
Mohon untuk tidak memberikan rate buruk pada karya ini jika tidak suka dengan endingnya yang sad end di Season1, boleh skip atau tidak lanjut baca, namun jangan melakukan hal buruk pada karya ini, saya selaku author mohon maaf jika tidak sesuai dengan harapan pembaca πππ
...πππ...
πΆπΆ
Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikit pun kubayangkan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
Begitu sulit kubayangankan
Begitu sakit kurasakan
Kau akan pergi tinggalkanku sendiri
Di bawah batu nisan kini
Kau telah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
Sungguh ku tak sanggup ini terjadi
Karena ku sangat cinta
Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan kasih
πΆπΆ
Reyna memeluk erat jenazah suaminya yang terbujur kaku di atas brangkar rumah sakit. Tepat di bagian jantungnya ia sandarkan kepalanya di sana. Sudah tak ada lagi suara detak jantungnya. Reyna menggenggam tangan suaminya mencoba mencari detak nadinya. Reyna mencakup wajah suaminya mencoba mencari hembusan napasnya. Dia harus memastikan, siapa tahu dokter salah. Namun, semua sia-sia. Suaminya tak menampakkan tanda-tanda kehidupan. Air matanya pecah seketika dan dadanya terasa perih.
"Enggak, By. Enggaaak....!!"
"Kamu pasti bercanda, By. Ayo cepat banguun!!"
"Aku dan Reynand butuh kamu, By!" Reyna kebingungan menggerakkan tangan suaminya, menciumi wajahnya dan mengguncang tubuhnya.
Namun Rangga sudah tiada. Dan tak akan lagi bisa merespon apa pun yang di lakukan Reyna kepadanya.
Flashback On.
Kabar yang di dapatnya saat Rangga mengalami kecelakaan sudah membuatnya gemetar ketakutan. Ditambah melihat suaminya penuh dengan luka dan darah di mana-mana dibawa menuju ruang operasi membuatnya sangat shock. Lututnya seketika lemas tak berdaya. Ia akhirnya rubuh saat menyaksikan suaminya tak terlihat lagi dari pandangan matanya.
Abiyu menggendong Reyna menuju ruang UGD. Reyna kemudian ditangani oleh dokter dan perawat. Setelah itu Nenek membawa Reynand pulang. Dan Abiyu meminta Mira untuk datang menemani Reyna. Sedangkan dirinya mau tidak mau membatalkan pertemuannya dengan Sheila. Saat ini ia menunggu di depan ruang operasi Rangga seorang diri.
__ADS_1
Sementara Reyna, ketika sadar ia sudah berada di ruang perawatan yang cukup luas dari kamar lain dengan fasilitas lengkap.
"Alhamdulillah, akhirnya lo udah sadar juga, Reyn!" Mira mendekat ke tempat tidur Reyna saat melihat pergerakan dari sahabatnya itu.
Kenapa aku bisa di sini. Ini kan rumah sakit. Hubby...! gumam Reyna saat menyadari sesuatu yang terjadi pada suaminya sebelum ia tak sadarkan diri.
"Suami aku mana, Mir. Aku mau lihat Rangga, Mir. Ayo bawa aku ke sana cepat!" Reyna bangkit dengan cepat saat menyadari penyebabnya harus di rawat di rumah sakit.
Ia ingat jika tadi mendapat kabar jika suaminya mengalami kecelakaan dan sedang dibawa menuju ruang operasi.
"Tunggu, Reyn. Tunggu....!"
"Okey gue bawa lo ke sana, tapi lo harus tenang dulu ya, lo harus sabar. Saat ini Rangga masih di ruang operasi. Nanti kalau Rangga sudah di pindahkan dari ruang operasi, aku bawa kamu menemui suamimu," ujar Mira menenangkan sahabatnya.
