Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Hanyut Dalam Rindu


__ADS_3

POV Reyna.


Setelah sekian lama meninggalkan kota kelahiran ku, akhirnya aku bisa kembali lagi ke kota ini. Jalanan ibu kota yang macet dan penuh polusi, bencana banjir yang sudah menjadi langganan di setiap musim penghujan, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, suasana hiruk pikuk dan padatnya penduduk di kota ini adalah sejumlah kerumitan yang membuatku tetap merindu meskipun dengan segudang masalah yang tak kunjung terselesaikan.


Setibanya di pelataran rumah kediaman kakek, aku segera melepas tautan selt belt dan segera membuka pintu. Ini adalah langkah pertamaku menjejakkan kaki di rumah ini setelah sekian lama tinggal meninggalkan rumah ini delapan bulan yang lalu. Ku lihat nenek tengah duduk di teras bersama mami. Mereka tersenyum saat melihatku muncul.


“Reyna …!” pekik mereka terkejut.


Aku memang tidak memberitahu jika akan datang ke Jakarta dengan tujuan untuk memberi kejutan kepada nenek dan mami. Sungguh kemarin aku telah berusaha keras untuk menyembunyikan hal ini. Meskipun rangga sudah tiada, namun mereka tetaplah keluargaku, Ibuku, nenekku dan rumah ini adalah rumahku.


“Assalamu’alaikum, Nek, Mi!” ucapku menyapa dua wanita yang aku sayangi itu, kemudian mencium tangan mereka dan memeluk mereka secara bergantian.


“Wa’alaikumussalam, Reyn. Kenapa tidak memberi tahu jika akan datang? Hai cucu Oma!” ujar Mami sembari menciumi wajah Reynand dengan gemas.


“Iya Mi, ini kejutan buat Oma!” jawabku pada Mami.


“Assalamu’alaikum, Nek, Tante!” ujar kak Abi yang baru aku sadari kedatangannya. Kemudian menyalami nenek dan mami.


Astaghfirullah tanpa sadar aku tadi telah meninggalkan kak Abi dan melangkah masuk terlebih dulu.


“Wa’alaikumussalam, Nak Abi. Ayo masuk dulu!” nenek mempersilakan kami untuk masuk ke dalam rumah. Kak Abi mengangguk mengiyakan.


Mami mengambil alih Reynand dan membawanya masuk dengan menggendongnya. Aku memandang ke arah kak Abi dan menahan lengan tangannya, saat kak Abi hendak melangkah masuk.


“Kak, maaf tadi aku berjalan duluan!” ucapku merasa bersalah.


Namun, Kak Abi tidak menjawab ku. Kak Abi hanya mengangguk kecil dan tersenyum kemudian melangkah masuk ke dalam mengikuti nenek. Dalam hati kecilku aku merasa kak Abi menahan kesal kepadaku. Aku menggigit bibir bawahku merasa bersalah, kemudian dengan langkah gontai aku mengikutinya masuk.


Beberapa saat kami saling mengobrol dengan nenek hingga tiba saatnya kak Abi memohon pamit terlebih dulu untuk pergi mengunjungi café yang baru dirintisnya, bekerjasama dengan salah seorang temannya. Aku menyalaminya dan mencium punggung tangannya. Seperti biasa dia mencium keningku.


Kali ini agak lama dia menahan kecupannya di keningku. Kemudian, dalam diam kak Abi menatap lekat ke arahku seolah tidak rela meninggalkan aku di sini. Hingga akhirnya Kak Abi berbalik dan perlahan meninggalkan rumah ini. Aku masih melihat ke arahnya hingga mobil kak Abi semakin menjauh dan menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Setelah itu aku masuk ke dalam rumah kembali. Ku lihat mami dan nenek begitu senang bercanda tawa dengan Reynand. Aku memilih melanjutkan langkahku ke dalam kamarku yang sudah lama aku tinggalkan. Saat aku membuka pintu kamarku dan berjalan masuk ke dalam. Semua masih tertata rapi sama seperti saat aku tinggalkan waktu itu.


Aku merasakan degup jantungku semakin kencang, dan kelopak mataku seolah berkabut dan berembun, seolah menyaksikan hari-hari itu kembali terputar saat ini. Hari-hari indah penuh dengan tawa dan canda kita di kamar ini. Tenggorokanku seperti tercekat saat menyaksikan sederet pigura yang terpampang di dinding kamarku.


Air mataku meluncur begitu saja saat melihat foto pernikahanku dengan Rangga berada dalam bingkai pigura yang paling besar diantara yang lainnya. Aku tak bisa memungkiri perasaanku terhanyut akan masa lalu. Aku masih sangat mencintainya. Aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya.


