Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kesedihan Tia


__ADS_3

Tia berjalan ke luar menuju pekarangan rumah yang tidak jauh dari pondok pesantren. Terlihat suami dan ibu mertuanya sudah menunggu di dalam mobil. Mereka hendak menjenguk kerabat ummi Aini yang sedang sakit di rumah sakit. Tia berjalan memutari mobil, kemudian dibukanya pintu depan dan masuk ke dalam, duduk di samping bangku pengemudi.


"Dek, kamu dari mana saja?" tanya Fadhil kepada istrinya.


"Aku dari ruang menjahit kok, Mas. Maaf kelupaan kalau mau pergi, gara-gara keasyikan ngobrol di sana tadi," tutur Tia sembari memasang seat belt yang melintang di tubuhnya.


Klik.


Seat belt terpasang dengan aman.


"Tidak ada masalah di pondok putri, kan, Dek?" tanya Fadhil sembari menghidupkan mesin mobil. Dengan perlahan mobil yang dikendarai melaju menuju jalanan.


"Enggak kok, Mas. Tadi ketemu ukhty Reyna yang lagi menjahit, terus ngobrol sebentar," jawab Tia sembari mengalihkan pandangan ke arah Fadhil.


"Oh, wanita korban penculikan yang kemaren ya, Ti?" ujar ummi Aini yang berada di bangku belakang, ikut menyela dengan obrolan mereka.


"Iya, Ummi. Kasihan sekali dia kehilangan sebagian ingatannya," tutur Tia sembari menoleh ke belakang, kearah ibu mertua.


"Innalillahi, kasihan sekali nasibnya!" ujar ummi Aini merasa iba dengan hal yang baru diketahuinya.


"Bukannya sedang hamil ya, Dek? Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Fadhil tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.


Deg.


Mas Fadhil kenapa perhatian sekali dengan kehamilam ukhty Reyna? Mas Fadhil pasti sangat menginginkan seorang anak, sementara aku hingga kini belum bisa hamil kembali. Tolong berikan hamba kesabaran ya Allah! batin Tia.


"Iya, Mas. Sehat!" jawab Tia singkat sembari menunduk.


Fadhil melirik ke arah istrinya dan melihat ada perubahan dari mimik muka sang istri. Tia terlihat murung, sehingga Fadhil menduga, istrinya kini kembali mengingat tentang janinnya dulu yang keguguran. Fadil merasa bersalah telah bertanya hal itu kepada Tia.


"Memangnya, dia hamil, Ti?" tanya ummi Aini.

__ADS_1


Tia menegakkan kepalanya, kemudian melirik ke belakang. "Iya, Ummi," jawabnya dengan enggan.


"Jika amnesia, berarti dia juga tidak ingat siapa suami dan keluarganya, dong?" tanya ummi lagi.


Fadhil melirik ke arah istrinya dan merasa kasihan. "Oh, ya, Ummi. Di mana rumah sakitnya?" tanya Fadhil untuk mengalihkan pembicaraan.


"Itu, di RS Muwardi, Dhil," ujar ummi menjelaskan.


"Oke, Ummi!" jawab Fadhil kemudian matanya kembali fokus ke jalanan.


Suasana menjadi hening dengan pikiran masing-masing.


...****...


Keesokannya saat sedang memasak memasak dengan mertuanya. Ummi Aini kembali membahas tentang kehamilan Reyna.


"Tia, jika Reyna merasa kesulitan membesarkan anaknya sendirian, bagaimana jika kamu menawarkan diri untuk mengangkat anaknya nanti saat sudah lahir? Siapa tahu nanti dengan merawat anak itu, Allah kembali mempercayakan kamu untuk mengandung lagi. Fadhil pasti setuju dengan mengangkat anak yatim, akan mendapat pahala yang sangat besar."


"Lagipula kan, Reyna tidak mengingat siapa ayah dari anak itu, bisa jadi ayah bayi itu tidak menghendaki dia dan bayinya sehingga membuangnya ke hutan. Buktinya sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah mengapa tidak ada yang datang mencarinya?" tutur ummi Aini sembari mengaduk-aduk masakannya.


Mengangkat anak? Apa itu tidak berlebihan? Apa Mas Fadhil mau? Aku tidak yakin jika ukhti Reyna mau menyerahkan bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan begitu saja. Apalagi ukhty Reyna sepertinya sangat menjaga kandungannya, dia pasti menyayangi anak yang dikandungnya meskipun dia tidak mengingat siapa ayah bayinya.


"Tapi, Tia ragu jika Ukhty Reyna mau menyerahkan anak itu untuk kami angkat menjadi anak, Ummi. Sebab, setahu Tia, Ukhty Reyna sangat menjaga kandungannya dengan baik, dia pasti sangat menyayangi janin dalam kandungannya itu," ujar Tia mengutarakan isi dalam pikirannya.


