
Saat sesi foto keluarga, Kakek sempat terharu. Akhirnya keinginan untuk menyatukan kedua cucunya berjalan dengan baik. Bahkan merasa bahagia karena Rangga dan Reyna terlihat saling menyayangi.
"Ga, sekarang tanggung jawab Reyna aku serahkan kepada mu. Jagalah dia dengan baik. Jika dia salah ingatkan, bimbinglah dia dengan kasih sayang. Tumbuhkan rasa saling percaya diantara kalian." nasehat Kakek.
"Iya Kek, Rangga akan berusaha sebaik mungkin." saat ini nasehat Kakek terasa sangat mengena di hati Rangga.
"Kakek, mau istirahat dulu ya!"
"Ayo, Ma!" pamit Kakek. Nenek mengangguk mengusap bahu Rangga sebentar kemudian berjalan berdampingan meninggalkan tempat di selenggarakannya acara.
Mami pun tidak banyak protes dan menjalani serangkaian acara dalam diam. Reyna berharap suatu saat Mami bisa menyayanginya juga.
Sesi foto bersama seluruh anggota keluarga terasa membahagiakan. Semua berpose bahagia tanpa kesedihan. Reyna kini merasa memiliki keluarga yang lengkap. Namun dalam hati Reyna tetap merindukan Ayah dan Ibunya. Andaikan saja Ayah dan Ibu bisa melihatnya menikah. Namun ia hanya bisa berdoa, semoga mereka ditempatkan di surga.
Kemudian sesi foto berlanjut dengan foto bersama teman-teman yang hadir. Moment ini bisa dikatakan seperti ajang reuni. Ada yang sudah menikah, bahkan mempunyai beberapa anak, dan banyak yang masih melajang demi menata karir. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat.
Rasanya baru kemaren dimarahi guru, gara-gara bolos di jam pelajaran yang tidak di sukai. Ada yang suka bertengkar di sekolah. Ada yang kepergok pacaran di kelas. Ada yang berprestasi hingga mengharumkan nama sekolah, semua mempunyai kenangan masing-masing saat masih di bangku sekolah. Hari ini kita merindukan hari kemarin. Dan esok kita akan merindukan hari ini.
Sedari tadi Reyna mengetahui ada Dipa yang duduk agak jauh dari pelaminan. Namun terlihat tidak tertarik untuk mendekat. Reyna pun enggan untuk mendatanginya juga. Takutnya Rangga akan marah dan salah paham terhadapnya.
"Ga, siapa sih tuh cowok yang duduk di sebelah sana?" tanya Yumna saat selesai mengikuti sesi foto bersama teman-teman SMPnya. Sedari tadi merasa diawasi dengan laki-laki yang tadi sudah menggagalkan rencananya, hingga ia tidak berani lagi mengganggu Reyna.
"Yang mana?" tanya Rangga sambil menyapu seluruh ruangan.
"Itu, cowok yang pakai setelan jas berwarna hitam yang duduk sendirian." Yumna menunjuk-nunjuk ke arah Dipa. Dipa yang tau ia saat ini sedang menjadi pusat perhatian mereka, hanya tersenyum sinis sambil membuang muka.
"Owh, itu!" Rangga menangkap wajah itu, namun Rangga juga tidak mengenalinya.
"Gue juga nggak kenal sih, mungkin temen SMA, istri gue!" tebak Rangga.
"Sayang, kamu kenal cowok yang duduk di sana nggak?" tanya Rangga. Reyna mengikuti arah Rangga.
Kini Dipa ikut menatap ke arah Reyna yang juga menatapnya. Sejenak mereka hanya saling diam dalam pikiran masing-masing. Reyna agak bingung musti menjawab apa.
Reyna akhirnya berpaling ke arah Rangga, "Emm...dia temen sedari SMA aku."
"Ohh...kok tadi nggak ikutan foto bareng temen-temen SMA kamu?" tanya Rangga.
"Beda kelas!"
'Dan beda sekolahan' lanjut Reyna dalam hati.
"Ouhh...kasian gitu dari tadi sepertinya hanya sendirian duduk di sana." jawab Rangga.
Tamu-tamu mulai berpamitan, hanya tersisa teman laki-laki Rangga dan sebagian kecil teman perempuan.
"Sayang, sebaiknya kamu balik dulu ke kamar. Kamu pasti udah cape banget kan!" titah Rangga.
