Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Permintaan Maaf


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit Reyna bergegas menyiapkan data-data yang diperlukan kemudian mengunjungi rumah Rt /Rw dan Kelurahan setempat untuk meminta surat pengantar dengan diantar oleh Pak Bejo.


Di scannya lembar kartu keluarga, kartu identitas KTP, kartu pengantar yang didapatnya dari perburuannya tadi, kemudian ia kirimkan ke alamat email Reza yang tadi sudah diinfokan lewat whatsapp.


Beruntungnya pihak-pihak terkait sangat membantu karena mengetahui alasan Reyna yang harus mempersiapkan syarat nikah dengan sesegera mungkin.


"Ayo non Reyna gercep, sat-set...cak-cek...das-des!" kata Pak Bejo yang bikin Reyna jadi ngakak mendengarnya kala menyemangati langkahnya.


Hari sudah menjelang sore saat ia menyelesaikan semuanya, menyisakan rasa lelah, lapar dan dahaga yang luar biasa. Rupanya ia baru sadar kalau telah melewatkan makan siangnya. Tadi hanya sempat mampir sholat dhuhur di mushola Kelurahan.


Akhirnya dengan langkah gontai ia keluar kamar mendatangi dapur. Untungnya masih ada masakan si embak yang tersisa yaitu pecel lele ditemani jus jeruk bikinan si embak. Baru disantapnya dua suap tiba-tiba Rangga datang.


"Reyn, ayo buruan aku anter ke butik buat nyari baju nikahan buat besok. Barusan Nenek telepon kalau sudah reservasi sama butik langganannya." Rangga berdiri sambil memegangi meja didepan Reyna.


"Bentar deh, Ga. Aku selesaikan makan dulu." jawab Reyna sambil menyuap kembali makannya.


"Yaudah buruan aku tungguin, jam 5 tokonya tutup ini sudah jam 4." Rangga duduk dikursi di depan Reyna sambil memangku tangannya melihat ke arah Reyna.


"Ehh..musti ya aku makannya sambil dilihatin gitu sama dia." Kata Reyna dalam hati. Reyna kemudian berhenti makan.


"Kamu gak pengen mandi dulu ato ngapain dulu gitu, Ga?" tanya Reyna.


"Gak, gak sempet. Kamu jangan banyak tanya, gih buruan makannya." Reyna mencoba menyuap lagi makanannya, diliriknya Rangga masih melihat ke arahnya tanpa memindahkan posisinya.


Seketika rasa lapar lenyap jadi tak berselera. Reyna gak bisa makan kalau sambil dipantengin gitu sama Rangga. Diseruputnya jus jeruk. "Yuk, berangkat sekarang aja."


"Lhoh kenapa, itu makannya belum dihabiskan." Rangga kaget ditariknya tangannya yang berada di meja kemudian duduk dengan tegap.


"Tiba-tiba aku jadi mual, gak berselera makan." jawab Reyna asal.


"Ehh belum juga diapa-apain masa udah mual aja sih, Reyn."


"Mau aku yang suapin?" goda Rangga.


Si embak yang lagi nyuci piring di dapur ikut mendengar jadi senyum-senyum sendiri.


"Apaan sih, Ga kamu tuh kalau ngomong suka gak jelas gitu." Reyna bangkit membereskan piringnya.


"Duh manis banget sih lihat non Reyna sama den Rangga ini, jadi inget jaman masih pacaran saja." si embak cengar-cengir sambil membilas piring.

__ADS_1


"Ihh si embak nih, awas tuh piringnya nanti pecah kalo gak fokus gitu nyucinya." ujar Reyna sambil menaruh piring disamping wastafel.


"Ehh non Reyna, pipinya merah-merah gitu. Semakin cantik saja kalau tersipu." si embak semakin gencar menggoda.


"Mana mbak coba aku lihat." Rangga ikut mendekat ke samping Reyna.


"Aah pada ngapain sih. Buruan ayo berangkat, Ga." Reyna langsung pergi meninggalkan dapur. Dibelakang masih terdengar gelak tawa si embak dan Rangga.


Sesampainya di butik mereka langsung disambut dengan pemilik butik. Terlihat seorang ibu setengah baya namun terlihat cantik dan anggun.


"Ini pasti Rangga ya. Dulu waktu masih kecil Mami kamu sering bawa kamu kesini, ingat tidak dengan tante." ucap si pemilik butik sambil bersalaman dengan Rangga.


"Iya, Tante Shinta kan." sebenarnya Rangga sudah agak lupa, untungnya tadi sudah disebutkan namanya waktu telepon sama Nenek.


"Ini calonnya Rangga ya? Manis sekali, pinter kamu Ga cari calon istri." Tante Shinta melihat ke arah Reyna.


