Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Kadatangan Ummi Aini


__ADS_3

POV Cindy.


Hari kedua pasca operasi aku sudah mulai belajar untuk duduk dan pergi ke kamar mandi sendiri. Meski rasanya luar biasa nyeri di bagian sayatan, namun aku berusaha agar tidak terus-menerus merepotkan ummiku.


"Ummi, yang kemaren ada di ruangan selepas operasi, selain Ummi dan Abi, ada siapa, Ummi?" tanyaku seusai menyelesaikan sarapanku.


"Ohh...yang semalem datang nak Fadhil dan dr.Dimas. Siniin tempat makannya!" ujar ummi sembari mengambil tempat makan yang berada di pangkuanku.


"Mereka datang, Ummi?" aku sedikit terkejut mendengar kedatangan dua laki-laki itu.


"Iya..., ini minum dulu, Cin!" titah ummi yang membuat obrolan kami terjeda dan aku semakin penasaran.


"Memangnya mereka tahu Cindy dioperasi, Ummi?" tanyaku lagi pada ummi.


"Kamu mau tahu tentang siapa? Kedatangan nak Fadhil atau dr.Dimas?" tanya ummiku yang membuat aku malu.


"Yah, aku cuma pengen tahu saja, Ummi. Kemarin aku samar-samar seperti melihat ada dua orang berdiri di dekat pintu. Dan, juga kan aku tidak memberi tahu siapapun jika kemarin aku akan menjalani operasi," alasanku pada ummi.


"Emm...begitu. Kalau nak Fadhil, Abimu yang memberi kabar, saat handphonemu terus berdering, dan Abi mengangkatnya setelah melihat di layar handphone, ada panggilan dari nak Fadil. Katanya, nak Fadhil khawatir karena seharian kamu tidak membalas pesannya. Kemudian nak Fadhil ikut menemani Abi ngobrol di sela-sela menunggu operasimu," tutur ummi panjang lebar.


"Ohh...kemarin seharian aku memang tidak pegang handphone, Ummi. Cindy fokus persiapan buat operasi," ujarku pada ummi


"Selepas kamu sadar Abi menyuruh nak Fadhil pulang karena sudah larut," ujar ummi.


Aku terdiam, dalam hati aku merasa lega mas Fadhil tahu. Sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk memberitahukan kondisiku yang memiliki kista.


"Kamu jangan khawatir, kemaren Abi sudah mendatangi kleluarga Ustadz Maulana. Dan nak Fadhil mengatakan ingin tetap melanjutkan untuk menikah denganmu. Mereka menyetujui untuk memundurkan acara akad nikahnya setelah kamu sembuh dan bisa beraktivitas dengan baik," ujar ummi.


Aku merasa lega mendengarnya, itu berarti, mereka masih mau menerimaku meski mereka tahu ada masalah di organ reproduksiku. Padahal kemungkinan butuh waktu lebih lama bagiku untuk bisa memberikan keturunan kepada mereka. Aku harap aku bisa benar-benar sembuh dari penyakitku.


"Alhamdulillah ya, Ummi. Semoga aku tidak harus menjalani operasi kista lagi," ujarku pada ummi.


"Sabar ya, Cin. Ummi akan mendo'akan kebaikan untukmu," ujar ummi sembari menggenggam tanganku.


"Terimakasih, Ummi!" ucapku pada ummi.


Tok tok tok!’

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," setelah terdengar ketukan, pintu terbuka dan menampakkan Ummi Aini dari balik pintu dengan menenteng parcel berisi buah-buahan.


"Wa'alaikumussalam, Mbak yu!" jawab ummiku seraya menyambut kedatangan ummi Aini kemudian berjabat tangan dan cipika-cipiki.


Ummi Aini menyerahkan parcelnya pada ummiku. Ummiku menerimanya kemudian meletakkannya di atas nakas di samping ranjangku.


"Kenapa harus repot-repot membawa buah tangan, terima kasih lho, Mbak," ujar ummiku.


"Tidak repot kok, Dek," ujar ummi Aini.


Aku tersenyum dan berusaha mencondongkan badan untuk meraih tangan ummi Aini untuk salim.


"Sendirian, Ummi?" tanyaku karena hanya melihat ummi seorang.


"Iya, Abinya Fadhil sedang ada urusan, sehingga tidak bisa datang menjenguk, kalau Fadhil ya biasa sedang mengajar di pesantren," jawab ummi Aini.


"Tidak apa-apa, Ummi," ujarku.


"Gimana keadaamu, Cin? Ummi ikut prihatin saat mendengar kabar tentangmu," ujar ummi Aini.


"Terimakasih ya, Mbak sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Cindy," ujar ummiku menambahi.


"Ummi kan senggang tidak ada kerjaan, ini sekalian jalan-jalan biar gak sumpek di rumah terus," ujar ummi Aini.


"Oh iya, Cin. Ummi harus menebus resep diapotek. Saya nitip Cindy sebentar ya, Mbak," ummiku lantas berdiri dan mengambil dompetnya.


"Iya, gak apa-apa. Cindy biar saya temeni," ujar ummi Aini.


"Sebelumnya terima kasih ya, Mbak. Cin, Ummi tinggal sebentar ya?" aku mengangguk mengiyakan.


"Cin, apa kata Dokter tentang penyakitm" tanya ummi Aini.


"Emm, ada kista di ovarium kanan dan kiri Cindy. Dan harus segera diangkat karena dikhawatirkan akan bertambah besar dan bisa saja pecah, Ummi," jawabku sendu.