"Ya udah aku balik dulu ya, By?" terlihat Reyna berjalan perlahan meninggalkan lokasi pernikahan.
Saat masuk ke dalam lift, tiba-tiba Dipa ikut masuk setelah sempat berlari-lari kecil hingga nafasnya terlihat memburu.
"Dipa..!" Reyna kaget melihat Dipa yang kini berada dalam satu ruangan lift dengannya.
"Kamuh hah..hah.. ja-ngan salah paham dulu Reyn, dengan keberadaan a-kuh di sinihh..!" ucap Dipa dengan terbata-bata.
"Kamu atur nafas dulu, Dip!" titah Reyna.
Setelah nafasnya mulai teratur, Dipa kembali berbicara.
"Tadinya aku ke sini karena diminta nganter Mama. Namun tanpa sengaja aku mendengar obrolan temen kamu yang menjelek-jelekkan kamu di belakang, bahkan tadi mereka sempet mau mencelakai kamu, tapi gagal!"
__ADS_1
"Sudahlah, karena mereka sudah pulang kini aku juga bisa pulang. Cuma saran aku, kamu musti hati-hati jika nanti bertemu dengan mereka lagi!" ungkap Dipa.
"Mereka mau mencelakai aku?"
"Yang mana orangnya, Dip? Reyna terkejut jika ada temannya yang tega ingin mencelakainya.
"Salah satunya adalah cewek yang sempet berbicara ke suamimu sambil ngeliatin aku pas selesai sesi foto!" ujar Dipa.
Reyna mencoba mengingat-ingat kejadian tadi saat Rangga bertanya tentang Dipa yang duduk sendirian. Waktu Rangga bertanya pada Reyna ada Yumna di samping Rangga.
"Ah..apa mungkin Yumna?" tebak Reyna.
"Oh...iya, bener itu namanya. Tadi aku sempet mendengar saat salah satu temannya, menanggilnya."
"Semoga mereka tidak lagi mengganggu kamu, Reyn." bertepatan dengan itu pintu lift terbuka. Sampailah Reyna di lantai lima tempatnya menginap.
"Dip, terimakasih ya atas kebaikan kamu. Aku sudah sampai, aku pergi ya?"
"Sampai jumpa, hati-hati ya di jalan!" Reyna beranjak keluar dari lift kemudian sempat berbalik sebentar melihat ke arah sahabatnya, hingga kemudian pintu lift tertutup kembali.
Reyna kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia membereskan tatanan hijab dan make up, kemudian membersihkan diri di dalam kamar mandi. Reyna berendam agar bau keringat dan capeknya hilang. Seusai mandi ia melaksanakan sholat isya karena tadi belum sempat sholat.
Rasa kantuk mulai mendera, tapi suaminya belum kembali juga. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Tak berapa lama ia sudah lelap dalam tidurnya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang, ia hendak bangun tapi kepalanya agak pusing. Diliriknya ke samping ada Rangga. Rupanya saking capeknya Reyna sampai tidak mengetahui keberadaan suaminya.
"By, bangun, By!"
"By, ayo kita sholat subuh!" Reyna menepuk lembut pipi Rangga. Namun bukanya bangun Rangga justru malah menarik Reyna ke dalam pelukannya.
"Ihh..By, ayo bangun!" Reyna mendongak ke wajah suaminya.
"Bentar lagi, Sayang. Aku ngantuk banget!" akhirnya sesaat Reyna diam menuruti suaminya.
"Huh...akhirnya, terbebas juga," Reyna bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka kemudian mengambil wudhu.
Saat keluar dari kamar mandi suaminya juga belum bangun. Reyna kemudian sholat sendiri. Seusai sholat kembali ia membangunkan suaminya.
"By, ayo bangun. Kamu musti sholat dulu, By!" Rangga nampak menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Buruan By, sholat dulu!" titah Reyna. Rangga terlihat menyibak selimut dengan malas dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Reyna menunggu Rangga sambil duduk bersandar di kasurnya sambil membalas membuka handphone membaca pesan-pesan yang masuk dari teman-temannya.
Seusai sholat Rangga langsung melompat ke atas kasur mengungkung tubuh istrinya. Saking terkejutnya handphone yang ia bawa hingga terjatuh dari genggamannya.
