
"Apa ..., Reyna hamil?!" seru Lena yang baru saja ke luar dari kamar Reynand.
Mendengar jika Reyna hamil, Lena semakin sedih. Sedari awal dia memang kurang setuju saat Reyna akan menikah lagi dengan Abiyu secepat itu. Lena sudah menduga jika Reyna menikah dan mempunyai anak lagi dari pernikahannya yang ke dua, maka jarak antara anak pertama dan ke dua terlalu dekat. Lena merasa kasihan dengan cucunya itu.
Belum genap dua tahun usianya sudah harus membagi kasih sayang dari ibunya dengan calon adiknya, terlebih ketika sudah lahir nanti betapa repotnya menjaga dua bayi yang jarak usianya terlalu dekat. Bahkan Reynand terpaksa tidak lagi mendapatkan ASI dari mamanya sejak Reyna hilang.
"Iya, Tante. Usia kandungannya saat ini sudah empat bulan," tutur Abiyu menjelaskan.
"Empat bulan?!" seru Lena nampak terkejut. "Brarti ketika lahiran nanti mereka hanya terpaut satu setengah tahun?! Astaga ...!" ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Memang sudah aku duga jika kalian terlalu cepat menikah akhirnya akan terjadi seperti ini. Reynand masih kecil dan sangat membutuhkan perhatian mamanya, namun sudah harus membagi kasih sayang dengan adiknya nanti. Meskipun Rangga menitipkan Reyna padamu, seharusnya kamu bisa menunggunya dulu paling tidak satu atau dua tahun lagi untuk menikahi Reyna!" tutur Lena dengan geram.
Abiyu sebenarnya kurang setuju dengan kata-kata Lena. Abiyu mempunyai alasan kenapa dia harus menikahi Reyna saat itu. Namun, melihat karakter Lena yang keras dan merasa paling benar, akhirnya dia mengurungkan diri untuk mendebatnya demi menjaga hubungan baik antara Reyna dengan mertuanya, terlebih rasa hormatnya kepada nenek.
"Kamu itu ngomong apa, Lena? Sudah kamu istirahat saja selagi Reynand tidur. Biarkan aku yang berbicara dengan Abiyu," tutur nenek menyudahi suasana tegang dari menantunya itu dengan cucu menantunya.
Abiyu merasa lega ada nenek dipihaknya yang selalu mendukungnya sejak awal dia memperjuangkan Reyna, hingga saat ini. Nenek selalu sabar dan tenang dalam menghadapi persoalan yang membuatnya termotivasi untuk selalu sabar menghadapapi penolakan Reyna saat itu.
"Ya sudahlah terserah Mama saja. Yang jelas saya tidak akan diam saja jika itu menyangkut dengan kebahagiaan Reynand!" tutur Lena kemudian meniggalkan ruang tengah dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Nenek hanya bisa menghela napas beratnya sembari geleng-geleng kepala melihat sikap menantunya yang lebih mengacu pada keegoisan semata.
"Jangan diambil hati, ya, Nak Abi! Ucapan Lena barusan memang sedikit berlebihan. Anak itu adalah titipan yang di anugerahkan oleh Allah kepada kita. Semua itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Jika Allah menghendaki untuk mempercayakan anak kepada kalian kembali di waktu dekat, semua itu atas ijin Allah, dan karena Allah tahu bahwa kalian mampu. Banyak pasangan yang kurang beruntung karena belum juga dianugerahkan seorang anak, bahkan ketika sudah bertahun-tahun menikah, masa kita yang diberikan rezeki malah menolaknya."
__ADS_1
"Tinggal kita merawatnya dengan benar dan mendidiknya dengan baik, insyaallah anak itu akan mendatangkan keberkahan tersendiri bagi orang tuanya. Dan, harta yang paling berharga bagi orang tua itu adalah anak yang shalih, yang mampu menolong kita saat diakhirat nanti, karena doa seorang anak yang shalih mampu menghantarkan orang tuanya ke surga. Lantas mengapa banyak orang tua yang salah kaprah, menganggap kehadiran anak justru mendatangkan masalah, padahal mereka lah sumber pahala bagi orang tuanya," tutur nenek panjang lebar.
"Anda benar, Nek. Saya sepemikiran dengan anda. Terima kasih karena anda mampu memahami keadaan saya dengan baik," ucap Abiyu merasa senang karena nenek menyikapi keadaanya secara bijak.
"Sama-sama, Bi. Nenek akan selalu mendukungmu," ujar nenek sembari tersenyum.
