
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu,
Bismillahirrahmanirrahim,
Author ucapkan terima kasih atas dukungan dari teman-teman semua yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir, author bersyukur Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku akhirnya dapat Tamat juga. Alhamdulillah, author senang sekali dapat menuntaskan cerita ini. Semoga dapat menghibur dan bermanfaat bagi yang membacanya.
Saya selaku author meminta maaf jika ada yang kurang berkenan dengan alur ceritanya yang menguras hati dan air mata atau Updatenya yang lambat. Hal itu juga dikarenakan author harus membagi waktu dengan kehidupan nyata yang juga padat. Banyak kekurangan dari saya, mohon maaf 🙏🙏 harap untuk dimaklumkan karena author hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Buat teman-teman yang berkenan bisa mampir di karya terbaru author yang berjudul Aku Perawan Tua Berkualitas. Mohon dukungannya. Terima kasih 🙏🙏💕💕
......................
Spoiler Bab.1
"Syifa, tolong antarkan kuenya ke rumah Umi Syarifah, Nak!" pinta Rosalina pada putrinya.
"Baik, Ma," jawab Asyifa patuh.
"Satu lagi Syifa, jangan lupa tutup pintu depan ya? Mama mau mencuci baju di belakang!" seru Rosa sembari berjalan ke belakang dengan menenteng keranjang baju yang berisi baju-baju kotornya dan juga baju putrinya.
"Iya, Ma!" jawab Asyifa.
Asyifa lantas mengambil kantong kresek besar yang berisi beberapa kotak Ontbijtkoek yang harus diantarnya kepada pelanggan. Ontbijtkoek merupakan roti rempah khas belanda, yang terbuat dari gandum hitam, lalu dibumbui rempah-rempah seperti cengkeh, jahe, kayu manis dan pala, kemudian ditaburi irisan kacang almond di bagian atasnya.
Dahulu Ontbijtkoek merupakan kue sarapan pagi, namun seiring perkembangan zaman menjadi kue camilan kala siang maupun sore. Berbekal dari resep yang diajarkan oleh ibunya, Rosalina berjualan kue khas belanda itu untuk bertahan hidup.
Selain itu mama Asyifa juga membantu nenek Fatimah berjualan kain di ruko pusat perbelanjaan kain yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Nenek Fatimah merupakan seorang janda tua keturunan Arab yang sudah dianggap layaknya neneknya sendiri.
Asyifa tidak begitu mengerti tentang latar belakang keluarganya. Namun, setahunya sejak dia masih dalam kandungan sang mama, dia sudah tinggal menumpang di rumah nenek Fatimah, yakni desa yang kerap disebut dengan kampung Arab. Sebab sebagian besar penduduknya merupakan keturunan Arab.
Nenek moyang bangsa Arab ini berasal dari negara Yaman. Mulanya mereka datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama islam sekaligus berdagang rempah-rempah. Pemerintah kota menempatkan penduduk Arab tersebut di satu wilayah agar lebih mudah mengidentifikasi.
Selain itu tempat tinggal mereka juga berbatasan dengan lingkungan keraton. Rumah abdi dalem dan kampung arab dipisahkan dengan tembok besar yang menjulang tinggi yang dibangun sejak penjajahan Belanda.
Namun, seiring perkembangan zaman kini penduduk keturunan Arab, keturunan Tionghoa dan pribumi berbaur dan saling menghormati.
Asyifa meletakkan kuenya di keranjang sepeda. Lantas dia segera naik dan mengayuhnya dengan perlahan. Kue pesanan pelanggan ini cukup banyak, sebab hendak dibagikan bagi jama'ah salat Jum'at. Maka dia harus berhati-hati agar kuenya bisa sampai di tangan pelanggan dengan selamat dan tidak kurang suatu apa pun.
__ADS_1
Gadis berusia sepuluh tahun itu bersenandung sembari mengayuh sepedanya melewati gang-gang sempit di perumahan kampung Arab. Rambutnya yang berwarna pirang panjang seolah melambai-lambai kala tertiup angin. Ditambah kulitnya yang putih bersih, serta kornea matanya yang berwarna keabu-abuan itu menjadikannya terlihat berbeda dari gadis lainnya yang tinggal di kawasan itu.
Kring kring kring kring.
"Assalamu'alaikum, Ummi Syarifah!"
Asyifa membunyikan lonceng pada sepedanya dan mengucap salam agar sang empunya rumah ke luar.
"Wa'alaikumussalam," ujar seseorang kemudian membuka pintu.