"Hahh...hahh...kamu ngagetin aku aja, By!" ujar Reyna.
"Hana, tau nggak kenapa barusan aku ngantuk banget?" Reyna mengerutkan keningnya berpikir.
"Apa yah?"
"Nggak tau lah By, aku nyerah aja!"
"Kenapa memangnya, By?" tanya Reyna.
"Aku semalaman nggak bisa tidur, Sayang!"
"Kamu tuh kaya PHP-in aku, tau nggak!"
ucap Rangga pura-pura ketus.
"PHP-in gimana maksudnya, By?" Reyna bingung.
__ADS_1
"Kamu maksudnya apa godain aku pakai baju tidur sexi begini tapi diajakin nggak bangun-bangun?" Rangga memainkan lengan setali, baju lingerie yang ada di bahu Reyna.
"Semalaman aku berusaha keras bangunin kamu, tapi kamu malah tidur kaya mayat aja, padahal punyaku kalau udah on susah jinaknya!" beber Rangga.
"Maaf, aku semalam cape bgt, By! Dan aku pakai lingerie ini kan lagi-lagi karena ulah kamu yang bikin aku terjebak pakai baju tidur ini. Kamu pasti ngumpetin baju tidur aku lagi kan!" tanya Reyna.
"Aku nggak ngumpetin baju tidur kamu, Sayang!" kilah Rangga.
Flashback On...
"Reyn, kamu buruan berangkat ke hotel gih udah ditungguin sama Rangga di depan." titah Windy.
"Iya Kak, ni aku udah siap kok!" jawab Reyna.
"Ehh..tunggu, kalian nggak bawa baju ganti?" Windy mengingatkan.
"Oiya, astaghfirullah Reyna lupa kak, belum aku siapin." Reyna bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi. Windy mengikuti.
Reyna mengambil beberapa bajunya, dari dalam almari kemudian menaruhnya di atas kasur. Tiba-tiba terdengar suara dari luar.
"Sayang, buruan!"
"Ini katanya mbak MUA'nya sudah nunggu di lobby hotel. Kamu musti buru-buru dandan katanya!" teriak Rangga dari luar kamar.
"Iya..bentar, By!" Reyna nampak salah tingkah bingung mau bawa baju apa saja buat Rangga.
"Udah-udah, Reyn! Mending kamu berangkat duluan aja. Nanti baju gantinya biar aku yang bawa." ide Windy.
"Beneran mbak, gak apa-apa?" tanya Reyna, tidak enak jika harus merepotkan kakak iparnya.
"Iya udah sana, jangan khawatir!" Windy meyakinkan
"Yawdh, ini baju-baju aku yang musti aku bawa mbak, tinggal bajunya Rangga aja yang belum." Reyna menunjuk pada tumpukan bajunya.
"Okey..beres!"
"Hati-hati di jalan!" Windy mengingatkan.
Saat ia mau memasukkan baju-baju Reyna ke dalam koper, dia heran melihat baju yang Reyna siapkan. Terlihat ia membuka lipatan piama bergambar animasi.
"Apa-apaan Reyna, kenapa baju tidurnya kaya anak SMP begini. Ini sih gak menggoda!" ujar Windy. Ia kemudian membuka almari pakaian. Terlihat ada dua lingerie yang tergantung berwarna hitam dan pink.
"Nah, ini kan ada. Kenapa malah babydol yang dibawa!" Windy melipat lingerie yang ada kemudian ia masukkan ke dalam koper. Baju tidur bergambarnya ia kembalikan ke almari.
Flashback Off.
"Bohong, waktu itu setelah pulang dari TW aku nemu baju tidur aku di almari kamu, By!"
"Gara-gara itu aku jadi nggak perawan lagi!" ungkap Reyna sambil cemberut.
"Hehehe..ketahuan yah!"
"Waktu itu aku cuma ngikutin ide'nya Doni, Sayang."
"Ehh..tapi kali ini sumpah deh bukan aku yang melakukan ini!" Rangga meyakinkan.
"Masaa...!"
"Trus siapa coba?" tanya Reyna.
"Emm.. udahlah nggak mau tahu siapa, yang jelas punyaku masih belum jinak. Aku mau nagih jatah yang semalam, Sayang!" seperti biasa, akhirnya terjadilah yang seharusnya terjadi.
__ADS_1
❤️❤️
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya teman-teman 😘