
Keesokannya...
"Dek, kamu sudah memikirkan soal lamaran dari Naufal?" tanya Abiyu kepada adiknya itu tentang lamaran dari adiknya Nabil.
"Emm ... sudah, Kak. Tapi, Fely mau minta pendapat dari bunda terlebih dahulu," jawab Fely yang merasa ragu untuk mengambil keputusan sendiri.
"Masih belum yakin, ya?" tanya Abiyu mencoba mencari jawaban dari sikap Fely yang nampak ragu.
"Ehh kelihatan sekali ya, Kak? hehehe ...," jawab Fely sembari cekikikan, dia tidak menyangka jika kakaknya dapat membaca guratan keraguan dari mimik mukanya.
"Iyalah mukamu aja kelihatan gak rela gitu. Apa ada yang lain yang sedang kamu harapkan?" tanya Abiyu lagi.
"Enggak-enggak, nggak ada kok, Kak!" Fely gelagapan sembari mengibaskan kan kedua tangannya berulang-ulang ke depan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu cepat sekali menjawab justru Kakak semakin curiga!" tutur Abiyu menyelidik.
Eh ... tumben banget sih Kakak peka begitu! gumam Fely di dalam hati.
"Ahh Kakak apaan sih, nggak ada yang lain, kok!" kekeuh Fely sembari menghindari tatapan mata dari kakaknya.
"Oke, ya sudah, satu jam lagi kamu jemput bunda di bandara, kakak mau balik ke resto dulu," ujar Abiyu seraya melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian beranjak menuju resto depan.
"Iya ...," jawab Fely singkat.
Seusai mendapatkan kabar jika Fely kembali dilamar oleh adik iparnya, bunda Maya bergegas ke Yogyakarta. Maya sangat antusias saat mendengar kabar tersebut. Beliau sangat senang mengetahui kabar tersebut.
Maya sudah tidak sabar menantikan anaknya kembali berumah tangga. Rasanya belum lega ketika anak perempuannya masih belum mendapatkan jodoh kembali setelah dua tahun kepergian suami pertamanya.
Terlebih sebentar lagi bulan ramadhan tiba. Dia ingin berziarah ke makam orang tuanya setelah sekian lama tidak pernah menengok ke makam orang tuanya.
__ADS_1
Satu jam berlalu, kini Maya tengah berada di bandara. Rupanya putrinya sudah menjemputnya. Dia melihat Fely melambaikan tangan agar diketahui keberadaannya. Maya segera menyeret kopernya menuju putrinya berada.
"Bunda ... Fely rindu sekali sama Bunda," ujar Fely sesampainya Maya di hadapannya dan segera menghambur ke pelukan bundanya dan memeluknya dengan erat.
"Iya, Sayang. Bunda juga kangen banget sama kamu," ujar Maya seraya membalas pelukan anaknya dan mengusap lembut punggung Fely.
"Kita langsung pulang kan, Bun?" ujar Fely seusai melerai pelukannya dan mengambil alih koper bunda.
"Enggak, Fe. Kali ini Bunda ingin mampir dulu ke makam nenek dan kakekmu," tutur bunda Maya yang ingin menengok ke makam orang tuanya.
"Siap, Bun. Kita ke sana sekarang!" ujar Fely dengan penuh semangat.
****
Di kediaman Wirya Subrata.
Tok tok tok.
"Masuk!" Terdengar jawaban dari dalam ruangan kerja kakek.
Klek!
Pintu dibuka oleh Raka. Dia segera masuk saat kakek tengah memandang ke arahnya, seraya menutup buku yang dibacanya, kemudian melepas kacamata yang sempat bertengger di atas kedua daun telinganya.
Raka berjalan masuk dengan mantap dengan rasa bahagia yang didapatnya setelah pertemuannya dengan Fely. Kemudian, Raka mendudukkan diri di atas sofa yang tersedia di ruang kerja Kakek.
"Bagaimana keadaan, Kakek?" tanya Raka penuh perhatian.
"Sudah lebih baik, setidaknya kakek masih bisa berjalan dengan tongkat," jawab kakek.
__ADS_1
Dua tahun yang lalu kakek sempat merasa sangat bahagia saat tahu Maura tengah hamil. Kakek sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan dikaruniai seorang cicit dari cucunya itu. Itu artinya garis keturunannya akan bertambah dengan lahirnya cicitnya nanti.
