Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Ingatan Reyna


__ADS_3

Waktu terus berjalan meski separuh jiwaku pergi. Mentari tetap bersinar meski hatiku tetap meredup. Rintik hujan tetap membasahi meski hatiku gersang. Kau pergi begitu saja tanpa jejak yang pasti.


Abiyu merasa hari-harinya hampa. Baru sekejap dia medapatkan cinta yang tlah tersimpan di dalam hatinya sejak lama. Baru saja dia merasa indahnya membina rumah tangga meskipun penantiannya cukup panjang dan melelahkan. Baru saja dia mencecap indahnya dicintai oleh kekasih hati. Namun, tiba-tiba saja sosoknya menghilang bak ditelan bumi.


Di sepertiga malam Abiyu tak putus-putusnya duduk bersimpuh di atas sajadah yang tergelar demi menghadap sang Ilahi Robbi. Tekadnya untuk memohon ampun atas kekhilafannya sebagai hamba-Nya yang berlumur dosa. Dipanjatkannya do'a untuk memohon petunjuk akan keberadaan istrinya.


Segala ikhtiar telah dilakukan demi mencari sang istri. Namun, hingga bulan berganti bulan Reyna tidak ditemukan keberadaannya. dia tidak menyerah meskipun polisi telah menghentikan pencarian. Abiyu masih berkeyakinan jika istrinya itu masih hidup.


Abiyu semakin hampa tatkala Lena bersikeras untuk mengambil alih hak asuh Reynand. Padahal Abiyu menyayangi anak itu selayaknya anaknya sendiri. Sejak pindah ke Yogyakarta, Abiyu telah mencurahkan kasih sayangnya kepada anak itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Reyna. Dan ketika sudah menikah dengan Reyna, ikatan yang terjalin dengan anak itu semakin kuat. Anak itulah yang membuatnya tetap kuat menjalani hari-harinya, sembari menanti kabar dari keberadaan Reyna.


Tapi, kini dia harus merelakan ketika kakek dan nenek kandung Reynand meminta hak asuh atas anak tirinya itu. Dia bukan ayah kandungnya, yang memiliki hak untuk menahan anak itu agar tetap tinggal. Sekuat apapun dia melawan Reynand tetap bukan darah dagingnya.


"Bi, biarkan kami yang merawatnya. Istriku sangat menyayangi Reynand. Kami pasti akan menjaganya dengan baik. Jika kamu merindukan Reynand, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu. Kami tidak akan menghalangi, jika kamu ingin menjenguknya suatu saat nanti ketika kamu ke Jakarta," bujuk Reza saat berbicara empat mata dengan Abiyu.


Abiyu menghembuskan napas beratnya perlahan, "Baiklah, Om. Saya pasrahkan Reynand kepada kalian. Tolong jaga dia baik-baik. Saya sangat menyayanginya meskipun Reynand bukan darah daging saya."


"Tentu, Bi. Reynand adalah cucu kami. Saya akan melakukan yang terbaik untuk masa depannya. Dan, kamu harus tetap melanjutkan hidupmu ... ini sudah hampir tiga bulan semenjak Reyna dinyatakan hilang bukan? ada baiknya kamu mengikhlaskan Reyna. Jika Reyna masih hidup tentunya Reyna akan pulang. Mungkin memang sudah takdirnya seperti Rangga," turur Reza menasehati Abiyu agar kembali menata hidupnya dan membuka lembaran baru.


Abiyu tidak mampu menjawabnya, sebab dalam hatinya masih merasa jika Reyna masih hidup. Dia yakin, jika suatu saat nanti Reyna akan kembali. Tidak ada yang dia inginkan saat ini selain menemukan keberadaan Reyna.


Sore itu Lena dan Reza membawa Reynand ke Jakarta. Abiyu merasakan kepedihan yang mendalam saat memeluk Reynand untuk terakhir kalinya sebelum nenek dan kakeknya membawanya pergi ke Jakarta.

__ADS_1


Seolah mengerti akan dipisahkan dari Abiyu, baby Reynand menangis sejadi-jadinya, saat Lena hendak menggendongnya. Anak itu tidak mau melepaskan cengkraman tangannya di baju Abiyu. Semua orang yang melihat hal itu menjadi ikut terharu.


