
Flashback On ....
...🌷🌷🌷...
...Bukan karena kamu siapa...
...aku mencintaimu...
...bukan karena apa yang kamu punya...
...tapi, aku mencintaimu karena kamulah orangnya...
...yang datang memberi rasa yang berbeda...
...yang membuatku berharap...
...kamulah jodohku...
...namun, ternyata aku salah,...
...aku bukan untukmu...
...dan bukan tulang rusukmu yang hilang...
...jalan kita tak searah...
...namun, aku tak akan berhenti...
...akan terus melangkah...
...jalanku masih panjang...
...demi hidupku yang berharga...
...aku akan melepas mu...
...yang menempatkan aku sebagai sebuah pilihan,...
...aku akan menemukan dia yang menjadikan aku prioritasnya...
...dan memulai kembali...
...kisah ku yang baru...
...🍂🍂🍂...
^^^Felycia Salsabila.^^^
Nabil yang hendak masuk ke dalam mobil mengurungkan langkahnya, tatkala melihat sebuah buku tergeletak di atas lantai yang tak jauh dari mobilnya terparkir.
Dia tertarik untuk memungutnya dan akhirnya membuka sampul buku tersebut. Sayangnya tidak ada identitas nama pemilik buku.
Dibukanya secara random halaman demi halaman. Tepat saat itulah dia menemukan sebuah halaman paling akhir yang tertulis dengan goresan pena yang telah menarik perhatiannya untuk membaca.
"Felycia Salsabila?" gumam Nabil membaca sebuah nama yang terletak di bawah sebait puisi.
Nabil yang terburu-buru harus segera pulang, akhirnya membawanya. Dia bermaksud akan mencari sang pemilik buku keesokannya.
Sesampainya di rumah, di waktu senggangnya, Nabil kembali membaca buku itu tepat pada halaman terakhir yang terdapat bait puisi yang sempat menarik minatnya untuk membaca.
"Felycia Salsabila ... nama yang bagus. Apa dia sedang patah hati hingga menulis puisi yang menyedihkan ini? yang mana ya anaknya? oke, besok coba aku lihat waktu mengajar di kelasnya!" gumam Nabil sembari kembali menyimpan buku tersebut ke dalam tasnya.
Tentu saja saking banyaknya mahasiswa, tidak mungkin dia bisa mengingat semuanya. Terlebih Nabil adalah dosen yang terlewat menjaga jarak dengan mahasiswinya.
Sedangkan di tempat lain Fely kebingungan mencari bukunya yang hilang.
"Astaghfirullah, di mana bukunya!" gumam Fely sembari mengobrak-abrik isi tasnya. Namun, buku catatannya tidak ditemukan di mana pun.
__ADS_1
Fely pun menyerah setelah selama dua jam mengobrak-abrik isi kamarnya. Fely akhirnya terlelap dalam tidurnya setelah letih membereskan kembali semua buku-bukunya.
****
Siangnya saat mengajar di kelas, akhirnya Nabil mengetahui pemilik nama Felycia Salsabila itu. Nabil diam-diam memperhatikan interaksi Fely dengan teman di sebelahnya. Namun, dia segera berpaling saat Fely melihat ke arahnya.
"Fe, kayaknya beberapa kali Pak Nabil melihat ke arah kita, deh!" ujar Mika mahasiswi yang duduknya bersebelahan dengan Fely dengan tersenyum senang.
"Ahh, masa sih! perasaan kamu aja kali, Mik!" ujar Fely yang menyangkal perkataan temannya itu.
Sebab bisa jadi dosennya itu hanya sedang kebetulan melihat ke arah mereka dan itu wajar-wajar saja ketika terjadi interaksi dalam kegiatan mengajar. Fely pun tidak memiliki pikiran yang bukan-bukan meski sesekali bertemu pandang dengan dosennya itu. Toh hanya sepersekian detik saja dan kembali fokus pada mata kuliah yang sedang diajarkan.
"Baik semuanya materi hari ini cukup, sebelum meninggalkan tempat saya mohon untuk Felycia Salsabila agar menemui saya di kantor usai kelas ini berakhir. Terima kasih, Assalamu'alaikum," ujar Nabil dengan tegas, jelas dan padat.
Kemudian Nabil segera ke luar meninggalkan kelas.
