
Malam itu tamu undangan cukup banyak. Betapa tidak, mengingat kakek Raka adalah pengusaha sukses yang dapat diperhitungkan dikalangan pebisnis.
Kediaman kakek yang bak istana itu di dekor dengan sangat mewah dan acara berlangsung dengan sangat meriah. Meski pun begitu tidak ada senyum ceria di antara kedua pasangan yang sedang duduk di singgasana itu.
Maura seharusnya senang karena Raka akhirnya mau melaksanakan pesta pertunangan ini. Namun, nyatanya merasa sangat bersalah ketika melihat kesedihan di mata Raka yang hanya diam dengan menatap kosong ke arah depan tanpa ada senyuman di wajahnya.
Raka aku berjanji aku hanya akan meminjam mu dari tulang rusukmu. Aku pasti akan mengembalikan mu kepanya! gumam Maura di dalam hati.
Malam itu hanya kakek Raka dan orang tua Maura yang merasakan kegembiraan. Di sela-sela acara kakek Raka membicarakan rencana pelaksanaan pernikahan untuk cucunya dengan orang tua Maura. Mama Maura menghendaki pernikahan itu segera dilaksanakan untuk menghindari pembatalan.
"Em, Om Wirya. Bagaimana jika bulan depan saja? bukankah lebih cepat lebih baik?" ujar mama Maura memberi ide.
"Bulan depan? itu artinya tiga minggu lagi bukan? saya sih tidak keberatan. Terlebih Raka sepertinya sudah menerima perjodohan ini. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi bukan, cucuku memang anak yang penurut. Hahaha ...!" ujar kakek dengan bangga telah berhasil membujuk Raka untuk menerima perjodohan.
Sedangkan di tempat lain Maura berbicara dengan Raka.
"Raka, maaf! aku tahu ini bukan tanggung jawab mu untuk menikahi ku, tapi aku mohon dengan sangat, tolonglah aku, Raka! setelah aku melahirkan nanti, kamu bisa menceraikan aku," tutur Maura kepada Raka dengan mengiba.
"Entahlah Maura, aku ingin menolong mu tapi ini juga hal paling menyakitkan buatku ketika harus melihat wanita yang aku cintai kecewa dan terluka Maura," tutur Raka dengan suara rendahnya.
"Aku tidak keberatan jika kamu berhubugan dengannya di balik pernikahan kita Raka," ujar Maura sembari melihat ke arah Raka dengan serius.
"Kamu jangan bercanda Maura, pernikahan bukan permainan, dan Fely bukan wanita yang sembarangan. Bahkan selama aku belum menghalalkannya dia tidak akan mengijinkan aku sekalipun menyentuhnya meskipun hanya menggenggam jari jemarinya," tutur Raka.
"Benarkah?" Maura yang mendengar hal itu sedikit tidak percaya. "Apa dia anak seorang kiyai?"
Bukankah di zaman sekarang muda mudi berpacaran itu hal biasa, begitu pun dengan dia yang sudah beberapa kali bergonta ganti pacar.
"Hal seperti itu tidak butuh dia anak siapa Maura, tapi karena itu adalah prinsipnya sebagai wanita muslimah. Aku tahu kamu hanya islam pada KTPmu saja kan?" tebak Raka pada Maura yang seketika terlihat pias.
__ADS_1
"Jujur saja, Raka. Keluargaku memang tidak terlalu religius tapi kami melaksanakan salat. Hanya saja aku akui memang sering bolongnya. Dan aku akui banyak yang tidak aku ketahui tentang ajaran islam. Kamu tahu kan aku besar di Singapura," tutur Maura dengan raut muka malu-malu.
Raka mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Fely.
Ya Allah aku tidak pantas bersanding dengan Fely sampai engkau datangkan Maura untuk hadir di hidupku! batin Raka sedih.
Setelah acara selesai dan semua tamu undangan pulang Raka tertduduk sendirian di teras samping rumahnya. Tiba-tiba kakek datang menepuk pelan bahu Raka dan mendudukkan diri di samping Raka.
"Raka, pernikahan kalian akan dilaksanakan tiga minggu lagi, Kakek mohon kamu jangan sampai mengecewakan Kakek!" tutur kakek pelan namun penuh dengan penekanan.
Raka hanya diam saja tanpa menanggapi kata-kata kakeknya. Raka tahu menbantahnya pun akan percuma.
"Kek, tiga hari ke depan Raka akan pergi ke luar kota, tolong jaga nenek dengan baik!" tutur Raka meminta ijin.
"Ke mana? masalah bisnis apa masalah pribadi?" tanya kakek menyelidik.
"Bertemu dengan klien! hanya tiga hari!" ujar Raka mencari alasan agar dia bisa menemui Fely.
Setelah memastikan Fely belum pulang kembali ke Yogya dengan Astrid, Raka segera meminta pak Bagus untuk mengatur schedule keberangkatannya ke Jakarta untuk bertemu dengan salah satu klien agar kakek tidak curiga jika dia bear-benar datang ke sana untuk urusan bisnis.
****
Keesokannya setelah sampai di Jakarta Raka benar-benar melakukan meeting dengan kliennya hingga sore.
Menjelang salat maghrib Raka mampir di sebuah masjid di kawasan Jakarta Pusat untuk melaksanakan salat sebelum kembali ke hotel. Seusai salat, entah mengapa Raka ingin berlama-lama di sana dan enggan beranjak meninggalkan masjid. Seoalah hal itu memberikan ketenangan bagi jiwanya yang sedang rapuh.
