
Waktu sudah menjelang malam. Sebelum tidur nenek ingin berganti baju dengan piama yang bersih. Dengan telaten Reyna mengelap tubuh nenek, kemudian mengganti bajunya. Reyna menatap sedih pada wanita yang memberikannya kasih sayang seorang ibu setelah kepergian ibu kandungnya itu. Setelah seminggu berbaring di rumah sakit, kini nenek sudah diperbolehkan pulang.
Namun, keadaannya yang sudah tua renta membuatnya sangat rapuh dan tidak kuasa untuk berjalan lagi. Ketika mendengar kabar tentang nenek yang jatuh sakit, Reyna sangat mengkhawatirkannya. Reyna lantas meminta ijin kepada Abiyu agar diijinkan merawat nenek, terlebih karena nenek ingin berada dekat dengan Reynand.
Beruntunglah Abiyu mengerti dengan hal itu. Akhirnya Reyna tidak jadi ikut ke Yogya. Sedangkan Abiyu rencananya akan segera kembali setelah mengantar bunda ke Yogya selama dua hari.
"Sudah selesai ya, Nek. Sekarang Nenek istirahat ya!" ujarnya sembari menyelimuti sang nenek.
Nenek terlihat menganggukkan kepala kemudian tersenyum. Nenek terlihat segar dan kondisinya membaik.
"Reyn, nenek sangat merindukan Rangga. Karena Rangga sudah tidak ada, kelak ketika Reynand dewasa, dia yang akan menggantikan Reza di perusahaan, Kakek. Ingat pesanku, ya, Reyn!" tutur nenek.
Reyna terdiam mendengar hal itu. Dia seolah sedang mendengarkan wasiat terakhir dari nenek. Dengan perasaan sedih Reyna akhirnya mengangguk mengiyakan.
"Iya, Nek. Nenek jangan khawatirkan apa pun. Sekarang tidur dulu ya, Nek! Reyna mau cari anak-anak dulu," ujarnya.
Reyna kemudian beranjak ke luar dan menutup pintu. Usai mengurus nenek, kini tiba saatnya untuk mencari keberadaan anak-anaknya, yang sejak tadi bermain berdua.
"Reynand ...! Alesha ...!" seru Reyna sembari celingukan mencari anak-anaknya.
Namun, tidak ada sahutan yang terdengar. Suasana hening karena mami Lena dan papi Reza sudah tidur terlebih dahulu setelah kecapean setelah beberapa hari merawat nenek di rumah sakit. Reyna terus berjalan hingga langkahnya terhenti saat melihat ke arah kanannya. Nampak Reynand yang tengah duduk sembari selonjoran, dan satu jari manisnya berada tepat di depan hidungnya, mengisyaratkan agar tidak bersuara.
Rupanya Alesha tengah tertidur di pangkuan kakaknya seraya memeluk boneka. Sementara Reynand mengusap lembut kepala Alesha yang kini tidur di pangkuannya.
“Mama jangan berisik, nanti Esha bangun!” ucap Reynand dengan lirih memperingatkan.
Reyna tersenyum kemudian menganggukkan kepala tanda mengerti. “Sayang, sebentar ya, biar Mama pindahkan Alesha ke kamar!”
Perlahan Reyna mengangkat kepala Alesha kemudian membopongnya menuju ke kamarnya dulu. Setelah menyelimuti Alesha, Reyna memandang putranya yang sedang duduk di gazebo dari jendela kamarnya. Saat melihat Reynand, tiba-tiba Reyna membayangkan jika yang tengah duduk di sana adalah Rangga.
__ADS_1
Reyna seketika terkejut dengan apa yang ada dalam bayangannya. Mungkinkah karena terlalu banyak kenangan di rumah ini terutama di gazebo itu, membuat Reyna hanyut akan kenangan indah semasa Rangga masih hidup.
Reyna memejamkan mata kemudian mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Reyna kemudian ke luar dari kamar menuju Reynand berada. Sesampainya di gazebo Reyna duduk di samping Reynand.
“Mas Reynand masuk ke dalam rumah yuk, Sayang. Malam-malam di luar dingin!” bujuk Reyna.
“Reynand masih ingin di sini, Ma. Di rumah Nenek udaranya sejuk, Reynand suka!” tutur Reynand.
“Baiklah, mari kita di sini sebentar sebelum tidur. Mama temani, Sayang. Tapi habis ini bobok, ya?” ujar Reyna kemudian berselonjor kaki sembari bersandar pada sandaran gazebo tepat di samping Reynand.
“Mah, siapa orang ini?" ujar Reynand seraya mengulurkan sebuah album foto yang tidak terlalu besar. "Kenapa ada foto Mama sedang menggendong bayi? kenapa ada laki-laki ini banyak sekali? Terus bayi yang Mama gendong ini siapa?” tanya Reynand.
Reyna terkesiap saat melihat album foto yang dibawa putranya. Di dalam foto itu terlihat dirinya, Rangga dan juga Reynand yang masih bayi saat tengah berfoto bersama.
“Mas Reynand, dapat dari mana fotonya?” tanya Reyna seraya menegakkan badan.
