
Sesampainya di hotel Rangga langsung mandi. Sedangkan Reyna mengambil baju ganti untuk dipakainya nanti sehabis mandi. Saat mengeluarkan baju ada sesuatu yang terjatuh ke lantai. Ditengoknya ke bawah, rupanya pil penunda kehamilan yang diberikan oleh Mami. Ia taruh bajunya di atas ranjang. Kemudian diambilnya pil yang jatuh di lantai.
"Oiya..untung jatuh, jadi ke inget musti dibuang satu persatu nih biar Mami gak curiga." Gumam Reyna.
"Sabtu...minggu..." Reyna membuang dua buah pil ke dalam tempat sampah.
Tuliluut...tulilut..tulilit!
Diliriknya layar handphone. Ada telepon masuk dari Mira. Ditaruhnya pil diatas nakas dan diangkatnya telepon dari Mira.
"Haloo, assalamu'alaikum...Mir!" ucap Reyna.
"Wa'alaikumsalam, Beb. Kamu dimana? Cutinya lama amat?" tanya Mira.
"Nih aku baru liburan, Mir. Di solo, di daerah lereng Gunung Lawu." jawab Reyna.
"Yaelah honeymoon ya, Beb! Ngomong-ngomong udah belah duren belom, Beb? Gimana rasanyaaa?" tanya Mira heboh.
"Ada deeeh...mau tauuu...ajaaahhh!"
"Minta tuh dihalalin sama Jona, biar tau rasanya! Hehehehe..."
"Ieyhh..iya deh yang udah nggak perawan somboong! Pokoknya pulang musti bawain oleh-oleh yang banyak yah, Beb. Itung-itung buat gantiin tenaga aku nih yang udah capek-capek ngerjain kerjaan kantor sendirian!"
Diliriknya pintu kamar mandi, menampakkan Rangga yang sudah selesai mandi.
"Iyaaa...beres cantik! Makasih ya, udah ngehandle kejaan aku? Nanti aku kasih oleh-olehnya yang paling banyak deh buat kamu. Uda dulu ya, Mir? Mau mandi dulu nih! Assalamu'alaikum."
"Iya, Beb. Salam buat Rangga ya? Wa'alaikumsalam!" Mira mengakhiri teleponnya.
"Teleponan sama siapa?" Rangga ikut mendudukkan diri di samping Reyna.
"Dari Mira, nitip salam tadi buat kamu. Katanya minta oleh-oleh yang banyak. Nih bajunya!" Reyna menyerahkan kaos buat dipakai Rangga.
"Aku tau Reyn, oleh-oleh yang paling ditunggu-tunggu semua orang, gak cuma Mira aja." ucap Rangga sambil mencondongkan mukanya mendekat ke arah Reyna.
"Apa?" tanya Reyna melirik penasara.
"Kacang!" jawab Rangga.
"Kacang? Kacang kan di minimarket ada banyak." jawab Reyna sambil berkerut dahinya.
"Kamu salah Reyn, kacang yang ini beda." ujar Rangga.
"Apa sih? Nggak lucu deh pasti!" Reyna sedikit kesal.
"Kacang...yang tumbuh di rahim kamu!" bisik Rangga di telinga Reyna.
"Ieyhh...apaan sih Ga, geli tauuuuk!" Reyna langsung menghindar, berlari ke dalam kamar mandi.
"Sayang, pokoknya ntar malam aku mau lagiiii!" teriakan Rangga masih terdengar dari dalam kamar mandi.
Reyna tersenyum malu di balik pintu. Ia bergegas melaksanakan kegiatan mandinya.
Seusai memakai pakaian, Rangga melihat ke arah nakas. Dilihatnya satu strip pil yang bertengger di sana. Rasa penasaran membuatnya mendekat dan berniat mengambilnya. Ia mengangkat obat itu dan memperhatikannya lebih dekat.
"Obat apa ini?" gumamnya.
Dibolak baliknya pil tersebut, terlihat ada tanda panah diantara pil yang satu dengan yang lain dan nama-nama hari.
"Pil apa sih ini, baru lihat aku ada pil kayak gini!" dahi Rangga semakin berkerut.
Diambilnya handphone, kemudian di fotonya pil tersebut. Dikirimnya foto tersebut lewat WhatsApp kemudian dikirimnya ke Windi. Dibawahnya ia sematkan pesan.
__ADS_1
✉️
Kak, tau nggak ini obat apa?
Rangga membawa pil dan handphonenya menuju balkon. Tak berapa lama ada telepon masuk dari Windi. Segera diangkatnya telepon tersebut.
"Haloo Kak."
"Dek, kamu dapat darimana pil itu?" tanpa basa-basi Windi langsung menanyakan perihal foto yang dikirimnya.
"Sepertinya ini punya Reyna. Memangnya ini obat apa?" tanya Rangga mulai penasaran.
