Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Kabar duka


__ADS_3

Seusai sholat Reyna kembali ke ruangan Abiyu. Terlihat Abiyu sedang menekuni pekerjaannya di depan laptopnya.


"Sudah sholat Reyn?" tanya Abiyu.


"Iya, Kak." Reyna menghampiri handphonenya yang sedang ia charge.


"Oiya... barusan ada yang telpon, tapi nggak bicara malah di matikan. Coba kamu cek, siapa tahu itu penting. Maaf aku lancang mengangkatnya tadi, karena terus berdering," ucap Abiyu.


"Iya Kak, nggak apa-apa," Reyna mengecek panggilan terakhir. Hubby..!


Oh my God! semoga saja Hubby tidak salah paham!


"Reyn, aku keluar dulu ya ke mushola, nanti aku suruh salah satu karyawan ke mari. Kamu bisa pilih beberapa menu yang kamu suka. Kamu harus makan yang banyak," ucap Abiyu.


Pandangan Reyna beralih ke Abiyu, "Ehh, tidak usah repot-repot, Kak. Nanti biar aku saja yang keluar jika membutuhkan sesuatu."


"Ya sudah, kalau begitu, aku sholat dulu," Abiyu keluar meninggalkan Reyna sendiri di ruangan kantornya.


Reyna duduk di sofa yang berada di ruangan Abiyu, kemudian menghubungi Rangga. Namun beberapa kali menelpon nomornya tidak aktif.


"By, tolong jangan salah paham dulu, By. Aku musti gimana, kenapa handphonemu jadi tidak aktif?!" Reyna bergumam, dengan mata berkaca-kaca. Hatinya resah.


Tiba-tiba dering handphonenya berbunyi. Namun bukan dari Rangga melainkan dari Bibi.


"Hallo, Assalamu'alaikum, Bi!" ucap Reyna.


"Wa'alaikumsalam Kak, ini aku Dina. Kakak sekarang di mana?" tanya Dina. Dina adalah anak Bibi Lastri yang pertama.


"Aku, sudah di Jogja, Din. Sekarang di tempat teman Kakak. Tadi ke rumahmu nggak ada orang. Paman dirawat di rumah sakit mana biar Kakak susul ke sana?" tanya Reyna.


Lama tidak ada jawaban sepertinya Dina sedang berbicara dengan seseorang.


"Din, haloo...!" panggil Reyna.


"Iya Kak, kata Ibu, Kak Reyna nanti langsung ke rumah saja. Nanti kita semua juga akan pulang. Ini sedang mengurus administrasi. Paling setengah jam lagi kita bisa pulang." Dina menjelaskan.


"Ya sudah, nanti kalau sudah di rumah hubungi Kakak ya, Din. Ini lokasinya juga deket kok dari rumah kamu," ucap Reyna.


"Iya, Kak. Sudah dulu ya. Assalamu'alaikum." telpon dimatikan.


"Wa'alaikumsalam." Reyna sedikit lega, setidaknya sudah mendapat kabar dari Dina.


Kini perutnya sudah terasa lapar. Tadi di klinik hanya makan bubur, sehingga tidak membuatnya kenyang.


"Kamu sudah lapar ya, Dek? Pantas saja kemaren-kemaren Bunda laper terus, ternyata kamu makannya banyak yah," gumam Reyna sambil mengelus perutnya lembut.


Reyna kemudian berjalan keluar menuju bagian depan restoran Abiyu. Reyna duduk di salah satu meja yang paling pojok dekat dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan di bagian luar restoran. Di sini udaranya lebih sejuk karena dekat dengan kolam ikan yang berada di luar.


"Mas..!" Reyna memanggil salah satu pelayan restoran.


"Saya minta menunya yah!" ucap Reyna.


"Ini silakan, Bu!" pelayan laki-laki itu memberikan daftar menu.


Setelah melihat-lihat Reyna kemudian memesan makanan pada pelayan resto yang tadi, "Saya mau Sop Buntutnya satu porsi, nasi putihnya satu, minumnya jus jeruk ya, Mas."


"Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar," setelah mencatat pesanan Reyna, pelayan itu berlalu.


Reyna mencoba menelpon kembali nomor Rangga namun masih tidak aktif.

__ADS_1


"Sudah pesan, Reyn?" tanya Abiyu yang duduk di depannya.


"Sudah Kak, pemandangan di sini lebih adem ya Kak, dibanding resto yang di Jakarta," ungkap Reyna.


"Iya, dulu ini adalah rumah Kakek dari Bunda. Setelah Kakek meninggal dan tidak ditempati kemudian oleh Bunda dijadikan restoran. Jadi tetap terawat rumahnya, kita tidak merubah bagian depannya supaya tetap terkesan jawanya," Abiyu menjelaskan panjang lebar.


