
POV Fely.
Beberapa minggu telah berlalu dan hari pernikahanku tinggal beberapa hari lagi. Menjelang hari H aku merasa sedikit gelisah antara senang dan juga sedih.
Senang saat semua persiapan berjalan dengan baik. Pelaksanaan akad nikah akan dilaksanakan di restoran depan, atas permintaan bunda. Semuanya sudah diurus oleh kakak dan bunda.
Sedangkan untuk acara resepsinya akan dilaksanakan di ballroom hotel agar lebih mudah untuk menyewa kamar bagi keluarga besar pak Nabil yang berasal dari Surabaya. Tamu undangan pun tidak terlalu banyak karena hanya akan dihadiri kurang lebih 500 orang dari keluarga besar bunda dan pak Nabil, rekan dosen, dan teman satu angkatan di kampus. Semuanya sudah di urus oleh keluarga dari pak Nabil dan kak Abi.
By the way ada kejadian yang seru saat aku memberikan undangan pernikahan untuk teman kuliahku beberapa hari yang lalu. Mereka sangat terkejut saat melihat nama yang tertera pada undangan. Tentu saja mereka kaget sebab, antara aku dan pak Nabil tidak ada yang membocorkan tentang ta'aruf kita pada orang-orang di kampus, hingga saat undangan sampai ke mereka.
Aku menjadi bulan-bulanannya mereka karena yang menjadi calon suamiku adalah dosen kita sendiri. Dan, beritanya langsung menyebar seantero mahasiswa di fakultas yang sama denganku. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya kepadaku. Namun, ada juga beberapa dari mahasiswi yang patah hati karena dosen muda pujaan hati mereka akan segera melepas masa lajangnya.
****
tiga hari kemudian ...
Hari pernikahanku akhirnya tiba. Aku berdiri di depan cermin, tengah mematut sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan lengan panjang. Di bagian depan dihiasi butiran swarovski dan bordiran cantik yang indah, sehingga terlihat semakin mewah.
Seusai dirias oleh MUA, ku kenakan hijab berwarna senada dengan gaunku, yaitu berwarna putih tulang. Kemudian, seorang perias memasangkan kain berbahan tulle yang panjang menjuntai hingga semata kaki di atas kerudungku dan menambahkan mahkota princess kecil di bagian atas kepalaku.
"MasyaAllah cantik sekali, Fe!" ujar kak Reyna yang baru masuk ke kamarku dengan membawa serta baby Alesha di gendongannya.
"Nggak ketebelan kan make upnya, Kak?" tanyaku pada kak Reyna sembari menengok ke arah baby Alesha yang tertidur pulas.
"Enggak kok, Fe. Malahan muka kamu terlihat lebih segar karena make up'nya tuh soft banget kelihatan natural dan nggak berlebihan sama sekali, cocok banget dengan karakter kamu," ujar kak Reyna mengomentari.
"Iya kah, Kak? kok aku nervous gini ya, Kak?" ujarku sembari menahan rasa gugup di dalam hati.
"Tenang saja, Fe. Kebanyakan pengantin pasti akan merasakan hal yang sama, tapi cobalah meyakinkan dirimu bahwa semua akan baik-baik saja!"
__ADS_1
Tiba-tiba aku teringat pernikahan siriku dengan Raka kala itu. Pernikahan yang sangat menegangkan karena penuh desakan oleh warga desa. Saat itu aku sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa ketika mereka menyudutkan ku.
Namun, sesungguhnya Raka dan mamanya mampu membuat aku merasa nyaman saat mereka memperlakukanku dengan baik.
Entah mengapa hingga saat ini masih ada yang mengganjal di hatiku, tentang mengapa Raka lebih memilih wanita itu daripada aku. Padahal aku sangat yakin dia mencintaiku.
"Fe, kok malah bengong!" ujar kak Reyna yang membuyarkan lamunanku.
"Eh, apa, Kak?" tanyaku yang sedikit terkejut.
