
Malam yang semakin larut, ditemani dengan gerimis yang membasahi bumi, menjadikan suasana malam itu semakin syahdu. Diantara makhluk bumi, terdapat dua insan yang sedang diliputi rasa penasaran akan sesuatu.
Dengan hati yang berbunga mendapati anggukan kepala dari Reyna, Rangga berdiri mematikan lampu kamar yang terang benderang, dan menggantikannya dengan lampu tidur yang temaram. Dihampirinya sang pujaan hati yang telah berbaring di balik selimutnya. Ia pandangi wajah cantik istrinya. Disentuhnya pucuk kepala istrinya. Dilantunkannya kalimat do'a.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaitaana wa jannibi syaitoona maarazaqtaana."
Lalu dikecupnya kening istrinya yang sedang memejamkan mata. Diciuminya wajah istrinya penuh rasa sayang. Di******** bibir Reyna yang ranum, sangat lembut. Jantung keduanya yang semakin terpacu dengan nafas yang memburu. Suatu kenikmatan yang pertama kali mereka rasakan. Naluri Reyna tergerak untuk membalas ciuman itu, menjadikan Rangga semakin memperdalam ciumannya. Tangan Reyna yang mendorong lengan Rangga, membuat Rangga melepaskan ciummanya.
"Hmbb...hahh...hahh" Reyna mengeluarkan nafasnya yang tertahan.
"Bernafas Reyn." Ia bisa melihat muka Reyna yang memerah menahan nafas.
"Lanjut?" tanya Rangga, ia tidak akan memaksakan jika Reyna belum siap.
Dilihatnya Reyna mengangguk. Dengan segera, kembali di ******** bibir istrinya. Semakin lama semakin dalam. Reyna semakin lihai mengikuti permainan Rangga. Tangan Rangga yang semakin tak bisa diam, membuat Reyna seakan tersentak dengan sentuhan yang semakin tak biasa. Perlahan-lahan dibukanya kain penutup di tubuh mereka satu persatu dan di lemparnya ke sembarang arah. Dicengkeramnya bahu Rangga ketika ciumannya berpindah ke mana-mana membuat tanda merah di tempat-tempat favoritnya.
"Aahhh...!" racaunya ketika tubuhnya seakan melayang.
Reyna meremas seprei dengan kuat, saat merasakan perih.
"Aaakhhhh...Rangga..ssakiiitt!!" teriaknya merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan yang luar biasa.
Keduanya terkulai lemas dengan peluh yang mengalir dari dalam tubuhnya dengan nafas yang terengah-engah, setelah menjalankan aktivitas panasnya di malam yang panjang. Rangga menjatuhkan tubuhnya di samping Reyna. Ditariknya selimut sampai ke atas hingga menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai kain. Dibawanya Reyna ke dalam pelukannya. Dikecupnya kedua kelopak mata Reyna yang terkatup dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Kemudian diakhirinya dengan ciuman singkat di bibir Reyna yang telah membuatnya candu.
"Terimakasih, sayang." ucapnya sambil mengusap rambut istrinya lembut.
Hal itu dibalas dengan anggukan dari Reyna yang kemudian menyelusup menyembunyikan kepalanya di dada Rangga karena malu mengingat aktivitas panas yang mereka kerjakan barusan. Tak berapa lama keduanya terlelap dalam tidurnya.
***
Sayup-sayup terdengar suara yang semakin lama semakin nyaring. Perlahan Reyna membuka matanya. Dilihatnya handphonenya menyala dan berbunyi alarm yang telah dipasangnya.
Diraihnya handphone yang berada diatas nakas. Kemudian ia matikan alarmnya. Dilihatnya jam menunjukkan pukul 04.00 WIB. Ia ingin bangun tetapi merasakan pegal-pegal di sekujur tubuhnya. Bahkan ia belum sempat berpakaian setelah aktivitas semalam.
Perlahan ia duduk, namun merasakan nyeri di bagian intinya. "Aww!" pekiknya.
Rangga terbangun mendengar suara istrinya. Ia merasakan kesemutan di lengan tangannya. Namun ia paksakan untuk segera duduk.
"Ada apa Reyn?" Rangga memperhatikan Reyna yang menyentuh bagian bawah perutnya.
"Emm di sini kerasa nyeri banget, Ga." Reyna meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Tunggu bentar." Rangga memunguti bajunya, kemudian segera dipakainya.
Ia memutari ranjang kemudian memunguti baju Reyna. Di bantunya Reyna memakai baju. Kemudian duduk di tepian kasur.
"Mau apa Reyn, biar aku ambilkan." tanya Rangga penuh perhatian.
"Aku mau mandi, Ga. Sebentar lagi subuh." jawab Reyna.
"Ehh..aku bisa jalan sendiri, Ga!" Reyna terkejut karena tiba-tiba Rangga membopong tubuhnya.
