
Semburat jingga masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Dan ribuan orang yang datang tengah merelakan waktunya untuk menunggu kehadirannya. Pantulan sinar cahaya merah kekuningan yang membayang di di bawah langit. Nampak berpendar menggantikan putihnya awan. Moment indah yang sungguh mempesona dan sayang untuk di lewatkan. Saat guratan-guratan senja terlukis indah oleh Sang Maha Pencipta.
"Sayang masih sakit gak perutnya?" ujar seorang laki-laki yang sedang berjongkok di depan seorang wanita dengan perut buncitnya.
"Uda mendingan kok, By. Nih aku barusan tiduran sembari aku puter murotal yang aku tempelin di perut. Sampai perlahan aku merasa rileks dan aku pun tertidur. Nih, sekarang uda gak sakit lagi perut aku," ujar Reyna sembari mengusap-usap lembut perutnya.
"Alhamdulillah, anak Papa harus kuat ya," ujar Rangga sembari menciumi perut buncit Reyna.
"Ini makanannya kenapa belum di makan, Sayang?" tanya Rangga saat melihat makanan yang dibawakan pelayan resort ke dalam villa mereka.
Saat sampai di resort, Reyna merasakan perutnya agak mual dan punggungnya terasa pegal. Mungkin efek yang timbul karena usai perjalanan jauh, membuat bayi yang ada di dalam kandungannya tidak nyaman. Karena itu lah ia berniat untuk beristirahat terlebih dahulu.
Meski sempat khawatir karena jalan menuju pantai curam dengan tikungan tajam dan tanjakan. Semua terbayar sudah saat sudah berada di lokasi pantai dengan pemandangan yang sangat menkjubkan.
"Belum, By. Kan aku tadi mual, habis itu langsung ketiduran. Jadi belum sempet makan," ujar Reyna jujur.
Rangga beranjak mengambil piring yang yang berada di atas nakas. Kemudian menyendok satu sendok smoothie bowl dan menyuapnya ke mulut istrinya.
"Bismillah. Aaa....!" titah Rangga yang membuat Reyna seketika membuka mulutnya.
"Enak, gak?" tanya Rangga.
Reyna tidak menjawab, namun ia mengangguk tanda setuju dan mengacungkan jempolnya.
Seusai mengunyah ia berkata, "Biar aku makan sendiri aja, By!"
"Udah, nggak apa-apa. Aku aja, Sayang. Simpan tenaga kamu, karena habis ini kita akan melihat sunset. Papi sama Mami uda nunggu di depan tuh," ujar Rangga.
"Okk...!" ujar Reyna dengan mengisyaratkan dengan tangannya.
Seusai makan Reyna dan Rangga bergandengan tangan menyusuri hamparan pasir putih dengan kaki telanjangnya. Merasai angin sepoi-sepoi menyambut kehadiran mereka, terbukti dengan gamis yang berayun-ayun mengikuti kemana arah angin membawanya.
"By, itu Mami. Yuk ke sana!" ujar Reyna.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan hingga ketempat papi Reza dan mami Lena berada.
"Mih...!" panggil Reyna saat sudah sampai.
"Eh, udah baikan, Reyn?" tanya Mami.
"Udah kok, Mi. Cuma minta istirahat aja kok ini ternyata," ujar Reyna sembari meusap lembut perutnya.
"Ehh Reyn, itu kok kayak Cindy ya? Dari tadi Mami lihat tapi takut salah mau nyapa," Reyna mengikuti arah yang di tunjuk oleh mami.
"Ehh, iya Mi, itu sih beneran Cindy sama Qila," ujar Reyna kemudian ia sedikit maju dan berteriak, "Cindiiiiyyyy....Qiiillaaaa.....!"
Namun ternyata teriakan Reyna hanya berlalu begitu saja. Mereka yang dipanggil tidak mendengar.
"Terlalu jauh, Sayang. Mereka gak dengar, biar aku ke sana," ujar Rangga yang kemudian berangsur pergi ke tempat Cindy berada.
Terlihat Rangga berbincang dengan Cindy, kemudian Cindy melihat ke arah Reyna dan melambaikan tangan. Cindy dan yang lain berjalan mendekat di mana Reyna menunggu.
"Tante Reynaaaa...!" Qila berlari kecil mendekat ke arah Reyna diikuti Cindy dan yang lain.
"Hai Qilaa...," Qila nampak berjongkok di depan Reyna.
