
POV. Reyna
Usai menjalankan sholat subuh, aku merasa perutku terasa mual. Dengan sedikit susah payah aku bangkit dari atas sajadahku meski kakiku masih terasa kaku. Aku melepas asal mukena yang aku kenakan dan menjatuhkannya dengan sembarang. Bahkan aku tak sempat mencium punggung tangan suamiku. Namun, aku sungguh tak mampu menahannya. Serasa ingin segera memuntahkan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokanku. Dengan tertatih aku berjalan menuju kamar mandi.
"Hoeeekk....Hoeeek...byuhh...huhh..huhh!" nampak cairan seperti lendir berwarna kekuningan yang berhasil aku muntahkan. Aku merasa lega, namun badanku terasa lemas.
"Ada apa, Sayang!" kulihat Hubby muncul di ambang pintu kamar mandi.
Buru-buru aku siram wastafel agar tidak terlihat muntahanku olehnya. Kulirik sekilas pantulan di cermin yang ada di depanku, Hubby tengah berdiri tepat di belakang punggungku. Ia berusaha mengelus-elus tengkuk leherku dengan lembut. Aku segera membersihkan sisa-sisa muntahan yang berada di mulutku kemudian mencuci tangan dengan seksama.
"Entahlah, By. Perutku rasanya mual banget deh," ucapku.
"Emm, apa mungkin karena kamu hamil, Sayang? Dulu kak Windy juga mual-mual waktu hamil Chaca!" ujar Rangga.
"Benarkah? Tapi kemaren-kemaren aku nggak mual kok!" Kilahku.
"Coba nanti kita ke bidan atau ke dokter kandungan buat priksa," ujar Hubby. Aku mengangguk saja karena sudah sangat lemas.
"Ayo...kita keluar!" tiba-tiba saja, Hubby mengendongku ala-ala bridal style. Reflek tanganku melingkar di lehernya.
Aku merasa bersyukur dapat menikah dengan Hubby. Sebab Hubby sangat perhatian dan mengerti apa mau ku. Keluar dari kamar mandi, Hubby lantas menurunkanku di atas kursi di dekat pintu balkon. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang kemudian langsung aku minum airnya.
"Gimana, masih mual nggak, Sayang?" tanya Hubby.
"Nggak kok By, nih uda mendingan. Tapi aku laper...," kataku sambil memegang perut dengan kedua tanganku.
"Mau makan apa, Sayang?" tanyanya padaku.
"Emm...apa yah? bubur ayam boleh?" tanyaku
"Okey, mau apa lagi? Aku pesankan online aja ya?" usul Hubby.
"Jus jeruk aja deh!" ucapku.
Ya, akhir-akhir sebelum prahara terjadi dan aku belum tau jika hamil aku sudah sering merasa lapar. Aku pun heran dengan kemauanku yang kadang spontan keluar begitu saja. Mood ku suka berubah-ubah dengan sendirinya. Aku yang terbiasa mandiri berubah suka bermanja-manja dengan suami. Beruntungnya Hubby adalah suami yang perhatian dan sangat mengerti. Aku bersyukur dia yang menjadi suamiku. Ternyata Allah menunjukkan mana yang terbaik untuk kita.
"Sayang, aku sudah pesankan lewat online, aku mandi dulu ya? Jadi pas pesanan sampai di lobby PD aja karena sudah mandi," ucapnya.
"Bukan karena biar terlihat keren sama ciwi-ciwi kan, By!" goda ku sok posesif.
"Aku sih yang penting cukup keren di mata kamu aja, Sayang! Masa kliatan ganteng buat yang lain sih!" ujar Hubby sambil mengacak-acak rambutku.
"Ishh...gombal kamu, By! Gih sana mandi!" usirku sambil mendorongnya menjauh dari hadapanku.
"Oh ya...ada sesuatu yang baru aku inget, tunggu ya habis mandi dan ambil makanan aku bakal tanya sesuatu sama kamu!" ujarnya yang kemudian berdiri menuju kamar mandi.
Aku bertanya-tanya apa yang akan Hubby tanyakan nanti kepadaku. Kalau begini, justru membuatku semakin penasaran.
__ADS_1
Ah sudahlah nanti juga tau!
