
Sepasang laki-laki dan perempuan jalan berdampingan bergandengan tangan, sambil bercanda tawa. Siapapun yang melihat pasti akan menerka bahwa mereka adalah pasangan yang harmonis.
Begitupun dengan Putri, Dona dan Monica yang terkejut melihat pemandangan di depannya. Dona dan Monica adalah sahabat Putri semenjak SMA. Saat ini mereka sedang berlibur bersama untuk melepas rindu sekaligus menemani Putri yang sedang melakukan pemotretan di area wisata, untuk iklan promo pengenalan tempat-tempat wisata daerah kepada para wisatawan.
"Ihh...gila ya tuh, Rangga. Bisa-bisanya sih dia lebih memilih cewek itu ketimbang lo sih Put!" ungkap Dona dengan mata melirik tajam memandang ke arah Reyna dan Rangga.
"Iya bener, coba lihat masa udah selengket itu sih Put, kalau di jodohkan." timpal Monica.
Tadi malam Reyna sudah sempat cerita ke sahabatnya, kalau hubungannya dengan Rangga sudah berakhir.
"Dia cinta pertama Rangga!" jawab Putri lirih.
"Hah...CINTA PERTAMA!?" ucap Dona dan Monika bersamaan dengan mata membulat dan mulut menganga.
Putri menghembuskan nafas kasarnya. Sudah saatnya kini sahabatnya tahu dengan kesedihan yang selama ini disimpannya rapat-rapat sendirian.
Flashback On...
6 bulan yang lalu
"Yank, aku anterin Chaca pulang dulu ya? Kamu temenin Mami dulu nggak apa-apa kan?"
tanya Rangga.
"Iya nggak apa-apa. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut, Yank!" jawab Putri penuh perhatian.
"Dadah..tante! Chaca pulang duyu yah?" tangan Chaca melambai-lambai di balik jedela mobil.
"Dadah Chaca, sampai jumpa lagi." Putri membalas melambaikan tangan mengantarkan kepergian mereka.
Mobil Rangga sudah tidak terlihat lagi, Putri masuk ke dalam menuju kamar Mami. Keberadaan Putri di rumah ini memang sudah tak asing lagi bagi seluruh penghuni rumah. Bahkan sudah seperti rumah kedua baginya. Putri sangat dekat dengan keluarga Rangga. Siapa sangka jika yang di gadang-gadang akan menjadi menantu rumah ini ternyata di gantikan oleh sesosok wanita lain.
"Mih, mau Putri ambilkan makan atau Minum nggak?" tanya Putri yang langsung masuk ke dalam kamar Mami, yang pintunya sengaja tidak di tutup.
__ADS_1
Saat itu Mami sedang sakit, kakinya terkilir akibat terjatuh dari tangga. Mami terpeleset mainan Chaca yang tercecer jatuh di tangga.
Sedangkan Mbak Siti sedang ke apotek membeli salep untuk Mami. Karena Mami tidak bisa mengurus Chaca yang sedang ingin menginap, akhirnya Rangga memulangkan kembali Chaca ke rumah Windi.
"Nggak usah sayang, Mami masih kenyang kok. Mami istirahat dulu ya? Kamu juga istirahat aja dulu, di kamar Rangga." titah Mami.
"Ya udah, aku ke kamar Rangga ya Mih? Nanti kalau butuh sesuatu panggil aku aja." Putri menuju kamar Rangga yang tak jauh dari kamar Mami.
Putri masuk ke kamar Rangga, kemudian duduk di depan meja belajar Rangga. Diatas meja terdapat bingkai foto mereka berdua saat masih duduk di bangku SMA. Putri tersenyum melihatnya mengenang awal-awal mereka jadian. Rangga yang nembak duluan tapi sikapnya yang sok cool membuat Putri menjadi baper sendiri. Putri lah yang harus memulai lebih dulu untuk mengajak kencan atau memulai SMSan. Rangga terkesan cuek dan asyik dengan teman-temannya.
Lambat laun barulah Rangga mulai sedikit perhatian, sering curhat-curhat jika sedang ada masalah, ngajakin ngumpul dengan teman-temannya, sampai Putri pun menjadi akrab dengan beberapa teman dekat Rangga, dan mulai melibatkan Putri di setiap acara. Namun Putri merasa Rangga tidak menunjukkan rasa ketertarikannya sebagai lawan jenis kepada Putri. Putrilah yang sering bermanja-manja minta diperhatikan.
Laci meja belajar Rangga terbuka sedikit. Putri jadi penasaran ingin membukanya. Betapa terkejutnya ia saat laci terbuka menampilkan sebuah bingkai foto yang terdapat empat foto kecil yang di susun dalam satu bingkai.
