Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahu Mira dari belakang. Mira tersentak kaget karena hal itu. Lantas Mira segera menoleh ke belakangnya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat Gina dan Sesha berada di Cafe yang sama dengannya saat ini.


"Ya ampun jadi beneran, Mbak Mira. Aku tadi takut kalau salah orang, ternyata beneran, Mbak Mira!" tutur Gina sembari tertawa senang menemukan Mira berada di tempat yang sama, terlebih sedang duduk berdua bersama laki-laki yang dulu dikenal sebagai mantan pacar bosnya itu.


"Ka-kalian di sini juga?!" ujar Mira dengan gugup, seolah tertangkap basah sedang kencan dengan pacar.


Astaghfirullah! Kenapa bisa ketemu mereka di sini! Apalagi aku lagi sama Jona. Pasti mereka bakalan mengira yang bukan-bukan nih! gumam Mira di dalam hatim.


"Iya, Mbak. Kita tadi di atas," tutur Sesha menjawabnya.


Gina membungkukkan badan, kemudian berbisik di telinga Mira. "Mbak Mira, CLBK yah, sama Mas Jonathan?" tanya Gina lirih yang penasaran ingin tahu.


Mira menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan itu.


"Kalian udah selesai makan?" tanya Mira menelisik.


"Sudah, Mbak. Kan tadi meskipun macet kita naik motor, jadi bisa lewat gang tikus untuk mempersingkat waktu. Nih uda selesai makan, kita tadinya mau pulang. Tapi saat bertemu sama Mbak Mira aku jadi pengen pulangnya agak nanti-nanti. Kayaknya asyik nih, ya nongkrong dulu di sini gabung sama Mbak Mira," tutur Gina membuat Mira semakin terkejut dibuatnya.


"Eh ... kamu jangan egois gitu dong, Gin. Tuh Sasha musti buru-buru pulang, takut dicariin Mamanya. Ya kan Sha?!" ujar Mira berpendapat.


"Enggak, kok, Mbk! Kan aku tinggal di sini kos. Orang tua aku sih di kampung," kilah Sesha.


Mendapati jawaban dari Sesha membuat Mira memegangi pelipis kepalanya yang terasa berdenyut.


"Ya udah kalau gitu gabung aja!" tutur Mira akhirnya.


Jonathan yang berada di depan Mira terlihat terkejut mendengar kata-kata Mira, barusan. Jika ada mereka, tentu saja Jona menjadi sungkan untuk mengatakan apa yang ingin di sampaikan kepada Mira.


"Mas Jona keberatan, nggak? Kita ikut gabung? tanya Gina memastikan.


Jonathan sebenarnya keberatan, namun akhirnya dia mengijinkan juga. "Boleh, kok. Silakan ...."


Sesha yang tadinya mau duduk di samping Mira langsung di cegah oleh Gina.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Sha! Aku baru ingat kalau aku ada janji sama seseorang sore ini. Nggak jadi ya, Mbak, Mas. Kita pamit pulang duluan ya, Mbak!?"


Gina menarik tangan Sesha untuk mengikutinya.


"Dadah ...," ucap Gina yang berdada-dadah sembari beranjak pergi.


Sesampainya di luar, Gina tertawa terbahak-bahak menertawakan Sesha.


"Ya ampun, Sha. Kamu tuh polos banget deh! Tadi itu aku cuma mau ngerjain Mbak Mira tauk!" tutur Mira sembari terus tertawa. "Mas Juna bilng boleh tapi mukanya masam, kan sama saja sebenarnya dia tidak rela kita ikut gabung!" tambahnya.


"Iya sih , Mbak. Tadi aku lihat perubahan wajah dari mereka. Mbak Mira kaya malu-malu gitu, sedangkan mas Jonathan kaya yang kaget dan enggan kita gabung," ujar Sesha.


"Ya udah yuk pulang! Mungkin mereka mau berbicara serius, kita tunggu saja kabar baiknya. Semoga mbak Mira bisa mengambil keputusan dengan baik. setelah dua kali di kecewakan," tutur Gina dengan bijak.


"Weys, Mbak Gina bijak sekali," Tutur Sesha yang akhirnya memuji Gina.


"Sebenarnya meskipun aku jahil kaya tadi, tapi aku juga peduli sama mbak Mira. Kasihan berkali-kali di kecewakan," ujar Gina sembari menaiki motornya.


Kembali ke suasana di dalam cafe.


"Maaf ya Jo, aku nggak tahu kalau mereka juga mau ke sini!" tutur Mira merasa tidak enak.


"Permisi pesanan datang. Satu lemon squash dan satu Frappuccino. Silakan menikmati!" ujar seorang waitress mengantarkan pesanan.


"Terima kasih, Mbak," ujar Mira sembari tersenyum.