Aku berjalan menuju koper suamiku. Ku siapkan baju ganti untuknya. Ku ambil kaos berkrah berwarna biru tosca dan celana panjang berwarna dark grey, lengkap dengan pakaian dalamnya. Lalu aku kenakan khimar instan berwarna hitam. Kemudian berjalan membuka pintu balkon. Pemandangan dengan sunrise yang sangat indah di pagi yang cerah ini, saat ku lihat di sebelah timur dari ke jauhan terlihat ada gunung dan saat kulihat sebelah barat pun terlihat gunung.
"Waw...pemandangan yang sangat indah" ujarku saking takjubnya, rupanya ada dua gunung yang terlihat dari sini. Di sebelah timur ada ada gunung Lawu dan sebelah kiri ada gunung Merapi.
Di bagian bawah terlihat jalan raya yang cukup ramai orang hilir mudik yang sedang berlari atau berjalan-jalan, dan ada juga yang bersepeda bahkan anak kecil bermain sepatu roda hilir mudik dengan santainya melenggang di tengah-tengah jalan. Tak nampak satupun kendaraan mobil atau sepeda motor yang lewat.
Mungkinkah sedang ada acara di bawah sana. Pikirku.
"Lihat apa, Sayang?" kudengar suara Hubby dari belakangku.
Aku berbalik terlihat Hubby yang berdiri dengan masih bertelanjang dada namun sudah mengenakan celana panjangnya. Tangan kirinya berkacak pinggang tangan yang satunya membawa handphone, seperti sedang mengecek sesuatu dari layar gawainya. Kemudian berbalik membelakangi menaruh handphone di atas nakas.
Entah mengapa saat itu punggung suami ku terlihat sangat bersinar di mataku. Seolah tersihir, aku berjalan masuk kemudian kupeluk dari belakang tubuh suamiku. Entah mengapa terasa nyaman sekali. Kupejamkan mata sambil mengendus aroma harum di tubuhnya yang terasa menyegarkan.
"Harum banget, By!" ujarku. Padahal ini hanya aroma sabun hotel yang tersedia seperti kebanyakan hotel lainnya.
"Kenapa, Sayang? Kamu lagi godain aku ya?" ujarnya menuduhku.
"Menggoda apa, aku hanya ingin memeluk saja kok, nggak lebih!" kubuka mata sambil melihat ekspresi wajahnya yang tersenyum seolah tak percaya.
Ia buka pelukanku kemudian berbalik memelukku dari depan.
"Nah, begini kan lebih baik. Aku bisa melihat kalau kamu sedang bohong!" ujarnya.
Aku merasa ada yang berbeda saat di peluknya dari depan seperti sekarang, dengan aku yang memeluknya dari belakang.
"Lepas, By. Coba berbalik lagi!" kataku yang mendorongnya berputar arah.
"Eh...apa sih, Sayang!" dia terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba itu.
Ku peluknya lagi dari belakang. Dan benar saja terasa lebih nyaman kalau dari belakang.
"Nah begini lebih nyaman, By!" aku memejamkan mata merasai kenikmatan memeluk punggung suamiku dari belakang.
"Hahh...kamu aneh, Sayang. Kamu menolak pelukan dari dadaku yang bidang sambil memandang wajahku yang tampan, demi memeluk punggungku yang datar," ujarnya dengan senyum sinis keheranan.
"Jangan salah, By! Terkadang kenyamanan itu jauh lebih memikat dari ketampanan! Hahahaha...," kataku lalu tertawa.
Triiing...!
Terdengar bunyi notifikasi pesan dari handphone suamiku. Aku melepaskan pelukanku saat Hubby hendak mengambil handphone di atas nakas.
"Sayang, aku kebawah dulu ya, pesanannya sudah datang," ujarnya sambil mengenakan baju yang tadi aku siapkan.
Aku mengangguk menyaksikan Hubby yang berjalan meninggalkan kamar hingga pintu kamar tertutup kembali.
__ADS_1
"Mendingan mandi dulu aja lah!" ucapku sembari mengambil baju untuk ganti, kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Beberapa menit berlalu saat aku keluar kamar mandi, kulihat Hubby sudah duduk santai dikursi balkon. Aku berdiri di depan meja rias menyisir rambut panjangku kemudian mengikatnya dengan tali rambut agar tidak gerah atau tersingkap saat memakai hijab. Setelah memakai sunblock aku kenakan pasmina berwarna hitam yang aku padankan dengan top rajut berwarna milo. Aku menghampiri Hubby yang sedang duduk santai di balkon memandang ke bawah.