"Gakpapa, pegangan Reyn." titah Rangga.
Perlahan Reyna mengalungkan tangannya di leher Rangga. Ia menunduk karena Rangga terus memandanginya. Rangga tersenyum melihat istrinya yang masih bersikap malu-malu kepadanya.
Rangga mendudukkan Reyna diatas bathub, kemudian menghidupkan kran airnya.
"Mau dimandikan apa mandi sendiri?" tanya Rangga.
"Aku mandi sendiri aja, Ga. Terimakasih!" ucap Reyna.
"Yakin bisa sendiri? Atau mau mandi bareng?" goda Rangga.
"Ya udah, nanti jika sudah selesai panggil aku biar aku bantu. Pintu toilet tidak perlu di kunci. Kalau terjadi sesuatu aku bisa cepat tolongin kamu." ujar Rangga. Reyna mengangguk mengiyakan.
Setelah Rangga keluar, ia melepas pakaiannya kemudian masuk ke dalam bathtub. Otot-ototnya yang menegang menjadi mengendur setelah beberapa saat berendam di air hangat. Setelah menyelesaikan mandi junubnya dan berwudhu Reyna mengenakan piama kamar mandi. Dengan perlahan ia berjalan menuju pintu.
Rangga yang melihat pintu kamar mandi terbuka kemudian segera menghampiri Reyna.
"Sudah mandinya?" Reyna mengangguk.
"Masih sakit nggak dipakai jalan?" tanyanya lagi.
"Nggak apa-apa kok, udah lumayan." jawab Reyna.
"Bagus deh kalau gitu nanti habis sholat udah bisa dipakai lagi!" goda Rangga.
Reyna langsung mendelik mendengarnya. Bagian intinya jadi terasa nyeri lagi saat mengingat ulah Rangga semalam.
"Bercanda sayang. Aku mandi dulu ya? Tunggu aku, nanti kita sholat bareng!" ucapnya sambil mengusap rambut Reyna yang basah kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Reyna berpakaian kemudian mengenakan mukenanya. Tepat di saat itu, Rangga telah menyelesaikan mandinya. Ia kemudian segera mengenakan baju dan sarungnya, lalu melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan istrinya.
__ADS_1
Seusai sholat Reyna mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, kemudian mengenakan hijabnya. Sedangkan Rangga membuatkan kopi untuk mereka berdua, dengan alat coffee maker yang tersedia di kamar hotel. Rangga menghampiri Reyna yang sedang berdiri di balkon menyaksikan pemandangan di waktu pagi ketika matahari akan terbit.
Rangga memeluk Reyna dari belakang, sambil menyodorkan kopi untuknya. Sejak kejadian semalam Rangga merasa tubuh Reyna seolah ada maghnetnya. Sehingga ia selalu tertarik ingin berdekatan dengannya.
"Mau jalan-jalan kemana gitu nggak?" tanya Rangga.
"Emm, boleh. Kita kunjungi tempat wisata aja, Ga." jawab Reyna.
"Tapi dengan kondisi kamu yang kayak gini belum memungkinkan untuk ke tempat wisata, Sayang. Ke wahana bermain kamu pasti belum berseangat bermain-main karena badan kamu pasti masih capek. Ke air terjun apalagi, musti menuruni anak tangga yang beribu-ribu banyaknya. Kakimu belum cukup kuat."
"Mendingan kita di kamar aja, mengulang yang semalem, Reyn." usul Rangga.
"Auww, sakit sayang!" pekiknya saat Reyna mencubit pinggangnya.
"Itu sih maunya kamu, Ga. Yang semalem memangnya belum cukup?"
"Tentu saja nggak akan pernah cukup, Reyn. Aku ingin terus mengulangnya bersamamu." ujar Rangga.
"Ihh..pinter banget ya, kamu ngelesnya."
"Beneran juga." kata Rangga.
"Terserah deh, yang jelas aku mau sarapan dulu, Ga. Aku laper." Reyna mengelus perutnya yang datar.
"Ya udah, yuk breakfast di resto hotel aja." ajak Rangga.
"Okey!" Rangga merangkul tubuh istrinya untuk keluar kamar.
"Reyn, btw kok jalannya beda." canda Rangga.
Reyna langsung berhenti berjalan, ia pukuli lengan tangan Rangga bertubi-tubi. "Akh..ini kan gara-gara kamu!"
"Kalau gitu sarapan di kamar aja." Rengek Reyna cemberut.
"Hhhahahahaha..becanda sayang." Rangga mengelus kepala Reyna yang tertutup hijab. Kemudian Rangga mengecup kening Reyna sayang.
🌷🌷🌷
Mohon maaf, sengaja tidak diceritakan secara detailnya, author tidak tega sama yang jomblo atau yang belum cukup umur yah 😘
Buat yang ngehalu yang aneh-aneh, dosa tanggung sendiri yah ðŸ¤
__ADS_1