
Seharian terus berada di rumah sakit membuat Reyna lelah. Bahkan saat ini Reyna sedang tertidur di sofa kamar inap mami. Windy yang mengerti, kemudian berjalan ke luar mencari Rangga. Dilihatnya Rangga sedang duduk berbincang-bincang dengan papi.
"Dek, ajak pulang istri lo sana!" ujar Windy sembari duduk di samping papinya.
"Lhoh, Reyna mana kak?" tanya Rangga yang tak melihat istrinya ikut serta.
"Dikamar Mami tuh, ketiduran di sofa. Ajak pulang sana gih, pasti dia capek dari pagi nggak istirahat!" ujar Windy.
"Ya udah aku ke kamar dulu, Pi!" Rangga beranjak dari duduknya.
"Iya, Ga. Jaga istrimu! Lagi hamil muda jangan terlalu memaksakan diri!" ujar papi.
"Iya, Pi!" jawabnya singkat kemudian bergegas menuju kamar mami.
Rangga membuka pintu kamar, terlihat Reyna yang terlelap di atas sofa. Ia berjalan mendekat, kemudian berjongkok di depan sofa. Ia tersenyum memperhatikan wajah cantik istrinya yang sedang tidur. Dikecupnya kening istrinya lembut. Ia bersyukur memiliki istri yang sangat baik seperti Reyna. Ia tahu, meski mami tidak terlalu menyukai Reyna, namun Reyna dengan kerendahan hatinya, tetap sabar dan telaten merawat maminya.
Ditolehnya jam di dinding, pukul 21.30 itu artinya operasi mami sudah berjalan satu setengah jam. Sebentar lagi mungkin akan keluar. Sebaiknya mengajak Reyna pulang terlebih dulu. Baru nanti kembali lagi ketika sudah selesai mengantar Reyna. Diusapnya pipi Reyna beberapa kali namun tidak juga bangun. Ia pasti kelelahan hingga tidurnya begitu lelap. Kasihan juga jika dibangunkan.
Akhirnya ia memutuskan untuk meminjam kursi roda rumah sakit. Tadi diluar disediakan banyak kursi roda di depan UGD. Setelah berhasil meminjam kursi roda Rangga kembali ke kamar. Diangkatnya tubuh Reyna kemudian dipindahkan ke kursi roda.
Terlihat Reyna bergerak merasa terusik. Lamat-lamat ia membuka matanya. Menoleh ke tempat tidur mami kemudian balik melihat ke tempatnya duduk.
"Kok aku bisa duduk di kursi roda, By?" tanya Reyna sambil celingukan ke samping kanan dan kiri.
Rangga berjongkok di depan Reyna, "Tadinya mau aku bawa pulang, Sayang! Aku bangunin tadi kamu nggak bangun-bangun. Makanya aku berniat membawa kamu dengan kursi roda. Ehh...malah kamu terbangun. Ayo kita pulang!"
"Maaf aku ngantuk banget tadi, By. Tapi, bukannya Mami belum kembali dari operasinya? Kita tunggu hingga Mami keluar dulu, By. Habis itu baru kita pulang!" Reyna mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.
"Ya sudah, sini bobok lagi di sofa!" titah Rangga.
Reyna berdiri kemudian pindah duduk di sofa.
"Sini, By!" ia menepuk sofa di sebelahnya agar Rangga bisa duduk di sana.
"Lhoh...nggak bobok lagi aja?" tanyanya sembari duduk di sebelah Reyna.
"Udah nggak ngantuk!" begitu Rangga duduk Reyna langsung memeluk lengan Rangga dan kepalanya bersandar di bahunya. Rangga mengusap-usap pipi Reyna lembut.
"By, boleh tidak aku sementara waktu tinggal di Solo untuk merawat mami?" satu pertanyaan Reyna yang membuatnya terkejut. Ia terdiam sejenak menyelami kata-kata istrinya, jika seperti itu artinya ia harus kembali ke Jakarta sendirian.
"Kamu serius, Sayang?" tanya Rangga menoleh ke arah Reyna.
