
POV Reyna.
Ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Yogyakarta. Entah apa alasan yang sesungguhnya, Papi memintaku untuk sementara waktu bersembunyi dari orang-orang yang mengenalku. Aku hanya menurut saja dengan perintah mertuaku. Semua demi kebaikanku dan Reynand, kata Papi. Bahkan kepada Mira pun aku harus berbohong, dan berkata jika aku di minta ikut mertuaku tinggal di Solo. Sedikit berlebihan memang, tapi akhirnya aku menurut saja apa yang diperintahkan oleh Papi.
Malam itu kak Windy, Chaca, dan suaminya pulang ke Solo, dari bandara kami berpisah. Aku, Reynad dan Nenek berangkat ke Yogyakarta. Rumah kediaman kakek ditinggali oleh Mami dan Papi. Karena Papi harus mengurus kantor pusat, setelah meninggalnya Rangga dan Kakek. Sedangkan rumah yang berada di Solo dibiarkan kosong.
Entah bagaimana ceritanya aku merasa aneh dengan Papi dan kak Abi yang akhir-akhir ini terlihat dekat. Kak Abi ikut serta mengantarku ke Yogyakarta. Kak Abi bahkan sudah mengetahui di mana aku harus tinggal setelah kami sampai di kota tujuan.
Dengan diantar oleh kak Abiyu, akhirnya kami sampai di perumahan yang akan menjadi tempat tinggalku, entah sampai kapan. Yang aku tahu ada yang mensabotase mobil suamiku hingga ia mengalami kecelakaan, sehingga aku dan Reynand mungkin saja dalam bahaya.
Pukul 21.00 kami memasuki sebuah perumahan. Kami menempati rumah minimalis yang bergaya modern yang tergolong elite. Perumahan yang tak jauh dari kota dan cukup dekat dengan desa di mana bibiku tinggal. Hanya ada sekitar lima rumah yang semuanya berhadapan dengan jalan. Yang aku lihat adalah kesan mewah di setiap bangunannya dengan ciri khasnya masing-masing. Sesampainya di rumah baruku, kak Abi menurunkan barang-barang kami dan membantu untuk menaruhnya ke dalam.
"Reyna, semua barang-barangmu sudah aku masukkan ke dalam. Ini kunci rumahnya. Karena sudah larut malam sebaiknya kalian segera beristirahat. Aku pamit pulang dulu. Jika memerlukan sesuatu kamu bisa menghubungiku," kak Abi menyerahkan kunci rumah padaku.
"Makasih, Kak!" ucapku pendek.
"Terima kasih, ya nak Abiyu atas bantuannya," ujar Nenek ramah.
"Iya, sama-sama, Nek. Saya permisi pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aku dan Nenek menjawab bersamaan.
Kak Abi beranjak menuju mobilnya terparkir. Ia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan kawasan perumahan ini.
"Ayo Reyn, kita masuk ke dalam!" nenek mendahului masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam.
Beruntungnya adalah Reynand tidur lelap di gendonganku tanpa terganggu. Di pesawat pun anak ini tidak sama sekali rewel.
Aku mengedarkan pandangan ke segala arah yang ada di dalam rumah. Rumah ini cukup nyaman dan bersih. Perabotannya sudah lengkap. Terlihat jika rumah ini sudah dibersihkan dan dirapikan sebelum aku menempatinya. Aku memasuki kamarku untuk segera beristirahat dan meletakkan Reynand di tempat tidur. Beberapa saat berlalu aku mengeluarkan isi koperku dan merapikan baju-baju ke dalam almari.
Tak terasa, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 01.30. Namun, aku masih saja terjaga. Mataku seolah tak bisa terpejam. Sungguh aku asing dengan kamar ini dan sangat merindukan kamarku di Jakarta. Tempat di mana kami menghabiskan malam-malam indah bersama. Banyak kenangan yang telah terukir di antara kita di sana. Namun, aku harus merelakan untuk meninggalkan tempat-tempat terindah itu dan tinggal di tempat yang asing ini.
