
Malam itu terasa sunyi bagi Fely. Biasanya dia akan membaca novel atau sesekali bertukar pesan dengan Raka. Namun, kini dia merasa sangat enggan untuk membaca. Dia tidak bernafsu untuk melakukan hal-hal yang menjadi kebiasaannya.
Fely duduk diam sembari memandang ke luar jendela kamarnya. Dia memandang hampa pada langit malam itu. Gerimis hujan di luar sana menambah lengkapnya suasana syahdu malam itu.
Fely memandang pada handphone di atas nakas yang sedari kemarin tidak aktif. Ingin rasanya mengetahui apa yang sedang dilakukan Raka saat ini. Terlebih mengingat wanita cantik yang kemarin duduk di depan Raka.
Apa sebelumnya mereka sudah mengenal? lantas bagaimana dengan Raka? gumam Fely di dalam hati.
Fely merasa heran dengan Raka. Seperti apa kehidupan Raka yang sesungguhnya. Nampak sangat jelas jika wanita yang kemarin dijodohkan dengan Raka adalah wanita berhijab yang cukup cantik, dan berpenampilan modis, terlihat jika dia juga berasal dari kalangan yang berada. Dan wanita itu terlihat jelas jika dia menyukai Raka dari caranya memandang ke arah Raka.
Rasanya sangat tidak rela jika ada wanita lain yang dekat dengan Raka. Laki-laki yang kini mulai mengisi relung hatinya. Fely kembali mengingat di malam itu, di malam terjadinya pernikahan siri. Ketika dia hanya bisa menangisi keadaan, saat itu Raka bersikukuh untuk mencoba membela diri. Namun, sayangnya itu tak sebanding dengan warga desa yang mayoritas melawannya.
Ketika paginya, Raka juga tidak lari dari tanggung jawab, terlebih ketika dia dengan perhatian menyuap bubur ke mulutnya. Raka juga memperbaiki mobilnya dan mengantarkan pulang.
Fely juga kembali mengingat saat mendengar obrolan Raka dengan sang nenek di telepon yang menyiratkan jika Raka benar-benar menyukainya. Dan yang terakhir ketika berjalan menyusuri pantai sembari berpegangan pada ranting, rasanya tidak mungkin jika sorot mata berbinar dengan raut wajah bersemu malu-malu itu hanya kepalsuan. Fely merasa yakin jika hati mereka saling tertaut saat itu.
Saat itu juga rasa rindu melanda relung hatinya. Ingin tahu apa yang sedang dilakukan Raka saat ini. Rasa ingin tahunya cukup besar.
Apakah Raka kemarin mencoba menghubungi ku? apa Raka mencari ku? apa Raka menyetujui perjodohan itu? apa Raka menyukainya? batinnya yang semakin penasaran.
Fely segera menyabet handphone di atas nakas dan segera mengaktifkan handphonenya.
Setelah menunggu beberapa saat, banyak notifikasi yang muncul di layar handphonenya. Ada beberapa pesan masuk tapi yang paling mendominasi adalah nama Raka yang tertera di sana. Beberapa panggilan tidak terjawab dan lebih dari sepuluh pesan masuk dari Raka.
Mengetahui hal itu Fely merasa sedikit lega, itu tandanya Raka tidak serta merta mengabaikannya. Raka masih mencarinya dan mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi kemarin. Fely pun mencoba membuka pesan satu persatu.
✉️ Raka
Fe, tolong jangan salah paham, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya!
__ADS_1
✉️ Raka
Fe, kita harus bicara, ketika kamu sudah tenang tolong temui aku, aku akan selalu menunggumu!
✉️ Raka
Fe, ketauhilah bahwa aku sungguh-sungguh menyukaimu dan hanya kamu tang mengisi relung hatiku. Tolong percaya padaku!
Fely kembali membaca pesan-pesan lainnya dengan perasaan sendu senang, bercampur haru. Ada perasaan bahagia ketika Raka mengungkapkan perasaannya. Rasa rindu pun semakin menggebu.
Ingin rasanya Fely membalas pesan-pesan itu. Dan mengungkapkan betapa dia sangat merindukan Raka. Fely mencoba mengetik beberapa kata untuk membalas pesan dari Raka. Namun lagi-lagi dia menghapusnya.