"Permisi... ini, Bu pesanannya. Satu porsi sop buntut dan jus jeruk," ucap pelayan resto.


"Terima kasih ya, Mas?" ucap Reyna.


"Oya, bawakan saya sop buntut juga, Son. Minumnya lemon tea saja," pesan Abiyu kepada pelayan resto yang bernama Soni.


"Baik, Pak!" Soni pun berlalu.


Saat sampai di dapur ada yang menghadang Soni.


"Son, itu Mas Abi sama siapa?" tanya Mega, asisten Abiyu.


"Saya kurang tau, Mbak. Tadi datangannya juga bersama Pak Abi. Tadi sempet masuk ke dalam kantornya Pak Abi juga. Mungkin pacarnya Pak Abi, Mbak." jawab Soni.


"Ngawur kamu, sudah sana kerja!" Mega kembali melihat ke arah Reyna dan Abiyu, " Kok, kaya pernah lihat tu cewek, siapa yah?"


Mega mengambil foto Abiyu dan Reyna yang sedang makan, dengan kamera di handphonenya. Mega terus mengamati mereka dari Jauh. Dia sudah sejak lama menyukai Abiyu, namun Abiyu adalah orang yang susah di dekati. Abiyu sangat tertutup dengan masalah pribadi dan terkesan cuek.


Seusai mengangkat telpon tiba-tiba saja terlihat Reyna berjalan mendekat dan melewati Mega, kemudian di susul oleh Abiyu di belakangnya. Saat itu juga Mega baru teringat bahwa itu adalah istri Rangga mantan pacar Putri sahabatnya.


Dia kan..istri Rangga, kok bisa sama Mas Abi.


Mega mengirimkan foto yang tadi diambilnya kemudian di kirimnya foto itu ke Putri. Tak berapa lama terlihat Reyna berjalan ke luar dari kantor Abiyu bersama Abiyu yang menenteng koper milik Reyna. Mega berbalik membelakangi agar wajahnya tidak terlihat oleh Reyna. Setelah keduanya melewatinya baru ia melihat ke arah mereka pergi. Melihat Abiyu yang begitu perhatian kepada Reyna, membuat Mega cemburu.


Dasar cewek penggoda, kenapa bisa ada dia terus sih!


"Reyna, ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Pamanmu?" tanya Abiyu.


"Aku nggak tau, Kak. Tapi perasaanku nggak enak, sepertinya memang terjadi sesuatu, tapi Dina nggak bilang sama aku!" Reyna terlihat sangat cemas, sambil mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Kamu harus tenang, Reyn. Ingat, kamu sedang hamil, jangan sampai stres," Abiyu menyerahkan air mineral untuk Reyna.


"Terima kasih, Kak," Reyna membuka botol yang berisi air mineral tersebut kemudian meminumnya.


Menuju rumah Bibi dari sebelum belokan terdapat bendera putih terpasang di tiang. Kemudian dari kejauhan terlihat ramai orang-orang yang berkumpul, dan terpasang tenda di pelataran rumah Bibi. Abiyu menepikan mobilnya tidak terlalu dekat dengan rumah Bibi karena ada banyak orang.


"Reyn, kamu tenang dulu ya, apapun yang terjadi kamu harus sabar, jangan terlalu terbawa suasana. Kamu harus kuat karena mereka butuh dikuatkan juga, ikhlaskan!" Abiyu menasehati.


Reyna tak mampu berkata apa-apa, bulir-bulir air mata jatuh begitu saja di pipinya. Mereka kemudian turun dari mobil kemudian Reyna langsung berjalan masuk menghampiri Bibinya yang duduk di samping jenazah suaminya.


"Bibi...!" Reyna menghambur ke pelukan Bibinya.


"Maafkan kesalahan Pamanmu di masa hidupnya ya Reyn, do'akan Paman ya Reyn!" ujar Bibi di sela-sela tangisnya.


"Iya, Bi. Paman adalah orang yang baik, Allah sangat menyayangi Paman, karena itu Allah mengambil Paman untuk berada di sisiNya. Semoga Paman husnul khotimah ya, Bi," Reyna mengeratkan pelukannya dengan Bibi untuk saling menguatkan, meski bulir-bulir air mata berjatuhan tak terbendung. Kemudian beralih memeluk Dina dan adiknya Dino yang juga larut dengan lirih isak tangis mereka.


Pemakaman akan dilangsungkan sore ini juga. Jenazah sudah di mandikan dan di kafani. Para pelayat mulai berdatangan. Kemudian jenazah di sholatkan. Serangkaian acara pembacaan riwayat hidup sang mayit, dan pembacaan do'a oleh pemuka agama telah usai. Jenazah di berangkatkan ke peristirahatan terakhir. Dino ikut mengantar Ayahnya hingga ke pemakaman. Sedangkan Bibi, Dina dan Reyna tinggal di rumah. Kerabat dekat Bibi dan juga tetangga dekat ikut membantu membereskan rumah setelah para pelayat berangsur-angsur pulang.


