
Malam itu Reyna merasa resah, dia terus memikirkan perkataan Lala. Seusai makan malam Lala mencoba menceritakan masa lalu Reyna, namun Reyna semakin bingung karena tidak sama dengan yang Cindy katakan kepadanya. Sekuat tenaga dia mencoba mengingat apa yang dikatakan Lala, namun tetap tidak bisa. Semakin dipaksa, justru kepalanya semakin sakit. Derai air mata meluncur begitu, saat dia merasa sedih karena tidak bisa memunculkan ingatan masa lalunya.
Malam itu bu Salamah tidak mengijinkan Lala untuk bertemu dengan Reyna lagi saat keadaan Reyna semakin down. Bu Salamah menghubungi dr.Arif untuk datang ke ponpes agar memeriksa keadaan Reyna. Seusai diberikan suntikan, akhirnya Reyna dapat tertidur dengan tenang.
Untuk sementara waktu dr. Arif meminta bagi siapa pun yang bertemu dengan Reyna agar tidak membahas masa lalunya terlebih dahulu. Hal itu bertujuan agar Reyna tidak kembali stress. Sebab, jika Reyna mengalami stress kembali, dikhawatirkan akan mempengaruhi keadaan janinnya.
"Bu, memangnya siapa orang di masa lalu Reyna yang datang?" tanya dr.Arif kepada bu Salamah.
"Ada seorang santri yang mengenali Reyna, Dok. Dia mengatakan jika sebelumnya Reyna tinggal di Yogyakarta bersama suami dan anaknya. Dan, suatu hari Reyna tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Namun, dari seorang perempuan yang lain yang mengaku teman Reyna selama berada di Solo, mengatakan jika sebelumnya Reyna tinggal di Jakarta bersama suaminya dan sesekali datang ke Solo ke rumah mertuanya, namun kabarnya suami Reyna telah meninggal. Kedua laki-laki yang disebutkan sebagai suami Reyna adalah orang yang berbeda namanya. Sehingga hal itu membuat Reyna semakin bingung dan shock akan masa lalunya," tutur bu Salamah panjang lebar.
Arif terkesiap mendengar hal itu. Itu artinya bisa jadi Reyna akan segera kembali kepada keluarganya yang sesungguhnya.
"Bu, jika saya boleh menyarankan, sebaiknya pihak pondok pesantren lebih berhati-hati lagi tentang hal itu, karena bisa jadi salah satu dari mereka adalah pihak musuh yang mengaku-ngaku sebagai keluarganya padahal mereka adalah musuh yang ingin mencelakai Reyna kembali," tutur dr.Arif memperingatkan.
Bu Salamah terdiam dan mulai berpikir tentang hal itu. "Baik, Dok saya akan memeritahukan hal ini kepada ustadz Maulana."
"Baiklah, karena sudah larut malam saya mohon pamit. Jika Reyna mengalami sakit di kepalanya kambuh lagi, tolong segera kabari saya, ya, Bu?" tutur dr.Arif sembari beranjak dari duduknya.
"Baik,Dok. Terima kasih atas bantuannya ...."
"Sama-sama, Bu. Assalamu'alaikum," ucap dr.Arif berpamitan pulang.
"Wa'alaikumussalam."
****
__ADS_1
#Di kediaman Dimas.
Seusai sarapan Dimas masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap pergi bekerja.
"Mas, aku diminta datang ke pesantren terkait dengan pembahasan tentang masa lalu Reyna," tutur Cindy dengan maksud meminta ijin kepada suaminya.
"Terus si kembar bagaimana?" tanya Dimas sembari memakai arloji di tangannya.
"Gimana ya, Mas? Aku tinggal atau aku bawa?" tanya Cindy yang merasa bingung meminta pendapat suaminya.
"Titipkan saja mereka kepada ibu dan Desy, daripada nanti kamu bawa justru akan semakin repot dan mereka tidak nyaman untuk tidur siang. Tapi, perginya juga jangan lama-lama. Dua jam tidak boleh lebih!" tutur Dimas kepada istrinya.
"Iya, Mas. Insyaallah aku akan segera pulang. terima kasih ya, Mas. Sudah mengijinkan aku pergi?" tutur Cindy sembari memeluk suaminya dari belakang.