"Tidak-tidak .... sepertinya ini terlalu berlebihan!" ujar Fely kemudian menghapus kata-katanya.
Saat Fely bingung tentang hal itu, di lain tempat, Raka yang usai bertelepon dengan orang suruhannya mencoba mengecek history chatnya dengan Fely. Raka terkejut saat mendapati Fely tengah online dan sedang mengetikkan sesuatu.
Raka menatap layar handphonenya dengan diam sambil menunggu apa yang sedang diketik kan oleh Fely. Beberapa saat menunggu, namun tidak ada satupun chat yang masuk.
Kemudian tiba-tiba terlihat pada layar jika Fely offline.
Raka menjadi gelisah dan dengan segera melakukan panggilan ke nomor Fely.
Beberapa saat menunggu Fely juga tak kunjung menjawabnya. Raka pun semakin resah tak menentu.
"Fe, ayo angkat telepon aku, please!" gumam Raka sembari beranjak berdiri dan mondar-mandir di kamarnya.
Tok tok tok.
"Mas Raka!" Terdengar suara Yahya asisten kakek.
__ADS_1
"Masuk!" jawab Raka.
"Mas Raka, tuan besar meminta anda untuk mengantar nona Maura pulang ke rumahnya," tutur Yahya menyampaikan perintah dari tuannya.
Tanpa Raka ketahui saat itu Fely sudah mengangkat teleponnya dan mendengar apa yang dikatakan oleh Yahya. Namun, setelah itu Fely memutus sambungan teleponnya dan dengan segera menonaktifkan handphonenya lagi.
"Kenapa harus aku sih, Pak! dia kan datang sendiri kenapa tidak pulang sendiri saja!" ujar Raka merasa enggan untuk bertemu dengan Maura.
"Non Maura, tadi sore diantar oleh sopirnya, Mas. Dan saat ini tuan bersikukuh agar yang mengantar adalah Mas Raka sendiri!" ujar Yahya.
"Hhhuhh! apa susahnya sih tinggal bilang sama sopir kenapa musti aku!" ujar Raka sembari berjalan malas menuju ke luar kamarnya.
Saat itu di depan kamar nenek yang hanya bersebelahan dengan kamar Raka, berdiri Maura dengan muka kecewa. Raka menduga jika Maura mendengarkan apa yang dia katakan kepada Yahya. Raka pun diam terpaku sembari menatap ke arah Maura.
Ada rasa bersalah saat itu, karena kata-katanya barusan yang cukup ketus terdengar langsung oleh orang yang bersangkutan. Raka sendiri sejatinya sangat penyayang dan sangat menghargai orang lain. Sehingga ketika kata-katanya melukai perasaan orang lain dia merasa sangat menyesal.
Raka mewarisi sifat rendah hati dari mamanya, sehingga ketika bertindak dia akan berpikir panjang agar tidak menyakiti orang lain. Raka selalu memposisikan jika dia yang mendapat perlakuan kasar seperti ini pasti dirinya pun akan sangat sedih.
"Maura! m-maaf aku hanya sedang kesal saja kepada Kakek. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu sungguh!" ujar Raka meralat kata-katanya agar Maura tidak marah.
"Nggak apa-apa, Raka. Aku tahu aku sangat tidak diharapkan datang olehmu bukan, dan aku hanya akan merepotkan mu saja. Seharusnya aku tadi meminta sopir rumah untuk menunggu ku pulang atau seharusnya aku tidak datang ke rumah ini, agar aku tidak terus membuat mu kesal karena terbebani!" ujar Maura kemudian melangkah pergi menuju ke luar rumah.
Raka merasa semakin bersalah akhirnya dengan segera Raka beranjak mengejar Maura yang setengah berlari.
Begitu sampai di luar Raka segera menangkap lengan Maura dan menghentikan langkahnya.
"Tolong maafkan aku! tunggu sebentar ya aku ambil mobil, aku akan mengantarkan mu!" tutur Raka kemudian melepas lengan Maura dan beranjak menuju garasi rumah untuk mengeluarkan mobilnya.
Akhirnya malam itu Raka mengantarkan Maura hingga sampai di rumahnya.
__ADS_1
...___________Ney-nna___________...