"Ohya, By. Sekarang baru inget. Di bawah bukannya jalan raya ya? Kok bisa di pakai jalan-jalan begitu ada acara apa?" tanyaku sambil berdiri bersandar di pagar balkon.
"Ohh itu biasa setiap minggu pagi dipakai Car Free Day, jadi sepanjang jalan utama ini sampai perempatan ditutup gak boleh di lewati kendaraan. Jalanan khusus diperuntukkan aktivitas olahraga, kaya senam, jalan satai, bersepeda. Dan itu banyak pedagang kaki lima dadakan yang adanya cuma saat CFD berlangsung. Yaa... kaya yang kamu lihat di bawah itu, Sayang," ujar Hubby setelah berdiri di sampingku, kemudian menjelaskan kondisi di bawah sana.
"Sayang sekali ya, By. Coba kalau kakiku nggak sakit, pasti seru jalan-jalan berdua di sana," ujarku cemberut sedikit kecewa karena tidak bisa ikut serta. Padahal di bawah terlihat banyak macam jajanan yang di jual dan kelihatannya enak-enak.
Seperti bisa membaca pikiranku Hubby berkata, "Kalau ada yang kamu pengenin nanti kita ke bawah. Biar aku yang belikan apapun yang kamu mau, Sayang!" ucapan Hubby bagai hembusan angin syurga.
"Beneran ya, By!" mukaku semakin berseri membayangkan Takoyaki, sostel, salad buah, siomay, burger yang berterbangan.
"Iya, setelah kamu habiskan bubur ayamnya. Ayo makan dulu, Dede uda laper kan?" tanya Hubby sambil mengusap lembut perutku, kemudian mendorong pelan kedua bahuku untuk duduk. Aku mengangguk setuju. Kemudian kami menikmati bubur ayam yang tadi di pesan.
"Enak tidak? Ini paling laris lhoh warungnya," tanya Hubby setelah menyelesaikan makanannya.
"Enak sih, By. Suami aku paling T.O.P B.G.T deh," ujarku sambil mengacungkan dua jempol ke hadapannya.
"Ohya, aku jadi inget, Sayang. Coba dong ceritakan awal mula kamu suka sama aku?" pertanyaan Hubby membuatku terkejut. Aku yang sedang minum jus jeruk jadi tersedak.
"Uhuuk...uhuk...!" kulirik kesamping, terlihat wajah suamiku nampak khawatir.
"Hati-hati dong, Sayang!" ujarnya penuh perhatian.
"Eh..iya, By. Aku kaget aja habisnya tiba-tiba aja kamu nanyain itu, By!" ucapku sambil mengusap mulutku dengan tisyu .
"Jadi sejak kapan, Reyna Hanania menyukai Rangga Putra Sanjaya?" wajah Hubby saat ini bagaikan seorang lawyer yang sedang mengintrogasi tersangka.
Ehh..ini aku kok kaya yang jadi tersangka dipersidangan yah! batinku.
"Emm... kapan ya? Lupa aku!" kilahku.
"Mau aku ingetin nggak?" ujarnya sambil kepalanya maju mendekat ke arah mukaku.
Ishh... emangnya Hubby tau! Kaya di prank aja aku ngerasanya! batinku cemas.
"Pertama kalinya aku merasakan ada yang aneh dalam diriku, jantungku tiba-tiba berdebar kencang saat dia menatap lekat ke arahku. Sejenak tubuhku membeku, dan kita saling menatap dalam diam. Apa ini yang dinamakan cinta? Oh, Tuhan... tolonglah aku! Aku ragu apakah kita memiliki rasa yang sama!" mataku terbelalak, tenggorokanku tercekat, dan lidahku terasa kelu saat Hubby mengucapkannya. Aku seperti tidak asing dengan kata-kata itu.
Buku diary... jangan-jangan! Oh no! Sudah pasti Hubby telah membacanya!
___________________________________________
Haii Reader's, janfan lupa tinggalkan like, Comment dan follow author.
Tebarkan hadiah di kisah Reyna & Rangga ya...😍😍
__ADS_1
Salam hangat,
Neyna