Nampak Umi Syarifah dari balik pintu.
"Syifa ya, terima kasih ya, Nak!" ucapnya seraya mengambil kantong plastik besar dari keranjang sepeda, lalu menaruhnya di atas meja ruang tamu.
"Ini uangnya, tolong berikan pada, mamamu, ya!" ujarnya.
"Iya, Ummi. Terima kasih!" ucap Asyifa saat menerima uang dari ummi Syarifah, lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya. "Nafisa, ada Ummi?"
"Sepulang sekolah Fisa langsung bermain di rumah tetangga. Coba saja cari di gang belakang!"
"Baik, Ummi! Assalamualaikum!"
"Iya, Ummi!" jawabnya sembari kembali mengayuh sepeda menuju ke rumahnya.
Namun, ditengah jalan dia bertemu dengan Nafisa yang sedang bermain dengan tetangganya.
"Syifa!" panggil Nafisa.
Syifa pun menghentikan sepedanya dan menoleh pada Nafisa dengan tersenyum. Namun, tiba-tiba teman-teman Nafisa saling berbisik dan menarik paksa Nafisa. Terlihat Nafisa terus memandang ke arah Syifa dengan berat hati. Hingga mereka semakin menjauh dan masuk ke dalam salah satu rumah penduduk.
Asyifa menatap sedih dengan hal itu. Asyifa dapat merasakan jika mereka tidak mau bermain dengannya.
"Mereka tidak menyukaimu, jadi tidak usah berharap akan main bersama mereka!" ujar seseorang.
Syifa menoleh kebelakang, nampak seorang anak perempuan yang seumuran dengannya. Anak pribumi yang juga sedang melintasi jalan yang sama.
"Ayo, pulang!" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Memangnya kamu tau dari mana kalau mereka tidak mau main denganku?" tanya Syifa.
"Aku melewati mereka saat mereka saling berbisik. Mereka tidak mau main denganmu karena kamu anak haram!" ujarnya blak-blakan.
Syifa terkesiap dengan perkataan anak perempuan itu yang secara terang-terangan mengatakan hal itu padanya. Syifa segera menaiki kembali kembali sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Ari mata Syifa tak henti-hentinya menetas saat mengingat perkataan anak pribumi barusan.
Karena kamu anak haram! Karena kamu anak haram! Karena kamu anak haram! kata-kata itu terus terngiang-ngiang di benaknya.
Saat melewati gang yang menjadi perbatasan antara dua tembok yang memisahkan wilayah keraton dan kampung Arab, di ujung yang lain nampak seorang anak laki-laki berjalan dengan menenteng tas ransel besar.
Syifa mengusap dengan kasar pipinya karena malu terlihat sedang menangis. Namun, air mata terus saja mengalir dari wajah cantiknya.
Anak laki-laki itu menatap Syifa dengan keheranan saat Syifa melewatinya. Namun, mereka tidak saling bertegur sapa lantaran baru pertama kalinya bertemu. Syifa mengabaikannya dan terus mengayuh hingga sampai di rumah.
Syifa turun dari sepeda kemudian berlari ke arah nenek Fatimah yang tengah duduk di depan rumah. Syifa memeluk neneknya dengan erat menumpahkan kesedihannya.
Fatimah menusukkan jarum pada baju yang sedang dijahitnya dengan tangan, kemudian meletakkan di samping kirinya.
"Ada apa, Syifa? kenapa cucu nenek yang cantik ini menangis?" tanya nenek.
"Nek, apa betul Syifa ini anak haram? mereka tidak mau main dengan Syifa karena Syifa anak haram, Nek!" ujar Syifa dengan sesenggukan dan isak tangis yang terus mengalir di pipinya.
"Siapa yang bilang?" tanya nenek.
"Anak-anak tetangga umi Syarifah, Nek. Teman-teman Nafisa," ujarnya.
"Semua bayi terlahir suci, begitupun dengan Syifa. Sudah jangan menangis. Jika mereka tidak mau main dengan Syifa masih banyak anak yang lainnya," ujar nenek Fatimah.
"Nek, sebenarnya di mana papa Syifa, Nek?" tanya Syifa yang tidak pernah mendapat jawaban setiap mempertanyakan hal itu pada mamanya.
"Syifa, setelah dewasa nanti kamu akan mengerti kenapa mamamu tidak memberitahumu, Nak. Jangan tanyakan hal itu pada mamamu ya? Syifa tidak ingin membuat mama sedih, kan?"
"Iya, Nek!" jawab Syifa.
...----------------...
__ADS_1