
Lima belas menit menyusuri jalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Hadi Jaya.
"Kak, siapa saja yang ada di rumah ini?" tanya Reyna kepada Abiyu.
"Ada neneknya Rangga, beliau itu nenek angkat kamu, ada tante Lena yaitu maminya Rangga, dan om Reza itu papinya Rangga. Kamu biasanya memanggil mereka dengan sebutan papi dan mami," tutur Abiyu menjelaskan. "Nah itu mereka sepertinya sedang berkumpul di teras!" tutur Abiyu sembari menunjuk ke arah teras di mana mereka berada.
"Ayo, Sayang. Kita turun!" tutur Abiyu dan di jawab dengan anggukan oleh Reyna.
Reyna dan Abiyu turun dari mobil kemudian melangkah bersama menuju teras. Dari ke jauhan mereka sudah dapat melihat ada nenek, mami Lena dan Reynand yang sedang bermain di teras.
"Assalamu'alaikum," tutur Abiyu sembari mengajak istrinya.
"Wa'alaikumussalam. Apa kabar, Bi?" tanya nenek sembari tersenyum ke arah Abiyu.
"Alhamdulillah ... baik, Nek," jawab Abiyu dengan sopan sembari menyalami nenek.
Nenek kemudian melirik ke arah belakang Abiyu, yang menampakkan Reyna di sana. "Apa wanita ini Reyna?" tanya nenek sembari menoleh ke arah Abiyu meminta jawaban.
"Iya, Nek," jawab Abiyu singkat.
Nenek beranjak berdiri menghampiri Reyna. Netranya tak lepas memandangi Reyna dari atas sampai bawah. "Bisakah aku melihat wajahmu?" tanya nenek pada Reyna yang berdiri di hadapannya.
Reyna mengangguk kemudian menurunkan niqob yang sedang dikenakan pada wajahnya.
Seketika air mata nenek mengalir dari pelupuk matanya yang mulai berkeriput.
"Reyna ...!" serunya, kemudian dengan segera nenek menghambur memeluk Reyna dengan erat. Nenek menangis tersedu-sedu meluapkan kerinduannya kepada cucu angkatnya itu, yang sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri.
Meskipun Reyna tidak mengingat pada neneknya, melihat nenek menangis membuat Reyna merasa terharu dan ikut meneteskan air mata.
Setelah beberapa saat nenek mengurai pelukannya, dan memandang sendu pada Reyna.
"Nenek sudah mendengar semuanya dari Reza, dia bilang kamu amnesia, bukan?" tanya nenek sembari terus memandangi wajah Reyna.
"Benar, Nek. Tolong maafkan aku karena tidak mengingat tentang nenek dan yang lainnya," ucap Reyna merasa bersalah karena tidak mengingat keluarga ini.
"Ini bukan salahmu, Reyna. Takdir yang membuatmu mengalami hal itu. Semua pasti ada hikmahnya, yang terpenting adalah kamu bisa selamat dan baik-baik saja, dengan begitu Nenek sudah merasa tenang, Reyna," ujar nenek mencoba untuk bijak menyikapi apa yang terjadi.
"Untuk amnesianya ini hanya untuk sementara, kan, Bi?" tanya nenek sembari melihat ke arah Abiyu.
__ADS_1
"Cedera di kepala Reyna cukup parah, Nek. Semoga saja ingatan Reyna bisa pulih kembali," ujar Abiyu dengan jawaban yang tidak pasti karena dia sendiri juga belum tahu apakah Reyna masih bisa memulihkan ingatannya atau tidak.
Tiba-tiba Lena mendekat ke arah Reyna sembari memegangi kedua lengan tangan Reyna. "Reyn, kamu juga nggak ingat sama Rangga dan Reynand?!" tanyanya.
Reyna nampak terkejut dan tidak nyaman dengan pertanyaan itu, juga dengan cara sang mertua menatapnya, seolah sangat berharap, jika Reyna masih mengingat almarhum suaminya dan juga anaknya.
Dengan berat hati Reyna menggelengkan kepalanya. "Maafkan Reyna, Mi. Reyna tidak mengingat semuanya!" ujar Reyna dengan sedih, yang seketika membuat ibu mertuanya muram dan kecewa.
"Astaghfirullah!" pekik Lena dengan kecewa di hatinya.
Reyna semakin merasa bersalah melihat kekecewaan di mata ibu mertuanya. Air matanya mulai terpupuk kembali di kelopak matanya.
Tiba-tiba saja, Reyna merasakan ada yang menarik bagian bawah gamisnya. Reyna menunduk memandang ke bawah.
"Ma ... mama ... mama ....," ucap baby Reynand sembari mendongak ke arah Reyna.
Reyna terkesima mendengar batita itu memanggil 'mama' padanya. Reyna speechless tubuhnya seketika mematung, tidak tahu harus berkata apa.
"Mama ... ma ...," rengeknya lagi.
Reyna mengusap air matanya yang masih terbendung di sudut matanya yang belum sempat terjatuh, kemudian dia berjongkok di depan Reynand. Tangannya memegang bahu kecil anak itu dan matanya memandangi detail wajah yang berada di hadapannya. Anak itu wajahnya sangat mirip dengan Rangga.
Tiba-tiba saja anak itu menghambur menuju ke pelukannya, tangan mungilnya melingkar di leher wanita yang dipanggilnya mama itu.