"Sore Cindy, wah pengantin baru honeymoon dong ya?" tanya mami Lena.
"Liburan sama keluarga kok, Tante. Itu ada Ibu mertua Cindy dan juga adik dari suami saya. Kalau Mas Dimas, kecapekan jadi tiduran habis nyetir baru datang soalnya kita," ujar Cindy.
"Tante, ini perutnya ada dedek bayinya ya?" tanya Qila pada Reyna.
"Iya, Sayang. Dedek bayinya belum lahir jadi masih di dalam perut," jawab Reyna.
"Qila, minta dibuatin adek bayi juga tuh sama Mamanya!" ujar Reyna
"Umma, Qila juga mau adek bayi kaya tante Reyna!" rengek anak itu pada Cindy yang membuat semua orang tertawa.
"Iya, Sayang. Insyaallah, Qila banyak berdoa ya biar Allah kasih Umma dedek bayi ya!" ujar Cindy membujuk anak sambungnya.
"Minta yang banyak ya, Qila!" Rangga menghasut.
"Ishh, kamu nih, Ga. Anak kalian aja belom launching, apa kabar aku yang baru nikah kemaren!" jawab Cindy menanggapi.
__ADS_1
"Hhhaha... jangan-jangan belom gol, atau malah belom sempet di cicil ya Cin?" tanya Rangga jahil.
"Ihhh...tau akh, suami kamu jahil bener sih Reyn!" Cindy cemberut mendengar kelakar Rangga.
Reyna mencubit pinggang suaminya, "Maaf ya, Cindy. Suami aku emang kelewat humoris dia."
"Aww..., sakit, Sayang!" pekik Rangga sembari meringis dan mengusap bekas cubitan istrinya.
"Qila, mau mainan pasir gak sama, Om. Ayok, Ke sana! Umma mau ngrumpi tuh sama tante Reyna," ujar Rangga dengan menyindir istrinya.
"Umma, boleh gak Qila ikut Om ini?" tanya Qila.
"Iya boleh, Sayang. Nitip ya, Ga!" ujar Cindy sembari tersenyum. Rangga hanya membalas dengan mengacungkan jempol kemudian berlalu dengan Qila.
"Kamu udah dari tadi, Reyn?" tanya Cindy.
"Sudah, Cin. Dari jam satu aku udah sampai. Kamu nginep di mana Cin? Kalau aku nginep di resort itu," tunjuk Reyna pada Resort yang berada tepat di belakangnya. Resort yang menghadap langsung dengan pantai.
"Wahh enak sepertinya ya, Reyn. Deket banget sama pantainya. Aku menginap di homestay belakang Reyn, mungkin sekitar 150m. Rosa yang pilihkan tadi," jawab Cindy.
"Gimana kalau nanti malam kita ngumpul lagi selepas sholat maghrib? Kita makan malam bersama di restaurant yang berada di resort ini Cin?" bujuk Reyna.
"Oke, Reyna. Nanti aku bicarakan dengan mas Dimas dan yang lain dulu ya," ujar Cindy.
"Ehh... lihat itu Cin, sunsetnya cantik sekali!" dengan heboh Reyna menggoyang-goyangkan lengan tangan Cindy.
"Masya Allah, bagus banget ya, Reyn!" Cindy takjub menyaksikan pemandangan di depannya.
Matanya tak lepas memandangi senja di atas langit pantai Watu Karung yang sungguh mempesona.
Puas memandangi sunset kala itu, akhirnya mereka pulang ke tempat penginapan masing-masing. Qila berjalan lebih dulu dengan Rosa sambil berlari-lari kecil bercanda tawa dengan Rosa. Sedangkan Ibu Dimas berjalan perlahan di belakang mereka.
Cindy yang merasa enggan meninggalkan pemandangan indah sore itu, kemudian di tarik oleh Dimas untuk pulang. Keduanya berjalan beriringan dengan jari-jemainya yang terpaut pada genggaman tangan Dimas, meninggalkan lokasi pantai.
Sesekali Cindy memperhatikan tangannya yang berada dalam genggaman suaminya dengan tersenyum. Sampai di tahap ini ia sangat bersyukur atas pencapaiannya. Sebab, Allah telah memberikannya kebahagiaan yang berlipat-lipat dari apa yang pernah ia minta dalam do'anya.
_____________________Ney-nna________________
__ADS_1