"Reyna, Tante." Mereka berjabat tangan.


"Katanya Om Hadi sakit yah, trus minta kalian cepet-cepet nikah disana. Tante ikut prihatin yah, semoga Om Hadi cepat sembuh." ujar Tante Shinta.


"Iya Tan, terimakasih do'anya."


"Oiya, maaf Tante jadi keasikan ngobrolnya. Yuk...ikuti Tante kesana." Tante Shinta melangkah menuju ruangan yang ditunjuknya barusan.


Di dalam ruangan tersebut ternyata banyak terpajang koleksi gaun pernikahan yang cantik-cantik. Gaunnya tersusun rapi dan dikelompokkan secara terpisah menurut warnanya.


"Reyna, mau gaun yang seperti apa?" tanya Tante Shinta


"Karena ijab kabulnya di rumah sakit, tolong carikan gaun warna putih dan model bawahnya agak simple saja Tante."


"Oiya, sayang. Kalau begitu ikut Tante kesana yuk." Tante Shinta menuju barisan gaun-gaun berwarna putih. Reyna mengikutinya, sementara Rangga menunggu di tempat duduk yang tersedia di ruangan itu.


"Rangga, coba lihat calon pengantinmu." setelah lima belas menit menunggu, Tante Shinta datang kembali bersama Reyna dibelakangnya.


Terlihat Reyna yang berdiri sambil menunduk melihat ke bawah. Rangga nampak terdiam memandang lekat ke arah Reyna dengan pikirannya.


"Bagaimana, Ga?" Setelah beberapa saat, Rangga kembali tersadar dengan suara Tante Shinta. Reyna mendongak ikut menunggu jawaban Rangga.


"Cantik..ehh cocok Tante." Rangga jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Hhhaaahaha...manis sekali, kalian ini masih malu-malu kucing."


"Padahal besok sudah mau menikah. Tante jadi gak kebayang Ga, gimana nanti cara kamu ngajakin malam pertamanya." Tante Shinta semakin tergelak dengan pemikiran nakalnya.


Rangga cuma bisa garuk-garuk kepala menanggapi tante-tante girang macam begini. Sedangkan Reyna yang ikutan malu meninggalkan tempat itu menuju ruang ganti. Setelah menentukan gaun pilihahan dan jas dengan warna senada untuk Rangga, akhirnya mereka berpamitan pulang.


Saat akan menuju pintu keluar Reyna melihat ada perempuan yang dikenalnya sedang berjalan masuk dari arah pintu.


"Reyna." sapa Bunda Maya ketika melihat Reyna.


"Ehh...Bunda." Reyna benar-benar terkejut.


"Bunda gak nyangka lhoh bisa ketemu kamu disini. Sama siapa?" Bunda menoleh kearah samping Reyna.


"Emm ini Rangga, Bun. Cucunya Kakek." Rangga dan Bunda berjabat tangan memperkenalkan diri.


"Ga, bisa tunggu bentar. Aku pengen bicara sama Bunda." Rangga mengangguk kemudian keluar menuju parkiran.


"Bunda, kita duduk di bangku depan itu dulu ya? Reyna pengen bicara sebentar." Bunda mengangguk kemudian mereka berdua berjalan menuju tempat duduk tersebut.


"Bunda, sebelumnya Reyna mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama Bunda dan Kak Abi." ucap Reyna dengan penuh kesedihan.


"Maaf...untuk apa sayang." Bunda nampak mengerutkan dahi.


"Bunda, maaf Reyna tidak bisa menerima lamaran Bunda yang tempo hari untuk menikah dengan Kak Abi." mata Reyna mulai berkaca-kaca tidak tega mengecewakan Bunda. Digenggamnya erat jari-jemari Bunda.


"Kenapa, Reyna?" Bunda terlihat mulai penasaran.


"Bunda, tau kan kalau Kakek Reyna mengalami serangan jantung."


"Saat ini Kakek menginkan Reyna segera menikah dengan cucunya yang barusan."


Reyna menangis tersedu-sedu.


"Bunda, tolong maafkan Reyna, Bun. Reyna tidak punya pilihan untuk menolak kemauan Kakek." Bunda terkejut mendapati bahwa lamarannya ditolak. Sejenak Bunda diam menghela nafas panjangnya


"Ya sudah Reyna, ini bukan salah kamu. Bunda sebenarnya ingin sekali kamu menjadi menantu Bunda. Mungkin memang bukan jodohnya kamu dengan Abi." Bunda nampak sedih.


"Terimakasih Bunda mau mengerti keadaan Reyna." akhirnya mereka berpelukan dengan penuh haru.

__ADS_1


__ADS_2