"Fe, apa pun itu yang kamu pikirkan saat ini jangan dijadikan beban pikiran dan membuatmu hanyut akan suasana yang tidak baik. Percayalah semua akan lebih baik dari yang sebelumnya. Kamu inget nggak? dulu aku menikah dua kali malah situasinya lebih buruk dari saat ini."
"Sangat gugup dan hati tidak menentu karena menikah dengan keterpaksaan. Namun, ketika kita ikhlas dan sabar menjalani takdir, seperti apa pun cobaan yang datang, kita pasti mampu melewatinya hingga kebahagiaan perlahan datang kepada kita," tutur kak Reyna panjang lebar.
"Iya, Kak!" jawabku singkat.
Aku nggak boleh memikirkan dia lagi! batinku.
Wajahnya yang oval, pipinya yang chubby dan bibirnya yang mungil kemerah-merahan membuatku gemas ingin mengecupi wajahnya hingga tidurnya terganggu, seperti yang biasa aku lakukan dalam keseharian setelah penat dengan aktivitas di kampus.
Setelah itu kak Reyna akan mengomel panjang lebar karena aku mengganggu jam istirahatnya. Sebab, dia harus menyusui kembali baby Alesha yang belum lama tertidur.
"Eits mau apa?" sergah kak Reyna yang sudah mulai waspada jika aku akan mengganggu tidur Alesha. "Jangan coba-coba mendekatinya!" tambahnya mengultimatum.
Aku pun terkikik melihat kak Reyna sudah memelototiku dan menjaga jarak padaku.
Sayup-sayup terdengar suara dari microfon. Rupanya acara akad nikahnya akan segera dilaksanakan.
"Ayo Fe, kita ke depan!" ujar kak Reyna mengajakku untuk ikut bergabung ke tempat acara.
__ADS_1
Sesampainya di resto depan, aku duduk bersama deretan keluarga besar sedangkan di tengah-tengah terdapat sebuah meja persegi panjang yang dikelilingi oleh pak penghulu, kak Abi, pak Nabil dan dua orang saksi.
Kak Abi melafalkan kalimat ijabnya, kemudian pak Nabil mengucap kalimat qobulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Felycia Salsabila binti almarhum Ali Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai," qobul dari pak Nabil yang membuat badanku seketika merinding mendengarnya.
"Bagaimana saksi sah?" tanya pak penghulu.
"Sah!" ujar kedua saksi.
"Alhamdulillah!" ucap semua orang.
Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya pernikahanku dengan pak Nabil berjalan dengan lancar. Kami telah sah menjadi sepasang suami istri.
Bunda dan Ibu pak Nabil menuntunku menuju ke tengah acara. Dengan memberanikan diri aku sedikit mendongak melihat ke arah pak Nabil yang berada tepat di depanku.
Aku tersipu malu saat dia tersenyum kepadaku. Bunda berbisik di telingaku agar aku mencium tangannya, sebagai tanda bakti pertamaku kepada laki-laki yang telah berhasil menghalalkanku.
Aku sedikit membungkuk mengambil tangannya yang terulur dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
Tiba-tiba pak Nabil menahan bahuku saat aku hendak menegakkan badanku. Pak Nabil sedikit maju dan mengecup keningku beberapa saat. Aku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Seusai acara ijab qobul, kami didudukkan di kursi yang dikhususkan untuk pengantin. Ada perasaan lega saat prosesi akad nikah telah terlaksana dengan baik.
Kemudian ketika malamnya acara resepsi pernikahan di gelar di ballroom hotel. Aku mengenakan gaun pengantin berwarna peach senada dengan jas milik pak Nabil. Sedangkan keluarga besar mengenakan bridesmaids berwarna cream.
Sepanjang acara pak Nabil sangat perhatian dan tidak pernah sekalipun meninggalkan aku. Dia menggandeng tanganku ke mana pun dia akan pergi menemui tamunya dan dengan bangga memperkenalkan aku kepada tamu-tamunya yang datang.
Malam semakin larut dan acara resepsi telah usai. Pak Nabil mengajakku menuju salah satu kamar hotel yang akan menjadi tempat di malam pertama bagi kami berdua.
__ADS_1
...________Ney-nna________...