Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Pertemuan Reyna dengan Cindy


__ADS_3

Sore itu Bu Salamah mengeluh jika kurang enak badan. Reyna menawari bu Salamah untuk periksa ke dokter. Awalnya bu Salamah menolak, namun setelah dibujuk beberapa kali oleh Reyna, akhirnya bu Salamah bersedia. Reyna meminjam sepeda motor milik Pak Tatang untuk membawa bu Salamah pergi berobat.


"Mari kita berangkat, Bu!" ujar Reyna yang sudah bersiap di atas kendaraan.


"Kamu yakin bisa bawa motor kan,Reyn?" tanya Bu Salamah ragu, sebab sebelumnya Bu Salamah belum pernah melihat Reyna membawa motor, apalagi Reyna mengalami amnesia.


"Ibu ini, memangnya dari pos ponpes ke sini barusan Reyna tuntun apa? Ya pastilah Reyna naikin dong, Bu. Hehehehe ...!" ujar Reyna dengan tawa mengembang di balik cadarnya.


Pasalnya jarak dari pos penjagaan pondok pesantren ke pondok putri lumayan jauh, sehingga butuh waktu lebih lama jika dilakukan dengan menuntun sepeda motor hingga ke pondok putri.


"Iya juga ya, Reyn. Ya sudah ayo! Tapi, pelan-pelan saja ya, jangan kebut-kebutan ibu takut kalau terlalu kencang bawa motornya," ujar Bu Salamah merasa khawatir jika akan jatuh.


"Iya, Bu. Reyna akan pelan-pelan membawanya. Lagi pula jarak dari ponpes ke rumah dr.Arif tidak terlalu jauh dari sini," ujar Reyna meyakinkan. "Meilani, ayo bantu ibu naik ke motor!" ujar salah satu santriwati yang sering bantu-bantu di dapur.


"Baik, Mbak," jawab Meilani kemudian beranjak menuntun bu Salamah. "Ayo, Ummi!"


"Iya, Lan ...," bu Salamah berjalan pelan-pelan dan menaiki motor dengan di bantu Meilani.


"Pegangan sama Reyna ya, Bu," ujar Reyna menghimbau untuk berpegangan pada dirinya agar tidak jatuh.


"Iya, sudah ayo berangkat Reyn!" ujar bu Salamah sembari memegangi kedua pinggang Reyna.


"Siap, Bu. Bismillah ...!" Reyna segera menghidupkan kendaraan dan melaju dengan pelan menuju gerbang ponpes.


Tiba-tiba ada anak kecil berjalan ke tengah jalan. Reyna segera mengerem sepeda motornya agar tidak menabrak balita itu.


"Aroo...n!" teriak Cindy saat tau Aroon akan tertabrak oleh pengendara sepeda motor.


Beruntungnya motor itu berhenti tepat waktu sehingga tidak sampai menabrak bayi yang baru bisa berjalan itu. Aron terjatuh sendiri, terduduk di lantai. Bayi itu menangis.


"Huaaaa ... Umma ... hiks, hiks!" tangis si bayi pecah.


Sebelumnya Cindy sedang fokus mengelap mulut Aruna yang belepotan dengan biskuit camilannya. Sedangkan baby Aroon sedang asyiknya berjalan-jalan di halaman ponpes disekitaran mobil yang terparkir. Sedangkan Dimas dan Qila masuk ke dalam pondok putra untuk menjemput Umar.


Kala itu baby Aroon belajar berjalan sendirian, karena tidak mau dipegangi. Ketika terjatuh akan bangkit berdiri lagi dan jalan lagi meskipun baru beberapa langkah terjatuh lagi, namun anak itu tidak patah semangat untuk berlatih. Berbeda dengan Aruna yang maunya di titah, sehingga perhatian Cindy seringkali lebih berpusat kepada Aruna.


Reyna menghentikan motornya, kemudian memutuskan untuk turun dar motor. Dia segera mendekati baby Aroon yang masih termangu di bawah lantai. Sesekali keluar isak tangis dari mulut kecilnya.

__ADS_1


"Hua ... hiks!" tangisnya kembali pecah.


"Sayang ... cup, Sayang! Anak pintar kamu baik-baik saja, Sayang!" ujar Reyna sembari merengkuh anak laki-laki itu.


"Aroon, ayo sama, Umma!" ujar Cindy mendekat ke arah Aroon dengan membawa Aruna pada gendongannya.


"Maaf, ya, Ukhti! saya tadi sedang fokus dengan yang ini hingga kurang memperhatikan Aroon," ujar Cindy kepada Reyna sembari menunjuk kepada anaknya secara bergantian.


"Tidak apa-apa. Alhamdulillah, semua selamat," ujar Reyna sembari mengulas senyum dibalik cadarnya.


Cindy balik tersenyum ke arah Reyna. Dia merasa tidak asing dengan suara itu, namun dia tidak ingat suara itu mirip dengan suara siapa. Dia tidak mengenali Reyna yang berada di hadapannya, karena Reyna mengenakan cadar.


"Mereka kembar, ya? Cantik dan tampan! Yang ini siapa namanya?" tanya Reyna sembari membelai pipi Aruna.