Rasa yang aku simpan rapat-rapat di dalam lubuk hatiku yang paling dalam beberapa hari yang lalu, kini mencuat begitu besar melebihi segala rasa yang ada. Aku kembali mengingat semua kenangan saat Rangga masih ada di dunia ini. Saat aku masih bisa merasakan hangatnya berada di dalam pelukannya dan menggenggam jari jemarinya.


Aku berjalan mendekati tempat tidurku dan duduk ditepian ranjang itu. Aku meraba permukaan sprei putih yang masih sama halus dan lembut seperti saat itu. Deraian air mata membasahi pipiku semakin deras hingga menetes menjadi bercak-bercak bulat. Aku tersungkur di atas tempat tidur saat merasakan badanku lemas tak bertenaga. Dalam lirih aku menyebut namanya berkali-kali, mencurahkan segala rasa di hati.


“Rangga … hiks-hiks! Rangga …! aku sangat merindukanmu!"


...🌾🌾🌾...


...Saat ku sendiri, kulihat foto dan video...


...Bersamamu yang tlah lama ku simpan...


...Hancur hati ini melihat gambar diri...


...Kuingin saat ini engkau ada di sini...


...Tertawa bersamaku seperti dulu lagi...


...Walau saja hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah...


...Bukannya diri ini tak terima kenyataan...


...Hati ini hanya rindu...


...Segala cara telah kucoba...

__ADS_1


...Agar aku bisa tanpa dirimu...


...Namun semua berbeda...


...Sulitku menghapus kenangan bersamamu...


...🍁🍁🍁...


****


POV Abiyu.


Dengan berat hati aku melangkah pergi meninggalkan Reyna di rumah ini. Sejak dia turun dari mobil aku sudah merasa resah. Separuh hatiku seolah hendak terlepas dan pergi. Tidak bisa aku pungkiri aku takut jika dia terhanyut akan masa lalunya dengan suami pertamanya. Bahkan saat baru sampai dia sudah melupakanku dan meninggalkanku sendiri. Aku mencoba bersabar, aku memang bukan yang pertama baginya, aku hanya suami keduanya.


Saat mobilku melaju di jalanan aku kurang fokus pada hal lain. Hingga saat berada di lampu merah aku baru menyadari tas perlengkapan bayi milik Reynand masih tertinggal di jok belakang. Akhirnya aku kembali memutar arah menuju kediaman Hadi Jaya. Beruntung aku belum terlalu jauh sehingga masih sempat untuk kembali mengantar tas perlengkapan Reynand


Saat aku datang di luar hanya ada pembantu rumah tangga yang sedang membersihkan halaman depan dan mempersilakan aku untuk masuk. Akhirnya dengan segera aku masuk ke dalam rumah. Dengan sedikit ragu aku melangkah masuk ke dalam rumah itu untuk mencari Reyna atau nenek dan tante Lena. Namun, di ruang tamu kosong dan saat aku menuju ruang tengah juga kosong. Aku melihat sebuah kamar yang sedikit terbuka pintunya dan terdengar isakan dari tempatku berdiri.


Suara yang tak asing bagiku yang aku yakini sebagai suara istriku. Dengan ragu aku melangkah pelan mendekati kamar itu. Suara isakan semakin jelas terdengar dari dalam kamar. Aku menyentuh pelan hingga pintu itu benar-benar terbuka. Aku mendapati Reyna tengah terisak di atas tempat tidurnya sembari berucap kata-kata yang membuat hatiku seolah pecah.


“Rangga … hiks-hiks! Rangga …! aku sangat merindukanmu …!” ujarnya, seketika membuat hatiku perih.


Padahal itu adalah hal yang sudah aku perkirakan sejak pertama kali datang ke rumah ini. Namun, saat melihatnya dengan mataku sendiri, ternyata rasanya lebih sakit dari yang aku bayangkan. Dengan pelan aku kembali menarik pintunya hingga menutup seluruhnya tapi masih ada sedikit cela di sana. Kemudian aku meletakkan tas perlengkapan itu di atas nakas yang berada di samping pintu. Dengan luka di hati aku beranjak pergi meninggalkan rumah ini.


____________________Ney-nna________________


Minta tolong dukungannya ya reader's, supaya author semangat UPnya terima kasih 🙏🙏


...Please Like 👍...


...Leave a Coment 🤗...

__ADS_1


...Give a gift & vote 🌹...


...Tank you! 🙏💕💕...


__ADS_2