenaga. Rangga sampai terjungkal ke bawah, saking terkejutnya Reyna dengan kehadiran Reza.


"Aww..!" Rangga meringis kesakitan memegangi pantatnya.


"Ehh..maaf...maaf, beneran gak sengaja By!" Reyna mengulurkan tangannya untuk membantu Rangga bangun.


"Hhhhhhaaa.. hhhhhhaaa!" Reza tertawa terbahak-bahak melihat betapa sialnya Rangga didorong oleh istri sendiri.


"Eh..salahin Reyna, dong. Yang dorong kan Reyna bukan Papi. Hahhhhahaa...!" Reza tertawa senang menunjuk ke arah Reyna.


Reyna langsung mendelik, dielus-elusnya lengan Rangga.


"Maaf ya By, tadi aku reflek? Gak sengaja mau ngedorong!" bujuk Reyna.


"Yang dielus-elus pantatnya dong, Na! Kan aku jatoh yang sakit pantatnya!" goda Rangga.


"Ishh..kamu mah ngelunjak! Ada Papi juga!" Reyna langsung mengibaskan lengan Rangga.


"Ehh sudah-sudah, Papi mau bicara sama kalian. Kakek meminta supaya Papi mengadakan resepsi untuk kalian. Menurut kalian gimana?" Reyna dan Rangga seketika saling berpandangan.


"Rangga sih setuju aja, Pi. Kemarin kan akad nikahnya hanya sederhana. Semua wanita pasti menginginkan pernikahan yang indah dan dihadiri orang-orang terdekat. Gimana menurut kamu Reyn?" Rangga melihat ke arah Reyna.


"Reyna nurut aja Pi! Tapi kalau bisa milih, Reyna lebih suka untuk acara walimahnya jangan terlalu mewah Pi. Yang wajar saja dan acaranya sehari jadi. Cukup agar tetangga, dan kerabat dekat mengetahui jika kita sudah menikah." usul Reyna.


"Kalau gitu, acaranya kita adakan di hotel aja biar nggak ribet. Kalau bisa dalam bulan ini juga, habis itu kita fokus bagi tugas urusan kantor, Ga." ujar Reza.


"Oke Pi, setuju!" jawab Rangga.


"Kalian urus ya, temen-temen kalian yang mau diundang siapa saja. Papi coba minta tolong Om Budi dulu sekertaris Kakek untuk membantu booking gedung dan mencari WO yang bagus." Reza melangkah meninggalkan taman.

__ADS_1


"Kita undang temen-temen kita waktu SMP Na. Mereka pasti heboh kalau tau kita menikah." usul Rangga.


Reyna terdiam mengingat-ingat teman SMPnya. Awalnya Reyna adalah anak pemberani, dan ceria berteman dengan siapa saja. Ternyata prasangka baiknya kepada semua orang tidak berlaku sama dengan yang ia dapatkan. Beberapa ada yang mendekati Reyna, tapi akhirnya hanya untuk dimanfaatkan saja.


Padahal Reyna memperlakukan mereka sangat baik selayaknya seorang sahabat, sama seperti Dina sahabatnya yang sejak pertama kali ia kenal saat masuk SMP. Beberapa hari Ratna mulai mendekati Reyna dan berteman baik. Awalnya hanya kepada Dina ia curhat, namun Ratna terus mendesak ingin tahu. Akhirnya Ratna dan Reyna saling curhat tentang Rangga yang sering memperhatikannya, membuat Reyna menaruh hati padanya.


Setelah di beritahu, Ratna ternyata malah menceritakannya kepada Yumna dan Nesa teman dekat Ratna sebelumnya. Namun tidak berhenti di sana, mereka juga membocorkan hal itu ke Mona, pengagum fanatik Rangga.


Flashback On..


Reyna begitu syock ketika Mona menarik tangannya kasar dan menghempaskan bahunya ke tembok. Saat itu sedang sepi, hanya ada beberapa anak yang mengikuti kegiatan extrakurikuler yang ada di kelasnya masing-masing karena belum dimulai.


Reyna tidak mengerti dimana letak salahnya. Tanpa diminta Mona sendiri yang curhat kalau ia menyukai Rangga. Bahkan Reyna tak pernah sekalipun mencoba mendekati Rangga.