Di dalam foto menunjukkan satu anak perempuan berseragam putih-biru dengan berbagai gaya yang menunjukkan bahwa yang di foto tidak sedang fokus pada arah camera saat foto diambil. Itu menunjukkan bahwa yang difoto tidak mengetahui jika sedang di foto. Tangan Putri gemetar menahan amarah melihat foto tersebut berada di atas lembar skripsi Rangga. Itu artinya foto itu baru-baru ini dilihat oleh Rangga.
Putri menjatuhkan foto itu ke laci karena tanganya terasa kaku. Namun saat foto itu jatuh terbalik menunjukkan sebuah tulisan kecil di balik foto. Putri segera mengambilnya kembali untuk melihatnya lebih jelas.
"My first love...Reyna Hanania.." eja Putri.
Dada Putri terasa panas, air matanya meluncur begitu saja dari sudut matanya.
"Jadi selama ini Rangga masih mengharapkan cinta pertamanya. Selama ini Rangga nggak cinta sama gue. Pantes aja selama ini kamu nggak pernah memperlakukan aku selayaknya seorang pacar yang di rindukan, Ga" ucap Putri dalam hati di sela-sela tangisnya.
Flashback Off.
"Semenjak saat itu gue cari tau tentang siapa cewek itu sama Ferdy."
"Ferdy adalah temen dekat Rangga semenjak masih SMP di Jakarta dan bertemu lagi saat kuliah di Solo. Aku bilang kalau kenal cewek itu lewat FB. Ferdy nggak sama sekali menyinggung tentang hubungan Reyna dengan Rangga, itu artinya mereka tidak pacaran waktu SMP."
"Ferdy cuma cerita kalau Rangga pernah pacaran sekali saat kelas sembilan. Itu pun bukan dengan Reyna, tapi siapa gitu namanya aku lupa, yang jelas pacar Rangga saat itu bukan dari sekolah yang sama. Mereka putus karena LDRan, Rangga pindah ke Solo semenjak masuk SMA." cerita Putri panjang lebar.
"Kenapa selama ini kamu nggak cerita sama kita, Put?" Dona ikut sedih mendengar cerita Putri.
__ADS_1
Pasalnya selama ini Putri dan Rangga sangat terlihat harmonis. Hanya beberapa bulan terakhir mereka terlihat ada masalah.
"Kenapa lo nggak tanya langsung soal cewek itu ke Rangga, Say?" tanya Monica.
"Gue, belum siap menerima kenyataan kalau Rangga selama ini nggak mencintai gue." Putri meneteskan air matanya.
"Ihh..dasar ya tuh Rangga, tega-teganya selama ini PHP-in elo, Put. Kalau nggak cinta seharusnya dia nggak diem aja sampai selama ini, padahal lo udah cinta banget sama dia. Ini sih keterlaluan!" Dona ikutan emosi melihat sahabatnya di kecewakan seperti ini.
"Gue pikir selama ini elo yang main-main sama si Riko, sampai bikin kalian putus nyambung." ungkap Monica.
"Gue memang kemarin sempet manfaatin Riko buat ngebuktiin perasaan Rangga ke gue."
"Gue nggak nyangka kalau dengan mudahnya Rangga mutusin gue hanya karena melihat Rico nyuapin pizza ke gue."
"Kalau dia cinta sama gue seharusnya dia memperjuangkan hubungan kita jangan sampai gue diambil cowok lain!" putri bercerita masih dengan berurai air mata.
"Duh sabar ya, Say! Cowok kaya gitu memang nggak pantes buat lo harapin." Monica mengusap-usap bahu Putri.
Sedangkan di meja lain terjadi pemandangan yang bertolak belakang dengan di meja Putri.
Rangga tersedak makanan yang masuk ke mulutnya hingga terbatuk-batuk. Reyna yang melihatnya, merasa kasihan. Kemudian ia dengan segera menyodorkan minuman ke depan Rangga. Rangga segera meminum minumannya.
"Ga, kamu nggak apa-apa kan?" Reyna mengelus-elus punggung suaminya penuh perhatian.
"Uhuukk... uhuuukk! Nggak apa-apa sayang cuma agak panas aja di telinga."
"Kita kembali ke kamar aja yuk, habis ini kita pergi jalan-jalan ke luar."
Rangga berdiri, kemudian mereka berjalan beriringan. Tangan Rangga merangkul pinggang Reyna mesra.
Putri dan kedua sahabatnya melihatnya dengan penuh emosi.
"Lihat itu, mesra banget Rangga sama cewek itu. Musti dikasih pelajaran deh kayaknya." ucap Dona melihat tajam ke arah Rangga dan Reyna.
__ADS_1