Fely melongo tak percaya dengan apa yang didengar. Tak terkecuali Mika dan mahasiswi lainnya yang mendengar merasa heran mengapa pak Nabil ingin Fely menemuinya di kantor.
"Wow ... Pak Nabil minta kamu nemuin dia di kantornya lhoh, Fe!" celetuk Mika yang mendengar dengan jelas hal itu.
"Eh sumpah aku juga nggak ngerti, Mik. Temenin aku ya, Mik. Aku takut nih jangan-jangan ada yang salah sama aku lagi!" ujar Fely dengan cemas.
Sedangkan beberapa mahasiswi yang lain nampak melihat ke arah Fely dengan keheranan. Dosen muda yang terkenal dingin tiba-tiba memanggil Fely untuk menemuinya.
Akhirnya Fely dengan ditemani Mika menuju ruang kantor dosen untuk menemui pak Nabil. Mika menunggu di luar sedangkan Fely masuk sendirian.
"Assalamu'alaikum, Pak," ujar Fely sesampainya di ruang kantor dosen.
"Wa'alaikumussalam, Felycia silakan duduk!" titah Nabil meminta Fely untuk duduk. Fely pun mematuhinya.
"Maaf, Pak. Anda tadi memanggil saya ada apa, ya?" tanya Fely dengan hati-hati.
Nabil menyerahkan sebuah buku ke hadapan Fely. "Buku ini milikmu bukan?"
Fely yang melihat buku catatannya yang dicari dari kemarin ada di hadapannya pun merasa sangat senang.
Nabil tersenyum kemudian mengangguk. Hal yang tidak pernah dia lakukan di depan mahasiswinya yang lain.
Fely merasa beruntung sekali karena bisa menemukan bukunya kembali. Namun seketika dia menyadari satu hal.
"Maaf, Pak, mengapa buku saya ada pada anda?" tanya Fely yang cukup penasaran barang miliknya bisa ada di tangan dosennya itu.
"Saya menemukannya kemarin saat hendak pulang, buku itu tergeletak di bawah, lebih tepatnya di tempat parkiran mobil," ungkap Nabil.
"Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya mencari-carinya dari kemarin," tutur Fely dengan tersenyum lega.
"Sama-sama, Felycia," ujar Nabil.
"Kalau tidak ada yang lainnya, saya mohon pamit, Pak. Assalamu'alaikum!" pamit Fely dan dengan segera pergi meninggalkan ruang kantor dosen.
"Wa'alaikumussalam," jawab Nabil dengan tersenyum.
Sepeninggal Fely, Nabil mulai mencari tahu tentang mahasiswinya yang bernama Felycia itu. Nabil dengan mudah mengetahui data lengkap tentang Fely. Mahasiswi yang mengambil jurusan pascasarjana manajemen bisnis, mempunyai nilai dan reputasi yang baik di kampus, serta statusnya yang belum menikah.
Entah mengapa lewat tulisan Fely yang dibacanya dan pertemuan hari itu Nabil seperti penasaran untuk mengenal Fely lebih jauh. Terutama karena melihat Fely gadis berhijab dan cukup cantik. Fely juga seorang gadis yang sopan dan ramah. Tidak kegenitan seperti mahasiswi yang lain tatkala sedang berinteraksi dengannya.
Setelah beberapa minggu mencari tahu tentang Fely, Nabil mengakui bahwa dia mengagumi sosok Fely dan tertarik untuk berta'aruf dengannya. Setalah memastikan jika Fely tidak sedang dekat dengan laki-laki lain, Nabil pun mendatangi rumah Fely untuk memintanya berta'aruf kepada keluarganya.
****
"Assalamu'alaikum!" ucap Nabil seusai mengetuk pintu.
Beberapa saat menunggu akhirnya pintu pun terbuka dan yang membukanya adalah Fely sendiri.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Fely seraya membuka pintu.
Deg
__ADS_1
Fely yang melihat kedatangan Nabil secara tiba-tiba di rumahnya merasa cukup shock.
Pak Nabil! pekik Fely di dalam hati.
"P-Pak Nabil ..., ada apa, Pak?" tanya Fely yang cukup kaget saat menerima tamu pertama kali, terlebih tamunya adalah sosok yang tidak terduga.
"Boleh saya bertemu dengan orang tua kamu, Felycia?" tanya Nabil dengan ramah.