Bibi hanya anak tunggal, namun masih memiliki saudara sepupu yang rumahnya tak jauh dari sini. Tinggal di pedesaan masih kental dengan gotong royong dan rasa persaudaraan yang tinggi. Sehingga segala sesuatunya banyak yang membantu. Bahkan sudah disiapkan makanan untuk keluarga yang ditinggalkan.


"Tri, kamu makan dulu sana, ajak juga anak-anak makan. Pasti sedari siang belum makan to?" tanya Kakak sepupu bibi.


"Iya, Mbakyu. Terima kasih!" ucap Bibi Lastri pada kakak sepupunya.

__ADS_1


"Din kamu ajak Mbak mu makan. Nanti Ibu menyusul kalau Dino sudah pulang dari pemakaman.


"Reyn, aku balik pulang dulu ya. Nanti malam aku ke sini lagi," pamit Abiyu.


"Iya, Kak. Terima kasih banyak ya Kak!" ucap Reyna tulus. Abiyu hanya mengangguk menanggapi.


"Bu, saya pamit dulu ya. Ohya, Bu tolong ingatkan Reyna utuk makan tepat waktu. Karena dia sedang hamil," ungkap Abiyu pada Bibi Reyna.


"Reyna, hamil? Alhamdulillah. Terima kasih ya, Nak Abi sudah mengantarkan Reyna ke mari. Hati-hati ya di jalan," Bibi terlihat sedikit berseri di bandingkan tadi. Setelah kepergian Abiyu Bibi, mendekati Reyna.


"Reyn, kata temen kamu tadi kamu hamil ya?" tanya Bibi.


"Iya, Bi. Reyna juga baru tahu tadi setelah pingsan di pesawat," ungkap Reyna.


"Masya Allah, kamu pingsan di pesawat. Truz gimana ceritanya?" tanya Bibi yang jadi kaget.


Reyna akhirnya menceritakan semua kejadian dari awal saat ia tanpa sengaja bertemu dengan Abiyu di bandara sampai ia diantar ke rumah bibi saat tidak ada orang di rumah.


"Untung ya Reyn, ada nak Abiyu yang menolong kamu. Bibi jadi merasa bersalah mengabari kamu untuk datang. Oiya dari tadi Bibi sampai lupa mau tanya, suami kamu mana Reyn?" tanya Bibi.


Reyna sesaat diam ia tidak mungkin menceritakan masalahnya saat ini, takut membebani bibinya yang saat ini sedang berduka.


"Maaf Bi, Rangga nggak bisa ikut karena sedang berada di Surabaya," jawab Reyna.


"Iya, nggak apa-apa Reyn. Sekarang kamu makan dulu, habis itu istirahat Reyn. Sudah berapa usia kandunganmu?" tanya Bibi sambil tersenyum kemudian mengusap-usap perut Reyna yang masih rata. Reyna bersyukur Bibi bisa tersenyum di balik kesedihannya.


"Belum sempat Reyna Usg, Bi. Reyna belum tau," jawab Reyna.


Seandainya Hubby tau, akankah kamu sebahagia ini, By!


"Ya sudah, ayo kita ke dapur!" mereka kemudian bangkit dan berjalan menuju dapur.


***


Keesokannya Reyna menelpon Nenek.


"Halo, Assalamu'alaikum, Reyna," ucap Nenek.


"Wa'alaikumsalam, Nek. Oiya Nek, kemarin Paman Reyna meninggal, maaf Reyna nggak ngasih kabar," ungkap Reyna.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, kenapa tidak bilang dari kemarin Reyn, tahu gitu kan Nenek bilang ke Rangga buat susul kamu ke Jogja," ujar Nenek.


"Rangga sudah pulang, Nek?" tanya Reyna.


"Sudah dari kemaren siang Nenek pulang dari rumah sakit, Rangga sudah berada di Jakarta. Memangnya nggak bilang sama kamu?" ujar Nenek.


"Belum, Nek. Bisa tolong disambungkan, Nek? Dari kemarin nomornya tidak aktif," pinta Reyna.


"Wah, kamu terlambat Reyn, tadi malam Rangga sudah kembali lagi ke Solo."


"Oiya, handpone Rangga rusak, kemarin katanya tak sengaja terjatuh dan pecah nggak bisa di hidupkan."


Seketika hal itu membuat Reyna terkejut. Aneh sekali kenapa tiba-tiba handphonenya rusak. Akankah Rangga sedang marah padanya. Reyna pun menjadi sangat cemas.


🍁🍁🍁


Jangan lupa kasih like, dan komen supaya Reyna semangat menjalani cobaan hidupnya kali ini ya,,


Salam sayang dari author,,

__ADS_1


Neyna


__ADS_2