"Iya By. Kasihan Mami, yang terluka dibagian tangan kanan. Bayangkan, betapa sulitnya untuk beraktivitas, setidaknya pasca operasi biar aku membantu mengurus Mami. Saat Papi ke kantor Mami hanya bersama mbak Siti. Pada hal mbak Siti kan sudah repot dengan pekerjaanya, By!" bujuknya sembari mendongak memandang ke muka Rangga.
"Kamu yakin? Nantinya kita akan berjauhan!" Rangga ragu untuk merelakan berjauhan lagi dengan Reyna.
__ADS_1
"Ayolah, By. Palingan satu bulan saja! Atau tiga minggu deh..!" Reyna memohon.
"Baiklah, Sayang!" ujar Rangga.
"Benar, By. Yeay terima kasih, By. Love you Hubby!" Reyna mencium pipi Rangga.
"Masa cuma di pipi sih?" goda Rangga.
"Di mana?" tanya Reyna heran.
"Di sini dong!" Rangga menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Ishh...di rumah sakit juga!" Reyna beralasan.
"Kan cuma berdua, ayoo buruan!" Rangga memajukan mulutnya ke depan Reyna. Biasanya Rangga yang memulai, kali ini ia ingin Reyna yang menciumnya lebih dulu.
Reyna memastikan pintu tertutup dengan benar.
Mmuachh..!!
Ia mencium singkat bibir suaminya. Saat akan menyudahi ciumannya, Rangga malah menahan tengkuk Reyna dan me***at bibir Reyna mesra. Reyna pun ikut terhanyut dalam pertukaran saliva yang memabukkan.
Braaakk!!
Papi membuka pintu lebar-lebar, kemudian di susul Windy masuk ke dalam kamar. Di belakangnya ada perawat yang mendorong brangkar yang membawa mami.
Setelah memberikan informasi terkait dengan tindakan yang perlu di lakukan jika nanti mami telah sadar, kepada papi dan Windy, kedua perawat itu berpamitan untuk kembali melanjutkan tugas mereka di tempat lain. Rangga dan Reyna mendekat ke tempat tidur mami.
"Gimana keadaan, Mami, Pih?" tanya Rangga.
"Operasinya lancar, saat ini Mami masih terpengaruh oleh obat bius, kita hanya perlu menunggu sampai Mami kamu sadar!" ujar Papi.
"Alhamdulillah...!" ucap Rangga dan Reyna bersamaan.
"Udah gih, sana pulang! Yang tadi sempat tertunda bisa dilanjut di rumah, Mami biar Kakak dan Papi yang urus!" ujar Windy sambil tersenyum mengejek.
"Apaan sih kak! Pengertian banget deh...! Hhhahaha...!" Rangga bersikap santai, toh juga kepergoknya sama istri mah sah-sah saja.
Reyna mencubit kecil pinggang Rangga, "Aww...! Sakit, Sayang!"
"Hahahaha...syukurin deh lo!" Windy semakin senang melihat adiknya menderita.
"Ishhh...kalian ini berisik aja!" ujar papi.
"Ya udah, Reyna pulang dulu ya, Pih! Semoga Mami segera siuman!" tutur Reyna.
__ADS_1
"Iya, kalian hati-hati ya di jalan. Ini udah malam, nggak usah ngebut, Ga!" Papi mengingatkan.
"Iya, Pi. Assalamu'alaikum!" Rangga dan Reyna berpamitan kemudian berjalan berdua beriringan.
Dirangkulnya bahu Reyna agar mendekat. Ia teringat dulu saat menunggui kakek di rumah sakit dan mereka belum menikah, Reyna begitu ketus saat ia menggandeng tangannya.
"Sayang, inget nggak waktu di rumah sakit saat menunggu Kakek? Waktu mau ke kantin aku gandeng tangan kamu, tapi langsung kamu tepis dengan ketus. Dulu kamu jaim banget, sekarang terbukti kan kamu nempel terus sama aku!" ujar Rangga.
"Ihh...apaan sih, By. Aku nggak jaim ya! Dulu dan sekarang kan keadaannya berbeda. Kita kan dulu nggak ada hubungan apa-apa, ya wajarlah aku nggak mau kamu pegang-pegang," kilah Reyna.
