
Diluar hujan semakin lebat, sehabis sholat dhuhur Ragga dan Reyna duduk berdua di depan teras kamar hotel yang viewnya langsung menghadap ke telaga. Bangunan hotel memang terlihat sudah bangunan lama namun menariknya, hotel ini cukup bersih dan menyuguhkan view yang menarik karena langsung berhadapan dengan telaga tanpa terhalang oleh padatnya tempat prnginapan yang lain.
Hotelnya ini berada di dataran tinggi, karena letaknya yang berada di atas sehingga dapat terlihat dengan jelas pemandangan di sekitaran telaga yang berada di dataran rendah.
Reyna menyesap kopi hangat di tangannya. Situasi ini begitu lengkap di rasanya. Disaat hujan turun dengan lebat, duduk berdua dengan pasangan, di temani kopi hangat sambil melihat pemandangan indah di depan mata. Romantis bagai di film yang sering di tontonnya, kini kejadian di film-film terasa nyata.
"Kenapa?" Rangga bertanya ketika melihat ke arah Reyna yang senyum-senyum sendiri.
"Ehh.. emm.. enggak. Seneng aja melihat pemandangannya dari sini." kilah Reyna.
Tiba-tiba Rangga merangkul bahu Reyna dan menyematkan kecupannya di kening Reyna lembut. Sontak tindakan Rangga yang tidak terduga itu membuat jantung Reyna berdegup kencang. Rangga tersenyum melihat muka Reyna yang merona saat melepaskan kecupan di keningnya.
Reyna semakin malu saat mata Rangga menatapnya, Reyna jadi salah tingkah kemudian berpaling menyesap kembali kopi ditangannya. Rangga mengusap kepala Reyna yang tertutup hijab mesra. Lucu sekali istrinya ini.
"Ga, boleh aku tanya sesuatu?" akhirnya Reyna memberanikan diri untuk bertanya ke pada Rangga.
"Boleh, mau tanya apa?" Rangga memperhatikan wajah istrinya itu.
"Siapa yang dimaksud Dona cinta pertamamu tadi?" ucap Reyna dengan hati-hati.
"Emm..siapa yah." Rangga malah balik bertanya sambil tersenyum.
"Aku bukan sih? Kok Dona kayak yang gak suka banget gitu sama aku? Malah sampai nunjuk-nunjuk ke muka aku tadi pas marah-marah." ungkap Reyna sambil cemberut.
"Menurut kamu siapa?" tanya Rangga.
"Kok malah nanya ke aku sih! Aku kan nanya sama kamu, itu tandanya aku gak tau. Kalau aku tau buat apa nanya sama kam...embhh!" ucapan Reyna terputus saat tiba-tiba Rangga mencium bibirnya gemas.
"Hhhahaha...kamu lucu banget sih Reyn, kalau bawel gitu." ucap Rangga setelah melepaskan ciumannya.
"Iiiihhh...kamu tuh, Ga. Kalau dilihat orang gimana? Ini kan di luar!" Reyna memukul-mukul lengan tangan Rangga yang masih menertawakannya.
Reyna kemudian masuk ke dalam kamar hotel meninggalkan Rangga sendiri di luar. Reyna merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup. Rangga mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.
"Ehh.. kok di kunci!" gumam Reyna dalam hati saat mendengar suara Rangga mengunci pintu.
Reyna merasakan kasurnya bergetar kemudian ada tangan hangat yang memeluk punggungnya.
"Reyn, berbalik gih! Gak baik tau tidur suami dikasih punggung." perintah Rangga sambil menarik lengan tangan Reyna.
Reyna langsung berbalik miring ke arah Rangga.
"Udah ni! Jadi siapa, Ga? Cinta pertama kamu." tanya Reyna.
"Hhahhahaaahaa...jadi masih penasaran juga?" Rangga tertawa lebar. Reyna mengganguk dengan penuh harap.
__ADS_1
"Nanti sepulang dari liburan kamu liat aja sendiri di laci kamar aku. Sekarang aku mau tiduran bentar Reyn, nanti kalau sudah reda kita kembali ke hotel yang pertama." Rangga langsung memejamkan matanya.
Direngkuhnya tubuh Reyna ke dalam pelukannya. Dalam sekejab terdengar nafas Rangga yang mulai teratur. Reyna mencoba untuk ikut memejamkan mata, namun pikirannya masih berlarian merasakan perutnya yang terasa lapar.
Ia ingin bangun tetapi kesulitan karena tangan Rangga berada diatas pinggangnya. Perlahan ia angkat tangan Rangga dan menggeser tubuhnya.
"Mau kemana, Reyn?" dilihatnya Rangga masih menutup mata, ternyata ia bergumam dalam tidurnya.
Reyna bergegas keluar kamar. Saat berada di luar, dilihatnya hujan mulai reda menyisakan gerimis. Dari teras hotel ditengoknya kebawah terlihat deretan penjual sate dipinggir telaga menggugah seleranya. Tercium bau harum sate yang dikipas oleh penjualnya, membuat perutnya keroncongan meronta-ronta ingin diisi.
Reyna melihat di sudut teras ada sebuah payung yang bersandar di tembok. Reyna mendekat, di tengoknya ke ruang tamu ada seorang bapak tua yang duduk di sofa sambil melihat televisi.
"Permisi, Pak." ucap Reyna saat berada di depan pintu.
"Iya mbak, ada yang bisa di bantu?" kemungkinan bapak ini adalah penjaga hotel di sini.