Semua mata yang melihat ikut terharu menyaksikan pertemuan ibu dan anak itu. Bahkan Reyna sendiri yang tidak bisa mengingat memorinya bersama sang putra ikut berlinang air mata, tatkala mendengar isak tangis sang putra yang menyayat hatinya. Naluri keibuannya bangkit seketika.
"Reynand ... ma-maafkan Mama, Nak!" ujar Reyna terbata-bata, sembari mengusap lembut kepala anaknya dan menghujaninya dengan kecupan di pucuk kepala sang anak berulangkali.
Reyna sangat merasa bersalah karena tidak bisa mengingat anaknya. Sekuat dia berusaha yang muncul hanya potongan demi potongan memori yang tidak jelas yang membuat Reyna merasakan sakit di kepalanya. Semakin dia merasa sedih semakin terasa menyiksa di otaknya.
Reyna mengurai pelukannya dengan sang anak, kemudian memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Aaarrgh ... sakit!" serunya sembari memejamkan mata dan air mata yang membanjiri pipinya.
Semua ikut panik menyaksikan hal itu. Dan dalam beberapa saat kesadaran Reyna menguar, tubuh Reyna limbung hendak jatuh ke lantai karena pingsan.
"Reyna ...!!" seru Abiyu yang dengan cekatan menangkap tubuh istrinya, sebelum kepalanya mengenai lantai.
"Huaaa ... Mama ... Mama ...!" Reynand semakin keras menangis tatkala melihat mamanya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Nenek dan Lena yang menyaksikan hal itu membelalakkan mata karena terkejut dengan apa yang terjadi.
"Reyna kenapa, Nak Abi?" tanya nenek seketika menjadi panik sembari berjongkok mendekat ke arah Reyna.
Sedangkan Lena segera menolong cucunya yang menangis.
"Sepertinya Reyna berusaha dengan keras untuk memunculkan ingatannya," ujar Abiyu kepada nenek.
"Apa hal itu sering terjadi? Dan bagaimana cara untuk memulihkan kesadarannya jika terjadi seperti ini, Bi?" tanya Lena yang juga khawatir dengan keadaan Reyna.
"Sebaiknya Reyna dibaringkan di tempat tidur terlebih dahulu, Tante!" jawab Abiyu.
"Ayo bawa Reyna masuk ke dalam, Nak Abi!" tutur nenek mengarahkan Abiyu agar Reyna dibaringkan di kamarnya dahulu.
Meskipun kamar itu tidak ditempati, nenek selalu meminta kamar itu agar tetap dibersihkan oleh pembantunya.
Sedangkan baby Reynand yang merasa takut melihat kepanikan yang terjadi, masih saja menangis. Lena menggendongnya dan mencoba berbagai cara agar membuat cucunya itu berhenti menangis.
Setelah menghabiskan satu botol penuh susu formula, baby Reynand tertidur di gendongan omanya. Lena kemudian memindahkan Reynand ke tempat tidur cucunya.
Seusai menidurkan Reyna di kamarnya. Abiyu ke luar dan berbincang-berbincang dengan nenek di ruang tengah.
Melihat kedatangan Abiyu seraya bertanya, "Apa Reyna akan baik-baik saja?" tanya nenek.
"Iya, Nek. Beberapa saat beristirahat akan memulihkan kesadarannya," tutur Abiyu setelah duduk di sofa di samping nenek.
"Syukurlah ..., anak itu terlalu banyak menderita di dalam hidupnya. Semoga saja kedepannya Reyna dapat menemukan kebahagiaan," ucap nenek dengan sedih.
"Aamiin, saya juga berharap demikian, Nek. Saya ingin melihat Reyna bahagia bersama saya," ujar Abiyu kepada nenek.
"Di awal pernikahan memang terkadang mendapati cobaan yang berat. Kalian harus sabar dan saling menguatkan. Kedepannya mungkin hanya akan menjumpai kerikil-kerikil kecil saja," tutur nenek menasehati.
"Iya, Nek. Terima kasih atas nasehatnya," tutur Abiyu. "Nek, kedatangan saya dan Reyna ke sini, sebenarnya kami ingin menjemput Reynand untuk kami bawa kembali ke Yogya."
"Iya, Nenek sudah bisa menebaknya sejak tadi. Nenek setuju saja, seorang anak apalagi diusia balita memang seharusnya berada bersama orang tuanya, bukan? Reynand juga terlihat sangat merindukan mamanya. Semoga saja Reyna segera pulih dan mengingat kembali anaknya," tutur nenek.
"Benar, Nek. Saya berharap dengan hadirnya Reynand juga akan memunculkan ingatan Reyna kembali. Meski Reyna tidak mengingat anaknya kali ini, tapi saya bisa pastikan Reyna bisa menyayangi Reynand dengan baik. Bahkan setelah mengalami cedera saya merasa kepribadian Reyna menjadi lebih baik. Dia lebih sabar dan patuh. Saya tidak menjumpai sesuatu yang menyimpang atau perilakunya yang merugikan kepada diri sendiri maupun orang lain," tutur Abiyu panjang lebar.
"Iya, Bi. Nenek bisa merasakan hal itu, apa lagi saat melihatnya memeluk Reynand, Nenek sangat tersentuh dan haru melihat pertemuan mereka setelah sekian lama terpisah," tutur nenek. "Oh ya, Bi. Apa Reyna hamil? Perutnya terlihat membuncit ya?" tanya nenek penasaran.
__ADS_1
"Apa ..., Reyna hamil?" seru Lena yang baru saja ke luar dari kamar Reynand.
...__________________Ney-nna_________________...