"Itu pil KB...! Kalian mau menunda punya anak?" terdengar suaranya agak hawatir.
"Enggak, aku nggak pernah bahas soal ini sama Reyna." jawab Rangga cepat, ia remas pil di genggaman tangannya.
"Kamu bicarakan baik-baik sama Reyna, mungkin dia punya alasan tertentu minum pil itu. Kamu nggak usah emosi dulu! Ingat yah kalian baru aja menikah, musti banyak bersabar buat saling memahami!" ungkap Windi panjang lebar.
"Iya! Ya udah Kak, makasih ya?" ucap Rangga kemudian mengusap mukanya.
"Iyah, ingat pesan Kakak! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Rangga mengakhiri teleponnya.
Rangga mengantongi pil ke dalam saku celananya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar, dilihatnya istrinya sudah selesai mandi dan sudah bersiap untuk sholat.
"Ayo, Ga. Kita sholat!" ajak Reyna. Rangga hanya mengangguk kemudian memakai sarungnya karena tadi sudah wudhu.
Selesai sholat Rangga mengajak Reyna Dinner romantis di staycation hotel. Udara dingin menyeruak ke dalam tubuh, suasana malam yang indah bertabur bintang dan menampakkan cahaya lampu di perbukitan. Menjadikan suasana malam itu semakin romantis.
"Hah...bagus banget, Ga pemandangannya!" Reyna begitu takjub melihat pemandangan di sekitarnya.
Rangga mencoba bersabar untuk tidak mengungkapkannya sekarang. Ia tidak ingin terburu-buru jika Reyna memang belum siap. Seperti pesan dari kakaknya ia harus bicara baik-baik. Reyna pasti mempunyai alasan yang kuat hingga meminum pil penunda kehamilan itu.
Reyna merasakan ada yang sedikit berbeda dari suaminya. Ia merasa Rangga berubah lebih pendiam. Selama makan Rangga tidak banyak bicara, auranya seperti tidak bersemangat.
"Emm nggak apa-apa, cepet Reyn habiskan makannya. Sepertinya mendung." jawab Rangga. Reyna mengangguk dan segera menyelesaikan makannya.
Selesai dinner ternyata diluar mulai gerimis, mereka bergegas kembali ke kamar dan melewatkan serangkaian lain yang sudah direncanakan. Rangga tidak mampu berpura-pura romantis dikala moodnya sedang tidak baik.
Selesai melaksanakan sholat isya' Reyna mengganti baju tidur di kamar mandi, mencuci muka dan gosok gigi. Begitu keluar ia berdiri di depan cermin sambil mengoleskan krim malamnya.
Rangga yang sedang melihat acara tv speechless melihat penampilan istrinya. Kali ini, tanpa diminta Reyna sudah mengenenakan lingerie warna pink dengan rambut yang tergerai panjang, sangat indah dipandang mata. Hasratnya yang menggebu membuat ia sejenak melupakan kemarahannya. Matanya tak lepas memandangi istrinya.
"Kenapa, Ga? Aku kelihatan aneh ya pakai ini?" tanya Reyna sambil menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Emm...enggak kamu sangat cantik dengan baju itu." jawab Rangga dengan sedikit gugup antara segera memakan istrinya atau menghakiminya.
"Tadi waktu sampai di telaga kepikiran pengen beli baju santai buat di pakai tidur, ehh..karena hujan jadi kelupaan. Akhirnya pakai kayak gini lagi deh." ungkap Reyna.
"Gak apa-apa, aku lebih suka kamu pakai yang ini." tangannya sudah tak bisa menahan untuk tak menyentuh istrinya.
"Sudah tidak sakit kan? Aku mau mengulang yang kemarin, Reyn!" ucap Rangga sambil mencakup wajah istrinya.
Meski ada ketakutan akan rasa sakit yang ia rasakan kemarin, tapi Reyna tahu ia tidak boleh menolak keinginan suaminya. Akhirnya ia pun mengangguk pasrah.
Rangga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera melahap istrinya. Setelah melantunkan do'a, Rangga dengan perlahan merengkuh tubuh istrinya mendekat hingga tak menyisakan jarak diantara mereka. Di ciuminya wajah istrinya sayang. Di l******* bibir istrinya lembut, yang semakin lama semakin menuntut. Kali ini Reyna sudah mulai pintar mengimbangi permainan Rangga. Hal itu membuat Rangga semakin bergairah untuk menuntaskan hasratnya yang semakin menggebu. Dan akhirnya terjadilah yang harusnya terjadi.
***
Rangga menjatuhkan tubuhnya di samping Reyna kemudian merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Perlahan nafasnya mulai teratur.
"Reyna, makasih ya!" dikecupnya kening istrinya. Reyna hanya mengangguk, kemudian mengeratkan pelukannya di tubuh Rangga.
