
Pagi itu matahari nampak malu-malu untuk memperlihatkan diri. Semburat jingga di pagi buta mulai terganti dengan hadirnya sang fajar. Entah mengapa suasana hati Reyna membaik pagi itu, setelah mendengar Abiyu mengaji.
...π΅πΆπΆ...
...Aku punya niat yang baik...
...Coba ku ungkapkan padamu...
...Berharap kamu kan menjadi...
...Rencana besar dihidupku...
...Tapi kau bilang...
..."Pergi sana"...
...Kamu tak mau melihat diri ini selamanya...
...Awas nanti jatuh cinta...
...Cinta kepada diriku...
...Jangan jangan kujodohmu...
...Kamu terlalu membenci...
...Membenci diriku ini...
...Awas nanti jatuh cinta padaku...
...πΆπΆ...
Reyna mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam kulkas dan berniat untuk memasak makanan special untuk sang suami, sebagai permintaan maafnya tadi malam. Kemudian memasak air untuk membuat secangkir kopi untuk Abiyu. Sembari membuat bumbu masakan ia menunggu hingga air mendidih.
Membuat masakan dengan hati yang senang cukup menyenangkan baginya. Saat sudah mendidih ia menyeduhnya. Secangkir kopi hangat yang masih mengepulkan udara panas siap untuk disajikan.
"La, nih kopinya tolong kamu antarkan ke kak Abi, ya!" ujar Reyna yang merasa sungkan untuk memberikannya langsung kepada Abiyu.
"Kok Lala sih, Mbak. Nggak ahh ... Mbak Reyna sendiri saja yang mengantar!" tolak Lala yang sedang memotong sayuran.
"Ishh ... kamu nih, La. Buruan sana sayurnya biar aku saja yang potong!" Reyna menggeser tubuh Lala dan mengambil alih pisau dapur dari tangan Lala.
"Mbak Reyna gimana sih, gak romantis!" gerutu Lala yang pada akhirnya menuruti perintah Reyna.
"Bodo'!" ucap Reyna yang terkesan cuek dengan pendapat Lala dan memilih untuk melanjutkan acara memasaknya.
Lala kemudian pergi ke ruang tamu mengantar kopi untuk Abiyu. Namun, Abiyu tidak ada di ruang tamu melainkan sedang berada di teras, berbicara dengan seseorang di balik teleponnya.
"Apa ?! bagaimana bisa!" seru perkataan Abiyu, yang dapat ditangkap oleh Lala.
"Baik saya akan segera ke sana!" terlihat Abiyu memutus teleponnya.
"Kak, ini kopinya!" ucap Lala sembari meletakkan secangkir kopi di meja yang berada di teras.
Abiyu menoleh ke arah Lala.
__ADS_1
"Oh ... iya. Terima kasih ya, La!" ucapnya lalu mengambil cangkir kopi di meja.
"Bukan Lala yang bikin, Mas! tapi, mbak Reyna," jawab Lala.
Abiyu yang sedang meneguk kopi sejenak terdiam menghentikan aktivitasnya.
Bahkan untuk mengantar kopi saja kamu meminta Lala yang mengantar! batin Abiyu.
"Baiklah, tolong sampaikan terima kasih padanya!" ujar Abiyu.
"Nggak mau ah! emangnya Lala kurir, dari tadi antar sana antar sini. Mas Abi nanti bilang saja sendiri sama mbak Reyna! bye ...!" ujar Lala kemudian meninggalkan Abiyu sendiri.
Abiyu hanya geleng-geleng kepala merasa heran sembari tersenyum melihat kepergian Lala.
Kakak beradik sama-sama ngeselin! pantas saja mereka cocok! ujar Abiyu dalam hati.
Seusai memasak Reyna menghidangkan masakannya di meja makan. Sedangkan Lala bersiap-siap untuk ke sekolah. Setelah semua siap Reyna pergi ke kamarnya hendak membangunkan Reynand dan memandikannya.
Namun, saat masuk ke dalam kamar yang dilihat adalah Abiyu yang sedang menggendong Reynand. Rupanya Reynand sudah bangun sedari tadi dan tidak menangis karena sudah ditolong oleh Abiyu.
"Lhoh, adek sudah bangun ya! pantas saja Mama tidak dengar, ternyata tidak menangis. Anak pintar ...," tutur Reyna kepada putranya, sembari mengambil alih Reynand dari tangan Abiyu dan mencium pipi putranya.
Abiyu hanya diam sembari memperhatikan interaksi ibu dan anak itu.
"Terima kasih, Kak?" ujar Reyna yang dibalas anggukan kepala oleh Abiyu.
Reyna membawa putranya ke dalam kamar mandi untuk dimandikan tanpa berkata apa pun lagi pada Abiyu.
Seusai memandikan Reynand, Abiyu sudah tidak terlihat lagi di dalam kamar. Reyna tak ambil pusing, dia menduga mungkin saja Abiyu sedang makan di dapur.
"La, Kak Abi mana?" tanya Reyna dengan lirih.
"Mbak Reyna ini aneh, kalau orangnya ada gak diajak ngobrol. Kalau orangnya gak ada bingung nyariin!" goda Lala pada Reyna.