"Sama-sama," ujar seorang waitress sembari berlalu


"Diminum dulu, Ra!" ujar Jonathan.


Mira mengangguk kemudian meminum minumannya.


"Aku lanjutkan yang sempat terpotong tadi ya, Ra?" tanya Jonathan.


"Iya, Silakan," ujar Mira sembari menengadahkan satu telapak tangannya ke depan.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya Dhewi itu tidak mengandung anakku," tutur Jonathan.


"Apa ...!" Mira memandang ke arah jonathan sembari membelalakkan mata.


"Iya, Ra. AKu tertipu oleh Dhewi dan bosku," ungkap Jonathan.


"Kamu nggak mengada-ada kan, Jo?" ujar Mira menyelidik.


"Sumpah, Ra. Yang aku bicarakan semua ini adaah yang sebenarnya. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanyakan ha ini, sama mamaku!" ujar Jonathan dengan sungguh-sungguh.


"Okey, lanjutkan!" titah Mira.


"Jadi, saat itu mamaku sedang mengantar Dhewi kuret ke dokter kandungan. Dhewi mengalami keguguran. Mama shock saat dokter mengatakan janinnya sudah berusia empat bula, padahal kejadian di malam itu baru tiga buan berlangsung. Akhirnya mama mendesak kepada Dhewi untuk mengatakan yang sesungguhnya. Dhewi ternyata hamil karena diperkosa oleh bosku di kantor," tutur Jonathan menceritakan kejadian di masa lampau.


"Innalillahi!" pekik Mira. "Tapi kenapa dia harus berbohong dan meminta pertanggung jawaban ke kamu, Jo?" tanya MIra yang tidak mengerti.


"Dhewi dan bosku menjebak ku di malam itu, agar aku menikahi Dhewi dan ada yang bertanggung jawab atas kehamilan Dhewi. Karena, bosku tidak mungkin bertanggung jawab karena dia tidak ingin istrinya tahu tentang perbuatannya," tutur Jonathan mengungkap kebusukan bosnya.


"Jadi dengan menjebak mu, dia ingin melimpahkan tugas tanggung jawabnya kepadamu begitu?" Mira mencoba menyimpulkan.


"Benar. Dia menyuruh Dhewi untuk memilih salah satu karyawannya untuk bertanggung jawab kepadanya, dengan cara menjebak, kemudian dia akan terus memberikan tunjangan kepada Dhewi dan tetap memperkerjakan Dhewi di sana. Dan di malam itu sebenarnya bosku yang teah merencanakan untuk mengirim aku bersama dengan Dhewi untuk melakukan perjalanan dinas berdua, kemudian meminta Dhewi untuk meakukan rencananya. Yang jelas aku dan Dhewi tidak sampai berhubungan badan ...," Jonathan menjeda kata-katanya.


"Dhewi memasukkan obat tidur di minumanku, kemudian ketika aku tertidur dia melucuti semua pakaianku dan pakaiannya, sehingga ketika aku bangun terlihat seolah-olah kami telah usai melakukan hubungan badan sebelumnya," ungkap Jonathan panjang lebar.


Mira terlihat sangat terkejut dan membelalakkan mata dengan menutup mulutnya yang terbuka.


"Benar seperti itu?" tanya Mira lagi seolah ha itu suit di percaya.


"Aku sebenarnya curiga sama Dhewi saat dia bilang akan mengatakan yang sebenarnya sama kamu. Dan melihat ekspresi dari wajahmu aku yakin Dhewi tidak mengatakan yang sesungguhnya. Bahkan Dhewi mengatakan jika kamu sudah punya pacar dan tidak mau bertemu denganku lagi. Karena itu lah aku ragu untuk menyapamu saat kita bertemu di minimarket itu," tutur Jonathan mengungkapkan segalanya.


Mira nampak shock mengetahui hal itu. Dia tidak menyangka jika Dhewi akan membohonginya tentang ha ini.


Mira menopang kepalanya dengan kedua tangannya sembari memijit pelipisnya, dia sungguh tak menyangka jika Dhewi lagi-lagi menipunya.


"Saat itu Dhewi mengatakan kamu masih mencintaiku, tapi saat melihat kamu malah berbalik arah saat kita bertemu, tentu aku mengira Dhewi berbohong. Apa dia sengaja membuat kita salah paham?" ujar Mira dengan dugaannya.

__ADS_1


"Iya, sepertinya dia tidak ingin kita berbaikan kembali," tutur Jonathan. "Mira, aku masih mencintaimu hingga saat ini ... maukah kamu menikah denganku?" ujar Jonathan dengan tatapan penuh harap terhadap wanita yang berada di hadapannya itu.


...__________________Ney-nna__________________...


__ADS_2