Saat Maura dirawat di rumah sakit kakek sangat khawatir. Dia berusaha untuk mencarikan dokter terbaik untuk menangani cucu menantunya tersebut. Namun, sayang dokter tidak dapat menolong Maura dan hanya bisa menyelamatkan bayinya.
Saat kemudian terungkap jika bayi Maura ternyata bukan darah daging dari Raka, kakek amat sangat kecewa dan terluka. Hal itu sangat membebani pikirannya hingga kakek sempat mengalami stroke ringan saat mendengar tentang Maura yang ternyata sudah hamil duluan, bahkan dengan pria lain, sebelum menikah dengan cucunya. Dan, juga karena merasa ditipu oleh keluarga Maura.
Kakek sangat terkejut karenanya. Ditambah dengan kematian istrinya dua bulan setelahnya, membuat kakek Raka berlarut-larut dalam kesedihan. Sehingga dokter yang memeriksanya mengatakan jika kakeknya Raka mengalami gejala stroke ringan.
"Kek, kedatangan Raka ke sini dengan tujuan untuk meminta restu dari Kakek. Raka ingin melamar Felycia kembali," tutur Raka dengan mantap.
Kakek seketika menatap tajam ke arah cucunya itu. Dia sangat terkejut dengan keinginan Raka. Dia tidak menyangka jika takdir kembali mempertemukan mereka.
"Tidak! kamu boleh menikah dengan wanita mana pun asalkan jangan dengan gadis itu!" ujar kakek dengan nada tinggi seakan tidak mau Kata-katanya dibantah dan itu adalah mutlak.
Raka pun seketika terkejut dibuatnya. Hatinya tiba-tiba memanas, dia tidak menyangka kakeknya masih saja menentangnya untuk menikahi Fely. Raka menjadi heran dengan kakeknya, mengapa sampai berkeras hati untuk menolak Fely? apa salah gadis yang dicintainya itu kepada kakek hingga kakek selalu menentangnya?
"Tapi kenapa, Kek? apa alasannya sehingga Kakek selalu menolak Raka untuk menikahi Fely? Raka mencintainya, Kek ...," ujar Raka dengan geram saat lagi-lagi kakeknya tidak merestuinya untuk menikahi Fely.
"Sekali aku katakan tidak, tetap tidak, Raka! jangan menikahinya! meskipun aku kecewa setelah tahu yang sesungguhnya tentang Maura, tapi itu lebih baik daripada kamu menikahi gadis itu. Turuti perintahku untuk tidak berhubungan lagi dengan gadis itu!" bentak kakek yang kekeuh tidak ingin dibantah oleh cucunya itu.
"Tapi, atas dasar apa, Kek? jelaskan kepadaku agar Raka tahu alasannya. Dia wanita muslimah yang baik, aku yakin dia jodohku. Sedari kecil hingga dewasa Raka selalu menuruti keinginan, Kakek. Tapi untuk kali ini maaf ... Raka tidak bisa mengabulkan keinginan, Kakek. Raka akan tetap menikahi Fely dengan atau tanpa restu dari, Kakek!" ujar Raka sembari beranjak berdiri dan berjalan ke luar hendak meninggalkan ruang kerja Kakeknya.
"Raka ..., tunggu Raka! jauhi gadis itu! Kakek menentang mu untuk menikahi gadis itu semata-mata demi kebaikanmu, Raka!" seru kakek yang tetap diabaikan oleh Raka.
Namun, Raka yang sudah sangat kecewa terhadap kakeknya. Dia bertekad untuk tetap melamar Fely meskipun kakek menentangnya. Bahkan, jika kakek ingin mencoretnya sebagai ahli warisnya pun Raka rela. Kali ini Raka ingin memperjuangkan cintanya kepada Fely. Raka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan kepadanya.
Sementara kakek menatap nanar kepergian cucunya sembari memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia teramat menyayangi cucunya meskipun tidak pernah memperlihatkan kasih sayangnya dengan lembut dan belaian sayang.
Namun, sejatinya kakek selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk satu-satunya keturunannya yang dia miliki. Dia melakukan hal itu tentunya dengan tujuan untuk kebaikan cucunya. Hanya saja dia tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Raka.
__ADS_1
"Raka, kamu salah paham jika menganggap aku egois dan semaunya. Semua ini kulakukan hanya demi kebaikanmu, Raka! karena Kakek sangat menyayangimu..., " gumam kakek sendiri setelah kepergian Raka.
..._________Ney-nna_________...