Raka duduk bersila dan memejamkan mata sembari berdzikir. Masjid mulai sepi hanya tinggal beberapa orang saja. Ada yang sedang tadarus, ada juga beberapa orang yang baru salat. Sebab, masjid ini terletak di pinggir jalan raya. Sehingga banyak musafir yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan kembali.
Sayup-sayup Raka mendengar ada seseorang yang sedang mengobrol, lebih tepatnya berkonsultasi. Raka membuka mata, dan benar saja. Ada seorang laki-laki yang sedang berkonsultasi pada imam masjid. Raka pun menjadi tergerak untuk melakukan hal yang sama. Imam masjid itu terlihat cukup disegani dan orangnya bersahaja.
__ADS_1
Melihat orang yang berkonsultasi tadi pamit, Raka segera mendekati ima masjid tersebut.
"Assalamu'alaikum, Pak Ustadz," sapa Raka dengan hormat sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Wa'alaikumussalam, ada yang bisa saya bantu, Nak?" tanya imam masjid itu menanggap gelagat Raka yang sepertinya edang membutuhkan bantuan.
"Ustadz, bolehkah saya meminta waktunya sebentar untuk berkonsultasi, Ust?" ujar Raka meminta ijin.
"Katakan, Nak!" ujar imam masjid.
"Apakah sah jika menikahi wanita yang hamil di luar nikah sedang kita bukan yang menghamilinya ustadz?" tanya Raka.
Sang imam masjid itu mengernyit mendapati pertanyaan seperti itu dari Raka.
"Sebelumnya apa tujuan laki-laki itu menikahi sang wanita jika sudah mengetahui wanita itu hamil dengan laki-laki lain tapi masih juga dinikahi, Nak?" tanya sang imam masjid.
"Saya hanya bermaksud menolongnya Ustad, dia diperkosa laki-laki yang sengaja menjebaknya untuk menjadikan istri ketiganya, bahkan pria yang menghamilinya itu melakukan cara keji dengan mencoba menjatuhkan perusahaan milik keluarga si wanita agar wanita itu mendatanginya untuk meminta tolong kepadanya," tutur Raka menceritakan pokok permasalahannya.
"Kamu ikhlas menikahinya, Nak? apa karena kamu mencintainya?" tanya sang imam Masjid.
"Saya mencintai wanita lain ustadz, namun keluarga saya menjodohkan saya dengan wanita itu!" tutur Raka berterus terang.
"Menikahi wanita yang hamil di luar nikah bagi laki-laki yang menghamili maupun laki-laki yang bukan ayah biologis dari anak yang di kandungnya itu ada beberapa mashab dari para ulama yang mengatakan boleh dan ada yang mengatakan tidak boleh, namun ketentuannya tetap sama meski sudah dinikahi nantinya haram untuk di gauli, kenapa? sebab agar nashabnya tidak nyambung. Rasulullah pun bersabda : "Janganlah disetubuhi wanita hamil karena zina hingga melahirkan (HR. Abu Daud). Dari hadits tersebut sudah jelas meskipun pernikahannya dikatakan sah, namun wanita itu tetap haram untuk disentuh, hingga dia melahirkan nanti. Misalkan laki-laki yang bukan ayah biologisnya itu menikahinya dengan maksud ingin menolongnya agar menutup aib si perempuan atau pun karena suatu hal kemudian setelah melahirkan diceraikan, boleh saja. Atau setelah itu mau dilanjutkan tetap sah, asalkan ya itu tadi, tidak mencampurinya selama wanita itu belum melahirkan sehingga nashabnya nanti jelas. Jadi nikahnya dikatakan sah, namun nashab anaknya tetap pada ibunya. Ketika anak itu lahir tetap bin ibunya, misalkan anaknya perempuan tidak boleh dinikahkan oleh ayahnya yang menikahi ibunya tadi atau ayah biologisnya, yang boleh menikahkan adalah wali hakim. Hal itu memang cukup rumit, Nak. Belum lagi nanti dengan warisan dan sebagainya," tutur sang imam masjid.
"Tapi jika anda memang bermaksud menolongnya untuk menutup aibnya itu sungguh mulia, Nak. Justru yang tidak boleh jika wanita itu dinikahkan dengan laki-laki yang menghamilinya, sebab, terbukti laki-laki itu justru akan menjerumuskan kepada keburukan."
"Memang sebaiknya jangan sampai aib seperti itu diumbar, Nak. Jika ada yang menggunjing wanita hamil di luar nikah itu dosanya lebih besar dari yang berzina. Maka banyak juga dari kalangan sahabat saya yang kemudian menikahi wanita hamil di luar nikah dengan maksud untuk menuntun kembali agar wanita itu bertaubat, dan juga untuk menutupi aibnya, kemudian diceraikan setelah melahirkan, tentunya juga tanpa menyentuhnya, yang seperti itu boleh. Karena tujuannya tadi untuk menutupi aib agar hal yang seperti itu tidak menjadi pergunjingan. Sebab, ketika menjadi pergunjingan nanti akan menjadikan fitnah, ada juga yang malah meniru, dan mengikuti, terlebih hal itu bisa menjadikan wanita itu rendah diri dan berputus asa. Bahasanya memang cukup panjang menyangkut hal itu, Nak. Sehingga perlu dipahami betul," tutur sang imam masjid memberi penjelasan.
"Terima kasih atas pencerahannya, Pak Ustadz," ujar Raka dengan sangat lega setelah mendapatkan jawaban dari sang imam masjid.
__ADS_1
Setelah melaksanakan salat isya' di sana, Raka segera pulang ke hotel yang sudah direservasi oleh asistennya untuk beristirahat melepas lelah sebelum menemui Fely besok.
...__________Ney-nna_________...