
Pagi harinya Maura bangun kesiangan, sebab ketika malamnya dia tidak bisa tidur saat pertama kali menempati kamarnya. Maura merasa lapar, hingga langkahnya menuntunnya untuk menuju ke ruang makan. Ternyata Raka dan mamanya sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama.
"Maaf, Tante. Maura bangun kesiangan, tadi malam Maura sulit memejamkan mata dan tidur menjelang subuh," tutur Maura kepada mamanya Raka.
"Maura kenapa masih panggil tante? panggil Mama saja seperti Raka! kan kamu sudah menjadi istri Raka, kami adalah keluargamu mulai sekarang," tutur Rahma mengingatkan agar Maura lebih nyaman tinggal di antara mereka.
"Emm ... baik, Ma!" ucap Maura dengan hati-hati sebab belum terbiasa.
"Maura, kamu kalau ada sesuatu yang dibutuhkan, atau ada yang ingin di bantu bilang sama Mama atau sama Raka, ya? Mama akan sebisa mungkin membantu semampu Mama," tutur Rahma dengan lembut.
"Baik, Ma," tutur Maura sembari tersenyum kepada mama mertuanya.
Di hari pertama, Maura nampak canggung berada di rumah Rahma. Sebab, semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Rahma seorang diri. Mulai dari memasak membersihkan rumah dan mencuci pakaiannya sendiri, meskipun mencuci dengan mesin cuci, tapi sebelumnya Maura tidak pernah melakukan hal itu saat di rumhnya. Dia terbiasa dilayani dan semua sudah tersedia. Pekerjaan rumah dilakukan oleh pembantunya.
"Ma, maaf Maura tidak pernah melakukan pekerjaan rumah sebelumnya. Kedepannya, bisakah Maura meminta tolong untuk mengajari Maura memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya?" tanya Maura sungguh-sungguh, saat Raka sudah kembali ke kamarnya dan hanya menyisakan mereka berdua di dapur.
"Tentu, Maura. Tapi Mama tidak akan memaksamu untuk melakukan pekerjaan rumah lhoh, Mama sudah terbiasa sedari kecil di didik mandiri oleh orang tua Mama yang hidupnya hanya sederhana, jadi maaf jika Mama tidak bisa memberikan kenyamanan seperti saat kamu berada di rumahmu," tutur Rahma pengertian dengan kondisi Maura yang terbiasa hidup serba kecukupan.
"Justru melihat Mama melakukan semua sendiri, Maura tergugah ingin belajar mandiri. Mama terlihat seperti wanita yang kuat, tangguh dan wanita yang hebat. Bukankah Mama tinggal bilang saja kepada Raka dan semua pasti akan terpenuhi, tapi Mama malah memilih melakukan semua hal itu sendiri," ujar Maura mengungkapkan kekagumannya kepada ibu mertuanya.
"Maura, semua yang dimiliki Raka itu fasilitas dari kakeknya, Mama ini tidak termasuk dalam anggota keluarga kakeknya. Sudahlah jangan dibahas lagi tentang hal itu, Mama sudah cukup bahagia bisa melihat Raka tumbuh dengan baik seperti sekarang," pangkas Rahma yang tidak ingin larut dalam kesedihan meratapi nasibnya.
"Maaf Maura pasti sudah mengingatkan hal yang membuat Mama kembali merasa sedih!" tutur Maura dengan sendu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Maura. Mama sudah kebal dengan hal itu. Oh ya, sudah berapa bulan usia kandungan mu?" tanya Rahma sembari melirik ke arah perut Maura yang masih rata, belum terlihat jika dia hamil.
"Sudah tiga bulan, Ma. Dia masih sangat kecil!" tutur Maura sembari mengusap perutnya dengan lembut.
"Jaga baik-baik ya, Maura, usia janinnya juga masih rawan. Apa kamu sering mual-mual?" tanya Rahma.
"Em , tidak Ma. Beruntungnya Maura merasa kandungan ini begitu kuat dan sehat," tutur Maura sembari tersenyum.
"Alhamdulillah, semoga sehat hingga lahiran nanti!" tutur Rahma.
Beberapa hari berlalu dan Maura sudah mulai terbiasa bangun pagi untuk membantu Rahma membersihkan rumah dan membantu memasak.
"Raka, gimana masakannya?" tanya Rahma pada putranya.