“Tadi sore waktu bermain petak umpet sama Esha, aku menemukan ini di gudang. Reynand juga lihat foto mama yang sangat besar sangat cantik seperti pengantin tapi kenapa bukan sama papa, malah sama laki-laki ini,” ujar Reynand sembari menunjuk pada foto Rangga.
Reyna merangkul putranya dari samping kemudian mengusap lembut rambutnya. “Mas Reynand itu anak istimewa. Mas Reynand punya dua papa. Papa Abiyu dan yang ini papa Rangga. Dan, bayi yang ada di gendongan Mama ini adalah Mas Reynand waktu masih bayi, lucu banget kan?” tutur Reyna mencoba menjelaskan dengan hati-hati.
“Papa Reynand dua? kok Reynand nggak pernah ketemu, memangnya papa Rangga di mana?” tanya Reynand yang semakin ingin tahu.
“Hanya anak tertentu saja yang punya dua papa atau dua mama, Sayang. Papa Rangga sudah pulang ke tempat Allah sejak Mas Reynand masih bayi. Tentu saja kamu tidak ingat, Sayang!” ujar Reyna mencoba menjelaskan.
“Kenapa papa Rangga tidak pulang ke rumah kita, Ma?” tanya Reynand.
“Tempatnya Allah sangat jauh dan papa sudah tidak bisa pulang ke dunia ini, Sayang. Karena itu Mas Reynand harus selalu mendoakan papa Rangga supaya kelak kita bisa bertemu lagi di surga,” ujar Reyna sembari menatap ke atas menahan air matanya agar tidak jatuh.
Reynand mendongak ke atas pada wajah mamanya. Lalu mencakup kedua pipi mamanya. “Mama menangis, ya? Mama pasti rindu sama papa Rangga, kan? Kemarin waktu Mama rindu sama nenek buyut juga menangis.”
__ADS_1
Reynand seketika berlutut kemudian merengkuh Reyna ke dalam pelukannya. Dia mencoba melakukan hal yang sama yang dilakukan Abiyu saat Reyna mengadu dan menangis. Saat itu juga tangis Reyna pun pecah. Lalu Reynand menepuk pelan punggung mamanya dengan perlahan untuk menenangkan.
“Mama tenang ya? Reynand janji akan selalu mendoakan papa Rangga juga, supaya nanti Allah mengijinkan kita bertemu dengan papa Rangga!”
Reza yang saat itu akan ke dapur untuk mengambil minum tanpa sengaja mendengar percakapan Reyna dan Reynand. Dia pun ikut hanyut dalam kesedihan. Dia mengusap sudut matanya yang berembun. Seandainya saja Rangga bisa melihat putranya tumbuh dengan baik dan sangat cerdas.
......................
Nenek Arum yang kala itu melihat pak Lik ada di seberang jalan, lantas berlari menyeberangi jalan. Pak lik yang berjalan pincang tentunya kalah cepat. Fely pun ikut menyusulnya.
Arum kemudian membawa kakek ke rumah belakang untuk berbicara. Di depan Maya, Abiyu, Fely dan juga Arum, pak lik Darmadji mengakui kesalahannya di masa lampau dan meminta maaf.
"Maafkan aku, Arum. Sebenarnya semua itu berawal dari kecemburuan Pak Lik semasa ayahmu masih ada. Kakekmu memperlakukan kami tidak adil sehingga aku merasa tidak dianggap, sementara ayahmu dulu selalu dituruti kemauannya oleh kakekmu. Bahkan dalam pembagian harta warisan yang tidak adil sebab kami sama-sama laki-laki, namun pembagiannya dibedakan. Maafkan Pak Lik yang akhirnya menjadi meluapkan kekesalan itu terhadap kalian!" ujar pak lik.
"Yang lalu biarlah berlalu, Pak Lik. Saya bukan Tuhan yang berhak menghakimi kesalahan Anda. Allah saja maha pengampun mana mungkin saya menjadi pendendam. Kita mulai lembaran baru Pak Lik, semoga kedepannya kita semua bisa lebih bijak dalam berperilaku," tutur Arum.
Akhirnya semua saling memaafkan disisa umur mereka yang tak muda lagi lebih baik fokus untuk memperbaiki diri dan bertaubat ke jalan Allah.
......................
Sore harinya Fely dan memeriksakan kandungannya. Dokter mengatakan jika janinnya sudah berumur lima minggu dan sangat sehat. Fely diberi resep vitamin yang harus dikonsumsi untuk menunjang kehamilannya juga untuk mengurangi mual.
Sepulang dari rumah sakit barulah Fely memberitahu bunda jika dia hamil.
"Bun, coba lihat!" ujar Fely sembari menunjukkan hasil USG nya.
"Alhamdulillah, kamu hamil, Fe? selamat ya, Sayang!" ujar Maya kemudian memeluk erat Fely.
Bunda merasa sangat senang. Sebab sebentar lagi putrinya akan memberinya cucu. Maya sangat mewanti-wanti agar Fely menjaga pola makan dengan baik agar janinnya tumbuh sehat.
__ADS_1
Begitupun mama Rahma dan kakek Wirya mendengar hal itu sangat bersyukur, sebab Allah dengan cepat mewujudkan keinginan mereka agar memperoleh keturunan dari Raka.
...________TAMAT________...