Aku merindukanmu, By! Sungguh aku sangat merindukanmu! Mengapa kamu harus meninggalkanku secepat ini, By! Kamu bahkan belum sempat mendengar Reynand memanggilmu Papa! Reynand membutuhkanmu, By! Hatiku sakit, mengingat perpisahan kita di dunia yang berbeda. Aku tak akan bisa menyentuhmu dan memelukmu ketika aku butuh sandaran. Aku tak lagi bisa mendapatkan kecupan hangat di keningku. Aku tak lagi bisa mencium punggung tanganmu untuk mendapatkan ridho darimu. Di mana aku bisa menemukanmu, By? Aku sangat membutuhkanmu! Aku sangat mencintaimu dan selamanya mencintaimu, Rangga!
Pikiran-pikiran itu terus saja membayangiku. Aku meneteskan air mata sejadi-jadinya.
Tiba-tiba saja aku merasakan ada sentuhan di kepalaku. Sesuatu yang hangat yang pernah aku rasakan. Aku yang semula meringkuk di atas tempat tidurku, kemudian membenarkan posisi tidurku dengan benar. Aku melihat suamiku berada di hadapanku. Aku sungguh terkejut dan seketika beranjak duduk.
"Hubby!" ucapku sembari menghambur memeluknya.
Aku mendongak ke atas melihat wajahnya. Rangga tersenyum kepadaku. Kemudian merengkuh tubuhku kembali ke dalam pelukannya. Dia mengecup pucuk kepalaku. Rangga membelai rambutku dengan penuh sayang. Aku mengeratkan pelukanku di tubuhnya untuk melepas segala kerinduanku. Aku tak ingin ia meninggalkan aku lagi sendiri. Aku ingin selalu bersamanya!
"Reyn..., Reyna!" aku seperti mendengar seseorang memanggilku.
"Reyna...!" panggilnya lagi.
Dengan enggan aku berangsur-angsur mengendurkan pelukanku dengan suamiku.
Aku mengerjap membuka mataku yang terpejam.
"Nenek!" pekikku saat mendapati nenek berada di hadapanku sembari membawa Reynand yang menangis dalam gendongannya.
"Reynand, menangis sejak tadi!" tutur Nenek.
Aku melonjak bangun dari tidurku dan mengambil alih Reynand dari tangan nenek.
"Maaf Nek, Reyna tidak mendengar sama sekali tangisan Reynand!" ucapku sembari mengusap kedua pipiku yang basah, kemudian beranjak duduk di sofa yang berada di dalam kamar dan mulai menyusui putraku.
"Tak apa, kamu pasti sangat lelah. Nenek kembali ke kamar ya, sebentar lagi adzan subuh!" ujar nenek sembari mengusap bahuku.
"Baik, Nek. Terima kasih!"
__ADS_1
Nenek yang hendak beranjak pergi menoleh padaku dan mengangguk, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Kini aku menyadari jika aku tadi sempat tertidur. Dan pelukan yang aku rasakan dari suamiku, ternyata hanyalah mimpi belaka. Ini adalah pertama kalinya Rangga mendatangiku dalam mimpi. Meskipun sangat kecewa, namun aku senang bisa melihatnya lagi meski sekejap dalam mimpi.
Keesokannya Bi Lastri datang bersama Dina. Jarak rumah bibiku ke rumah yang sekarang aku tinggali hanya berjarak lima menit jika di lalui dengan berkendara. Bi Lastri datang membawa makanan untuk kami sarapan, juga bahan memasak sayur mayur dan juga lauk pauk.
"Dari mana Bibi tau jika aku pindah ke sini?" tanyaku pada bi Lastri.
"Nak Abi, tiga hari yang lalu datang ke rumah Bibi dan mengabari jika kamu akan tinggal di sini. Nak Abi meminta bantuan Bibi untuk menyuruh orang membersihkan rumah ini dan menyediakan segala kebutuhan kamu di sini. Katanya ini perintah dari ayah mertuamu," ujar bi Lastri.
"Kak Abi?" aku pun terkejut dan seketika memandang ke arah nenek seolah mencari keterkejutan juga di wajah beliau. Namun, nenek terlihat tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku bertanya-tanya apa nenek mengetahuinya?Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku hingga hanya aku yang tidak tahu apa-apa dengan semua ini?
Hari-hari aku lalui dengan rutinitas yang sama. Di dalam rumah mengurus Reynand dan mengurus rumah. Mengobrol dengan nenek, dan seringkali bibi datang bersama Dina untuk mengajak Reynand bermain.