"Kalau begitu suruh saja Fadhil menikahi Reyna, sehingga dia dan kamu bisa tetap merawat anak itu bersama-sama. Syukur-syukur Reyna bisa melahirkan keturunan lagi untuk Fadhil. Merelakan suami berpoligami itu pahalanya sangat besar lhoh, Tia. Kamu tentu paham kan tentang balasan atas kesabaran seorang istri yang berjihad kepada suaminya yang berpoligami!" tutur ummi Aini kemudian beranjak pergi meninggalkan Tia di dapur sendirian.


Tia memegangi dadanya yang terasa sakit mendengar perkataan mertuanya yang seolah mendesaknya untuk menyetujui Fadhil berpoligami, demi mendapatkan keturunan. Dirinya merasa tidak ada artinya menjadi seorang menantu maupun seorang istri.


Aku seolah bagai pajangan dikeluarga ini, aku dikenal sebagai menantu pemilik pesantren dan suamiku adalah pewarisnya. Harapan yang besar telah terucap ketika ummi meminangku untuk anaknya. Ummi sangat berharap aku bisa memberikan cucu yang banyak dikeluarga ini. Namun, hingga kini, Allah belum meridhoiku untuk mewujudkan harapan mereka. Apakah memang jalan keluarnya adalah berpoligami? Haruskah aku merelakan suamiku menikah lagi dengan perempuan lain? Apa aku sanggup bersabar demi membahagiakan suamiku dan keluarga ini ya Allah! gumam Tia di dalam hati dengan berlinang air mata.


...****...

__ADS_1


"Mas, nanti sore bisa pulang cepet, nggak?" tanya Cindy kepada Dimas yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Dimas sembari berjalan mendekat kepada sang istri yang sedang menyusui baby Aroon dipangkuannya.


"Abi sedang kurang enak badan, Abi meminta tolong untuk menjemput Umar ke pesantren. Aww!" pekik Cindy saat baby Aroon menggigit hisapannya ketika Dimas mencoba menangkap kaki putranya yang dinaik-naikkan ke atas.


"Kenapa, Sayang?" tanya Dimas pada sang istri yang terlihat meringis kesakitan.


"Mas Dimas, jangan mengajak becanda dulu dong ... tuh kan Aroon jadi menggigit!" jawab Cindy kesal karena ulah Dimas berimbas pada dirinya.


"Maaf ..., maaf! lagian Aroon kenapa lebih sering menyusu daripada Aruna, ya? Ayo Aroon, hentikan menyusunya dan temani Papa sarapan pagi!" ujar Dimas sembari mengulurkan kedua tangannya kehadapan putranya. Dan, hal itu di sambut baby Aroon dengan berceloteh riang.


"Dia kan laki-laki, Mas. Makanya badannya pun lebih besar dari Aruna!" ujar Cindy sembari membenarkan kacing bajunya.


"Wahh, kamu jangan habiskan jatah ASI Aruna, ya? Nanti gadisnya papa tidak montok!" ujar Dimas kepada Aroon yang hanya terkikik.


Cindy hanya geleng-geleng kepala melihat candaan suaminya itu. Mereka beranjak ke luar dari kamar dan menuju ruang makan. Di ruang makan sudah menunggu Qila, nenek, Aruna dan seorang baby sitter bernama Desy.


"Papa ... Papa ...!" ucap baby Aruna merajuk di high chairnya, sembari mengulurkan kedua tangannya ke udara, saat melihat papanya datang dengan menggendong baby Aroon. Baby Aruna merasa iri dan ingin digendong juga oleh papanya.


Si kembar memang selalu berebut perhatian kepada siapa saja. Bahkan terkadang Qila ikut berebut juga di saat-saat tertentu. Dan, hal itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari di keluarga ini.


"Iya, Sayang. Sebentar Papa turunkan Aroon dulu!" ujar Dimas sembari mencoba melepaskan baby Aroon dan menempatkannya di high chair berwarna biru miliknya.


Namun, baby Aroon malah semakin mengeratkan tautan tangannya di leher Dimas. Justru, anak itu tidak mau diturunkan saat tau Aruna menginginkan papanya. Aroon seolah ingin menjahili sodaranya.


"Ehh ... ayo duduk Aroon, kan Papa juga mau makan!" ujar Dimas saat anaknya itu tidak mau dilepaskan, karena khawatir papanya direbut oleh sodara kembarnya.


"Huuaa ... hiks hiks ... Pa-Pa!" ujar Aruna sembari menangis.


"Yah, rebutan lagi deh. Qila sih sama Umma saja," ujar Qila tersenyum, sembari merapatkan diri dan memeluk Cindy.

__ADS_1


"Umma ... umma ...!" celoteh si kembar berbarengan. Terjadilah kedua bayi itu berganti merebutkan ummanya.


__________________Ney-nna__________________


__ADS_2