Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Operasi Mami


__ADS_3

Sejak pagi, Reyna sudah berada di rumah sakit untuk menunggu mami. Sedangakan Rangga pergi ke kantor menggantikan papi untuk rapat pagi ini. Papi dan kak Windy pulang untuk bersih-bersih dan istirahat sebentar, setelah semalaman menunggu mami.


Reyna membantu mengelap tubuh mami, menyuapi makan, dan mengurus segala kebutuhan mami. Setelah minum obat, sejak jam 10 pagi mami sudah diminta untuk berpuasa makan berat sebelum menjalani operasi dan puasa minum selama empat jam sebelum jadwal operasi. Operasinya akan dilaksanakan nanti malam pukul 20.00.


Saat ini mami sedang tidur, Reyna beranjak keluar kamar berniat akan menelepon Mira. Belum sempat ia telepon Mira, ia melihat anak kecil yang di gendong oleh ibunya ke sana ke mari di taman kecil berseberangan dengan kamar mami. Tangannya terlilit oleh perban coklat seperti mami, dan terus menerus menangis merengek pada sang ibu.


Ya, memang rumah sakit ini khusus untuk operasi bedah, sehingga semua pasien yang ada adalah pasien yang akan di operasi atau telah dioperasi di rumah sakit ini. Kemungkinan anak itu sedang rewel merasakan nyeri pasca operasi. Sungguh malang, entah apa yang terjadi pada anak itu, tetapi sekecil itu harus mengalami kesakitan seperti itu rasanya sangat memilukan dan tidak tega. Terlihat sang ibu nampak kelelahan menuruti kemauan sang anak.


Reyna mencoba mendekat, "Hai, ganteng! Siapa ini Namanya?" tanya Reyna.


"Kenan tante," yang menjawab adalah mamanya.


Sedangkan sang anak berhenti menangis, namun menyembunyikan wajahnya di pelukan ibunya.


"Kenan, tangannya kenapa Mbak?" tanya Reyna.


"Jatuh dari sepeda, Dek. Semalam habis di operasi, tiap bangun dari tidur menangis terus merasakan tangannya yang nyeri bekas operasi," cerita sang Ibu.


"Aduh, kasian sekali, Kenan. Nggak ada yang bantu jagain, Mbak?" Reyna penasaran karena hanya melihat ibu itu sendiri dengan anaknya.


"Suami saya baru pulang, sedangkan ibu saya menjaga kakaknya Kenan di rumah. Anak saya yang pertama berusia tujuh tahun, jadi masih harus di temani," ujar sang ibu.


"Ohh, begitu ya. Coba diajak ayunan saja mbak di situ. Mbak, pasti cape dari tadi berdiri gendong Kenan," Reyna menunjuk sebuah ayunan besi yang terdiri dari dua bangku berhadap-hadapan, yang muat empat orang.


"Dek, kita main di ayunan ya, Dek!" bujuk sang ibu. Anaknya diam saja, terlihat enggan untuk menjawab.


Ibu itu berjalan di mana terdapat ayunan, kemudian menaikinya dengan di bantu oleh Reyna, agar ayunan tidak bergerak saat dinaiki. Dengan perlahan-lahan Reyna mendorong ayunan dari sisi bangku satunya yang kosong. Kenan terlihat menikmati, merasakan tubuhnya terayun-ayun dalam pangkuan ibunya dengan semilir angin sepoi-sepoi, lama kelamaan matanya tertutup, anak itu terlelap dalam dekapan sang ibu.


"Terima kasih ya, Dek. Kenan tidak rewel lagi, dan kini ia malah tertidur. Saya juga bisa sedikit lega akhirnya bisa duduk," ucap sang ibu dengan tersenyum lega.


"Sama-sama, Mbak. Saya tinggal dulu ya, Mbak. Saya mau telepon teman dulu mumpung Mami saya sedang tidur," ucap Reyna.


"Iya, Dek. Sekali lagi terima kasih!" ujarnya.


"Sama-sama, Mbak. Assalamu'alaikum!" pamit Reyna.


"Wa'alaikumussalam, Dek!"


Reyna kembali ke kamar mami mengintip di depan pintu, ternyata mami masih tidur. Lebih baik telepon Mira sekarang. Ia duduk di teras depan kamar sambil memencet layar pada gawai menyambungkan telepon pada Mira.


"Hallo, siapa ya?" terdengar suara Mira dari seberang telepon.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Mir. Ini aku Reyna," ucapnya memperkenalkan diri, karena sejak handphonenya hilang dan membeli handphone baru belum sempat mengabari Mira nomor barunya.


"Wa'alaikumussalam, Beib, kamu kemana aja? Kenapa kemaren ngilang sampai di cari-cari Nenek dan Suami kamu, Kak Abi juga nanyain kamu lhoh. Aku gak tau apa-apa malah jadi bingung khawatir kamu kenapa-napa. Selama ini kamu di mana? Hiks...hiks....hiks...!" omelnya panjang lebar sambil menangis. Mira memang sahabat terbaik.