Reyna menangis tersedu-sedu dalam pelukan sahabatnya. Jiwanya terguncang seolah tak dapat berpikir jernih untuk saat ini. Cemas yang teramat besar ia rasakan atas keadaan yang ia lihat dari suaminya sebelum dibawa masuk ruang operasi.
"Rangga, Mir. Aku gak mau Rangga kenapa-napa, Mir. Aku mau lihat dia! Hiks... hiks... !" hatinya yang resah membuatnya panik dan khawatir yang berlebihan.
Ia trauma menghadapi orang yang mengalami kecelakaan. Sebab, hal itu mengingatkan padanya akan kematian kedua orang tuanya yang juga meninggal sesaat setelah mengalami kecelakaan.
Reyna sangat takut akan kehilangan suaminya. Ia tidak ingin Rangga meninggalkannya juga secepat ini. Bahkan pernikahannya baru berusia kurang dari dua tahun. Anaknya pun masih terlalu kecil untuk mengingat wajah papanya di dalam memorinya. Ia tak akan sanggup menjalani ini tanpa suaminya. Itulah yang ada di pikirannya saat ini.
"Sabar ya, Reyn. Lo harus kuat, demi anak lo!" ujar Mira.
Reyna baru menyadari jika sedari tadi ia tak melihat keberadaan putranya.
"Mir, Reynand di mana?" ujar Reyna sembari mengusap air matanya.
"Syukurlah, Mir. Tapi bagaimana keadaan Reynand, Mir? Bagaimana jika ia rewel di rumah. Aku dilema, Mir. Aku harus pulang atau tetap di sini. Aku harus gimana, ya Allah!" Reyna mulai panik.
Reyna terlihat kacau. Depresi? Bisa jadi itulah yang saat ini ia rasakan. Di saat anaknya masih sangat bergantung dengan kehadirannya dan di saat bersamaan suaminya sedang terbujur di ruang operasi antara hidup dan mati. Entah bagaimana nasibnya kedepannya.
"Reyna...! Reyn, lo tenang dulu ya. Gue tadi sempat mendapat kabar dari nenek jika Reynand aman bersama nenek. Lo sudah menampung ASI bukan. Sehingga untuk saat ini lo bisa tetap di sini. Namun, nanti malam lo harus tetap pulang. Gue bakal temenin lo ntar di rumah menjaga Reynand. Saat ini ada kak Abi yang menunggu di luar ruang operasi. Jika sewaktu-waktu operasi Rangga sudah selesai, pasti kak Abi akan ke sini buat kasih tau ke kita. Lo sabar dulu ya!" ujar Mira menenangkan sembari memegangi kedua lengan tangan Reyna supaya sadar dari kepanikannya.
"Baiklah, Mir. Aku menurut saja kepadamu," jawab Reyna pasrah.
Ternyata ketika kita dihadapkan sendiri pada suatu keadaan yang sulit, kata sabar itu sungguh amat sulit untuk dilakukan. Bahkan aku seolah tak mampu untuk mengikhlaskan yang terjadi.
Mira menggiring Reyna kembali ke tempat tidur. Reyna terlihat diam di atas tempat tidurnya dengan pandangan kosong. Air matanya sesekali mengalir dari sudut matanya. Entah apa yang dipikirkannya. Namun, Mira merasa sangat iba kepada sahabatnya itu.
Tak berapa lama handphone Mira berdering menandakan ada telepon masuk dari Abiyu. Mira agak menjauh dari Reyna kemudian dengan cepat menjawab teleponnya.
"Hallo, Kak. Gimana?" tanya Mira.
"Reyna sedang apa, Mir? Apakah ia sudah sadar?" tanya Abiyu.
"Sudah kak, dia sangat panik. Tapi sekarang sudah lebih baik," ujar Mira.
"Operasi Rangga sudah selesai, Mir! Hanya saja...," Abiyu ragu untuk mengatakannya.
"Kenapa, Kak? Ayo katakan padaku!" ujar Mira tegas namun dengan suara lirihnya.
