
Seusai melaksanakan salat maghrib berjamaah di masjid, Abiyu masuk ke dalam kamar dan melihat Reyna tengah menyelesaikan salatnya. Abiyu melihat istrinya tersenyum ke arahnya, sembari melipat mukenanya. Kemudian Reyna beranjak berdiri dan mengulurkan tangan ke hadapan Abiyu untuk mencium punggung tangan suaminya.
"Mau makan sekarang, Kak?" tanya Reyna sembari memakai hijab instant.
"Boleh!" jawab Abiyu sembari menarik tangan Reyna agar mendekat ke arahnya.
Abiyu melingkarkan tangannya memeluk perut istrinya, kemudian mencium perut istrinya yang membuncit dengan penuh sayang.
"Apa mengandung itu rasanya tidak nyaman, Sayang?" tanya Abiyu.
"Kenapa Kak Abi tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Reyna.
"Aku pernah melihat seorang wanita yang sedang hamil besar, wanita itu melangkah dengan pelan-pelan sambil berpegangan saat menaiki tangga, seolah membawa berat, dan aku ngelihatnya tidak nyaman," tutur Abiyu mengungkapkan apa yang dilihatnya.
"Emm ... bagaimana ya, Kak. Kalau Reyna sih, alhamdulillah Allah memberi kemudahan. Meskipun Reyna dibuang di hutan, Allah masih melindungi hingga aku tidak merasakan keluhan yang terlalu berat seperti beberapa orang."
"Katanya ada yang mengalami muntah-muntah terus, hingga tidak bisa makan. Alhamdulillah Reyna hanya sesekali merasakan mual di kala pagi saja saat bangun tidur, itu pun di awal-awal dan katanya wajar morning sickness begitu."
"Semakin ke sini lebih nyaman. Hanya terkadang aku merasa agak pusing, dulu sempat mengalami HB (Hemoglobin) ku cukup rendah juga, Untung ada bu Salamah yang perhatian yang ngasih aku banyak sayuran hijau, dibuatkan jus buah bit, sup kacang merah ... sampai akhirnya kembali normal," tutur Reyna panjang lebar.
"Maaf aku tidak bisa menemanimu di saat-saat tersulitmu, Sayang!" tutur Abiyu sendu.
"Allah mempermudah kehamilanku, pasti juga karena Kak Abi selalu mendoakan aku, bukan? Alhamdulillah aku mempunyai suami yang shalih dan sangat pengertian. Sesungguhnya, aku merasa beruntung, karena Allah telah menjawab doa-doaku saat masih di pesantren," tutur Reyna merasa senang.
"Apa doanya sayang?" tanya Abiyu penasaran.
"Saat masih berada di rumah sakit, aku aku mendengar beberapa orang berasumsi jika aku adalah pelakor, wanita malam, pokoknya yang jelek-jelek karena aku dibuang di hutan dan dalam keadaan hamil."
"Dari situ aku merasa terdzolimi, dan aku terus berdoa kepada Allah, semoga perkataan orang tentang aku itu tidak benar. Aku berdoa supaya Allah memberikan aku keluarga yang baik dan menyayangiku. Akhirnya semua terjawab saat Aku bertemu dengan Kak Abi. Dari pertama bertemu Kak Abi aku sudah memiliki firasat jika Kak Abi itu adalah orang yang baik, Buktinya kak Abi mau mengganti kerugian bahkan berlipat-lipat nilainya dibanding satu gelas yang pecah."
"Yang kedua ketika Kak Abi memberiku tumpangan untuk menuju ke klinik, aku semakin merasa kagum dengan Kak Abi. Makanya sewaktu aku dipertemukan dengan Kak Abi, jika Kak abi adalah suamiku, aku merasa sangat bersyukur sekali. Aku seolah mendapat jawaban dari setiap doa-doa yang aku panjatkan. Yaitu memiliki suami yang shalih dan pengertian," tutur Reyna sembari mencakup wajah suaminya dengan kedua tangannya sembari menunduk memandang lekat ke arah suaminya.
Mendengar Reyna mengatakan jika mengagumi Abiyu sedari awal, membuat Abiyu merasa sangat senang.
__ADS_1
Dan setelah Reyna mengatakan hal itu, Abiyu seolah menangkap sebuah makna yang tersirat dari tatapan mata istrinya, seolah mengungkapkan jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Karena cinta hadir diantara keduanya.
Melihat bibir tipis ranum milik istrinya berada tepat di hadapannya, Abiyu menarik tengkuk leher sang istri hingga bibir meraka bertemu.
Abiyu tidak cukup dengan mengecupnya saja, namun juga menginginkan berlama-lama menikmati manisnya bibir istrinya yang lembut dan seolah menjadi candu baginya.
Tok tok tok.
Sebuah ketukan di pintu membuat aktivitas mereka terhenti. Dengan berat hati Abiyu melepaskan pagutannya pada bibir sang istri.