"Iya, maaf baru bisa kasih kabar, ceritanya panjang, kemaren itu aku kecopetan waktu di stasiun, HP di dalam tas ikut ilang jadi nggak bisa ngabarin kalian semua. Yang jelas sekarang aku baik-baik saja. Ni aku lagi jagain Mami di rumah sakit," ujar Reyna.


"Mami? Ibu mertua kamu, Beib? Doi baik kan Reyn, sama kamu? Aku tuh kepikiran kamu sampai ngilang dan Rangga nyariin kamu, jangan-jangan ada yang nyelakain kamu, makanya aku khawatir banget kemaren. Takut kamu diapa-apain sama mertua kamu atau sama mantan si Rangga!" selidik Mira.


"Emm...gak ada apa-apa kok Mir, aku baik-baik saja! Ohya, ada kabar baik, Mir. Aku sekarang lagi hamil!" Reyna memilih untuk tidak menceritakannya. Lebih baik memberitahu yang baik-baik saja.


"Alhamdulillah, bentar lagi dapat ponakan dong. Selamat ya, Beib! Semoga sehat-sehat, kelak jadi anak yang solih dan sholihah!" do'a Mira.


"Aamiin, makasih ya Mir do'anya. Oya, Mir, kamu pasti kerepotan kan selama aku nggak ada. Mulai sekarang kamu minta Gina untuk bantuin kerjaan kamu, dia kan sedikit banyak sudah mengerti kerjaan aku, tinggal di ajari dikit dia pasti ngerti. Terus kamu rekrut karyawan baru buat gantiin kerjaan Gina di FO. Aku mau cuti dulu Mir, Sementara waktu aku mau tinggal di Solo dulu buat jagain Mami. Nanti aku tetep handle kerjaan yang bisa aku kerjain dari sini!" tutur Reyna.


"Yahh, kita bakal lama nggak ketemu dong, Beib. Padahal aku udah kangen banget Reyn, curhat-curhat sama kamu! Ya udah deh nanti aku cari karyawan buat gantiin Gina. Kamu kalau ada apa-apa kabarin aku ya, Beib. Jangan dipendam sendiri kalau ada masalah!" ujar Mira.


"Iya, ya udah. Lanjut lain waktu ya, Mir. Assalamu'alaikum."


"Iya, Beib. Wa'alaikumsalam," telepon di matikan.


Reyna kembali ke dalam kamar dan ternyata mami sudah bangun.


"Dari mana kamu?" tanya Mami.


"Kamu akan tinggal di sini?" tanya Mami.


"Iya, Mi. Reyna ingin menjaga, Mami. Papi kan musti ke kantor, dan Mbak Siti juga repot dengan kerjaannya, nanti siapa yang akan merawat Mami?" tanya Reyna.


"Yakin, kamu mau merawat Mami? Dengan begitu kamu juga akan berjauhan lho sama Rangga!" ujar Mami tak yakin.


"Reyna yakin, Mi. Tapi nanti Reyna minta ijin dulu sama Rangga, Mih. Semoga Rangga mengijinkan Reyna tinggal di sini," Reyna duduk di kursi dekat brangkar tempat tidur mami.


Anak ini sepertinya memang sungguh-sungguh ingin merawatku, padahal aku sudah kasar kepadanya. Dia malah terus-menerus memberi perhatian kepadaku. Apa aku telah salah menilainya selama ini! batin Lena.


"Emm...Reyna, Mami minta maaf soal kejadian kemaren itu. Mami kelewat emosi setelah melihat foto itu!" ujarnya meski agak ragu.


"Reyna sudah memaafkan, Mami. Mami adalah ibu Reyna juga. Meskipun Reyna bukan menantu yang Mami harapkan, tapi Reyna tulus menyayangi Mami!" ujar Reyna sendu.


"Baiklah, terima kasih,!" ujar Lena, "Oya, berapa usia kandunganmu?"


"Enam minggu, Mih. Maafkan Reyna karena tidak meminum pil KB yang Mami berikan saat itu!" Reyna menunduk khawatir akan membuat ibu mertuanya marah.

__ADS_1


"Hhhm...nasi sudah menjadi bubur. Padahal Rangga dan kamu baru berumur 24 tahun. Kalian itu masih sama-sama merintis karir, pasti nantinya akan repot. Dulu Papi menikahi Mami usianya 28 tahun dan sudah menjadi CEO. Windy dulu menikah dengan Dino juga sudah menjadi manager dan sudah mapan di usia 27 tahun. Rangga menikah di saat baru terjun ke perusahaan. Hahh...ya sudah lah kalian sendiri yang menjalankannya, kalian sendiri yang rasakan nanti betapa repotnya mengurus anak di saat kalian belum succes!" tadi Reyna sempat merasa lega dengan permintaan maaf mami, namun belum ada satu hari sekarang mami sudah mulai ketus lagi.