__ADS_1
"Reyn, kamu nyesel nggak nikah sama aku?"
Pertanyaan itu membuat Reyna sedikit mengendurkan pelukan mereka. Ditatapnya wajah suaminya. Seperti ada kekhawatiran di wajahnya. Dibelainya pipi Rangga lembut.
"Kenapa kamu berpikir aku menyesal, Ga. Setelah kita menikah, kamu memperlakukanku dengan baik. Kamu membuat aku merasa nyaman berada di dekatmu. Apa yang membuatmu khawatir, Ga?" ungkap Reyna.
Rangga menggeser tubuhnya menjangkau laci nakas di sampingnya. Diambilnya pil KB yang sempat ia remas tadi.
"Untuk apa kamu meminum ini, Reyn?" tanya Rangga.
Reyna tidak langsung menjawab. Ia tersenyum ke arah Rangga.
"Jadi itu yang membuat kamu daritadi murung, Ga?" Reyna tertawa kecil.
"Apa sih Reyn, kamu malah tertawa gitu! Orang lagi serius juga!" Rangga beralih menegakkan duduknya, pandangannya ke depan, tangannya bersedekap diatas perutnya.
"Ciee jadi gini ya kalau lagi marah?" Reyna menusuk-nusuk jarinya ke lengan Rangga.
"Buruan deh jawab pertanyaan aku!" ucap Rangga tegas tapi tidak membentak.
Reyna mencakup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya untuk melihat ke arahnya.
"Kalau sedang bicara, musti dong diperhatikan lawan bicaranya." dielusnya pipi Rangga. "Nah gini, lihat muka aku kalau pengen tau jawaban aku!" goda Reyna agar suasana hati Rangga melunak.
"Kamu tuh kayak yang dimanis-manisin tau gak sih, Reyn!" masih terdengar sedikit jutek tapi masih normal.
"Memang aku maniskan?" Reyna memperlihatkan senyuman manisnya sambil mengerlingkan matanya beberapa kali.
Dengan melihat penampilannya yang hanya tertutup selimut membuat naluri laki-lakinya bangkit kembali. Satu hal yang Rangga baru tau, meski jutek ternyata Reyna pandai merayu hingga mampu meredam kemarahannya.
"Iya-iya, istriku memang yang paling manis."
"Sekarang coba jelaskan!" titahnya, sambil merangkul pinggang Reyna.
"Janji jangan marah kepada siapapun yah!" ucap Reyna.
Rangga mengerutkan dahinya sejenak berpikir. Apa maksudnya, siapapun!
"Iya... Janji!" akhirnya Rangga menyetujuinya.
"Yah, jadi ketahuan deh!"
"Tapi aku nggak minum pil itu, Ga. Meskipun itu pilnya sudah berkurang dua butir tapi aku belum pernah sekalipun meminumnya. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa kok cek di tempat sampah. Tuh, tadi sore aku buang dua butir pilnya di sana!" Reyna menunjuk ke arah tempat sampah.
"Terus buat apa kamu bawa ginian kalau tidak untuk dikonsumsi? Kamu tau kan ini pil apa?" tanyanya lagi.
"Taulah itu pil penunda kehamilan! Mami yang kasih." ujar Reyna.
"Maamii!" seketika Rangga terkejut dengan mata membulat.
"Tapi kamu jangan marah ya sama Mami! Pura-pura aja nggak tau apa-apa soal ini!" titah Reyna sambil mengelus-elus dada Rangga supaya tetap bersabar.
"Untuk apa Mami ngasih pil ini ke kamu?" tanya Rangga penasaran.
"Mami, minta aku menunda untuk punya anak." "Mami khawatir jika kita punya anak akan mengganggu konsentrasi kamu ke perusahaan." tutur Reyna.
"Kok Mami bisa berpikiran kaya gitu sih! Aku nggak mau kamu menunda untuk punya anak, Reyn!" ucap Rangga dengan tegas.
"Enggak, Ga. Aku nggak akan menundanya. Aku memilih untuk mengiyakan permintaan Mami meski tidak benar-benar meminumnya, karena aku nggak ingin ada keributan."
"Mungkin Mami butuh waktu untuk bisa menerima aku sebagai menantunya. Jadi kamu jangan bahas hal ini lagi ya ke Mami. Aku tau Mami melakukan ini karena Mami sangat menyayangi kamu." Reyna menjelaskan dengan panjang lebar.
"Iya sayang, aku nggak akan marah sama Mami. Kamu benar-benar mengerti Reyn, apa yang terbaik buat semua orang." ucap Rangga sambil merengkuh Reyna ke dalam pelukannya. "Maaf ya, aku tadi sempat berpikir yang tidak-tidak sama kamu?"
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa. Wajar kalau kamu marah soal ini." jawab Reyna.
"Aku sayang banget, Reyn sama kamu!" diciumnya bibir Reyna mesra.