"Reyn, kamu ada hubungan apa sama Rangga?" tanya Mona.


"Enggak Mon, aku gak ada hubungan apa-apa." jawab Reyna.


"Aku denger dari Yumna dan Nesa, katanya kamu lagi deket sama Rangga!" Reyna terkejut mendengar hal itu.


Tega-teganya mereka mengatakan hal itu kepada Mona bahkan melebih-lebihkan.


"Mon, aku nggak tau mereka bilang apa sama kamu. Tapi aku harap kamu percaya sama aku, diantara aku dan Rangga nggak ada hubungan apa-apa. Dan aku nggak akan pernah merebutnya dari kamu. Kamu bisa jadian sama dia, dan aku nggak akan mengganggunya." Reyna berkata dengan tegas.


Reyna tidak berbohong dengan perkataannya, ia memang tidak menjalin hubungan apapun dengan Rangga. Bukan ia juga yang meminta Rangga untuk memperhatikannya atau bisa melarangnya agar tidak memiliki perasaan terhadapnya, Karena dicintai dan mencintai itu adalah hak masing-masing orang. Ia hanya manusia biasa dan bukan Allah Maha Tahu atau Maha Berkehendak.


Ia memang menyimpan rasa kepada Rangga, namun dalam diam, bahkan tanpa mencoba untuk mendekatinya.


"Sungguh, Reyn? Maaf ya sudah salah menuduh kamu.!" ucap Mona.


"Iya, maaf aku musti ke toilet dulu, Mon." ucap Reyna.


Reyna berjalan cepat melewati lorong, menuju ke toilet sekolah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, ia tahan-tahan agar tidak jatuh. Mukanya memerah menahan amarah. Sesampainya di dalam toilet barulah ia menangis menumpahkan kekecewaannya.


Bukan karena Mona, tetapi karena penghianatan Ratna, Yumna dan Nesa. Kini ia cukup tahu bahwa seorang sahabat yang sudah dipercayanya, malah mengumbar hal yang ingin di simpannnya. Bahkan Reyna tidak pernah meminta apapun dari mereka.


Yang paling mengesalkan, setelah hari itu teman sekelas Reyna yang lain juga mengetahuinya. Itu berarti mereka telah bergosip ke mana-mana. Reyna merasa sangat malu. Ingin rasanya ia menangis.


Padahal saat itu, Reyna tidak memusuhi mereka meski kecewa di dalam lubuk hatinya. Lama-lama mereka sendirilah yang sungkan kepada Reyna dan mulai menjauh karena tidak diberi contekan.


Bagi Reyna cukup menjadi pelajaran bahwa ia tidak boleh terlalu percaya kepada orang lain apalagi yang berhubungan dengan pribadinya. Dengan kejadian ini dia tau mana sahabat yang benar-benar tulus, dan mana yang hanya baik didepan, menjelek-jelekkan di belakang.


Dan semenjak kejadian itu Reyna berusaha keras untuk membuang perasaannya kepada Rangga. Ia selalu menghindari Rangga dan menjauhinya. Bahkan demi meredam kabar yang sudah terlanjur menyebar bahwa ia menyukai Rangga, Reyna sampai harus berbohong jika ia menyukai Hendra teman dekat Rangga yang beda kelas, demi Mona.


Akhirnya berpindahlah gosip menjadi membicarakan Reyna dengan Hendra. Beberapa temannya selalu menggoda Reyna ketika Hendra melewati kelasnya.


Reyna menyadari jika hal itu juga berimbas pada sikap Rangga kepadanya. Tatapan Rangga yang biasanya mendamba, kini terlihat dingin. Rangga semakin menyebalkan, saat Reyna mencoba menyapa. Hal itu membuat Reyna menjadi bingung sekaligus merasa bersalah.


Semakin ia menjauh dari Rangga, ia semakin memikirkan. Semakin membenci semakin mencintai.

__ADS_1


Flashback Off.


"Terserah kamu aja Ga, mau mengundang siapa. Kalau aku yang paling penting adalah mengundang Dina, Ana dan Retta." merekalah sahabat yang tulus yang Reyna miliki hingga lulus SMP.


__ADS_2