"Tapi dalam hati kamu seneng kan? Soalnya kan kamu juga suka sama aku dari SMP!" goda Rangga.
"Enggak lah, emang aku cewek apaan. Bukan berarti aku suka sama kamu trus aku mau di apa-apain yah! Lagian saat itu rasa benci aku ke kamu lebih besar dari rasa sukanya. Kamu nih suka ke Ge-Er'an deh! Kamu dari dulu terlalu percaya diri, By! Makanya dulu aku tuh suka ilfell sama kamu!" ungkap Reyna panjang lebar.
"Masa sih kamu bisa ilfeel sama aku? Sayang misal aku nggak ada apa kamu bisa dengan mudah lupain aku?" ujar Rangga tiba-tiba.
"Apaan sih, By! Jangan asal bicara deh! Udah ayo, buruan pulang!" Reyna menarik Rangga agar segera masuk ke dalam mobil Karena saat ini mereka sudah sampai di tempat parkir. Setelah berada di mobil Reyna masih terlihat murung.
"Becanda, Sayang! Kalau jutek kelihatan tambah cantik deh!" goda Rangga sembari memangku mukanya menatap ke wajah istrinya dari dekat.
"Aishh...uda ah, gombalnya garing!" ujar Reyna dengan muka merona.
Mmuachh!
"Pipinya manis sekali kalau merah begitu!" ujar Rangga setelah mencuri ciuman di pipi Reyna.
****
Seperti yang sudah di rencanakan, akhirnya Reyna tetap tinggal di Solo. Sedangkan Rangga kembali ke Jakarta sendiri, sehari setelah ke pulangan mami dari rumah sakit. Setiap hari Reyna yang mengurus kebutuhan mami. Setiap pagi Reyna menemani mami berjemur untuk berburu vitamin D alami. Dokter yang menganjurkan mami untuk berjemur agar tulang yang patah lekas pulih.
Setiap dua hari sekali Cindy datang untuk mengganti perban di bekas luka operasi mami, atas permintaan Reyna. Reyna tidak sanggup untuk menggantinya sendiri, tidak tega. Beberapa treatment terapi ringan juga diberikan kepada mami agar tangannya tidak kaku. Sambil berjemur mami berlatih menggenggam bola kecil, mengangkat tangan tinggi-tinggi ke atas, ke depan dan ke samping agar tangannya segera pulih. Sesekali mami menggerutu karena perubahan kulit antara tangan kanan yang luka dengan tangan kiri yang normal. Tangan mami sebelah kanan nampak pucat mengeriput dan sedikit lebih gelap di banding yang kiri. Namun kata dokter itu adalah hal yang wajar dan akan kembali normal dengan berjalannya waktu.
"Mami jadi malu Reyn! Coba lihat...tangan kanan Mami terlihat kaya tangan lansia begini!" ujar mami cemberut sembari mengangkat tangan kanannya.
"Mami, sabar yah. Nanti kalau sudah sembuh Reyna temenin perawatan di salon, biar kulitnya glowing dan mulus seperti semula!" ujar Reyna sambil tersenyum untuk menghibur.
Ya, berangsur-angsur Lena semakin bergantung pada Reyna. Lena pun semakin perhatian kepada Reyna.
"Pi, pulang kantor nanti bawain martabak manis buat Reyna. Mau apa lagi Reyn? ngidam apa jangan sungkan-sungkan bilang sama Mami dan Papi. Mami nggak mau gara-gara jauh dari Papanya, cucu Mami jadi ngeces terus nantinya!" mami yang mulai bawel jika berkaitan dengan bakal cucunya yang ada di rahim Reyna.
Reyna bersyukur meski bawelnya nggak ketulungan, tapi mami semakin sayang padanya. Ia percaya saat ini akan tiba, ketika ketulusan akan berbuah manis pada waktunya!
_____________________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, comment dan Vote untuk karya ini.
__ADS_1
Mampir juga ke karya aku yang satunya Cinta Di alam Mimpi, yang pastinya seru juga!