Reyna hanya bisa menghela nafasnya perlahan agar tetap bersabar menghadapi ibu mertuanya ini.


"Maafkan Reyna, Mi. Tidak bisa memenuhi harapan Mami. Reyna mohon do'akan Reyna dan Rangga kedepannya bisa lebih baik, Mi!" lagi-lagi Reyna memilih mengalah.


"Iya, pasti Mami do'akan yang terbaik untuk anak-anak Mami. Ayo Reyn, sekarang bantu Mami ke kamar mandi. Mami udah nggak tahan mau buang air!" titah Mami.


"Iya, Mi!" Reyna langsung berdiri dengan sigap membantu mami.


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Semua berkumpul untuk menunggu operasi Mami. Suster sudah meminta Lena untuk berganti baju steril berwarna hijau yang di gunakan khusus untuk pasien yang akan menjalani operasi. Kemudian Lena di bawa ke ruang operasi menggunakan transfer bed. Reyna dan Windy menunggu di kamar inap mami. Dino dan Chaca di rumah karena Chaca harus sekolah besok sehingga Windy tidak mengajaknya. Sedangkan Rangga dan Papi Reza mengikuti hingga ke ruang tunggu.


Sesampainya di ruang pendaftaran, kemudian di cocokkan apakah sudah sesuai identitas pasien dengan data administrasi yang dikirimkan. Rangga dan Reza dipersilakan untuk menunggu di ruang tunggu pengantar. Sedangkan Lena di bawa masuk oleh perawat ke dalam ruang transfer.


Di ruang transfer Lena dipakaikan topi untuk menutup kepala dan rambut agar rambut yang sudah terkontaminasi udara luar tidak mengotori ruangan yang steril, kemudian dipindahkan dari transfer bed ke transfer bed ruang bedah untuk menuju ruang persiapan. Lena masih dapat melihat ada seorang pasien yang masih berada di atas brangkar di sebelahnya, entah pasien yang sedang mengantre untuk masuk ke dalam ruang operasi juga mungkin. Pandangannya terbatas oleh sekat horden kain putih yang menutupi.


Tak berapa lama ada seorang perawat yang memakaikan penutup mata. Kini ia tak bisa melihat apa-apa hanya bisa mendengar. Ada perasaan was-was ketika berada di ruangan ini. Kekhawatiran tentang proses operasinya nanti membuatnya gugup. Namun masih sempat terdengar suara-suara seorang perawat yang saling berkomunikasi, maupun suara langkah kaki, kran air menyala, bahkan sempat mendengar ada anak kecil menangis. Kemungkinan anak itu akan di operasi juga, dan ia pasti menolak untuk di pisahkan dari orang tuanya, sebab terdengar terus menerus memanggil ibunya.


Ia seperti mengingat kejadian saat ia mengusir Reyna. Betapa kejamnya ia telah memisahkannya dari suaminya. Reyna bahkan dalam keadaan hamil dan sebatang kara di kota ini. Jika sampai terjadi sesuatu pada Reyna ia adalah orang pertama yang bersalah. Mungkinkah Allah telah menghukumnya saat ini akibat dari kesalahannya kepada Reyna.


Ya Allah ampunilah dosa-dosa hamba ya Allah, saya akan berusaha memperlakukan Reyna dengan baik, tolong berikan kelancaran pada proses opersiku nanti ya Allah! do'a Lena di dalam hati.


"Dengan ibu Marlena ya?" tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggil namanya.


"Iya...saya!" jawab Lena.


"Akan menjalani operasi patah tulang dibagian tangan ya, Bu. Saya dokter anestesi yang akan meberikan obat bius supaya ibu bisa menjalani operasi dengan baik. Harap tenang dan jangan gugup, semua akan baik-baik saja!" suara dokter ini tidak asing bagi Lena. Sebelumnya dokter anestesi memang sudah mengunjunginya saat berada di kamar inap.


Tidak terasa suntikan, mungkin dokter menyuntikkan obat bius pada selang infus.


"Sudah selesai ya, Bu. Sebentar lagi anda akan merasa mengantuk dan tidak sadarkan diri. Semoga operasinya berjalan dengan lancar," suara dokter itu yang masih sempat ia dengar.


Tak berapa lama ia sudah tak sadarkan diri.


🌾🌾🌾


Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Comment, dan Vote untuk karya ini agar author semangat untuk melanjutkan ceritanya ya..


Bagi yang rajin mendukung dan menabur hadiah, author ucapkan banyak terimakasih untuk reader's terlove-love πŸ’ž

__ADS_1


Salam hangat,


Neyna


__ADS_2