"Rangga..., tidak bisa tertolong, Mir!" ungkap Abiyu lirih.
__ADS_1
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!" Mira sangat terkejut hingga menutup mulutnya yang menganga. Kemudian telepon ditutup.
"Ada apa, Mir?" tanya Reyna.
"Emm, operasi nya sudah selesai, Reyn!" ujar Mira.
Dengan cepat Reyna turun dari tempat tidurnya dan melepas paksa infus yang tertancap di punggung tangannya.
"Ya ampun, Reyn. Kenapa di lepas. Okey, tunggu dulu gue temani lo ke sana!" dengan cepat Mira menyabet tas kecilnya, kemudian menggamit lengan tangan Reyna.
Sesampainya di depan pintu kamar jenazah Reyna berhenti, beralih menatap kepada sahabatnya.
"Apa ini, kenapa lo bawa gue ke sini, Mir?" tanya Reyna dengan keterkejutannya.
"Tenang dulu Reyn, ayo kita masuk!" ajak Mira dengan rasa haru atas nasib yang menimpa sahabatnya.
Air mata Reyna sudah terbendung di pelupuk mata. Ia berjalan perlahan mengikuti ke mana Mira menggiringnya. Di dalam ternyata ada Abiyu dengan seorang perawat laki-laki dan juga paman Haryo sekertaris kakek.
"Di mana suamiku, Kak?" tanya Reyna.
"Sabar ya Reyn, suamimu tidak tertolong!" jawab Abiyu.
Reyna menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak percaya. Tanpa bersuara air matanya sudah mulai menetes membasahi pipinya.
Reyna melihat tubuh yang terbujur di depannya kemudian perlahan membuka kain putih penutupnya.
Seketika tubuhnya gemetaran dan terasa lemas. Ia menyaksikan jenazah yang berada di depannya benar wajah suaminya.
Flashback Off.
Kenapa ini harus terjadi kepadanya. Ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat ia sayangi. Ayah Ibunya sudah tiada, dan sekarang suaminya juga meninggalkannya.
"Hubby, please!! Jangan tinggalkan aku, By!!" jerit Reyna tanpa suara. Sebab suaranya seolah menghilang, tercekat dengan perih yang mendalam di hatinya.
Air matanya seolah tak terbendung dan derai air mata Reyna terus jatuh begitu saja seolah tak akan pernah habis. Hidungnya kembang kempis memerah. Tubuhnya lunglai hingga akhirnya tumbang jatuh ke lantai.
Abiyu dan Mira lantas membawanya kembali ke ruang perawatan.
Jenazah Rangga kemudian dimandikan dan dikafani. Rencananya pemakannya akan di lakukan sore ini juga atas permintaan Reza via telepon dengan paman Haryo. Diperkirakan Reza dan Istrinya akan segera sampai menjelang sore ini.
____________________Ney-nna_________________
Akhirnya sampai juga di penghujung Season1 Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku.
Author memohon maaf jika endingnya tidak sesuai dengan harapan kalian. Kenyataannya semua yang hidup pasti akan mati sesuai dengan takdir yang telah di tentukan oleh Allah.
Hikmahnya dalam cerita bab ini adalah mengingatkan kita pada kematian. Persiapkan diri anda sebaik mungkin di hadapan Allah, kejarlah akhirat maka dunia akan mengikutimu. Sebab kita tidak akan pernah tau kapan ajal menjemput.
Cerita tentang Reyna akan saya lanjutkan menuju Season2, mohon untuk tetap memberi dukungannya untuk karya ini. Karena dukungan kalian sangatlah berarti buat author.
Terimakasih buat reader's maupun author yang telah mendukung karya ini hingga sampai saat ini. Semoga sehat selalu dan dilimpahkan rezeki yang berkah dan barokah.
Big Love by Neyna ππΌπππ
__ADS_1