"Saya yang sewa kamar di samping Pak. Boleh saya pinjam sebentar Pak, payungnya?" tanya Reyna sambil menunjuk payung yang tadi di pojokan.
"Oh..iya mbak silahkan." Bapak itu tersenyum ramah.
"Terimakasih ya, Pak." ucapnya lagi.
"Njih, sami-sami." jawab Bapak itu.
(Ya, sama-sama)
Dilihatnya tak jauh dari tempatnya berdiri ada seorang ibu dengan jilbab abu tua senada dengan warna yang sama dengan gamis yang dikenakannya. Ibu itu sedang mengibaskan kipasnya pada sate yang sedang di bakarnya. Ada tanda halal pada daftar menunya. Inilah yang ia cari, setiap membeli makanan pastikan yang akan kita makan adalah makanan halal.
"Permisi, Bu. Saya pesan sate kelincinya 2 porsi di bungkus ya, Bu?" ucapnya.
"Njih, mbak. Ditunggu dulu ya saya buatkan." ucap Ibu penjual sate. Reyna mengangguk sambil tersenyum tanda setuju.
Reyna berjalan mendekat ke pinggir telaga. Aktivitas speedboat dan menunggang kuda terhenti akibat hujan, sehingga suasanya menjadi sunyi. Beberapa pengunjung yang tidak menginap memilih berteduh di tenda-tenda warung untuk makan atau minum sambil menunggu hujannya reda.
Ini adalah situasi yang paling Reyna sukai. Berdiam diri sendiri sambil menatap hujan yang turun, dilengkapi aroma khas bau tanah yang basah karena hujan. Saat hujan begini seolah memutar kenangan-kenangan indah bersama seseorang. Reyna tersenyum mengingat ciumannya tadi. Disentuhnya bibirnya terasa hangat.
"Dulu aku sempat menyematkan namanya dalam setiap do'aku, rupanya kini takdir jualah yang menuntunku menikah dengannya." gumam Reyna dalam hati.
"Mbak ini satenya sudah jadi." teriakan ibu penjual sate seketika membuat Reyna kembali tersadar dari lamunannya.
"Ohh..iya, Bu. Berapa, Bu semuanya?" tanya Reyna.
"Satu porsinya 15ribu, 2 porsi jadinya 30ribu mbak." terang si ibu.
"Murah juga meski di tempat wisata!"
__ADS_1
Reyna mengeluarkan uang selembar lima puluh ribuan kemudian di berikannya kepada si Ibu penjual sate. "Ini, Bu. Kembaliannya buat Ibu saja." ucapnya.
"Ehh..ini ada kok, Mbak kembaliannya." Ibu itu hendak mencari uang kembalian di laci mejanya.
"Beneran, Bu. Nggak apa-apa! Anggap itu adalah rezeky berlebih dari Allah untuk Ibu. Mohon diterima!" keukeh Reyna.
"Terimakasih banyak ya, Mbak. Atau saya tambahkan satu porsi lagi ya mbak?" ucap Ibu itu.
"Tidak, Bu. Saya hanya berdua dengan suami saya. Nanti kalau tidak habis jadi mubazir." ungkapnya.
"Ohh..sedang bulan madu ya, Mbak? Kalau begitu Ibu do'akan semoga segera dikasih momongan yang sholih sholihah, ya Mbak." do'anya.
"Aamiin, terimakasih Bu, doanya."
"Saya permisi dulu ya, Bu!" Reyna berjalan menyusuri jajaran warung-warung, kemudian sampailah di ujung gang jalan setapak menuju hotel.
Dilihatnya ke atas, menampakkan wajah suaminya yang sedang duduk di pinggir teras dan sedang memandang ke arahnya. Reyna bergegas naik menghampiri suaminya.
"Ehh..uda bangun yah?" tanya Reyna sambil jalan.
"Darimana Reyn, aku cariin sekitaran hotel kamu nggak ada." ucapnya.
"Nih, habis beli sate. Aku nggak bisa tidur karena lapar." ujar Reyna sambil menaruh bungkusan plastik ke depan Rangga.
Dilipatnya payung yang ia bawa, kemudian di kembalikannya ke tempat semula saat ia meminjamnya. Reyna menghampiri Rangga yang berpindah duduk ke kursi panjang di depan kamar mereka.
"Kenapa nggak bangunin? Kan aku bisa belikan buat kamu." tanya Rangga.
"Nggak apa-apa, kamu pasti lelah! lagian aku seneng kok, bisa sekalian jalan-jalan." ungkapnya.
"Ya udah, buruan dimakan gih. Udah laper banget kan?" Rangga mengusap pipi Reyna dengan ibu jarinya.
Reyna mengangguk, kemudian langsung di sambarnya bungkusan di depannya.
"Bismillah." ia mulai menyantap makanannya dengan lahap saking laparnya.
"Emm..enak juga! Baru pertama kali ini aku makan sate kelinci." Reyna merasai makanan di depannya.
"Hhahhaha...kamu pelan-pelan Reyn, makannya!" ucapnya saat melihat istrinya begitu cepat menyantapnya.
"Kamu juga makan dong, Ga. Masa cuma ngeliatin aja!" menyadari Rangga yang belum menyentuh makanannya.
"Ngeliatin kamu makan aja, udah bikin aku kenyang Reyn." goda Rangga.
"Iihh.. gombal!" Rangga kalah telak.
__ADS_1
"Hhhahaha...!" Rangga tertawa lebar melihat gemas istri juteknya.
Selesai makan dan sholat ashar, Reyna dan Rangga meninggalkan lokasi telaga. Kemudian kembali ke hotel pertama, karena hujan sudah reda.