Ada seorang asisten rumah tangga yang membantuku mengurus rumah. Itu pun kak Abi yang mencarikannya lewat jasa penyedia ART. Aku lama-lama merasa kesal dengan bantuan kak Abi dan perhatiannya selama ini. Aku takut ia mengharapkan sesuatu yang tak mungkin bisa aku berikan.
"Kak, aku sangat berterima kasih sekali atas bantuan Kakak selama ini. Tapi aku mohon, kak Abi percaya sama aku, biarkan aku mengurus diriku sendiri. Kak Abi juga tidak perlu repot-repot untuk sering-sering datang kemari. Aku tahu kak Abi pasti juga sibuk kan dengan pekerjaan kak Abi?" tanyaku pada kak Abi yang menatapku heran, "Jika Papi bertanya bilang saja kak Abi sudah melakukan apa yang Papi minta. Aku yakin tidak akan ada hal buruk yang terjadi padaku kedepannya."
Kak Abi diam mendengarkan perkataanku. Terlihat jelas guratan kekecewaan di wajahnya.
"Baiklah, maaf jika kehadiranku membuatmu terganggu. Aku tidak akan datang lagi jika bukan kamu yang memintaku untuk datang. Assalamu'alaikum!"
Aku merasa bersalah kepadanya. Kata-kataku pasti menyakiti hatinya. Namun, itu jauh lebih baik untuknya agar ia tidak mengharapkan ku lagi. Sebagai wanita tentu aku bisa merasakan jika perhatiannya lebih dari sekedar simpati kepadaku. Dan aku tak akan membiarkan ia lebih terluka lagi. Kak Abi berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Karena aku tak akan pernah berpaling dari Rangga. Aku bertekad, hanya akan fokus mengurus Reynand hingga ia dewasa.
Semenjak saat itu kak Abi tidak pernah lagi datang ke rumahku.
"La, kamu beneran bisa masak dan mengurus rumah?" tanyaku pada Lala, asisten rumah tanggaku yang baru.
Lala baru berumur 17 tahun. Dia putus sekolah karena orangtuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolahnya.
"Bisa, Bu. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja menjadi ART juga selama setahun, Bu. Tapi, sebulan yang lalu mereka pindah ke Bandung. Sehingga saya menganggur," ujar Lala.
"Panggil saya Mbak saja. Sekarang kamu bisa mulai bekerja. Jika ada sesuatu yang tidak kamu ketahui kamu bisa bilang sama saya," ujarku pada anak itu.
Ternyata Lala melakukan semua pekerjaannya dengan baik. Lama kelamaan kami pun saling terbiasa dan dekat. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri.
Aku meminta Lala untuk mengikuti kejar paket C dan aku membiayainya. Karena aku tahu Lala anak yang rajin dan ia cukup pandai. Aku berharap suatu saat ia bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari sekarang. Masa depannya masih panjang, dan semua orang berhak hidup bahagia, begitu pun Lala.
Tak terasa sudah enam bulan berlalu, aku lalui dengan rutinitas yang sama. Hingga aku merasa bosan terus-menerus berada di rumah. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Beruntung bi Lastri dan Dina sering datang untuk mengajak Reynand bermain.
Saat ini Reynand sudah mulai belajar berjalan dan sangat aktif. Nenek yang sudah semakin tua tak sanggup untuk menjaganya sendiran. Sehingga saat aku harus pergi tanpa membawa Reynand, aku akan menitipkannya ke rumah bi Lastri.
Siang itu aku mengendarai sepeda motor dengan membonceng Lala yang menggendong Reynand, untuk aku titipkan sebentar di rumah bi Lastri. Saat aku sampai di halaman rumah Bibi, kebetulan sekali Bibi sedang berada di teras.
"Assalamu'alaikum. Bi. Nitip Reynand ya, Bi? Reyna mau belanja bulanan dulu sama Lala," ujarku pada bibi.
"Wa'alaikumussalam. Wah Nenek senang sekali nih di tengokin si ganteng. Ayo kita main sama kucing, Nand!"
Bibi mengambil alih Reynand dan menggendongnya, kemudian membawanya masuk ke dalam.
"Hati-hati di jalan ya, Reyn!" ujar bibi dari dalam rumah.
"Iya, Bi," jawabku.
Beruntung Reynand nampak menurut untuk digendong dengan orang yang sudah dikenalnya. Dan biasanya bibi akan mengajak ia pergi ke dalam agar Reynand tidak menangis saat mengetahui aku meninggalkannya.