"Aruna, tante. Ayo salim dulu!" ujar Cindy sembari mengulurkan tangan anak perempuannya. "Aroon juga salim dulu sayang!" Cindy melalukan hal yang sama kepada anak laki-lakinya.


"Anak-anak yang manis," ujar Reyna sembari mengulum senyum kepada kedua batita itu. Kemudian, Reyna melirik ke arah bu Salamah yang masih menunggu di dekat sepeda motor. "Oh ya, maaf saya permisi dulu. Saya harus mengantar Ibu saya ke dokter," ujarnya sembari beranjak berdiri.


"Ibunya sakit?" tanya Cindy ikut memandang ke arah bu Salamah.


"Iya. Ibu saya sedang masuk angin," jawab Reyna.


Reyna memandang ke arah bu Salamah. "Bagaimana, Bu?" tanyanya.


"Apa tidak merepotkan, Nak?" tanya bu Salamah.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya yakin suami saya tidak keberatan. Tunggu sebentar ya, suami saya sedang menjemput adik saya di pondok putra.


"Baiklah, sebelumnya terima kasih, Nak!" ujar bu Salamah.


"Sama-sama, Bu. Sebaiknya ibu duduk dulu di dalam mobil saya sembari menunggu suami saya kembali," ujar Cindy memberi ide.


Bu Salamah memandang ke arah Reyna. Reyna mengangguk menyetujui usul Cindy. Kemudian Reyna menuntun bu Salamah menuju mobil Cindy. Sembari menunggu suami Cindy, Reyna mengobrol dengan Cindy, sambil mengawasi Aruna dan Aroon yang sedang bermain.


Tak berapa lama Dimas kembali bersama Qila dan Umar.


"Umma ..., adek ...!" seru Qila sembari berlari kecil ke arah kedua adiknya.

__ADS_1


Semua memandang ke arah datangnya mereka bertiga. Cindy beranjak mendekati suaminya.


"Mas, bisa minta tolong periksa ibu itu!" tunjuk Cindy pada bu Salamah yang sedang duduk bersandar di jok belakang mobilnya. Beliau sedang kurang enak badan," ujar Cindy kepada suaminya.


"Oke!" ucap Dimas mantap.


"Terima kasih, Mas!" ucap Cindy sembari mengulum senyum manis kepada Dimas.


Dimas membalas tersenyum kepada sang istri, sembari membelai lembut pipi sang istri dengan salah satu ibu jari tangannya. "Sama-sama, Sayang!"


Pipi Cindy memerah dengan perlakuan manis suaminya. Meskipun hanya sesederhana itu, namun sangat istimewa baginya. Romantis itu tidak selalu harus dengan memberikan sebuket bunga, atau kado yang mahal dan dinner di hotel yang mewah, tapi perhatian kecil yang selalu diberikan oleh Dimas kepadanya sudah menunjukkan betapa besar dia dicintai oleh suaminya.


Cindy kemudian menarik tangan Dimas dan menggiringnya menuju mobil. "Bu, ini suami saya. Diperiksa dulu ya, Bu!" ujar Cindy lirih membuat bu Salamah membuka mata.


"Oh, iya, Nak. Maaf saya ketiduran!" jawab bu Salamah sembari menegakkan posisi duduknya.


"Tidak apa-apa, Bu. Rileks saja!" ujar Dimas sembari membawa kotak perlengkapan medisnya ke hadapan bu Salamah.


"Apa yang dikeluhkan, Bu?" tanya Dimas.


"Kepala saya pusing, Dok. Pandangan suka kabur, bagian dada terasa sesak," ujar bu Salamah menyampaikan apa yang ia rasakan.


"Saya cek tekanan darahnya dulu ya, Bu. Badannya tegak dan rileks saja," ujar Dimas sembari merekatkan manset dibagian lengan atas tangan kiri bu Salamah, kemudian memasang stetoskop di telinganya. Tangan kanan memegang mano meter dan tangan kiri memegang bola tensimeter. Dimas memompa tensimeter dengan menekan bola tensimeter secara teratur.


"Bu, ini tekanan darah Ibu cukup tinggi 150/90. Banyak istirahat dan hindari makanan manis, gorengan, daging olahan, perbanyak sayur-sayuran dan buah ya, Bu. Sebentar saya siapkan obatnya," tutur Dimas kemudian mengambil beberapa jenis kapsul dan pil.


"Baik, Dok!" jawab bu Salamah.


"Ini obatnya diminum sesudah makan tiga kali sehari ya, Bu. Semoga cepat sembuh," tutur Dimas menyudahi pemeriksaan.


"Reyn- Reyna!" seru bu Salamah memanggil Reyna yang masih bermain dengan anak-anak Cindy.


Cindy dan Dimas seketika menoleh ke arah Reyna saat mendengar suara bu Salamah.


"Ya, Bu. Sudah selesai ya pemeriksaannya?" ujar Reyna sembari beranjak menuju bu Salamah.


Namun, dengan cepat Cindy mencegahnya, "Tunggu!"

__ADS_1


____________________Ney-nna________________


__ADS_2