"Bunda saya tinggal di Jakarta, Pak. Adanya kakak saya!" tutur Fely jujur dan masih tidak mengerti mengapa pak Nabil ingin bertemu keluarganya.
Apa aku membuat kesalahan hingga pak Nabil datang ke rumah ya? gumam Fely di dalam hati.
"Oh, baiklah bisa saya bertemu dengan kakakmu?" tanya Nabil hati-hati.
"Boleh Pak, silakan masuk, silakan duduk!" ujar Fely sedikit gugup menyambut tamunya itu dengan menahan sejumlah pertanyaan yang bercokol di hatinya.
Fely segera pergi untuk mencari Abiyu di restoran depan. Beberapa saat Fely terlihat datang bersama Abiyu.
Abiyu pun merasa heran mengapa dosen Fely sampai repot-repot datang ke rumah. Namun, Abiyu tetap menyambut dengan ramah tamunya itu.
"Maaf menunggu! Dosennya, Fely, ya? saya Abiyu, kakaknya Fely!" ujar Abiyu seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Panggil saja dengan nama, saya Nabil!" ujar Nabil ramah seraya menjabat uluran tangan Abiyu.
Fely sudah masuk ke dapur menyusul Reyna yang sedang membuatkan minuman untuk tamunya.
"Itu dosen kamu mau apa datang ke rumah, Fe?" tanya Reyna penasaran.
"Fely juga nggak tahu, Kak. Fely kaget banget tadi pas bukain pintu!" tutur Fely jujur, dia pun bingung bagaimana dosennya itu bisa tahu alamat rumahnya.
Sayup-sayup terdengar suara obrolan Abiyu dengan Nabil dari dapur.
"Nih, anterin minumnya ke depan, Fe!" ujar Reyna seraya menaruh dua gelas teh ke atas nampan.
"Kedatangan saya selain bersilaturahmi, sebenarnya ada tujuan lain, Mas. Jika diperkenankan saya ingin berta'aruf dengan asik anda, Felycia," tutur Nabil dengan mantap, mengungkapkan maksud dan tujuannya datang ke rumah ini.
Tap.
Fely yang hendak membawa nampan ke depan, kembali menaruhnya dengan buru-buru ke atas meja dapur sebelum dia jatuhkan. Tangannya tiba-tiba lemas seketika dan netranya membelalak dengan mulut sedikit terbuka.
Ta'aruf! pekik Fely di dalam hati yang tak mampu di ucapkannya saat kerongkongannya seolah tercekat mendengar penuturan dari dosennya.
"Hati-hati, Fe. Dia bilang barusan mau ngajakin kamu ta'aruf kan, Fe? memangnya kamu nggak tahu sebelumnya?" tanya Reyna dengan antusias.
Sedangkan Fely yang ditanya masih bengong seolah tak percaya.
Apa ini nyata? ataukah aku sedang bermimpi? batin Fely yang tiba-tiba linglung.
"Sumpah, Kak! Fely nggak tahu sama sekali soal ini, selama di kampus Fely juga nggak merasakan diperlakukan berbeda dengan mahasiswa lainnya saat di kampus!" tutur Fely sesaat setelah Reyna menepuk bahunya.
"Alhamdulillah, mungkin ini memang jalannya dari Allah, jodohmu datang tanpa terduga, Fe!" ujar Reyna ikut merasakan bahagia, sebab akhirnya adik iparnya itu mendapatkan pertanda jika jodoh Fely dari Allah sudah dekat.
"Kak ... Kak Reyna saja yang mengantar minumannya!" perintah Fely yang merasa malu untuk bertemu dengan dosennya setelah mengetahui tujuan kedatangannya itu.
"Fe, ke marilah!" Terdengar Abiyu memanggil.
"Tuh kan, suruh ke sana sama Kak Abi!" ujar Reyna memperjelas.
Fely meremass jari jemarinya merasa gugup.
"Kak, ayo temani ke depan, Kak. Aku bener-bener sungkan!" ujar Fely kepada Reyna.
"Baiklah, ayo aku temani ke depan!" jawab reyna sembari mendorong pelan lengan Fely.
Setelah menaruh nampan Abiyu menyuruh Fely untuk duduk bergabung. Abiyu meminta Fely untuk menjawab ajakan ta'aruf dari Nabil.
..._________Ney-nna_________...
__ADS_1