"Ha...benarkah? Apa itu cukup membahayakan?" tanya ummi Aini.


"Jika pecah bisa mengakibatkan komplikasi Ummi, dan jika bertambah besar tentunya akan akan mengganggu kinerja sel telur untuk bereproduksi, Ummi," ujarku semakin sedih jika membahas penyakitku.

__ADS_1


"Itu artinya, akan menjadi masalah untuk kesuburanmu?" pertanyaan ummi kali ini membuatku tercenung.


Itulah yang selalu aku khawatirkan. Namun, di saat mendengar Ummi Aini yang menanyakannya membuat dadaku terasa perih. Seolah ummi ingin nemperjelas jika aku akan sulit untuk memberi keturunan.


"Emm, bisa jadi begitu, Ummi," aku melihat muka Aini terlihat kecewa.


"Maafkan Ummi Cindy, Ummi ingin sekali segera mempunyai cucu agar ada penerus di keluarga kami. Istri Fakhri tidak juga kunjung mempunyai momongan. Jika kamu menikah dengan Fadhil dan juga tidak kunjung memberi keturunan apa jadinya keluarga Ummi nanti tanpa adanya keturunan yang bisa kami banggakan. Fadhil bersikeras untuk melanjutkan menikahimu, tapi apa jadinya jika suatu saat kamu juga tidak kunjung bisa memberi keturunan, pernikahan kalian tidak akan bahagia, Cindy. Cin, Ummi mohon kamu berbesar hati untuk membatalkan pernikahanmu dengan Fadhil. Ummi yakin Fadhil akan menerimanya jika kamu sendiri yang membatalkannya," tutur ummi Aini yang membuatku sangat terkejut dan bagai di sambar petir.


Dadaku terasa sangat sakit mendengar penuturan ummi Aini. Bekas lukaku pun ikut berdesir saat mendengar kata-kata ummi Aini barusan. Bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari mulut seorang ibu. Meski dengan lembut ia berucap, tapi maknanya seolah menampar wajahku. Semudah itu ummi Aini memintaku untuk menggagalkan rencana pernikahanku dengan mas Fadhil.


Aku yang tadinya merasa bahagia dengan perkataan ummiku jika mas Fadhil tidak mempermasalahkan penyakitku dan ingin melanjutkan menakih denganku, seolah membuat hatiku melambung tinggi mendapatkan laki-laki baik yang mau menerima kekuranganku.


Namun, kini aku merasa di hempaskan dengan sangat dalam oleh kata-kata ibunya yang sangat melukaiku. Dadaku terasa seperti di hantam oleh benda keras. Air mataku tak kuasa untuk ku bendung lagi, dan lidahku terasa kelu untuk menjawab permintaan ummi Aini yang memintaku untuk membatalkan rencana pernikahanku dengan anaknya.


'Ya Allah apa dosaku sehingga aku harus menerima kepahitan ini. Ampuni dosa-dosa ku ya Allah!' gumamku dalam hati sembari meremas pinggiran ranjangku dan air mataku meluncur begitu saja tanpa bisa aku cegah. Aku tak bisa berkata-kata dan hanya bisa menangis.


"Ini mungkin terasa sangat menyakitkan untukmu, Cindy. Tapi Ummi terpaksa mengatakannya demi kebaikan untuk keluarga Ummi. Tolong jangan beri tahu Fadhil dan yang lain jika Ummi yang memintamu untuk membatalkan rencana pernikahan itu. Cindy kamu masih muda dan cantik, pasti tidak akan sulit bagimu untuk mendapatkan pengganti Fadhil," ujar ummi Aini lagi.


Aku mengusap air mataku yang terus berulang-ulang mengalir di pipiku seolah tak ada habisnya. Leherku seakan tercekik dengan kata-kata ummi Aini sehingga tak bisa menjawab ucapannya. Aku tak tahu apakah aku harus marah pada perempuan di depanku yang aku hormati seperti seorang ibu bagiku. Namun, ini adalah kekuranganku, dan bukan salahnya jika ia tidak bisa menerima kekuranganku.


Aku menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


'Ya Allah berikanlah aku kesabaran!' batinku.


"U-ummii..., aku akan menuruti permintaan, Ummi itu. Maafkan kekuranganku sehingga membuat Ummi dan keluarga Ummi kecewa. Sekarang Cindy mohon Ummi untuk meninggalkan tempat ini. Cindy butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum Ummi Cindy kembali," ujarku dengan suara serak khas orang menangis tanpa mengurangi rasa hormatku pada orang yang lebih tua dariku.


"Baiklah Cindy, terima kasih kamu sudah mau mengerti. Sekali lagi Ummi minta maaf. Semoga kamu segera pulih. Ummi pamit ya, Assalamu'alaikum!" aku hanya menjawab salamnya dan kemudian diam melihat kepergian ummi Aini.


Setelah ummi Aini berlalu aku menangis sejadi-jadinya meratapi nasibku yang harus gagal untuk menikah dengan mas Fadhil. Ditambah dengan bekas lukaku yang terasa ngilu dan perih saat aku menangis, seolah menambah penderitaanku yang semakin menjadi-jadi.


_____________________Ney-nna_______________


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment nya untuk bab ini.


Terimakasih bagi reader's tercinta yang sudah mau berbagi untuk karya ini 🙏💕💕💕


Semoga berkah dan sehat selalu 😘💓💓

__ADS_1


__ADS_2