"Eh, kok dianter Pak Bejo sih, Mas. Aku naik motor sajalah, Mas!" pinta Cindy kepada suaminya.
"Pilih aku ijinkan pergi dengan dianter Bejo, apa di rumah saja menjaga anak-anak?" tutur Dimas yang tidak mengijinkan Cindy pergi dengan mengendarai motor.
"Memangnya kenapa sih Mas, gak boleh naik motor?" tanya Cindy sembari mengurai pelukannya dari punggung suaminya.
"Aku gak akan ijinkan kalau kamu pergi sendirian!" tutur Dimas yang tidak bisa di sanggah.
"Ihh, Mas Dimas ihh, dulu juga aku ke sana ke mari sendirian naik motor gak apa-apa, kan? Lagian kalau naik motor itu bisa menghemat waktu lhoh, Mas!" Cindy membujuk dengan menusuk-nusuk kan jari di bagian punggung bagian bawah suaminya, berharap Dimas luluh.
Dimas mengernyitkan dahi sembari menahan geli akibat ulah istrinya itu. Dimas menekuk bibirnya masuk ke dalam, sembari menahan tawa. Dengan cepat Dimas berbalik saat tak kuasa menahannya.
__ADS_1
"Enggak, aku gak mau terjadi sesuatu kalau kamu naik motor sendirian. Apalagi jika nanti kamu ngebut gara-gara terburu-buru, kebanyakan kalau sudah begitu naik motor suka asal ngegas, tapi panik saat menemui sesuatu yang mendadak hingga mengalami kecelakaan," tutur Dimas beralasan agar Cindy tidak naik motor.
Cindy mengerucutkan bibir sembari menunduk. Cindy kesal karena semenjak menikah dengan Dimas, dia tidak diijinkan naik motor jika bepergian jauh. Dimas tidak pernah mengatakan alasan yang jelas. Namun, Cindy menduga, suaminya melakukan itu akibat kecelakaan yang menimpa Shila hingga meninggal dunia. Dimas tidak ingin hal serupa terulang kembali kepada Cindy.
Dimas bahkan memasang GPS di mobilnya. Dengan tujuan, dia bisa terus memantau keberadaan istrinya ketika bepergian. Hal itu semata-mata untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Terutama karena cintanya terhadap sang istri.
"Ya sudah ... okey aku pergi sama Pak Bejo!" ujar Cindy yang akhirnya mematuhi perintah suaminya.
Dimas kemudian merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Alhamdulillah, istri salehah!" ucap Dimas sembari mengecup pucuk kepala istrinya sembari tersenyum senang.
****
Kembali ke pondok pesantren, Pagi itu Fadhil mengumpulkan Abiyu, Lala dan Cindy untuk bertemu membahas tentang Reyna. Tia dan bu Salamah turut hadir di sana sebagai saksi.
Cindy menceritakan apa yang diketahuinya tentang Reyna selama dia mengenalnya. Dan Cindy mengatakan jika tidak mengenal Abiyu maupun Lala, sehingga meskipun Abiyu sudah menceritakan tentang kehidupan Reyna setelah Rangga meninggal dan menikah dengannya, Cindy dan yang lainnya tidak serta merta langsung mempercayainya dengan mudah. Bahkan meskipun Abiyu sudah menunjukkan foto saat acara akad nikahnya dengan Reyna.
"Maaf, meskipun benar anda suaminya, lantas apa anda bisa membuktikan jika hubungan anda dengan Reyna terjalin dengan baik selama pernikahan kalian?" tanya Fadhil mewakili yang lain untuk lebih meyakinkan jika rumah tangga mereka tidak bermasalah.
"Sebentar, anda tadi mengatakan jika anda mengenal ibu mertua Reyna bukan? Saya akan menelepon tante Lena agar anda bisa menanyakan langsung kepada beliau mengenai kebenaran pernikahan saya dengan Reyna, dan hubungan kami baik-baik saja sebelum Reyna hilang!" tutur Abiyu kemudian mendial nama Lena di handphonenya dan segera melakukan panggilan.
Sudah berulang kali Abiyu melakukan sambungan kepada maminya Rangga, namun tidak ada jawaban sama sekali. Abiyu terdiam sejenak sembari menghembuskan napasnya berusaha untuk sabar dan berpikir untuk mencari jalan ke luar.
___________________Ney-nna__________________
__ADS_1