"Apa sih kamu, La. Aku kan cuman tanya!" ujar Reyna.
"Tadi aku lihat mas Abi, pergi ke luar buru-buru sekali, Mbak. Lala juga gak sempet bertanya. Lala pikir sudah pamit sama Mbak Reyna!" tutur Lala.
"Hah ... jadi langsung pergi tanpa sarapan?" Reyna nampak terkejut mendengar Abiyu langsung pergi tanpa pamit bahkan tanpa mencicipi masakannya yang sudah dibuat khusus untuknya.
Lala geleng-geleng kepala menanggapi.
Mbak Reyna kenapa jadi sewot begitu, mas Abi pergi tanpa sarapan. Heran deh sama sikap mbak Reyna, sebenarnya perhatian tapi jaim!
"Huhhh ... tau gitu tadi nggak usah masak banyak-banyak!" ujar Reyna kesal.
"Oh iya, Lala baru inget, tadi pas Lala nganterin kopi, mas Abi lagi telepon, Mbak. Sepertinya sedang ada masalah yang mengharuskan mas Abi segera datang!" tutur Lala sembari mengingat-ingat yang tadi sempat di dengarnya. "Mbak Reyna samperin ke restoran mas Abi saja. Masakan buat mas Abi, mbak bekel terus dianterin ke sana!" Lala memberi ide.
"Lala, yang namanya restoran itu sudah banyak makanan, kalau kak Abi mau makan, tinggal bilang, ngapain coba aku musti bawakan makanan ke sana?!" tutur Reyna yang berpikir itu bukan ide yang bagus.
"Ya beda dong, Mbak. Yang di bekel makanan yang dibuat oleh istri tercinta, apalagi dianterin langsung ke tempat kerjanya. Pasti mas Abi bakal seneng banget!"
Reyna terdiam menimang-nimang saran dari Lala.
"La, titip Reynand yah! Aku mau mandi dulu!" ujar Reyna akhirnya. Lala mengangguk menanggapi.
__ADS_1
Menjelang siang beruntung sekali Bi Lastri dan Dina datang ke rumah untuk mengajak Reynand bermain. Reyna akhirnya menitipkan Reynand pada bibinya atas saran dari Bi Lastri.
"Sudah sana berangkat. Reynand aman sama kita. Jangan sampai telat, Reyn. Nanti nak Abi keburu makan siang!" bujuk Bi Lastri.
"Iya, Bi. Reyna berangkat dulu! jika ada sesuatu kamu kabari mbak ya, Din?" pamit Reyna pada Bi Lastri dan Dina.
"Beres, Mbak. Hati-hati di jalan!" ucap Dina.
"Ya, assalamu'alaikum!" ucap Reyna sembari menenteng tas bekal untuk Abiyu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Lastri dan Dina berbarengan.
Reyna kemudian pergi dengan sepeda motornya.
****
Jarak dari rumah ke restoran Abiyu tidak terlalu jauh. Sepuluh menit berkendara Reyna sudah tiba di restoran milik Abiyu.
Reyna sebenarnya ragu untuk melangkah masuk. Takutnya Abiyu sedang sibuk karena tidak memberi kabar terlebih dahulu, jika akan datang. Dia bingung antara langsung masuk atau menelepon terlebih dahulu.
Bismillahirrahmanirrahim, langsung masuk saja lah. Sudah di depan mata juga! gumam Reyna dalam hati.
Beberapa karyawan menyapa Reyna, saat melihatnya memasuki restoran. Reyna pun tersenyum ramah menanggapi.
"Kak Abi ada di dalam gak, Mbak?" tanya Reyna pada salah satu karyawan di sana.
"Pak Abi ada di kantornya, Bu. Silakan masuk!" ujar karyawan itu.
"Terima kasih ya, Mbak!" ujar Reyna sembari tersenyum ramah dan sedikit menundukkan kepala.
"Sama-sama, Bu!"
Reyna kemudian melangkah menuju ruangan kantor Abiyu.
Saat hendak sampai di ruangan Abiyu, Reyna mendengar seseorang menyebutkan namanya. Reyna akhirnya menghentikan langkahnya untuk mendengarkan obrolan itu.
"Mas Abi akhir-akhir ini gak fokus sama resto gitu sih! aku heran kok mas Abi bisa nikah sama Reyna? dulu mas Abi menyangkal kalau gak ada hubungan apa-apa sama dia kan, waktu pertama kali kamu bawa dia ke sini. Kenapa saat Reyna menjanda tiba-tiba mas nikah sama dia!" tutur Mega dengan emosi.
"Meg, aku harap kamu jangan mencampur adukkan masalah resto dengan pernikahan aku dengan Reyna ya, dan itu bukan urusan kamu!" Abiyu menegaskan.
"Selama ini aku mencintai kamu, Mas. Aku selalu menunggumu. Kenapa kamu lebih memilih untuk menikah dengan wanita itu?"
Bugg.
Tas bekal yang Reyna bawa terlepas begitu saja dari genggamannya.
____________________Ney-nna_________________
...Please Like π...
...Leave a Coment π€...
...Give a gift & vote πΉ...
...Tank you! π...
__ADS_1