Lala dan Bibi Lastri pun ikut menangis melihat hal itu, bagaimanapun mereka juga sangat menyayangi Reynand. Sepeninggal mereka rumah menjadi sepi. Semenjak malam itu Lala tinggal di rumah Bibi Lastri. Tadinya Lala mau pulang ke rumah orang tuanya, tapi Abiyu menahannya. Dia tidak ingin Lala nantinya kembali mendapat masalah jika tinggal di rumahnya yang lingkungannya kurang baik. Akhirnya Lala menurut untuk tetap tinggal di rumah Bi Lastri.


****


Tiga bulan telah berlalu semenjak peristiwa naas itu, dan Reyna telah kembali pulih dari luka di tubuhnya. Luka-luka fisiknya mulai sembuh berkat kebaikan dari pihak pesantren yang telah merawatnya dan membiayai pengobatannya selama sakit. Namun ada satu masalah besar yang terjadi pada Reyna.


"Reyn, mau ikut belanja sayur ke pasar nggak?" tanya Bu Salamah, juru masak di pondok pesantren yang menampungnya.


Selama berada di pesantren Reyna menyibukkan diri dengan mengikuti kajian dan membantu bu Salamah di dapur untuk menyiapkan sejumlah menu masakan untuk semua santriwan dan santriwati yang berada di pondok.


"Boleh, Bu. Sebentar Reyna pakai cadar dulu," ujar Reyna kemudian mengenakan cadar berwarna biru tua pemberian Bu Salamah.


Bu Salamah sendiri adalah seorang janda. Suaminya sudah meninggal. Beliau mempunyai seorang anak perempuan dan sudah menikah. Anaknya ikut tinggal dengan suaminya. Sehingga Bu Salamah dapat mengabdikan dirinya di pondok pesantren. Selama Reyna sakit Bu Salamah lah yang merawat Reyna dibantu oleh beberapa santriwati di pondok putri.


"Mari, Bu, kita berangkat sekarang!" ujar Reyna sembari menjinjing tas anyaman yang biasa dibawa oleh Bu Salamah untuk membawa belanjaan sayuran.


Bu Salamah mengangguk kemudian mereka berjalan beriringan menuju gerbang ponpes.


"Reyn, kepengen makan apa gitu, nggak?" tanya Bu Salamah perhatian.

__ADS_1


Bu Salamah, selalu memberikan perhatian lebih bagi Reyna. Sebab dia tahu Reyna sedang hamil.


"Emm ... apa ya, Bu. Sepertinya tidak ada keinginan khusus untuk saat ini!" ujar Reyna seusai memikirkan hal itu.


"Bener, ya? kalau pengen sesuatu bilang sama Ibu!" ujar Bu Salamah perhatian.


"Baik, Ibuku, Sayang!" ujar Reyna sembari memeluk Bu Salamah.


"Reyn, kamu sama sekali tidak ingat suami dan keluargamu?" tanya Bu Salamah dengan hati-hati.


"Tidak, Bu. Reyna hanya ingat jika rumah Reyna di Jakarta dan ayah Reyna seorang perawat di rumah sakit sementara ibu Reyna hanyalah ibu rumah tangga, dan seingat Reyna, kemarin Reyna baru saja usai melaksanakan mos di SMP. Reyna sama sekali tidak ingat kejadian selama Reyna mulai dewasa hinga berada di ponpes," tutur Reyna panjang lebar.


"Assalamu'alaikum, Bu Salamah dan si eneng, Mau ke pasar ya?" tanya Pak Tatang seorang satpam yang merangkap tukang kebun bagian depan ponpes.


"Iya, Pak. Sudah lewat belum yah, angkot yang biasanya saya naikin?" tanya Bu Salamah sembari celingak-celinguk ke arah kanan, arah di mana datangnya angkot yang mengarah ke pasar.


"Waduh, saya nggak perhatikan, Bu, maaf ...!"


"Eh ... itu bukan, Bu, angkotnya?" tanya Reyna sembari menunjuk sebuah angkot yang muncul dari kejauhan.


"Oh, iya itu angkotnya. Alhamdulillah belum ketinggalan!" ujar Bu Salamah sembari tersenyum lega mendapati angkot langganannya belum lewat. Sebab jika ketinggalan, harus menunggu lebih lama lagi hingga angkot berikutnya datang.

__ADS_1


...__________________Ney-nna_________________...


__ADS_2