Reyna tersenyum tatkala melihat wajah suaminya menjadi muram.
"Reyna ...," terdengar seperti suara bunda memanggil dari luar.
"Iya, Bun. Sebentar!" jawab Reyna dari dalam kamar.
"Tuh dipanggil, Bunda, Kak!" tutur Reyna dengan setengah berbisik kepada Abiyu.
"Ahh, Bunda suka tepat waktu datangnya," ujar Abiyu kemudian beranjak berdiri menuju pintu dan Reyna mengikutinya dari belakang.
"Baru aja, Bi. Katanya kamu mau ketemu sama pak Reza ... jadi Bunda sengaja pulang lebih cepat supaya bisa menemani Reyna di rumah," tutur bunda menjelaskan. "Kalian sudah makan malam?" tanya bunda.
"Belum, Bun. Ini baru mau turun," kilah Abiyu.
"Oh, ya sudah. Ayo Reyn, Bunda bawakan rendang lhoh, kamu pasti suka," tutur bunda sembari mengajak Reyna untuk turun bersama.
Reyna melewati suaminya seraya mengulas senyum, kemudian mensejajari langkah bunda untuk turun ke bawah menuju meja makan.
"Hai, Kak Reyna," sapa Fely yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
"Hai, Fe! Terima kasih ya dessert boxnya enak banget," ujar Reyna sembari duduk di meja makan.
"Terima kasih Mbak, pujiannya. Makanya Mbak Reyna tinggal di sini aja, nanti aku buatkan terus setiap hari," tutur Fely yang bersemangat karena kehadiran Reyna dan kakaknya di rumah ini membuat suasana rumah menjadi rame.
__ADS_1
"Eh, tapi ya jangan setiap hari deh Reyn, harus kamu batasi juga itu. Jika terlalu banyak makan manis nanti bayinya kegemukan di dalam. Dan, itu mengakibatkan lahirannya susah karena badannya terlalu besar, lebih baik gemuknya kalau sudah berada di luar," tutur bunda menjelaskan.
"Oh, iya. Terima kasih, sudah diingatkan, Bun. Dokter juga pernah bilang tentang hal itu. Kedepannya, Reyna akan berusaha untuk menjaga pola makan," tutur Reyna senang mendapat perhatian dari ibu mertuanya itu.
Kebaikan bunda mengingatkan Reyna kepada, maminya Rangga. Dia penasaran, seperti apa kehidupannya yang dulu bersama Rangga dan bagaimana hubungannya dengan mami dan papinya Rangga. Apa juga sebaik ini.
Seusai makan malam bersama, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah untuk sekedar melihat televisi atau mengobrol bersama.
"Ingat ya, Reyn, Bi, Fe. Bagi sebuah keluarga itu yang paling berkesan adalah qualiti time, kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga. Contohnya seperti makan bersama dalam satu meja, terus kaya gini ini menonton televisi bersama. Ketika anak-anak mulai dewasa dan berumah tangga masing-masing, pasti yang dirindukan adalah waktu kebersamaan seperti sekarang ini," tutur bunda memberi wejangan kepada anak-anaknya.
"Iya, sih. Bunda benar! Abiyu juga berasa kangen dengan momen kebersamaan seperti ini di saat tinggal di Yogya jauh dari Bunda. Rasanya pulang ke rumah dan bertemu bunda itu bagai menemukan kembali sandaran dalam hidup," tutur Abiyu.
"Sayangnya Reyna sudah tidak bisa bertemu dengan ayah dan ibu," tutur Reyna dengan sendu.
"Ouh, Sayang. Bunda kan ibu kamu juga. Sini nak Bunda peluk!" tutur bunda kemudian merengkuh Reyna ke dalam pelukannya.
Reyna menjadi terharu berada di dalam pelukan Bunda Maya dan menumpahkan kerinduannya terhadap orang tuanya yang sudah ada kepada bunda.
Melihat hal itu, Abiyu dan Fely turut merasa sedih, mereka ikut memeluk Reyna yang sedang berpelukan dengan bunda. Jadilah momen itu menjadi momen yang mengharukan.
Seusai salat isya' Abiyu berpamitan kepada istrinya untuk bertemu dengan Reza di sebuah cafe, untuk membicarakan tentang hak asuh Reynand.
"Kak, hati-hati, ya!" ujar Reyna melepas. kepergian sang suami. "Semoga papi bisa membantu kita," tutur Reyna lagi
"Iya, Sayang. Aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum!" tutur Abiyu kemudian mencium kening istrinya.
"Wa'alaikumussalam."
Abiyu beranjak masuk ke dalam mobilnya, kemudian menoleh kepada sang istri sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Kamu masuk dulu, Sayang!" perintah Abiyu yang memastikan istrinya kembali ke dalam rumah.
Setelah Reyna berjalan masuk Abiyu segera meninggalkan pelataran rumah dan melaju menuju jalanan.
__ADS_1
..._____________Ney-nna______________...