"Oh, ya, Nek. Adakah foto-foto dan barang-barang yang bernilai history yang pernah dimiliki Reyna yang masih tersimpan di rumah ini?" tanya Abiyu berharap ada sesuatu yang berkesan yang pernah dimiliki Reyna sehingga dapat memunculkan kembali ingatan istrinya.
"Barang yang bernilai history?! Saya rasa ada, tapi tentunya itu barang yang menjadi kenangan Reyna dengan Rangga. Apa nak Abi tidak keberatan jika nanti Reyna kembali mengingat Rangga?" tanya nenek memastikan jika hal itu tidak akan mempengaruhi hubungan Reyna dan Abiyu.
"Saya rela jika Reyna mengingat lagi tentang kenangannya bersama Rangga, karena bagi saya masa lalu itu bukan untuk dilupakan apalagi untuk dihapus dari benak kita. Masa lalu itu cukup dikenang seperlunya, dan kita harus harus segera bangkit kembali melangkah ke depan untuk menuju masa depan yang lebih baik," tutur Abiyu menjawab kekhawatiran nenek. "Saya rasa kali ini Reyna akan lebih bijak untuk menyikapi masa lalunya," tambahnya.
"Benar Nak Abi. Hidup tanpa kenangan pasti cukup hampa bagi Reyna," tutur nenek kemudian bangkit berdiri. "Sebentar ya nenek akan mencarinya di gudang, waktu kalian sempat ke mari sebelum Reyna hilang aku menyimpan barang-barang Reyna di gudang," tutur nenek.
Abiyu juga merasa penasaran dengan barang-barang apa saja yang menjadi kenangan berharga istrinya. Mereka berdua kemudian beranjak pergi ke belakang menuju gudang.
Di saat itu Reyna membuka mata, mulai tersadar seusai pingsan. Ekor matanya mengitari seluruh sudut ruangan untuk melihat di mana saat ini dia berada.
Reyna merasa tidak asing dengan kamar yang saat ini di tempatinya. Namun, dia tidak memiliki ingatan yang pasti tentang kamar ini. Reyna beranjak turun dari tempat tidur, kemudian mendekat ke arah jendela saat mendengar suara gemiricik air.
Reyna membuka tirai dan nampaklah sebuah taman kecil dengan kolam ikan yang terdapat pancuran di sana, kemudian nampak sebuah gazebo di sana.
Pandangannya mengarah pada gazebo itu, seolah tidak asing dengan tempat itu, dia kemudian tertarik untuk mendatanginya.
__ADS_1
Reyna ke luar dari kamarnya kemudian menuju taman yang berada di samping kamarnya itu.
Belum juga sampai pada tujuannya, Reyna seperti melihat ada seorang wanita yang sedang berdiri diantara lilin-lilin yang di tempatkan di atas piring kecil yang di ausun bentuk hati yang mengitarinya, dan di tangannya membawa sebuah kue kecil, sembari bernyanyi. Wanita itu nampak riang gembira tatkala seorang laki-laki yang datang menghampiri.
"Happy birthday to you ... happy birthday day to you ... happy birthday to you ...."
Reyna berjalan mendekat ke arah mereka agar melihatnya lebih jelas. Di belakang wanita itu tergantung sebuah foto yang di susun di sebuah tali, nampak foto seseorang ketika masih bayi hingga dewasa.
"Rangga ...?!" pekik Reyna saat mengenali salah satu foto, yaitu foto Rangga sewaktu SMP.
Laki-laki berjalan mendekat ke arah sang wanita.
"Barakallah fii umrik, Rangga Putra Sanjaya. Semoga sehat selalu, semakin sukses, dan menjadi imam dunia akhirat buat aku. Aamiin," ujar wanita itu, kemudian sang pria memeluk erat wanita itu dengan sayang.
Seketika kepala Reyna kembali terasa berdenyut dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aaarrgh ...!" serunya saat melihat bayangan potongan-potongan peristiwa yang tidak jelas dari masa lalunya.
Abiyu dan nenek yang baru saja kembali dari gudang terkejut melihat Reyna berdiri di lorong menuju gazebo.
Abiyu segera menurunkan kardus yang di bawanya dari gudang tadi di atas lantai, dan setengah berlari ke arah istrinya yang terlihat seperti sedang menahan sakit.
Abiyu segera menangkap tubuh istrinya itu saat menduga terjadi sesuatu dengan ingatan istrinya. Sebab, dikhawatirkan, Reyna akan kembali tidak sadarkan diri.
__ADS_1
...__________________Ney-nna_________________...