Saat aku menaiki motorku, ada sebuah mobil yang berhenti di depan halaman rumah bibi, dan menghalangi jalanku. Sehingga aku mengurungkan niatku untuk segera tancap gas, dan menunggu terlebih dulu hingga yang empunya mobil keluar dari dalam.
Pintu terbuka terlihat Dina yang hendak keluar dari bangku penumpang. Seorang laki-laki ikut keluar memutari mobilnya dan hendak membantu Dina.
"Perlu aku bantu nggak, Din?" ucap laki-laki yang memunggungiku itu.
__ADS_1
"Bisa kok, Mas," jawab Dina.
Laki-laki itu akhirnya membiarkan Dina berjalan sendirian kemudian berbalik dan melihat ke arahku.
Aku dan dia sama terkejutnya saat menyadari jika kami saling mengenal.
"Reyna!" ucapnya.
"Dipa!" ucapku hampir bersamaan.
"Mbak Reyna kenal sama mas Dipa?" tanya Dina sembari berjalan ke arahku.
"Ehh, kakimu kenapa Din?" aku memperhatikan kaki Dina yang berjalan pincang.
"Tadi Dina kesrempet waktu mau beli makan siang di depan kampus, Mbak. Untung ada mas Dipa yang nolongin," ujar Dina.
"Ya sudah ayo masuk dulu!"
Aku dan Lala membantu memapah Dina masuk ke dalam dan meninggalkan Dipa yang masih terbengong sendirian.
"Kenapa, Nduk?" seru bibi yang melihat kami masuk menuju kamar, sambil memapah Dina.
"Gak apa-apa, Bu. Dina cuma lecet-lecet saja di kaki habis jatuh!" ujar Dina sembari berbaring di tempat tidur.
"Aku ke depan dulu ya, Din? Mungkin Dipa masih berada di depan," ujarku sembari beranjak keluar kamar.
Aku menghampiri Dipa yang masih menunggu di teras sembari duduk di kursi panjang.
"Apa kabar, Dip?" tanyaku sembari duduk di ujung kursi yang lain.
"Baik, Reyn. Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Dipa.
"Ini rumah Bibiku, Dip," jawabku singkat.
"Jadi kamu dan Dina masih bersaudara?" tanya Dipa, kemudian berkata, "Dunia sempit ya, Reyn. Senang bisa bertemu kamu lagi!"
"Ya, begitulah. Aku sudah setengah tahun tinggal di sini, Dip!" ujar Reyna.
"Udah lama dong, Reyn! Kok kita gak pernah ketemu sih? Kamu tinggal di mana, Reyn?" Dipa memberondongku dengan pertanyaannya.
"Di perumahan sebelah desa ini kok, Dip. Aku jarang pergi-pergi juga, cuma di rumah aja jagain anak sama ngurus rumah," tutur Reyna.
"Memangnya mau apa lagi. Kaya kamu tuh diem di rumah uang sudah datang dengan sendirinya. Buat apa repot-repot ke luar rumah. Istri sultan mah bebas!" canda Dipa dengan tawa renyahnya.
Aku hanya diam dan tersenyum menanggapinya.
"Eh kapan-kapan aku mampir ke rumah kamu boleh gak, Reyn?" tanya Dipa.
Lagi-lagi aku hanya diam, bingung harus menjawab apa. Aku tidak ingin Dipa tahu kalau suamiku sudah meninggal. Aku tidak ingin mengundang simpati atau perhatian dari laki-laki lain.
"Gak boleh ya? Ya udah deh gak akan mampir. Pasti takut suami kamu marah kan!" ucap Dipa dengan nada kecewa, "Ya udah aku pulang dulu ya, Reyn. Tolong pamitin sama, Dina dan ibunya. Assalamu'alaikum!"
Dipa beranjak pergi menuju mobilnya.
"Wa'alaikumussalam!" jawabku singkat.
Aku lebih memilih diam dan membiarkannya dengan kesalahpahaman ini. Aku sudah cukup nyaman dan bahagia hidup berdua dengan Reynand. Aku akan menjadi ibu sekaligus ayah untuk putraku.
_______________________Ney-nna______________
...Please Like! 👍...
...Leave a coment 🤗...
__ADS_1
...Give a gift & vote 😘...
...Tank you! 🙏🙏🙏💕💕💕...