"Tapi, kali ini bukan Mama yang memasak, tapi Maura," ungkap Rahma yang merasa senang dengan kesungguhan Maura untuk belajar memasak hingga berhasil menghasilkan masakan yang cukup enak.
"Oh, selamat Maura, masakan kamu lumayan enak!" tutur Raka mencoba memberi penilaian.
"Hanya lumayan, yah? hehehe ..., terima kasih, Raka. Aku akan berusaha lebih giat lagi untuk belajar memasak sama Mama untuk membuat masakan yang lainnya lagi untukmu," tutur Maura dengan semangat mencoba untuk memberikan yang terbaik bagi Raka.
Raka hanya tersenyum menanggapi, ada rasa senang saat mengetahui perubahan dari diri Maura yang semakin membaik dari hari ke hari.
Atas desakan dari mamanya, Raka berusaha mencoba untuk memenuhi keinginan ngidam Maura yang ingin makan sesuatu di waktu-waktu tertentu. Maura pun merasa senang akan perhatian Raka kepadanya. Maura bersyukur bisa menikah dengan Raka, sebab Raka adalah laki-laki yang baik.
__ADS_1
Raka pun kini tengah berusaha berjuang agar perusahaan milik keluarga Maura kembali membaik. Hingga pihak investor mulai percaya untuk menanamkan modal mereka kembali ke perusahaan keluarga Maura. Tentu saja hal itu tidak luput dari pertentangan dengan Elvan yang murka saat mengetahui Maura menikah dengan Raka.
Namun, berkat nama besar kakeknya yang cukup tersohor sebagai seorang enterpreneur sukses, Elvan pun akhirnya memilih diam untuk sejenak dan menyusun rencana terlebih dahulu.
****
Hari-hari terlewati dan Maura sudah mulai terbiasa dengan hadirnya Raka dan mama Rahma dalam kehidupannya. Sesekali Raka mengantarkan Maura periksa ke dokter dan pergi berbelanja bulanan.
Maura yang tidak bisa membaca Al-Qur'an selalu menyempatkan waktunya untuk belajar membaca iqro' bersama Raka seusai salat maghrib. Alhasil keduanya semakin dekat. Benih-benih Cinta mulai tumbuh di hati Maura.
Maura mengagumi sosok Raka yang diam-diam telah mengisi relung hatinya. Seperti pepatah orang jawa 'tresno jalaran soko kulino' yaitu cinta datang dari kebiasaan. Hampir setiap hari melihat Raka dan berinteraksi dengannya membuat Maura semakin jatuh hati pada Raka. Sosok pahlawan dalam hidupnya. Dan Maura menulis kisahnya di sebuah buku diary sebagai tempat curhatnya tanpa berani mengatakan yang sesungguhnya dia rasakan kepada Raka.
Waktu berjalan dengan cepat minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Tepatnya sudah empat bulan usia pernikahan mereka. Perut Maura sudah terlihat membuncit saat kandungannya memasuki tujuh bulan. Maura benar-benar menikmati tinggal di keluarga ini, karena dia merasa mendapatkan ketenangan hati meskipun kehidupan mereka cukup sederhana. Maura mendapatkan banyak hal dari mama Raka dan juga Raka sendiri.
****
Di tempat lain Fely tengah menjalani ta'aruf dengan seorang laki-laki yang dikenalnya saat mengambil S2. Semenjak dicampakkan dari Raka Fely memilih untuk mengelola Resto sembari mengambil S2 di salah satu universitas di Yogyakarta. Siapa sangka jika hal itu akhirnya mempertemukannya dengan salah seorang dosen yang cukup terkenal karena kepiawaiannya dan juga ketampanannya. Dosen muda yang digandrungi kebanyakan mahasiswi itu justru jatuh hati kepada Fely.
Namanya Nabil, seorang dosen muda yang rupawan dan sangat berkharisma. Namun, terkenal dingin pada mahasiswinya. Semua itu dilakukan demi menjaga prinsipnya sebagai seorang muslim yang taat. Dia tidak suka ada mahasiswinya yang kegenitan padanya. Padahal cukup banyak yang menaruh hati padanya.
Satu peristiwa membuatnya terlibat langsung dengan Fely, hingga tak butuh waktu yang lama, tiba-tiba saja dia datang ke rumah dan mengungangkapn keinginannya untuk berta'aruf dengan Fely kepada Abiyu.
..._________Ney-nna_________...
__ADS_1